
Pagi harinya saat Aran tengah membuat bekal, Theo yang saat itu bermaksud mengambil minum tak sengaja melihat mamanya membuat bekal lebih dari biasanya. Jika biasanya Aran membuat dua bekal untuknya dan Jia, kali ini Theo melihat sanga mama membuat bekal lebih dari dua. Sontak rasa penasaran Theo pun bergejolak, ia pun bertanya pada sang mama sebenarnya bekal satunya lagi untuk siapa?
"Ehm, bekal ini untuk mama. Habisnya tiba-tiba saja mama ingin makan masakan sendiri," ungkap Aran yang bagi Theo seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
"Oh begitu. Tapi benar buat untuk mama sendiri kan?" Telisik Theo menantap serius mamanya.
"Tenju saja, memang untuk siapa lagi?"
Melihat gelagat mamanya, Theo sebenarnya tahu betul kalau mamanya itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya saat ini. Namun karena Theo pun tak tahu apa yang mamanya sembunyikan, akhirnya Theo memutuskan untuk percaya saja dulu pada sang mama.
"Yasudah kalau memang begitu, aku mau lanjut makan sarapanku lagi."
Lara tersenyum lalu menghela nafas lega. "Huft, untung saja Theo percaya. Kalau tidak bisa gawat kalau sampai dia tahu aku membuat bekal ini untuk Ruka."
Setelah semalam Aran cerita pada Risa tentang dirinya yang ingin minta maaf pada bosnya. Ia pun mengikuti saran Risa agar membuatkan makanan untuk bosnya sebagai bentuk permintaan maafnya.
"Sudah jadi!"
Akhirnya bento buatan Aran untuk Ruka dan kedua anaknya pun selesai ia buat. Melihat tiga bento yang sudah tersusun rapi itu Aran jadi merasa seperti tengah menyiapkan bekal untuk suami dan anaknya.
"Hais! Aran hentikan membayangkan hal seperti itu! kau harus ingat, kau dan pria itu sudah tak ada hubungan apa-apa!"
Tidak mau memikirkan hal itu terlalu lama, Aran pun segera mengepak bento-bento tersebut lalu bersiap untuk bekerja dan mengantar anak-anaknya.
Sehabis mengantarkan Theo ke sekolahnya, dan menitipkan Jia ke daycare. Aran pun langsung mengambil pakaian Ruka di laundry setelah itu menuju ke Galaxy tower tempatnya bekerja.
Tiba di kantor Aran langsung berganti seragam dan bersiap untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Melihat jam masih pukul 08.15 pagi, Aran pun merasa masih terlalu pagi untuknya ke ruangan Ruka mengembalikan pakaiannya. Ia pun memutuskan untuk memberikannya nanti saja saat sudah mau dekat jam makan siang, sekalian dengan bento buatannya.
Saat tengah meletakan bekal yang ingin ia berikan ke Ruka di lokernya. Tiba-tiba Aran malah dikagetkan oleh kehadiran Chika yang tiba-tiba.
"Chika, kau ini buat aku kaget saja!"
"Haha... Maaf. Eh apa itu yang kau barusan taruh di lokermu?" Tanya Chika penasaran.
"Itu... Bekal untuk tuan Ruka."
"Jadi kau membuatkan bekal tuan Ruka!"
Aran langsung membungkam mulut Chika, dan menasehatinya agar tak bicara keras-keras.
"Kecilkan suaramu! Kalau ada yang dengar kan bisa gawat."
"Iya-iya maaf. Tapi kenapa kau tiba-tiba memberinya bekal?"
Aran pun memberitahukan temannya itu kalau maksud ia membuatkan bekal untuk Ruka adalah sebagai tanda permintaan maaf agar ia tak dipecat. "Meski masakanku bukan masakan dari restoran mewah, tapi aku optimis dengan masakan buatanku."
Dengn bekal pengalamannya sebagai tukang masak di restoran lokal saat masih di Kelvari, Aran yakin Ruka pasti suka masakannya. Terlebih masakan yang Aran bawakan ini adalah salah satu menu kesukaan Ruka dulu saat mereka masih bersama.
"Yasudah kalau begitu semangatlah... Aku doakan usahamu disambut baik oleh tuan Ruka yang tampan itu," ujar Chika menyemangati temannya.
"Terima kasih Chika."
"Sama-sama."
Dan keduanya pun langsung meninggalkan ruangan itu dan bergegas menjalankan tugas masing-masing.
"Jal@ng itu memang benar-benar tidak tahu malu! Bertahun-tahun aku kerja disini, sekalipun aku belum pernah masuk ke ruangan tuan Ruka apalagi bicara dengannya. Sementara dia, sudah ke ruangannya, sekarang mau mencoba menggoda dengan cara memberi makanan. Tidak bisa dibiarkan!"
