Remember Me Husband

Remember Me Husband
Aran vs Bianca



Di akhir pekan, Aran akhirnya membawa kedua anak-anaknya bermain ke taman bermain Skyland. Dan pada akhirnya Aran memutuskan mengajak Risa ikut pergi bersamanya agar satu tiket lagi tidak terbuang sia-sia.


Disana Aran, Risa, berserta kedua anaknya terlihat bahagia sekali. Mereka memainkan berbagai macam wahana bermain. Dan teruntuk Theo sendiri ia sepertinya lebih senang jika bermain wahanya tanpa ditemani mamanya, mengingat Aran sendiri tidak terlalu cocok naik wahana lama-lama karena ia akan mudah mual dan pusing.


Aran yang sudah mulai kewalahan pun memutuskan untuk istirahat sejenak, sementara kedua anaknya ditemani oleh Risa melanjutkan bermain.


Di taman bermain Skyland sendiri terdapat banyak bangku-banku besi berwarma di tiap sisi area. Aran pun memanfaatkannya untuk beristirahat sampai setidaknya rasa mualnya setelah naik wahanya berkurang. Dan setelah rasa pusing dan mualnya berkurang, Aran pun mengeluarkan sekotak jus dari dalam tas dan meminumnya.


Berbicara soal tiket bukankah tiketnya tertinggal di ruangan Ruka?


Memang, dan waktu itu Aran baru menyadari kalau tiketnya tertinggal setelah ia sudah kembali ke pantry. Saat itu Aran langsung dibuat frustasi karena dilema antara mengambilnya atau merelakannya.


Tentu saja menurut Aran, siapa wanita gila yang mau kembali ke ruangan pria yang baru saja berciuman denganmu hingga membuat wajahmu merah padam?


Bahkan degup jantung Aran seolah langsung terpacu setiap kali ia mengingat adegan ciumannya dengan Ruka di ruangannya.


Huh menyebalkan, lalu aku harus bagaimana?


Tapi sampai menjelang sore Aran tak juga mengambil kembali tiketnya. Namun setelah ia teringat kedua buah hatinya yang ingin sekali pergi ke Skyland, Aran pun akhirnya memberanikan diri untuk menemui Ruka lagi di ruangannya. Tentu saja setibanya di dalam ruangan Aran tak bisa menyembunyikan rasa malu dan canggungnya saat itu. Ia berusaha membuang rasa malunya, kemudian berbicara sesingkat mungkin tentang dirinya yang ingin mengambil tiketnya yang tertinggal di ruangan Ruka.


Untungnya Ruka saat itu sedang dalam mode serius, jadi ia langsung saja memberikan tiket itu pada Aran tanpa banyak bicara kecuali pada kalimat terakhir, saat Aran sudah mau keluar dari ruangannya.


Pria itu berkata, "Nona Arana meski wajah anda terlihat innocent, tapi skill anda dalam berciuman lumayan juga ya."


Darah panas yang mendidih seolah menjalar di permukaan kulit kepala dan wajah Aran. Ia yang tak punya kemampuan lagi untuk membalas kata-kata Ruka barusan. Yang hanya bisa ia lakukan hanyalah menelan kalimat itu mentah-mentah dan pergi meninggalkan ruangan bosnya.


Aran yang tengah dan duduk beristirahat pun menaik turunkan bahunya menghela nafas, mengembalikan ketenangan batinnya kembali setelah ia ingat kejadian di ruangan Ruka tadi.


"Padahal sudah lewat dua hari tapi kenapa aku masih saja tidak bisa santai saat mengingatnya? Huh menyebalkan sekali!"


"Mama!"


Jia yang mengenakan topi berbentuk kelinci di kepalanya berlari ke arah Aran diikuti Risa yang mengejarnya. Sementara Theo, ia tampak santai berjalan memakai topi bergambar luar angkasa.


"Ah sayang sudahkah kalian selesai bermainnya?" Tanya Aran sambil meraih tangan mungil putrinya.


"Em," Jia mengangguk. "Jia senang sekali ma..."


Aran tersenyum dan membelai pipi Jia yang putih lembut seperti mochi sambil berkata, "Syukurlah kalau kalian senang. Mama juga ikut senang mendengarnya."


Karena sudah lumayan puas bermain, Aran dan yang lainnya istirahat di bangku panjang tersebut sambil menikmati bekal yang sudah dibuat oleh Aran. Sandwich isi tuna mayonaise pun disantap dengan lahap oleh ke empatnya.


Setelah perut mereka terisi dan kenyang, mereka pun memutuskan untuk diam selama beberapa waktu sambil menunggu usus mereka mencerna makanan dengan baik. Disana tercipta obrolan mereka yang mengalir begitu saja. Hampir sebagian besar membicarakan soal wahana di Skyland. Namun tiba-tiba saja topik berubah saat Risa bertanya kepada Aran soal tiket Skyland yang ia dapat itu. Karena jujur saja Risa maupun kedua anaknya sama-sama masih tidak tahu darimana Aran bisa mendapatkan tiket VIP itu.


