
Setelah selesai menidurkan Jia, Aran memutuskan untuk bersantai sejenak menikmati minuman kaleng sebelum ia tidur. Mengenakan piyama berwarna soft wanita itu bersandar di sofa lalu melihat layar ponselnya dimana terlihat ada beberapa notifikasi pesan yang belum ia baca.
Sontak Aran pun kaget, saat tahu kalau salah satu pesan yang belum ia baca adalah dari Ruka, yang dikirimkannya sekitar tiga puluh menit yang lalu.
"Aduh, bagaimana ini? Aku buka tidak ya?"
Saat ini sudah pukul 10 malam. Aran berpikir jika dirinya membaca pesan itu sekarang, apa yang akan Ruka pikirkan tentangnya? Tapi... Jika tidak dibuka segera, Aran pasti akan penasaran sampai terbawa mimpi.
"Ya ampun kenapa harus gugup begini sih? Padahal ini kan cuma pesan?" Aran memegangi wajahnya yang mulai terasa panas. Entah kenapa memikirkan bagaimana ekspresi Ruka saat tahu kalau dirinya sudah membaca pesan darinya membuat Aran jadi salah tingkah.
"Oh ayolah Arana! Kau bukan remaja lagi, jadi bersikaplah biasa!" Akhirnya Aran pun memutuskan membuka pesan dari Ruka tersebut.
Ruka Arshavin
Hai, besok bisakah kau buatkan aku tempura dan sup miso?
Seketika Aran menghela nafas lega saat tahu kalau isi pesan Ruka hanya bertanya soal menu makan siangnya. Tapi anehnya ia pun juga dibuat merasa kecewa karena isi pesan Ruka yang hanya seperti itu. Tak perlu pikir lama pada akhirnya Aran langsung membalas dengan singkat pesan tersebut.
...Ruka...
Untuk besok, bisakah kau buatkan aku tempura dan sup miso?
^^^Baik Tuan, aku akan buatkan.^^^
Setelah membalas pesan, Aran pun bersiap pergi tidur, namun disaaat yang sama ponsel Aran malah tiba-tiba berdering. Dan saat ia lihat ternyata panggilan dari bosnya.
Tidak mau dipikir sengaja mengulur waktu oleh Ruka, Aran pun segera mengangkat panggilan tersebut.
Halo...
Suara Ruka yang berat dan terdenger lembut langsung menghujam telinga Aran.
"Halo tuan, ada apa?"
Sebenarnya Aran agak gugup tapi ia tidak mau kalau sampai Ruka tahu hal itu lewat nada bicaranya.
... Jadi kau bisa kan membuatkan masakan yang aku minta?
"Iya tuan, kan sudah aku balas tadi."
...Oh jadi kau tidak suka kalau kutelepon?...
"Eh- bu- bukan begitu. Aku hanya..."
^^^Jadi kau suka atau tidak ku telepon?^^^
"Anu... Mm..."
Apa kau mengarahkan speaker ke jantungmu? Soalnya aku bisa mendengar detak jantungmu yang tak beraturan.
Aran terkesiap heran dengan pertanyaan Ruka.
"Tuan, apa maksud anda bertanya begitu?"
...Jawab saja pertanyaanku iya ?...
".... Itu ti—"
^^^Waktunya habis, aku anggap kau bilang iya.^^^
"Eh mana bisa begitu? Ka- kau ini curang."
...Aku memang pandai main curang....
"Dasar!"
Raut wajah Aran seperti kesal namun disamping itu juga senang saat ini. Entah kenapa Ruka saat ini seperti tengah menggodanya. Dna Aran tidak benci itu.
Sambil memainkan rambutnya Aran dengan spontan bertanya.
"Tuan kenapa belum tidur?"
^^^Aku? Hm... Aku belum tidur karena menunggu balasan darimu.^^^
Seketika darah panas mengalir diwajah Aran.
"Tu- tuan anda jangan bercanda dengan menggodaku begitu..."
...Aku memang menggodamu tapi aku tidak bercanda....
...Nona Arana?...
"Iya tuan, maaf tadi aku bengong. Um- sepertinya lebih baik kita sudahi saja teleponnya. Lagipula ini sudah malam."
^^^Kau tidak suka mendengar suaraku?^^^
"Bu- bukan begitu tuan— hanya saja, apa tuan tidak takut nona Bianca cemburu kalau tahu anda teleponan denganku?"
Ruka terkekeh...
