Remember Me Husband

Remember Me Husband
Putra kebanggaanku



Di sekolah saat tengah dalam pelajaran menggambar. Bu guru meminta Theo dan anak-anak lainnya untuk mengambar sosok ayah sebagai pahlawan. Tentu saja hal tersebut langsung membuat Theo yang awalnya bersemangat ingin menggambar berubah jadi muram dan tidak bersemangat.


Dan saat ibu guru berkeliling satu persatu melihat gambar murid-muridnya, ia malah mendapati Theo masih dengan kertas gambarnya yang benar-benar bersih belum di gores warna apapun. Melihat Theo yang pandai dalam kesenian menggambar tidak menggambar, bu guru pun jadi merasa curiga, ia lalu menghampiri Theo untuk menanyakan kenapa ia tidak menggambar.


"Theo, kenapa kau belum menggambar sama sekali?"


Saat itu Theo tak menjawab pertanyaan dari sang guru, ia malah hanya terus menundukan kepalanya dan terdiam. Bu guru yang berpikir kalau Theo tidak mau ditanyai didepan anak-anak lain pun mengajak pria kecil itu ikut dengannya kedepan untuk bicara berdua saja.


"Jadi Theo, coba ceritakan pada bu guru, kenapa kau tidak mau menggambar?"


Theo masih diam, ia malah menatap ke sekeliling kemudian membuang nafas dan barulah berkata kalau ia tidak tahu seperti apa ayahnya jadibnya tidak bisa menggambarnya.


Mendengar jawaban Theo bu guru pun jadi merasa kasihan.


"Apa Theo tidak ingat sama sekali wajah ayah Theo? Mungkin lewat foto?"


Theo menggeleng pelan. "Aku tidak pernah tahu seperti apa papaku. Jadi bu guru, boleh tidak kalau aku menggambar mamaku saja? Bagiku mamaku sudah lebih dari sekedar pahlawan dalam hidupku, dia segalanya."


Karena ucapannya barusan, bu guru pun akhirnya memperbolehkan Theo untuk menggambar sosok ibunya.


"Terima kasih bu guru."


Saat jam istirahat, Theo yang sedang bergelayutan di permaina tiang besi sendirian tak sengaja melihat Marco dan kedua temannya datang mengganggu anak lain yang sedang asyik bermain istana pasir. Merasa tidak senang dengan perilaku buruk Marco dan kedua temannya, Theo pun bergegas melepaskan tangannya dari besi dan menghampiri Marco untuk menegurnya.


"Kalian tidak boleh mengganggu anak lain!"


Tanpa rasa ragu dan takut sedikitpun Theo menegur Marco dan kedua temannya. Akan tetapi Marco yang tidak terima ditegur oleh Theo malah balik marah.


"Theo, kau itu jangan jadi sok pahlawan ya!"


Seketika suasana tegang muncul, semua murid lain yang ada disana pun ketakutan lalu menjauh dari Theo dan Marco yang tengah saling bertengkar saat ini.


"Dengar ya Theo, aku mau melakukan apapun itu tidak ada urusannya dengan dirimu."


"Aku tahu, tapi kau sudah mengganggu yang lain dan aku tidak bisa membiarkannya!"


"Dasar tukang ikut campur! Theo kau itu tidak usah sok hebat, ya, anak yang tidak punya ayah sepertimu itu lebih baik diam saja!"


Mendengar ejekan Marco barusan, Theo pun meradang. Kedua tangannya pun mengepal kuat seraya menahan amarahnya yang mulai membuncah.


"Haha, kenapa kau jadi diam? Itu karena kenyataannya kau memang tidak punya ayah alias yatim. Dasar anak menyebalkan! Pergi sana!" Marco langsung mendorong Theo hingga mau jatuh, alhasil Theo yang tidak bisa lagi menahan emosi akhirnya membalas dengan memukul Marco dan keduanya pun terlibat perkelahian.


...🌸🌸🌸...


Di sela-sela pekerjaannya tiba-tiba saja Aran mendapati telepon dari sekolah Theo yang memintanya untuk segera datang ke sekolah untuk menemui kepala sekolah.


"Maaf bu guru memangnya ada apa?"


^^^Nyonya putra anda terlibat perkelahian dengan temannya jadi aku mohon anda segera datang ke sekolah sekarang.^^^


"Apa?! Ba- baiklah kalau begitu aku akan segera datang."


