
Aran akhirnya menggunakan tangga manual untuk turun ke lantai dasar. Sambil menyeka air matanya yang perlahan mengering Aran pun berjalan menuju ke arah dimana gudang pusat berada. Disana ia melihat ada beberapa pegawai yang baru saja keluar, setelah selesai membawa masuk barang-barang dan cairan kimia yang dikirim dari mobil pengangkur ke dalam gudang tersebut.
Saat tiba di dalam gudang untuk mengambil beberapa cairan pembersih, Aran sedikit dibuat batuk karena ia mencium aroma asap rokok di dalam ruangan tersebut. Sepertinya bau bekas merokok para pegawai gudang tadi belum hilang.
"Uhuk! Uhuk!"
Aran pun seketika kesal, mengingat sudah ada peringatan dilarang membawa rokok ke dalam gudang tapi ia mendapati beberapa pegawai yang ia lihat tadi malam sedang menghisap rokok.
"Dasar pekerja tidak taat! Merugikan orang lain saja!" Keluh Aran yang kemudian langsung mencari benda yang ia butuhkan. Setelah merasa apa yang dicarinya ketemu, Aran pun bergegas untuk pergi, tapi saat itu ternyata ada pegawai seprofesi Aran dari divisi lain yang juga tengah mencari cairan pembersih.
"Apa kau cari ini juga?" Aran menanyai wanita berkacamata tebal itu dan menunjukan cairan pembersih yang ia pegang.
"Oh benar, dimana kau mengambilnya? Aku orang baru jadi masih tidak tahu tempat dimana mereka meletakannya," unkap wanita berkacamata itu. Merasa pernah berada diposisi wanita itu beberapa bulan lalu, Aran pun berbaik hati dengan menyuruh wanita itu membawa cairan pembersih yang ada ditangannya sementara ia akan mengambil lagi.
"Wah kau baik sekali, tapi apa tidak menyusahkanmu?"
"Tidak kok, sudah ini bawa saja. Tapi besok kalau kau mau ambil cairan ini disini. Letakanya ada dipaling ujung gudang."
"Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih nonaโ"
"Arana, namaku Arana Haurin."
"Ya, terimakasih nona Arana. Kalau begitu aku duluan ya..."
"Tentu..."
Aran pada akhirnya kembali ke pojok ruangan untuk mengambil lagi cairan pembersih. Dan saat ia sibuk mencari cairan pembersih tiba-tiba saja Aran mencium bau terbakar. Karena khawatir Aran pun berjalan kedepan untuk memastikan apakah ada yang terbakar, dan ternyata...
"Api?!"
Aran sungguh terkejut saat melihat api dengan cepatnya menjalar ke sekitar gudang.
Sadar karena digudang banyak cairan kimia yang mudah terbakar Aran pun berpikir untuk segera mencari pintu keluar.
"Aku harus segera keluar dari sini!"
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Saat itu Ruka, Rowen, Sean dan para jajaran direksi lainnya baru saja selesai melakukan rapat penting perusahaan. Dan saat ingin kembali ke ruangan mereka masing-masing. Terdengar sirine tanda bahaya berbunyi. Sontak para pegawai disana pun langsung panik dan dibuat bertanya-tanya ada apa sebenarnya? Termasuk Ruka, Rowen dan Sean.
"Tunggu, ada apa sebenarnya?" Sean bertanya kepada petugas keamanan yang saat itu tengah berjalan ke arahnya.
"Itu tuan, telah terjadi kebakaran di gudang utama lantai dasar. Sebaikanya tuan-tuan segera turun untuk keselamatan."
"Rowen, sekarang kau pergilah duluan! Pastikan pegawai yang lainya selamat bersama petugas lain."
"Ta- tapi tuan..."
"Jangan melawan, ini perintah!"
Rowen akhirnya paham dan menuruti perintah bosnya tersebut. Ia pun segera kebawah bersama pegawai lain sementara Ruka keruangan penyiaran untuk menginstruksikan agar pegawai tidak panik.
Setelah selesai menyiarkan instruksinya, Ruka merasa cukup tenang mengingat di skyper tower sistem penanganan kecelakaan bisa dibilang bagus dan cepat. Saat hendak turun ke bawah tidak sengaja Ruka berpapasan dengan Sean yang saat itu terlihat panik.
"Tuan Sean kenapa kau masih disini?" Ruka bertanya untuk memastikannya.
Tak lama munculah Chika sahabat Aran yang berlari terngah-engah menghampiri Sean dan berkata. "Tuan Sean gawat! Aran tidak ada dimana-mana, dan yang lebih buruknya lagi, temanku bilang ada yang sempat melihat Aran masuk ke gudang dilantai dasar!"
"Apa? Sial aku harus segera kesena untuk memastikannya!" Tanpa basa basi Sean langsung berlari kebawah untuk segera menyelamatkan Aran.
Sementara Ruka, ia tampak syok. Bagaimana bisa ia tidak sampau terpikir kalau Aran tadi pergi ke gudang. Padahal di lift tadi ia sudah sempat menebaknya.
"Arana apa kau baik-baik saja?" Kedua tangannya mengepal kuat.
...----------------...
Sementara itu Aran yang masih terjebak di dalam gudang yang yang terbakar pun tampak ketakutan dan panik, melihat api yang kian menjalar dan membesar, asap yang dikeluarkannya pun sungguh membuat saluran pernafasannya sesak dan sakit.
"Tolong! Tolong....!"
Aran mencoba menghindari kobaran api yang menjilat-jilat. Disana ia juga semakin sulit kabur mengingat banyak kardus dan cairan yang sangat mudah terbakar. Ditambah tubuhnya mulai lemas karena mulai kekurangan oksigen bersih di dalam tubuhnya. Badan kurusnya mulai sempoyongan. Bahkan untuk berdiri saja Aran seperti tidak kuat.
Tidak boleh! Aku tidak boleh mati mengenaskan disini...! Tapi tubuhku... benar-benar sulit untuk berdiri dan merangkak.
Aran yang terkulai lemah saat ini hanya bisa melihat kobaran api yang kian membesar dan udara yang semakin panas menyengat tubuhnya. Pandangan matanya pun kian kabur, ia mencoba meraih sesuatu untuk berdiri namun tidak bisa hingga pada akhirnya kesadarannya perlahan menghilang.
"Theo... Jia... Maafkan mama..."
Semuanya tampak gelap dan lenyap seketika.
...๐ธ๐ธ๐ธ...
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, VOTE YA...