^^^Bianca? Untuk apa dia cemburu, aku dan dia belum ada ikatan apa-apa.^^^
"Tapi... Bukankah anda akan segera bertunangan dengannya?" Jujur saja mengatakan hal seperti itu membuat lidah Aran terasa getir.
^^^Kalau iya kenapa? Apa— nona Arana cemburu melihatku bertunangan?^^^
"Eh a- apa maksud anda?" Aran seketika kaget dan langsung salah tingkah dan malu mendengar Ruka berkata begitu.
"Anu- a— aku, aku tidak..."
...Mengaku saja, aku tidak akan marah kok....
Semakin panas saja rasanya tubuh dan tekanan dalam tubuh Aran. Serangan kata-kata dari Ruka benar-benar membuatnya Aran semakin terperosok dan itu tidak baik untuknya yang sudah bertekad untuk manjauhi Ruka.
"Hoam... Tuan maaf aku sepertinya sudah mengantuk, jadi aku rasa kita akhiri saja percakapannya."
^^^Tunggu! Kau memaksaku menutup telepon?^^^
"Bukan tapi—"
...Haiz, sudahlah... Kalau kau memang mengantuk baiklah akan ku akhiri. Tapi sebelum aku matikan teleponya tolong beri ucapan selamat malam untukku dengan kalimat manismu....
"Huh? untuk apa?"
^^^Untukku, jadi lakukan saja jangan banyak tanya atau—^^^
"Baik aku lakukan!"
Tidak punya pilihan lain, Daripada berdebt dengan Ruka yang punya seribu alibi, Aran akhirnya menuruti Ruka dan mengucapkan selamat malam dengan kalimat semanis mungkin.
"Tuan Ruka selamat malam, mimpi indah ya..."
...Kenapa kedengarannya terpaksa begitu?...
Argh.... Aran benar-benar dibuat tak habis pikir dengan mantan suaminya itu. Karena sudah pasrah sampai menghela nafas, Aran pun akhirnya mengulangi ucapan selamat tidur untuk Ruka.
"Tuan Ruka yang paling tampan dan luar biasa. Selamat tidur, mimpi yang indah dan semoga tidurmu nyenyak."
^^^Ya lumayan. Baiklah kau juga selamat tidur nona Arana yang cantik, dan jangan lupa... Mimpikan aku. Oke ciao!^^^
Ruka akhirnya menutup duluan teleponnya. Sementara itu wajah tersipu malu-malu Aran semakin tak terkontrol mendengar kata-kata manis yang menggelitik kalbu keluar dari suara Ruka.
"Tidak! Tidak! Aku tidak bisa begini, karena kalau aku sampai terbawa suasana bisa-bisa pertahananku terhadap jeratan pesona Ruka bisa runtuh."
...🌸🌸🌸...
Keesokannya saat tengah mengantarkan kopi untuk Sean di ruangannya. Aran yang baru saja meletkan secangkir kopi tersebut tidak sengaja melihat Sean tengah membaca sebuah undangan. Karena merasa sedikit penasaran Aran akhirnya bertanya kepada Sean sebenarnya undangan apa itu?
"Oh ini, silakan kau baca sendiri."
Dengan senang hati Sean pun menunjukan undangan tersebut kepada Aran supaya ia bisa membacanya sendiri. Dan ternyata setelah dibaca oleh Aran ia pun mendadak terkejut karena tahu kalau undangan itu adalah undangan untuk menghadiri perayaan ulang tahun pernikahan Jura dan Hani yang mana itu artinya sama dengan acara pertunangan Ruka dan Bianca.
Ja- jadi mereka sungguh akan bertunangan sebentar lagi?
Melihat ekspresi kaget Aran saat ini, Sean pun bertanya-tanya kenapa dirinya sekaget itu mengetahui undangan tersebut?
"Itu— bukan apa-apa tuan, ka- kalau begitu aku permisi dulu ya tuan, permisi..."
Aran pun meninggalkan ruangan Sean dengan keadaan patah hati. Ia rasanya ingin sekali menangis keras mengetahui hal tersebut. Tapi apa yang bisa Aran lakukan saat ini? Semua ini diluar kendalinya...
Di toilet Aran langsung membasuh wajahnya untuk menutupi rasa sedihnya saat ini. Namun saat melihat ke arah cermin di depannya, Aran sadar dirinyalah yang sejak awal tidak bisa merelakan Ruka pergi dari hidupnya. Air matanya pun tak kuasa mengalir merasakan kepedihan yang harus ia terima.
"Kenapa harus aku dan anakku yang menerima takdir seperti ini?"
...🌸🌸🌸...