Setelah menutup teleponnya Aran yang tampak cemas pun bergegas ke ruang ganti untuk mengganti seragam kerjanya dengan baju biasa. Setelah itu ia pun menemui supervisornya dan meminta izin untuk keluar sebentar karena ada urusan yang mendesak. Untungnya supervisornya sekarang bukanlah Meli sehingga Aran pun diizinkan untuk izin keluar sebentar.


Melihat Aran yang sudah berganti baju dan tergesa-gesa ingin pergi, Chika pun bertanya pada temannya itu apa yang terjadi.


"Oh Chika maaf aku harus buru-buru karena waktuku terbatas. Nanti saja aku ceritakan oke? Aku pergi dulu!" Aran pun mencelos pergi meninggalkan Chika.


"... Sebenarnya ada apa ya dengan Aran sampai tergesa-gesa begitu? Ya... semoga tidak ada hal buruk terjadi."


...🌸🌸🌸...


Sesampainya di sekolah, Aran langsung bergegas menuju ruangan kepala sekolah.


"Permisi ibu kepala sekolah aku Arana Haurin mamanya Theo."


"Oh nyonya sudah datang. Baiklah Theo kesini nak, ibumu sudah datang..."


Theo yang tadinya bersembunyi dipojokon pun berjalan mendekati Aran.


Melihat baju putranya kotor dan ada sedikit memar di pipinya Aran pun langsung khawatir dan menghampiri sang putra untuk memastikannya.


"Theo, kau baik-baik saja nak? Kenapa kau berkelahi?"


Theo yang kini merasa bersalah karena telah membuat ibunya khawatir pun hanya bisa tertunduk menyesal dan meminta maaf.


"Mama maafkan aku sudah membuatmu harus datang kesini saat bekerja."


"Mana anak yang sudah berani memukuli anakku sampai begini?!" Seru ibu dari Marco dengan emosi yang meledak-ledak. Nyonya itu lalu melihat ke arah Aran dan Theo, tanpa ragu ia pun langsung menghampiri dan memaki Aran dengan kasar.


"Jadi kau ibu dari anak yang sudah memukuli anakku!?"


Nyonya itu lalu memperhatikan penampilan Aran dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan merendahkan.


"Oh, pantas kau tidak bisa mengajari putramu. Orang kampung mana paham sopan santun!"


Tidak terima ibunya dihina-hina, Theo pun membela sang mama dari cercaan ibunya Marco.


"Bibi kau tidak berhak mengatakan hal itu pada mamaku!"


"Nah, ini contohnya. Lihat anakmu berani sekali marah-marah dengan orang yang lebih tua."


Aran lalu meminta Theo untuk diam dan membiarkan dirinya saja yang menghadapi ibunya Marco.


"Ya nyonya aku Arana mamanya Theo. Dan sebelumnya aku sebagai ibunya Theo meminta maaf karena anakku telah bersikap kurang sopan pada anda barusan. Tapi mengenai perkelahian ini, aku rasa tidak adil jika anda hanya menyalahkan putraku saja."


"Jadi menurutmu anakku yang salah?! Apa kau tidak lihat, anakku kondisinya jauh lebih parah dibanding anakmu. Sudah pasti itu karena anakmu yang memang seperti berandalan itu suka berkelahi. Berbeda dengan putraku yang anak rumahan berkelas tidak suka memukul orang!"


"Tapi anakku tidak seperti itu nyonya!" Aran membela putranya.


Meskipun Aran tahu Theo memang sejak kecil sudah berlatih bela diri dan pernah terlibat beberapa perkelahian saat dulu di kampung halamannya. Namun Aran tahu dan sangat yakin kalau putranya itu pasti memiliki alasan mengapa bisa sampai memukul orang. Karena pada dasarnya Theo anak yang baik dan tidak suka cari masalah, dan kalaupun ia kadang suka susah diberitahu tapi dia bukanlah orang yang suka menindas.


"Sudalah, aku malas berdebat dengan wanita kampungan seperti ini. Bu kepala sekolah lebih baik anda keluarkan murid berandalan seperti anak dia!"


Tidak terima dengan perkataan ibunya Marco, Theo pun hampir saja kembali ingin memakinya. Untungnya Aran segara menenangkan putranya. Ia pun kemudian menantang balik sang nyonya dihadapannya itu.


