
6 tahun lalu...
Di suatu sore yang cukup cerah di suatu tempat yang bernama Kelvari sebuah kota kecil tepatnya di pesisir pantai kotatersebut, nampak seorang gadis cantik yang masih muda belia sedang bermain disana bersama kedua teman seusianya.
"Aran!" Seru salah satu teman gadis cantik itu memanggilnya.
Arana Haurin atau biasa orang-orang disekitarnya memanggilnya Aran. Gadis berusia 18 tahun yang dikenal sebagai bunga desa di tempatnya tinggal, terlihat sedang asyik mencari kulit kerang bersama kedua temannya. Para gadis muda itu terlihat seru bermain-main disana, sampai tak terasa kalau langit cerah di musim semi itu perlahan mulai gelap. Aran dan kedua teman perempuannya itu pun bergegas untuk segera pulang. Namun saat di perjalanan pulang tidak sengaja Aran yang dari kejauhan seperti melihat sesosok manusia yang tengah terdampar di pinggir pantai yang sepi diujung sana.
Seketika Aran jadi penasaran, tapi karena ia merasa takut dan hari pun mulai gelap ia pun memutuskan untuk mengabaikannya dan lanjut pergi.
Tapi entah kenapa perasaan Aran malah menariknya semakin kuat untuk kembali memastikan orang tadi. Alhasil dengan segenap keberaniannya, Aran pun kembali dan mendekati tempat itu untuk memastikannya.
"Ya Tuhan, ternyata benar seorang manusia!"
Aran dibuat dilema antara takut namun ingin melihatnya lebin dekat. Karena pria itu tidak bergerak sama sekali akhirnya Aran memutuskan untuk mengampirinya dan memastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati. Gadis itu memeriksa denyut nadi serta jantungn pria itu, dan ternyata masih bergerak.
"Dia masih hidup. Tuan, tuan apa kau bisa mendengarku?" Seru Aran sambil mengguncang-guncangkan tubuh pria itu.
"Kalau begini terus, tidak ada cara lain selain menggunakan CPR." Aran memandangi pria itu dan refleks wajahnya memerah karena pria itu sangat tampan, bahkan menurut Aran dia adalah pria paling tampan yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
"Ya ampun Aran, buka saatnya kau mengagumi ketampannanya! Dia sudah mau mati tahu!" Akhirnya gadis itu pun memberikan CPR hingga akhirnya pria itu memuntahkan air dari dalam tubuhnya.
"Akhirnya berhasil!"
Pria itu sempat membuka matanya sebentar tapi sesaat kemudian malah pingsan lagi.
"Tuan kenapa malah pingsan agi?"
Dan mau tidak mau, atas dasar rasa kemanusiaan, Aran pun akhirnya dengan susah payah membawa pria itu ke rumahnya.
Setibanya di rumah, Aran yang kelelahan karena keberatan menyeret tubuh pria yang jauh lebih besar darinya itu bukannya disambut malah dimarahi oleh neneknya.
"Dasar kau anak nakal, jam segini baru pulang! Kemana saja kau, mau kupukul ya...!" Omel Nenek Shuri sambil menjewer telinga cucunya itu. Namun tak lama kemudian nenek Shuri langsung syok karena melihat cucunya itu malah membawa pulang seorang pria dalam keadaan pingsan.
Ia pun langsung kembali memarahi Aran dan ingin memukulnya.
"Nenek jangan marah dulu, nanti aku akan jelaskan. Sekarang ayo kita bawa tuan ini masuk dulu. Kasihan dia sepertinya nyawanya tinggal diujung tanduk."
Karena tak tega melihat keadaan pemuda itu, nenek Shuri pun akhirnya mau membantu Aran membawanya masuk. Setela luka dikepalanya dibalut dengan perban, ia pun dibiarkan tidur. Dan kemudian nenek Shuri pun langsung bergegas menginterogasi sang cucu.
"Sekarang jelaskan padaku, darimana kau temukan pria itu, jawab?!"
"Tadi itu—" akhirnya Aran pun menjelaskan serinci mungkin kepada sang nenek kronologis sampai ia bisa membawa pulang pria itu.
Sehabis mendengar cerita Aran, nenek Shuri jadi berpikir, "Apa mungkin dia tentara marinir yang tenggelam saat berperang? Atau jangan-jangan dia malah buronan yang kabur lewat jalur laut?"
"Nenek jangan menakutiku begitu dong!"
"Bukan menakuti, tapi kemungkinan itu pasti ada. Apalagi dilihat dari luka dikepala dan beberapa bekas luka-luka disekujur tubuhnya sudah pasti dia habis berperang."
"Nenek benar juga, tapi..."
"Tapi apa? Jangan-jangan kau suka padanya ya?!"
"Eh bu- bukan begitu aku hanya—"
"Tidak usah mengelak. Aku tahu persis gadis seusiamu itu memang sedang mekar-mekarnya. Tidak heran lihat yang bentukannya seperti dia langsung jatuh hati. Kuakui pemuda itu fisiknya sangat menarik, tapi kau harus ingat Aran. Mencintai orang bukan hanya tentang fisiknya."
