Remember Me Husband

Remember Me Husband
Membiasakan Diri



Di mobil, setelah mengantar Theo dan Jia ke sekolah dan daycare, Aran yang diberi tumpangan oleh Risa pun diantar menuju ke tempat kerjanya. Di sepanjang perjalanan Aran terlihat murung dan tak banyak bicara, Risa yang melihatnya pun jadi merasa khawatir. Risa berpikir keadaan Aran yang seperti ini pasti disebabkan karena pertunangan tuan Ruka dengan Bianca dua hari yang lalu.


Hal itu wajar sih... Memang wanita mana yang tidak sedih dan patah hati, melihat pria yang masih dicintainya menikah dengan wanita lain.


Tidak ingin melihat temannya sedih berkepanjangan, Risa pun mencoba memastikan kalau temannya itu baik-baik saja.


"Aran, apa kau baik-baik saja?"


Aran menoleh ke arah Risa yang tengah menyetir lalu menjawab kalau ia baik-baik saja.


Meski begitu Risa tidak yakin dengan jawaban ran barusan. Ia pun memberitahu Aran agar dirinya boleh berkeluh kesah apalagi ia sendiri tahu saat ini Aran pasti merasa berat menerima pertunangan Ruka.


"Kau tidak perlu pura-pura tabah Aran. Lagipula, kenapa sih kau tidak mau membuat tuan Ruka ingat padamu lagi? Ingat, kau itu ibu dari kedua anaknya... Ditambah aku tahu kau masih mecintainya."


... Ya, apa yang dikatakan Risa benar, aku memang masih mencintainya. Tapi membuatnya ingat lagi padaku? Itu bukan perkara mudah.


"Risa... Terima kasih kau sudah mau selalu mendengarkan keluh kesahku. Tapi untuk takdirku dengan Ruka, aku rasa ini semua adalah jawabannya. Sepertinya— Tuhan ingin aku merelakanya." Lidah Aran terasa pahit mengatakan hal demikian, namun bagaimana pun ia harus sadar akan posisinya saat ini.


"Tapi Aran..."


"Sudahlah Risa..." Aran tersenyum pilu. "Aku tidak apa-apa kok. Yang harus aku lakukan sekarang hanyalah membiasakan diri mengingat kalau, saat ini Ruka statusnya sudah tunangan orang."


Mendengar Aran mengatakan hal itu dengan pura-pura tegar membuat Risa tidak tahan lagi memaki Lusi. Karena ia menganggap kalau semua ini adalah salah nyonya Lusi yang sudah dengan teganya memisahkan Aran dan Ruka.


"Cih wanita itu, dasar jahat! Padahal dia hanya ibu tiri tapi seenaknya pada tuan Ruka dan dirimu!"


"Apa? Ibu tiri?" Aran langsung terkesiap kaget karena baru tahu kalau Lusi ternyata hanyalah ibu tirinya Ruka.


"Jadi kau tidak tahu, kalau nyonya Lusi itu hanya ibu tirinya tuan Ruka?"


Aran menggeleng dengan ekspresi wajahnya yang seperti tidak tahu apa-apa.


"Astaga... Padahal itu sudah jadi rahasia umum dimana hampir semua orang awan saja tahu."


Jadi nyonya Lusi hanya ibu tirinya? Tapi kenapa dia seprotektif itu pada Ruka sampai tidak ingin ia menikah denganku? Apa nyonya Lusi sesayang itu pada Ruka, kalau iya wajar sih...


"Tapi Aran, asal kau tahu ya... Dari gosip yang beredar. Hubungan Ruka dan nyonya Lusi itu tidak baik. Hal itu disebabkan, karena nyonya Lusi itu tidak lain hanyalah orang ketiga yang tiba-tiba datang, dan menyebabkan kehancuran pernikahan tuan Eric dan nyonya Tiana, alias kedua orang tua kandung tuan Ruka."


Aran memasang ekspresi tidak menyangka. "Tapi itu semua baru gosip kan?"


"Ya memang— tapi bukankah sembilan puluh sembilan persen gosip itu adalah fakta yang tertunda? Dan aku yakin, Ruka yang melupakanmu itu juga pasti ulah nyonya Lusi."


"Entahlah..." Aran menghela nafas dan sadar kalau, sejatinya ia memang tidak tahu apa-apa soal asal usul dan latar belakang keluarga Ruka.


...🌸🌸🌸...


