
Setelah makan malam bersama di kediaman Arshavin, Ruka bersama keluarganya yakni,ย Jura, Hani, Lusi, serta Karaz tampak bersantai sambil menikmati sajian pencuci mulut diruang tengah. Selain keluarga Arshavin disana juga ada Bianca yang juga ikut bergabung bersama mereka.
Dan tentu saja alasan kenapa Ruka tiba-tiba diminta makan malam bersama oleh kakeknya sudah pasti karena ada Bianca dikediamannya hari ini.
Ditengah suasana santai, sang kakek tiba-tiba saja membahas tentang masa depan hubungan Ruka dengan Bianca. Jura mengatakan jika ia berharap agar hubungan cucunya dengan Bianca akan semakin berkembang dan berlanjut ke jenjang yang lebih serius yakni pernikahan.
Bianca sebagai yang paling senang dengan pembahasan tersebut pun terlihat senyam senyum sendiri membayangkan kalau dirinya akan segera menjadi istrinya Ruka. Namun sebaliknya, Ruka malah terlihat datar dan tak memperlihatkan ekspresi apapun saat itu.
"Aku sudah tidak sabar dapat cicit darimu Ruka," ungkap Jura.
Mendengar kakeknya membahas soal cicit, Ruka tiba-tiba tersenyum miring dan teringat akan kedua anaknya dengan Aran.
Kakek kalau kau mau cicit sekarang juga aku sudah kabulkan, bahkan kau punya dua cicit yang sangat menggemaskan.
"Jadi Ruka kapan kau dan Bianca akan siap untuk menikah?"
Pertanyaan sang kakek membuat Ruka tergelitik, ia sejujurnya tidak tahan ingin mengatakan kalau alasan dirinya mau bertunangan dengan Bianca hanyalah perjanjian semata dengan wanita itu.
"Kakek, kenapa kau tidak tanyakan saja sendiri pada nona Bianca. Kurasa dia yang paling semangat untuk menikah denganku. Iyakan Bianca?"
Ruka melirik Bianca dengan tatapan mengejek seolah menegaskan kalau hanya Biancalah yang semangat menikah sementara dirinya tidak.
"Oh soal itu, aku terserah kakek saja baiknya bagaimana," ungkap Bianca sambil menggerutu. Ruka sungguh membuatku kesal!
"Kalau begitu, bagaimana kalau awal tahun depan saja? Aku rasa itu bagus, mengingat tahun depan tidak sampai setengah tahun."
Seketika semua hening, seolah menggambarkan kalau saat itu tidak ada yang punya jawaban dengan pembahasan tersebut. Begitupun Lusi yang sejak tadi hanya diam saja menahan rasa kesal atas pembahasan yang tidak menarik baginya tersebut. Menurut Lusi saat ini ada hal yang jauh lebih penting yakni, memastikan Aran dan anak-anaknya segera enyah dari kota ini. Kalau perlu ia ingin membuang Aran dan anak-anaknya ke luar negeri.
Wanita itu dan anak-anaknya kini adalah ancaman terbesar bagi Lusi. Terutama Ruka yang ia tahu begitu mencintainya dimasa lalu, dirinya tidak akan membiarkan keturunan Ruka menjadi ahli waris dari Skyper group.
Selain Lusi, disana juga tampak Karaz yang sepertinya hanya bisa menahan suaranya untuk berkata jujur, mengingat ia tahu kalau kakaknya tidak mencintai Bianca. Ditambah ia tiba-tiba saja teringat dengan sosok Aran yang ditemuinya di apartemen Ruka beberapa hari yang lalu. Karaz yakin betul kalau Aran bukan gadis biasa dimata Ruka. Jika dia gadis biasa mana mungkin kak Ruka membiarkannya masuk ke apartemen pribadinya?
Merasa suasananya jadi hening dan kaku setelah suaminya bicara, Hani sang istri pun mencoba memecah keheningan dengan berkata kalau besok atau lusa, ia akan melakukan kunjungan kerumah sakit untuk kegiatan sosial anak-anak yang menderita kanker. Seperti biasa, Hani yang merupakan pemilik lembaga peduli anak-anak skyperkids selalu rutin melakukan kegitan sosial di rumah sakit tiap bulannya. Dan kebetulan bulan ini ia akan berkujung ke rumah sakit anak skyper, rumah sakit yang tidak lain didirikan oleh putranya sendiri yakni dokter Eric, ayah Ruka.
"Jadi nenek mau berkunjung ke rumah sakit?" Tanya Karaz.
"Ya, aku rindu lihat senyuman anak-anak manis itu. Dan sepertinya aku memang rindu. Sosok anak kecil...," gurau Hani yang sejujurnya juga berharap segera dapat cicit dari Ruka. Tapi melihat sang cucu yang sepertinya belum tertarik menikah dan punya anak ia, tidak ingin memaksakan kehendaknya.
"Kak, sepertinya nenek sedang memberimu kode agar kau segera punya anak," goda Karaz pada sang kakak.
Mendengar sang nenek berkata demikian, Ruka pun spontan berkata, "Tenang saja nek, kek, tidak lama lagi kalian akan segera mendapatkannya."