Tiba-tiba senyum licik Meli mengembang tatkala ia mendapat ide untuk mengerjai Aran. "Lihat saja, sebentar lagi j@lang kecil itu pasti akan dapat pelajaran berharga di hidupnya!"
Sudah hampir jam makan siang, Aran pun membawakan pakaian Ruka yang baru saja ia laundry beserta bekal yang ia buatkan. Meski agak takut, namun Aran mencoba memberanikan diri menekan bel di depan pintu ruangan Ruka berada.
"Masuk...!" Seru pria itu dengan suaranya yang husky.
Aran akhirnya masuk ke dalam ruangan Ruka. Disana Aran seketika langsung dibuat terpesona saat melihat Ruka yang tampak begitu serius bekerja di meja kerjanya. Wajahnya yang tampan dengan garis wajah tegas, ditambah raut wajah seriusnya yang berkarisma. Aran berani bertaruh semua mata terutama wanita pasti juga akan terpesona jika melihat tuan Ruka saat ini.
"Nona Aran kenapa malah bengong disana?" Ujar Ruka memecah lamunan Aran.
"Oh i- iya maaf tuan. Ini aku kemari membawakan kemeja anda yang sudah selesai aku laundry."
Ruka melihat label pada pembungkus pakaiannya, ternyata Aran benar-benar Aran melaundry pakaian Ruka di tempat biasa ia melaundry.
"Silakan letakan bajuku di dekat sofa," titah Ruka. Aran pun tanpa banyak tanya langsung meletakan di tempat yang dimaksud oleh bosnya tersebut.
"Baiklah kau boleh keluar sekarang!" Tandas Ruka terkesan cuek. Sayangnya Aran bukannya keluar malah diam saja dan bertanya pada Ruka, apakah dirinya akan dipecat?
Ruka meletakan bolpoinnya lalu menatap ke arah Aran yang kini berdiri menghadap di depan meja kerjanya sambil membawa tentengan.
"Nona Arana Haurin, kalau kau yang jadi diriku apa yang akan kau lakukan terhadap pegawai yang sudah menyiramu dengan air kotor?"
Jujur saja Aran tak tahu harus menjawab apa, mengingat ia tak pernah menjadi bos sebelumnya. Tapi jika itu dilihat dari sisi kemanusiaan mungkin ia akan memaafkannya.
"Kau akan memaafkan pegawaimu itu?" Tanya Ruka lagi sambil terus menatap Aran seraya tak berkedip.
"Iya tuan. Aku akan memaafkanya tapi dengan syarat. Jika dia melakukan kesalahan lagi, maka dia harus langsung dipecat."
"Begitu ya? Baiklah kalau begitu aku tak akan memecatmu dan memberimu kesempatan."
Wajah Aran langsung tampak sumringah mendengarnya. Ia pun langsung berterima kasih kepada Ruka dan memberikan bekal yang ia sudah buat itu kepada bosnya, sebagai tanda permintaan maafnya karena sudah menyiramnya kemarin.
Awalnya Ruka enggan menerimanya, namun melihat bento buatan Aran tampak enak ditambah dirinya juga lapar, akhirnya ia pun menerimanya dan menyuruh Aran meletakannya diatas mejanya.
"Kalau begitu aku pamit dulu tuan, sekali terima kasih banyak atas kesempatan yang anda berikan. Aku permisi..."
Aran akhirnya bisa bernafas lebih lega saat ia tahu Ruka akhirnya memberinya kesempatan.
Sementara Ruka yang lapar dan penasaran dengan rasa bento buatan Aran pun, langsung mencicipinya dan benar saja. Bento buatan Aran sangat lezat, dengan lahap Ruka pun menyantap bekal itu. Namun kenikmatan Ruka menyantap makanan itu tak berlangsung lama, tiba-tiba saja perutnya terasa melilit dan sakit sekali
Raut wajah Ruka pun seketika menjadi murka. Ia menatap bekal buatan Aran dan langsung melemparnya sambil memaki dengan kasar. "Gadis sialan! Benarinya kau main-main denganku!"
Setelah meminum obat yang disarankan oleh dokter pribadinya, perut Ruka pun jauh lebih baik rasanya. Dengan raut wajahnya yang masih penuh amarah, pria itu langsung menelepon Rowen dan menyuruhnya menghadap dirinya sekarang juga.
"Gadis itu, beraninya dia memberikanku makanan yang sudah ia beri obat pencahar. Lihat saja Arana Haurin, akan kubuat kau menyesal karena sudah berani mempermainkanku."
Kemarahan Ruka tidak main-main. Apa yang akan dilakukan Ruka terhadap Aran? Bagaimana nasib Aran, apakah kali ini ia sungguh akan dipecat?
...🌸🌸🌸...