Di ruang pertemuan rahasia dengan disaksikan oleh penasehat hukum, dan para dewan komisaris serta para pemegang saham. Akhirnya Jura menandatangani surat yang menyatakan kalau 20% saham Skyper miliknya kini telah resmi menjadi milik Ruka. Dan dengan begitu, Ruka pun otomatus menjadi CEO sekaligus pemilik Skyper group secara perorangan mengingat saham yang dimiliknya telah lebih dari 60 %.


Setelah semua penandatanganan dan mengbadikan foto. Ruka yang kini memiliki kekuasaan tertinggi pun diminta sang kakek untuk memberikan semua yang terbaik yang dia bisa demi perusahaan.


"Kakek tenang saja. Justru dengan begini, aku akan lebih mudah dan leluasa menyingkirkan hama-hama busuk yang masih ada di Skyper." Ruka melirik ke arah Lusi.


Sial! Sia-sia semua usahaku! Jura tua bangka itu sudah memberikan semua sahamnya pada Ruka. Kalau begini, kemungkinan Karaz menjadi pemiliki Skyper group sudah pasti semakin mustahil!


"Bu, kau tidak apa-apa kan?"


Karaz memastikan sang ibu baik-baik saja. Ia tahu persis watak ibunya yang terobsesi memiliki Skyper group pasti saat ini sedang dalam perasaan marah dan terguncang.


Sayangnya kebaikan Karaz malah dibalas dengan ketus oleh Lusi.


"Diam kau anak tidak berguna!" Lusi yang merasa sangat geram pun akhirnya pamit meninggalkan ruangan itu. Berbeda dengan ibunya, Karaz justru dengan senang hati memberikan selamat kepada sang kakak.


"Kakak, selamat... Kau resmi jadi CEO sekaligus chairman skyper sekarang."


"Ya, terima kasih!"


Setelah semuanya pamit pergi dari ruangan dan hanya tersisa Ruka dan kakeknya. Disana Jura meminta sang cucu untuk segera menyelesaikan mega proyek yang pernah ia berikan kepada Ruka beberapa waktu lalu.


"Apa kau sudah pelajari semua dan mengerti Ruka?"


Ruka bersandar dimeja sambil melipat kedua tangannya didada. "Aku sudah pelajari dan aku paham. Kau mengerti keinginanmu kek, hanya saja... Untuk merealisasikannya, aku harus segera meninjau langsung tempatnya."


"Kau benar, dan aku rasa besok atau lusa, kau sudah bisa pergi ke kota Kelvari untuk memantau keadaan dan masyarakat disana."


"Baiklah kek, karena sudah semuanya dibicarakan. Maka aku izin pergi." Ruka berniat meninggalkan ruangan tersebut. Tapi sebelum pergi, Ruka menyempatkan untuk bertanya satu hal pada sang kakek.


"Kek, sekitar tujug tahun lalu... Apa kakek tahu apa yang terjadi padaku?"


Jura mendadak kaget Ruka bertanya hal itu. Pasalnya enam tahun lalu Jura pun tidak tahu apa-apa soal kecelakaan yang menimpa Ruka. Ditambah saat itu Ruka pernah dinyatakan sudah meninggal.


"Kenapa diam saja? Apa kau tahu sesuatu? Tidakah kau dan semua orang di kediaman Arshavin mencariku saat itu?"


Jura menghela nafas. "Kami semua mencarimu, bahkan media selama sebulan lebih tak berhenti membicarakanmu. Hanya saja..."


"Baiklah cukup kek, aku paham. Mulai hari ini biar aku saja yang mencaritahu semua hal-hal janggal yang terjadi di keluarga ini. Termasuk kematian misterius ibuku yang terjadi dua puluh tahun lalu."


"Maaf aku tidak bisa menjadi kakekmu yang bisa kau banggakan." Jura merasa menyesal.


"Tidak masalah, kau sudah tua dan tugasmu saat ini hanyalah... Cukup bahagiakan nenek dan nikmati sisa usia kalian. Tanggung jawab Skyper biar aku yang mengurusnya."


Senyum penuh rasa bangga terlukis di bibir Jura. Melihat Ruka saat ini, ia pun semakin yakin jika cucu kebanggannya itu pasti bisa menjadi pemimpin yang sangat hebat bahkan jauh melampauinya.


"Kalau begitu aku pergi..." Ruka akhirnya pergi meninggalkan Jura.


"Kau memang cucu terbaikku Ruka..."


...🌸🌸🌸...


JANGAN LUPA, LIKE, KOMEN, FAVORITIN YA...