"Soal itu..."


Sebenarnya Aran ingin cerita namun disisi lain ia tidak ingin kalau sampai kedua anaknya tahu jika tiket itu pemberian papa kandung mereka.


Tapi bukankah itu jahat?


Seolah menjauhkan anak dari ayahnya sendiri. Tentu saja iya jika dilihat hanya dari perspektif orang awam. Tapi bagi Aran, menjauhkan kedua anaknya dari Ruka saat ini masih lebih baik dibanding jika kedua anaknya sampai ketahuan nyonya Lusi.


"Mama, apa tiketnya dari paman Sean?" Tanya Jia sambil berekedip dengan polosnya menatap wajah Aran.


"Um— itu..."


Sementara Theo sendiri hanya dengan melihat dari ekspresi wajah sang mama seolah sudah bisa menyimpulkan kalau, jelas tiket itu bukan dari paman Sean.


"Huh! Sudahlah... Tidak perlu juga kita tahu. Anggap saja ini hadiah untuk kita karena sudah jadi orang baik," ujar Theo dengan nada bicara acuh tak acuh.


Aran tersenyum kecil. Ia mengerti maksud Theo bicara begitu adalah untuk melindungi dirinya yang saat ini memang tidak mau memberitahu siapa orang yang menghadiahkan tiket itu padanya.


"Tiket itu yang jelas dari orang yang sangat baik di kantor mama. Jadi mama akan sampaikan ucapan terima kasih kalian padanya."


Jia mengangguk setuju, sementara Risa tentu saja masih belum menerimanya. Sebagai orang dewasa tentu saja ia tidak bisa dengan mudah menerima alasan macam begitu. Menurutnya, semakin Aran tidak mau bilang semakin ia yakin ada yang sedang disembunyikan darinya.


...🌸🌸🌸...


Malam itu lagi-lagi Ruka dihantui oleh mimpi yang sama. Dan seperti biasa ia jadi tak bisa tidur lagi setelah itu. Pria itu pun menenangkan hati dan pikirannya dengan menikmati segelas anggur sambil menatap keluar jedela besar kamarnya. Dari jendela itu terlihat jelas pemandangan malam hari dibkota Renstone. Pemandangan kota yang terlihat begitu megah dan glamour mamancarkan cahaya yang menghiasi gedung-gedung bertingkat.


Matanya yang tajam dan tampak sayu hanya bisa terus menatap ke arah di depan tanpa peduli obyeknya. Kemelut pikiran Ruka saat ini hanya bertitik pada rasa penasaran yang samar-samar selalu saja membuatnya tidak tenang. Ruka berpikir, kali ini ia benar-benar harus membuang rasa abainya dengan mimpinya itu. Ini bukan lagi hal yang ia bisa abaikan terus menerus. Ia harus mencaritahu semua akar penyembab mimpinya yang terus berulang agar semua halaman kosong yang hilang itu bisa ia temukan.


Tak ayalnya seperti lubang yang terus menerus dibiarkan menganga rasanya sungguh menganggu.


...🌸🌸🌸...


Ya, siapa yang menolak pesona Bianca yang selalu tampil modis dan anggun dimanapun? Aran menatap ke sekeliling, ia bisa melihat beberapa karyawan wanita berbisik sambil menatap Bianca. Sepertinya mereka berbisik membicarakan tentang hubungan Bianca dengan Ruka.


Aran sendiri juga sudah bisa menebak kalau, kedatangan wanita itu ke kantor ini pasti tidak lain adalah untuk menemui Ruka.


Tentu saja itu hal wajar mengingat yang Aran tahu wahwa Bianca itu kan tunangan Ruka! Setidaknya itu yang Aran tahu.


Aran menurunkan kedua bahunya menghela nafas. Wajahnya yang selalu tampak tegar tanpa keraguan seolah ia sudah persiapkan sejak pertama dirinya mengetahui hubungan Ruka dengan Biaca.


Bagi Aran ia harus memiliki pertahanan sendiri agar tidak mudah tergelicir jatuh, sekalipun dirinya kini berada diatas terjalnya jalan pegunungan. Bahkan saat ia ingat kejadian tempo hari, dimana ia dan Ruka saling berbagi kecupan. Hal itu bisa saja menggoyahkannya dalam sekejap. Tapi Aran memilih tetap sadar dan tidak tebuai.


Karena ia tahu hal semacam itu tidak akan mengubah kenyataan kalau ia dan Ruka kini sudah tidak lagi bisa bersama.


Saat tengah menunggu lift terbuka, Aran tidak sengaja mendengar percakapan pegawai kantor lain yang membicarkan tentang kalung tuan Ruka yang hilang. Hal itu pun langsung mengusik rasa ingin tahu Aran. Hingga dengan sedikit tidak tahu malu ia punnmenguping sedikit pembicaraan dua karyawan wanita dibelakangnya tersebut


"Kau tahu, jika kita menemukan kalung itu pasti tuan Ruka akan senang sekali. Dan kita bisa minta padanya imbalan, ya minimal pergi kencan dengannya seharian atau seharian diranjang bersamanya. Ah aku bisa bayangkan betapa hot dan seksinya dia saat beraksatas ranjang!" Kedua wanita itu cekikikan geli.


