Remember Me Husband

Remember Me Husband
Kebenarannya



Aran dan Sean terlihat mampir ke sebuah kafe. Disana mereka menikmati croissant dan secangkir minuman hangat di sore hari.


"Ternyata makanan di kafe ini enak juga!"


Sean yang baru pertama kali ke kafe sederhana itu memuji makanan yang dijual disana. Sebaliknya, bagi Aran kafe sederhana itu adalah kafe pertama yang ia datangi sejak ia menginjakan kakinya di kota Renstone, jadi ia tahu persis rasa menu yang dijual disana.


"Syukurlah kalau kau suka. Kupikir kafe sederhana ini tidak masuk seleramu yang elit," ucap Aran seraya berkelakar.


"Dasar kau ini— oh ya, kau mengajakku kesini ada apa?"


Sean penasaran dengan alasan Aran yang tiba-tiba saja mengajaknya ke kafe. Karena menurut Sean sendiri, wanita seperti Aran tidak mungkin tiba-tiba mengajaknya pergi duluan kalau tidak ada suatu hal yang penting.


"Aku mengajakmu kemari karena ingin mentraktirmu, sekaligus..." Ucapan Aran terputus.


Sebenarnya ia ingin menanyakan soal kebenaran siapakah sosok yang sebenarnya telah menolongnya. Karena setelah percakapan dengan Rowen tadi pagi, Aran tidak hentinya terus memikirkan hal tersebut.


Sean kini menatap Aran dengan tatapan heran dan penuh tanya.


"Aran ada apa? Kenapa kau tiba-tiba berhenti bicara? Kalau ada yang ingin kau tanyakan padaku tanyakan saja."


Karena Sean sudah berkata begitu, Aran pun sudah tidak ragu lagi menanyakan hal yang ingin ia ketahui saat ini.


"Sebenarnya aku ingin tanya padamu soal— kebakaran tempo hari."


Mendadak Sean berhenti menyesap kopinya. Wajahnya yang tenang pun mulai terlihat gusar, ia seperti bisa menebak apa yang ingin ditanyakan Aran.


"Sean, tanpa mengurangi rasa terima kasihku padamu. Aku ingin kau jawab jujur, apa benar ada orang lain selain dirimu yang juga menolongku saat kebakaran itu?"


Tepat seperti yang kuduga, Aran pasti bertanya tentang hal tersebut. Tapi saat ini bagaimana aku cerita padanya? Aku tiba-tiba saja seperti akan kehilangan muka kalau aku cerita yang sebenarnya terjadi. Tapi jika aku tidak cerita yang sebenarnya, Aran pasti akan menganggapku pria yang buruk.


Tapi sebagai pria sejati, Sean merasa harus mengakui semuanya dengan jujur sebelum akhirnya Aran membencinya. Dengan segala keyakinan yang ia miliki, Sean akhirnya mau menceritakan kronologis yang sesungguhnya kepada Aran.


"Jadi sebenarnya saat itu..."


Flashback


Saat itu Sean yang tahu kalau Aran terjebak digudang, dengan terburu-buru mendatangi gudang untuk menyelamatkannya. Namun karena saat itu apinya terlalu besar Sean pun jadi bingung memikirkan bagaimana caranya ia bisa masuk ke dalam gudang? Ditambah saat itu pemadam api belum tiba.


Sean lalu memutar otak untuk mencari cara agar segera mengeluarkan Aran dari salam sana. Namun ia buntu, alhasil karena waktu terus berjalan Sean pun menyiram dirinya dengan air dan nekat masuk ke dalam. Sambil menahan panasnya kobaran api dan barang-barang yang sewaktu-waktu bisa menimpanya, Sean mencoba menerobos masuk. Namun disaat yang sama, ia malah samar-samar melihat sosok yang berjalan dengan agak terhuyung ke arahnya.


"Si- siapa itu? Apa itu Aran?"


Semakin mendekat dan Sean pun terkejut saat tahu kalau orang itu ternyata adalah Ruka, yang berjalan dengan susah payah sambil menggendong Aran yang pingsan.


"Tuan Ruka— anda bagaimana bisa?"


"Jangan banyak tanya lebih baik segera bantu aku bawa Arana keluar dari sini! Eeuggh!!" Ruka terlihat kesakitan. Sean pun menyadari kalau punggung Ruka terluka.


"Tuan Ruka anda terluka!"


"Sudah jangan pikirkan aku— sekarang juga kau bawa Arana pergi dari sini!" Ruka menyerahkan Aran kepada Sean dan memintanya pergi segera dari sini, karena jika tidak, mereka yang malah akan terjebak lebih lama disana dan pertolongannya akan sia-sia.


"Eghhh!" Ruka tertimpa lempengan kayu yan terbakar


"Tu- tuan!" Sean berteriak melihat Ruka menahan rutuhan lempeng kayu yang terbakar.


"Sean cepat pergi!"


Sean yang panik pun tak punya pilihan lain selain pergi membawa Aran dan meninggalkan Ruka.


#Flashback End.


Aran seketika terkejut bukan main sampai-sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ja- jadi Ruka yang sudah menolongku? Tapi kenapa dia tidak mengatakannya padaku?