"Iya nek aku paham."
"Yasudah karena sudah malam, kau segeralah tidur."
"Suara apa itu? Apa mungkin hantu? Atau maling? Tapi mau maling apa dirumahku yang miskin ini?"
Aran pun menarik selimutnya karena takut. Tapi suaranya semakin terdengar jelas dan sepertinya bukan hantu. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk memastikannya. Berbekal sapu dan senter kecil, Aran memberanikan diri berjalan ke arah dapur. Ia mengarahkan senternya ke tiap sudut dapur namun tak melihat apa-apa.
"Jangan-jangan sungguhan hantu?" Aran ketakutan dan berniat kembali tidur namun saat baru mau berbalik badan, dirinya malah tiba-tiba saja disergap dari bekalang. Kedua tangannya dicengkram kebelakang dan sebilah pisau dapur seketika sudah berada di dekat lehernya.
"Berani teriak ku potong lehermu," ancam seorang pria dengan suaranya yang berat dan terdengar mencekam.
Aran tentu saja ketakutan setengah mati dibuat, jangankan mencoba kabur, ingin teriak pun suaranya seolah hilang karena saking takutnya.
Tak lama lampu menyala, ternyata nenek Shuri datang dan langsung berteriak. "Kau, lepaskan cucuku! Dia itu yang sudah menolongmu!"
Sontak pria itu pun langsung melepaskan Aran dan minta maaf karena sudah berbuat buruk.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku sungguh bodoh mengira kalian penjahat yang ingin menyerangku," ucap pria itu sambil menundukan kepalanya tanda menyesal.
"Iya aku maafkan, tapi anak muda bisakah kau tutupi badanmu itu? Aku tahu bentuk badanmu bagus tapi cucuku belum sembilan belas tahun, jadi sekarang dia masih dibawah umur. Ini, pakailah baju mendiang suamiku saja. Walau sudah lama tapi masih bagus kok!"
Pria itu pun akhirnya memakai baju milik mendiang suami Shuri yang mantan marinir, dan kebetulan ukurannya pas.
"Suamiku dulu saat muda juga sepertimu tinggi, tampan dan gagah."
"Terima kasih nyonya," ucap pemuda itu.
Nenek Shuri tertawa. "Aku merasa aneh dipanggil nyonya, sudah panggil saja aku nenek Shuri."
"Baik nenek Shuri."
"Nah terdengar lebih baik."
Aran yang dari tadi diam saja berdiri dibelakang pundak neneknya, diminta membuatkan teh untuk dirinya dan pemuda itu.
Setelah teh disajikan dan menyuruh pemuda itu minum, nenek Shuri pun mulai membuka pembicaraannya.
"Nah anak muda, sekarang tolong ceritakan padaku dengan jujur. Kau ini siapa dan dari mana? Kenapa kau bisa sampai terluka dan terdampar di pantai?"
"Aku—" pria itu tak menjawab apa-apa ia malah jadi seperti orang bingung yang tak tahu apa-apa. "Aku— eghhh..." Pria itu tiba-tiba saja memegangi kepalanya dan merasa kesakitan. Karena takut terjadi sesuatu, Aran langsung berlari keluar memanggilkan dokter.
Setelah di periksa dokter dan diberi obat penenang. Dokter pun mengatakan kepada Aran dan sang nenek kalau pemuda itu kemungkinan besar mengalami gegar otak yang mengakibatkannya menjadi kehilangan memori otaknya, atau familiarnnya disebut amnesia.
"Lalu dokter, apa dia akan selamanya amnesia?" Tanya Aran.
"Tergantung tingkat keparahannya. Untuk tahu seberapa parah gegar otaknya, kusarankan kalian ke membawanya ke rumah sakit yang ada dikota besar untuk dilakukan skrining, karena kalau disini peralatan dokternya belum secanggih di kota besar."
"Itu berapa biayanya dokter?"
"Cukup mahal, mungkin sekitar lima ratus ribu sampai satu juta dolar?" Aran dan neneknya langsung tercengang mendengar nominal yang disebutkan itu. Uang sebanyak itu mana mungkin Aran mempunyainya. Bahkan untuk biaya hidup sehari-hari dirinya dan sang nenek saja pas-pasan.
Aran dan sang nenek kemudian berbicara serius terkait ucapan dokter tadi. Shuri bilang, akan lebih baik jika pemuda itu segera pergi saja. Karena jika ia terus disini bisa jadi akan jadi masalah. Namun Aran sebaliknya, ia merasa jika mengusir orang yang sedang amnesia itu hal yang buruk.
"Kalian tidak usah memikirkanku."
Bersambung...
...🌸🌸🌸...
KALAU SUKA JANGAN LUPA DILIKE, COMMENT, VOTE JUGA OKE!