Seketika Bianca senyum-senyum dibuatnya. Ia mengira Ruka berkata seperti itu karena ingin membuatnya bahagia dan tidak tertekan karena desakan pertanyaan kakek tentang pernikahan.
Tidak hanya Bianca, yang lain pun berpikir kalau ucapan Ruka barusan adalah tanda kalau ia akan segera nenikahi Bianca. Namun tidak bagi Lusi, entah kenapa dirinya justru sangat takut dan bepikir kalau apa yang dikatakan oleh Ruka barusan adalah merujuk pada anak-anaknya dengan Aran.
Aku harus bergerak cepat, tidak boleh sampai apa yang kutakutkan saat ini terjadi.
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Setelah selesai makan malam dan berbincang-bincang keluarga, akhirnya karena sudah larut malam, Ruka pun mengantar Bianca pulang ke rumahnya. Dan setibanya di depan kediaman Shiorin yang juga tak kalah mewah, Bianca menawarkan Ruka untuk mampir sebentar ke rumahnya. Ia bilang kedua orang tuanya sedang ada di luar negeri jadi ia merasa bisa lebih leluasa disana.
Sayangnya Ruka sama sekali tidak tertarik dengan tawaran Bianca, ia malah menyuruh wanita itu agar segera masuk rumah mengingat udara malam hari semakin dingin. Tentu saja tanggapan Ruka yang datar seperti itu membuat Bianca jengkel, namun hal itu tidak terlalu ia tampakan mengingat ia tidak mau Ruka menilainya sebagai gadis yang suka memaksa.
"Yasudah cepat masuk sana...!" Ucap Ruka dengan nada acuh tak acuh.
"Baiklah aku akan masuk, tapi sebelum itu aku ingin berterima kasih padamu."
Ruka mengerutkan kening, ia tidak paham maksud Bianca berkata begitu dengan raut wajah senyum-senyum tak jelas.
"Terima kasih untuk apa?"
Bianca langsung syok tak menyangka melihat Ruka yang seketika lansung menghindar saat ia mau menciumnya.
"Ke- kenapa kau?"
Ruka menoleh menatap Bianca dengan tatapannya yang tajam dan seperti tidak senang.
"Dengar Bianca, kau sendiri tahu bukan? Aku bersedia bertunangan denganmu itu hanya karena perjanjian kita waktu itu. Jadi tolong jangan berlebihan dan melewati batasmu!"
"Tap- tapi... kau bilang tadi ke nenek kalau, 'kau akan segera memberikan cicit untuknya'?"
Ruka mendengus seraya mengejek Bianca yang telah salah paham dengan perkataannya.
"Aku memang berkata seperti itu, tapi sayangnya ucapan itu tidak ada hubungannya denganmu."
Bianca terbelalak kaget.ย "A- apa maksudmu? Ja- jangan bilang kau punya wanita lain iya?! Jawab aku Ruka!"
Bianca yang panik dan penasaran memaksa Ruka menjelaskan maksud perkataannya. Tapi sayangnya Ruka tak peduli akan desakan dari Bianca yang saat ini tengah emosional.
"Ruka jawab aku!'
"Berisik!"
Bianca pun terdiam dibentak oleh Ruka.
"Sekarang juga segera turun dari mobilku dan masuklah ke rumahmu!" Titah Ruka dengan tegas hingga Bianca dibuat diam dan segera turun dari mobil.
Setelah itu Ruka yang tanpa pamit pun langsung tancap gas pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Bianca yang masih belum tenang dan emosi akan jawaban Ruka pun dibuat penasaran dengan prasangkanya yang merasa kalau Ruka punya wanita lain.
"Jika benar dia punya wanita lain. Maka aku tidak akan biarkan wanita itu mendapatkan Ruka!"
Saat itu juga Bianca pun bersumpah tidak akan membiarkan wanita manapun merebut tunangannya, dan memastikan kalau Ruka akan jadi miliknya selamanya.
"Lihat saja, akan kubuat Ruka Arshavin bertekuk lutut dihadapanku
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Di rumah sakit setelah menemani Theo sarapan bersama Risa dan Jia, Aran tiba-tiba saja mendapati telepon dari nyonya Lusi, ia pun seketika memasang wajah kaget saat itu juga.
"Mama kenapa seperti kaget begitu melihat layar ponsel. Memang siapa yang menelepon?" Tanya Theo yang merasa curiga melihat ekspresi sang mama.
"Iya Aran, kenapa kau seperti syok begitu?"
"Oh bu-bukan apa-apa. Um... Aku keluar dulu ya angkat telepon." Aran pun segera keluar ruangan dan mengangkatnya.
"Halo?"
^^^Temui aku segera di taman belakang rumah sakit, cepat!^^^
"Ta- tapi nyonya aku..."
Tut! Tut!
"Bagaimana ini?" Aran pun terlihat semakin panik saat ini setelah mendengar suara Lusi yang meminta dirinya untuk bertemu saat ini.
Sejatinya Aran takut sekali kalau sampai nyonya Lusi datang dan melakukan hal yang buruk terkait ia tahu kalau Ruka kini bawahannya.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk melindungi anak-anakku saat ini?"
...๐ธ๐ธ๐ธ...