"Begini saja nonya yang terhormat. Jika anda seyakin itu kalau anakku adalah sumber masalahnya. Kenapa tidak kita buktikan saja, dan jika terbukti anakku memang sumber perkelahiannya, aku sendiri yang akan meminta sekolah mengeluarkannya."


"Mau dengan apa kau membuktikannya?"


"Tentu saja dengan rekaman kamera cctv dan saksi dari anak-anak lain."


Dengan wajah jumawa ibunya Marco lalu setuju. Kepala sekolah pun menunjukan rekaman monitor cctv pada saat jam istirahat. Ia juga memanggil teman-teman sekelas Theo dan Marco untuk bersaksi disana.


"Lihat! Anakku hanya mendorong pelan, anakmu malah memukuli anakku dengan begitu keji!" Seru ibunya Marco saat melihat rekaman cctv itu


Heh, memang dasar Marco saja yang lemah! Ejek Theo dalam hati.


Setelah selesai menonton rekaman cctv, disana semua bisa lihat kalau memang Marcolah yang lebih dulu mendorong Theo. Aran yang merasa anaknya juga bersalah pun memberi saran agar anak-anak saling meminta maaf dan berjanji tidak akan berkelahi lagi. Sayangnya ibunya Marco yang sombong itu tetap bersikeras kalau Theo lah yang bersalah penuh. Alhasil kembalilah cekcok antara Aran dan ibunya Marco. Sampai pada akhirnya semua terdiam setelah mendengar teman sekolah Theo yang bernama Selly menangis.


"Selly ada apa, kenapa kau tiba-tiba menangis nak?" Tanya bu guru.


"I- itu... semua ini gara-gara aku. Kalau saja Theo tidak menolongku karena diganggu oleh Marco dan temannya, pasti Theo tidak anak berkelahi melawan Marco huhu..."


"Apa?!" Aran lalu mendekati Selly dan menghapus air mata gadis kecil itu dan memintanya dengan lembut untuk menceritakan kronologis sampai terjadi perkelahian. Selly pun akhirnya cerita dengan sejujur-jujurnya.


Mendengar cerita Selly semuanya pun semakin yakin kalau Theo memang bukan pembuat masalah sejak awal, melainkan Marcolah yang membuat masalah dari awal dengan mengganggu anak lain.


"Tidak, mana mungkin anakku bersikap begitu! Marco anakku sangat baik! Iyakan Marco?! Kau tidak mungkin melakukan hal itu kan!" Merasa mulai terpojok wanita itu memaksa Marco untuk tidak mengakui kesalahannya. Sayangnya murid lain yang tadinya tidak berani bicara pun akhirnya ikut buka suara dan mengatakan, kalau Marco selama ini memang suka membully anak lain yang kelihatan lemah.


"Bibi, Marco itu memang bersalah karena suka membully teman-teman lain. Seharusnya bibi tidak membelanya," ungkap Theo dengan nada santai.


"Diam kau bocah!"


"Anda yang diam nyonya! Seharusnya anda malu karena apa yang dikatakan putraku barusan adalah benar. Sebagai ibu kau harusnya bisa mendidik anakmu dengan benar bukan malah membenarkan kesalahnnya."


Tidak mau ada perdebatan lebih jauh lagi. Kepala sekolah akhirnya memutuskan akan menskors Marco, bu kepala juga memijta Marco dan ibunya agar meminta maaf kepada Theo dan Aran.


Merasa sudah terpojok akhirnya nyonya itu pun minta maaf pada Aran dan putranya meski terpaksa, lalu setelah itu mereka pun pergi.


Karena sudah tuntas permasalahannya, bu guru pun mengantar anak-anak lain kembali ke kelas. Sementara Theo yang masih disana dipuji oleh kepala sekolah karena sudah berani untuk membela temannya dari perilaku buruk Marco.


"Itu karena mamaku mengajarkanku untuk tidak membiarkan kejahatan selalu menang. Kalau begitu... Mama dan ibu kelapa sekolah, aku kembali ke kelas dulu."


Aran menarik Theo sebelum ia pergi kembali ke kelas. Aran lalu mengusap kepala putranya seraya bangga.


"Mama bangga padamu Theo."


Merasa agak malu karena ada ibu kepala sekolah. Theo yang tersipu malu hanya bisa mengangguk dan kemudian pergi kembali ke kelasnya.


...🌸🌸🌸...


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA...