
Sebelum jam kerja dimulai, tiba-tiba saja Rowen menghampiri Aran dan mengajaknya untuk ngobrol di bangku taman belakang sky tower. Disana Aran bertanya kepada Rowen, kenapa ia tiba-tiba saja mengajaknya ngobrol pagi-pagi begini?
"Sebenarnya tidak ada maksud lain. Hanya ingin ngobrol denganmu saja. Kebetulan juga, sudah beberapa hari pasca kebakaran itu kita tidak ngobrol secara langsung."
Memang benar yang dikatakan Rowen. Sejak hari itu obrolannya dengan Rowen hanya dilakukan via chat saja.
"Jadi bagaimana, apa kau mengalami trauma akibat kebakaran itu?"
Aran menghela nafas dan menjawab, "Trauma sih tidak. hanya merasa jadi sedikit lebih takut kalau melihat api menyala dengan ukuran cukup besar." Sejak kejadian itu juga Aran jadi super waspada kalau berurusan dengan yang namanya api.
"Jadi begitu, tapi syukurlah jika kau tidak trauma akan hal itu. Dan Aran— apa aku boleh tanya sesuatu?"
"Tanya apa?" Aran menoleh dan menatap Rowen seraya menunggu dengan penasaran apa yang ingin ditanyakan olehnya.
"Soal itu, orang yang menolongmu saat terjebak itu kan—"
"Aku sudah tahu."
"Eh benarkah?" Jadi dia sudah tahu kalau tuan Rukalah yang telah membantunya?
"Aku berhutang banyak pada Sean. Karena dia yang sudah menolongku..."
"Sean?"
Rowen sampai memicingkan matanya saking tak menyangka kalau Aran malah mengira Sean yang sudah menolongnya. Memang benar Sean yang membawanya ke rumah sakit, tapi yang sampai mempertaruhkan nyawa kan tuan Ruka? Dasar pria busuk, bisa-bisanya dia tidak mengatakan kebenarannya pada Aran!
"Tapi Aran, apa Sean tidak mengatakan hal lain— maksudku apa dia tidak cerita kronologis saat ia menyelamatkanmu misalnya?"
"Maksudnya?" Ekspresi kebingungan terlihat di wajah Aran saat ini.
"Maksudku... apa kau tidak merasa aneh. Jika memang Sean telah menolongmu dari kebakaran kemarin seharusnya dia kan terluka. Sementara Sean, kau bisa melihat sendiri bukan? Dia tampak tidak terluka sama sekali. Padahal kondisi kebakaran waktu itu cukup besar."
Kenapa Rowen berkata begitu? Apa mungkin...
"Jadi maksudmu Sean telah berbohong?"
"Aku tidak bilang demikian. Hanya saja itu agak aneh buatku, melihat orang yang masuk ke dalam sebuah kebakaran tanpa pakain pelindung tapi tidak terluka sama sekali."
Seketika mucul rasa bimbang di diri Aran. Ia pun jadi bertanya-tanya. Apa mungkin, selain Sean ada orang lain yang membantunya? Jika iya, kenapa Sean tidak bilang apa-apa?
Maafkan aku Aran, bukannya aku mau membuatmu jadi bingung seperti ini. Masalahnya aku sudah terlanjur janji pada tuan Ruka untuk tidak memberitahukan padamu soal dirinyalah orang yang telah menolongmu.
"Lalu kalau memang ada orang lain yang menolongku, siapa dia, apa kau tahu?"
Rowen menggeleng.
Aran pun jadi terlihat memikirkan siapa orang yang telah menolongnya.
"Hei Aran!"
"Ya...?"
"Kalau aku bilang, akulah orang yang telah menolongmu waktu itu bagaimana?"
"Huh?" Ekspresi wajah Aran terlihat semakin bingung dan heran dibuatnya oleh ucapan Rowen barusan.
"Maksudku, apa kau akan lebih senang jika aku yang menolongmu dibanding Sean?"
Entah kenapa Rowen langsung merasa kecewa dengan jawaban Aran. Sepertinya ia merasa kalau posisinya dengan Sean sepertinya sama dimata gadis itu.
"Jadi sama-sama akan merasa berhutang budi?"
"Ya begitulah..."
"Tapi kalau yang menolongmu ternyata orang lain seperti tuan Ruka misalnya..."
Mendengar Rowen menyebutkan nama pria itu Aran langsung tersentak. Tatapan mata yang awalnya datar tiba-tiba berubah memancarkan banyak emosi yang tersirat. Dan jujur saja ada keingingin di diri Aran yang berharap kalau benar Rukalah yang menolongnya.
Rowen menepuk pundak Aran. "Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku hanya asal bicara kok, hehe..."
"Dasar Rowen, senang sekali sih membuatku bingung." Sejujurnya aku memang cukup berharap kalau dia yang menolongku waktu itu.
"Hehe... Maaf-maaf."
"Yasudah kalau begitu aku kembali ke pantry dulu, kebetulan ada yang harus aku kerjakan." Aran lalu bangkit dari tempat duduknya dan pamit pergi duluan pada Rowen.
Jadi Begitu? Setelah melihat bagaimana ekspresi Aran saat ditanya tentang dirinya dan Ruka, Rowen pun mulai sadar. Dari ekspresi wajahnya tadi, aku sudah bisa menebak kalau Aran memang tidak punya perasaan apapun padaku.
Senyum pasrah berbalut kesedihan itu seraya menggambarkan, betapa seorang pria yang akhirnya memilih mundur lebih lebih cepat demi sang wanita pujaannya bahagia.
Memang Lebih baik berhenti berharap sebelum harapan itu semakin dalam hingga sulit untuk naik.
"Sepertinya... Akulah orang yang akan paling pertama menyerah untuk mendapatkanmu Aran..."
...🌸🌸🌸...
Saat sedang membuat kopi Aran terlihat melamun memikirkan perkataan Rowen di obrolannya tadi.
Yang dikatakan Rowen memang benar, memang cukup aneh jika orang yang tanpa pakaian pelindung bisa tampak sangat baik-baik saja setelah masuk ke dalam gedung yang terbakar. Kecuali dia pahlawan super.
Tapi jika benar memang bukan Sean yang menolongku dari kebakaran itu, kenapa Sean tidak mengatakan apa-apa saat dirumah sakit?
"Huh, membuatku pusing saja!"
Tapi Aran tidak bisa bohong, ia sendiri juga merasa penasaran dengan ini semua. Ia merasa harus tahu yang sebenarnya, siapakah orang yang sudah menolongnya dari kebakaran waktu itu?
"Sepertinya aku harus tanya pada Sean langsung!" Aran akhirnya memutuskan untuk mencari tahu langsung lewat Sean.
...🌸🌸🌸...
Sepulang kerja, Aran terlihat berdiri di dekat persimpangan jalan raya. Disana ia terlihat seperti tengah menunggu seseorang. Sampai akhirnya, tak lama kemudian muncul sebuah mobil mercy berwarna putih berhenti di depannya. Mobil itu tidak lain adalah mobil Sean.
Sean pun langsung meminta Aran masuk ke mobilnya. Tanpa berlama-lama Aran segara masuk ke mobil pria itu dan lalu pergi bersamanya. Sementara itu, dari arah berlawanan Ruka yang mobilnya sedang berhenti saat ingin pulang ke apartemennya, ternyata melihat adegan Aran masuk ke dalam mobil Sean. Alhasil Ruka pun tampak tidak senang dibuatnya.
"Tuan Ruka, apa kita mau ikuti mobil mereka?" Tanya Rowen yang saat itu mengemudikan mobil Ruka.
"Tidak usah! Kita lanjut jalan saja ke apartemen!"
"Baik tuan."
Rowen menghela nafas. Ia sedikit kesal melihat tuannya yang tidak mau jujur kalau ia menyukai Aran. Padahal aku sudah berusaha mundur, tapi tuanku malah diam ditempat. Huh dasar tuan penuh rasa gengsi!
...🌸🌸🌸...