"Maafkan aku yang saat itu tidak langsung mengatakannya padamu Aran," Sean terlihat begitu menyesal dan merasa malu. Dirinya yang awalnya memiliki niat memanfaatkan momen ini seketika merasa begitu malu dengan dirinya sendiri. Ia mencoba mendapatkan hati Aran dengan berpura-pura seolah menjadikan dirinya pahlawan penyelamat Aran padahal ia tidak melakukan apapun.


"Maafkan aku Aran, kau pasti sekarang merasa malu kan melihatku saat ini?"


Aran melihat Sean yang tertunduk malu dan kecewa pada dirinya sendiri.


"Jika kau ingin membenciku maka—"


Tiba-tiba Aran menyentuh wajah Sean dan mengangkat wajahnya yang tertunduk itu. Ia kemudian menatap Sean dan berkata kalau ia tidak mungkin membenci Sean hanya karena hal tersebut, terlebih pada akhirnya Sean sudah mau jujur, itu yang terpenting.


"Jadi kau tidak marah padaku?"


Aran menggeleng. "Aku tidak akan marah padamu. Justru aku berterima kasih karena kau sudah mau jujur padaku." Aran lalu tersenyum pada Sean.


Melihat hal itu Sean merasa lega karena Aran tak membencinya, namun disisi lain Sean juga jadi merasa gelisah sendiri. Ia bertanya-tanya pada dirinya, apakah Aran punya perasaan yang sama sepertiku saat ini?


...🌸🌸🌸...


"Aku ingin sekali tahu bagaimana kabarnya dan— aku ingin berterima kasih padanya karena sudah menyelamatkanku."


Saat ini Aran benar-benar dilanda perasaan bersalah karena tidak tahu terima kasih, atas apa yang sudah dilakukan Ruka padanya. Batinnya benar-benar meras gusar dan tidak tenang.


...🌸🌸🌸...


Di apartemennya, Ruka yang baru saja diperiksa oleh dokter pribadinya diperingatkan untuk lebih banyak istirahat dan jangan banyak bergerak. Karena hal itu bisa menghambat penyembuhan luka bakar Ruka.


"Saat aku dikirin latihan di camp aku sering terkena luka bakar," tandas Ruka dengan santainya karena merasa luka seperti ini tidaklah perlu dianggap serius.


"Aku tahu anda punya fisik yang kuat, tapi tetap saja tuan harus ikuti saranku," ucap dokter Dohan sambil memberikan catatan beberapa resep nutrisi yang bisa membantunya mempercepat penyembuhan.


"Kalau begitu aku pamit dulu tuan muda. Tolong rutin ganti perbannya dan jangan lupa konsumsi makanan yang kutuliskan di resep yang kau pegang itu."


"Ya, aku akan coba mengingatnya."


"Dasar! Kau itu kalau diberitahu persis seperti ayahmu," Kelakar dokter Dohan yang tidak lain adalan rekan ayah Ruka yang sesama dokter.


"Baiklah aku kalau begitu aku pulang dulu."


Akhirnya dokter Dohan pergi, Ruka pun kembali ke kamarnya dan mengecek ponselnya guna melihat pemberitahuan.


Saat mengecek notifikasi, Ruka tiba-tiba saja dibuat mengerutkan alisnya saat melihat ada pesan dari Aran yang bertuliskan.


Aran :


Tuan Ruka bagaimana kabar anda?


"Ada angin apa wanita ini mengirimiku pesan?" Ruka jadi penasaran. Ia pun segera membalas pesan itu.


Aran :


Tuan Ruka bagaimana kabar anda?


^^^Aku sedang tidak terlalu baik, ada apa nona Arana tiba-tiba menanyaiku begitu?^^^


Aku ingin tahu kabar anda saja.


^^^Kalau kau ingin tahu, kenapa tidak meneleponku saja. Aku tidak bisa kalau membalas pesanmu terus!^^^


Ruka tersenyum licik, dan tak lama kemudian Aran pun meneleponnya.


"Halo."


...Halo tuan, maaf aku mengganggumu....


"Kau tadi sudah menggangguku dengan pesan. Dan sekarang kau menggangguku lagi."


...Maaf.......


Dari nada suaranya sepertinya Aran sedih aku bilang begitu.


"Jadi ada apa?"


Tuan Ruka, apa anda baik-baik saja?


"Kalau aku bilabg aku sakit apa kau akan datang menjengukku?"


Itu—


"Yasudah kalau tidak mau jenguk, tidak usah tanya kabar."


Baik aku akan menjengukmu sekarang juga jika kau memang sakit.


Ruka menyeringai licik.


"Baiklah, aku sedang tidak terlalu baik. Kalau kau ingin menjengukku, datan dan kunjungi aku di Diamond palace. Unit apartemennya akan kukirim lewat chat supaya kau tidak bingung."


^^^Ba-baik tuan, kalau begitu aku akan datang^^^


"Oke, aku menunggu."


Ruka menutup teleponnya dan langsung tersenyum puas.


"Pada akhirnya, malah kau yang tidak bisa menghidariku nona Arana..."


...🌸🌸🌸...


JANGAN LUPA, VOTE, LIKE DAN KOMENTARNYA GUYS 🙏