Aran tanpa sadar langsung mengerutkan keningnya. Dewi batinnya pun seolah mengamuk saat ini mendengar kedua wanita itu dengan tidak tahu malunya membicarakan hal-hal mesum itu tentang mantan suaminya.


Menjijikan! Apa semua wanita dikota besar seobsesi itu dengan hal-hal explicit sampai dengan mudahnya mereka memikirkan hal itu pada pria yang bahkan bukan kekasih mereka? Tentu saja Aran tak menapik kalau Ruka memang memiliki fisik dan paras yang sempurna sebagai pria. Tapi terlepas dari bahasan menyebalkan itu, Aran seketika ingat dengan kalung yang ia pungut di depan lift beberapa minggu yang lalu saat ia pulang dari Galaxy tower pertama kali.


Oh mungkinkah kalung itu milik Ruka?


Tak lama pintu lift terbuka, tapi Aran bukannya melangkah masuk, ia justru berbalik badan dan berjalan segera ke bagian informasi.


Dengan agak terburuh-buru Aran menghampiri petugas wanita di meja informasi dan bertanya, "Um nona maaf, ku dengar tuan Ruka mencari sebuah kalung apa kalungnya seperti ini?"


Aran langsung menunjukan kalung platinum dengan bandul cicin yang ia pungut waktu itu kepada petugas


"Ah benar! Anda menemukan dimana nona?"


"Aku menemukannya waktu..." Aran pun memberitahu kronologisnya dan nona itu pun percaya.


"Wah, aku harus segera memberitahu tuan Ruka. Beliau pasti senang sekali dan anda akan dapat uang banyak sebagai imbalannya!" Seru pegawai tersebut yang terlihat ikut senang.


Sayangnya momen itu langsung dirusak dengan kehadiran Bianca yang entah sejak kapan berada berdiri di dekat Aran.


Bianca tiba-tiba saja merebut kalung itu dari tangan Aran dengan tanpa permisi.


"Jadi ini kalung milik Ruka?!"


Melihat itu Aran langsung saja meminta Bianca untuk mengembalikannya karena itu bukan miliknya.


"Hei kau siapa? Ini kalung tunanganku, tentu saja aku lebih berhak memegangnya dibanding kau gadis kumuh!"


Bianca langsung merendahkan Aran, sepertinya Bianca ingat dengan sosok Aran yang tempo hari memang sudah berpapasan dengannya waktu itu saat bersama Ruka.


"Nona Bianca, sebagai wanita dari kalangan terhormat bukankah merebut benda dari tangan orang lain itu sangat tidak sopan dan kasar?" Balas Aran.


Merasa tersinggung Bianca pun langsung emosi mendengarnya.


Tapi siapa peduli, Aran mengatakan hal yang benar.


Namun pada akhirnya si kaya yang akan tetap merasa diatas meskipun dirinya salah. Bianca tanpa peduli apapun bersikeras mengambil kalung itu dari tangan Aran dan mengatakan hal yang membuat Aran tentu tidak bisa membalas perkataannya.


"Harusnya kau paham, aku disini tunangan Ruka! Jadi sama saja kalau aku yang memberikannya pada Ruka. Oh, atau jangan-jangan kau mau memberikan langsung pada tunanganku karena ingin sekalian menggodanya?" Bianca memberikan tatapan yang seolah merendahkan Aran.


"... Ya wajar sih, seorang pekerja rendahan sepertimu pasti ingin dapat lebih saat ada kesempatan." Bianca mendekati Aran dan berbisik. "Aku ingat dirimu, kau gadis yang waktu itu berpapasan denganku dan Ruka. Aku melihat sendiri kau disana terus menatap tunanganku dengan tatapan yang berharap perhatian darinya, iya kan?"


Aran mengepalkan tangannya dan membalas dengan tegas. "Nona Bianca, kalau memang anda mau mengembalikan kalung itu pada Tuan Ruka silakan saja. Tapi satu hal yang anda harus tahu, tidak semua wanita itu sepicik yang anda pikirkan!"


"... Oh, enarkah itu...?" Bianca seperti tak yakin dan tetap pada pemikirannya yang begitu rendah menilai Aran.


Melihat situasinya saat ini, Aran sudah tahu dirinya tidak tak akan menang. Ia pun pada akhirnya memilih untuk lebih baik tak menyangga ucapan Bianca lagi dan memutuskan pergi meninggalkannya.


"Dasar wanita rendahan!"


Aran yang baru saja melangkah pergi bisa mendengar jelas umpatan Bianca. Tapi ia bisa apa? Sekali lagi hirarki sosial dalam kehidupan manapun akan selalu bekerja dengan sendirinya. Dimana yang berada diatas selalu bisa menekan mereka yang ada dibawah.


Menyedihkan bukan? Tapi itulah kenyataan yang selalu Aran saksikan.


...🌸🌸🌸...