Remember Me Husband

Remember Me Husband
Tanggal Pertunangan



Pagi harinya di kediaman Arshavin, semua orang berkumpul untuk sarapan bersama. Termasuk Ruka khusus hari ini ia datang pagi-pagi agar bisa sarapan disana.


Setelah semua anggota keluarga berkumpul, Ruka pun menyarankan agar segera mulai sarapannya mengingat dirinya masih harus ada meeting dengan salah satu wakil perusahaan dari luar negeri. Sayangnya sang kakek tak mengindahkan ucapannya tersebut, ia malah diam seolah masih menunggu yang lain.


"Suamiku, apa masih ada yang kau tunggu?"


Hani sang istri pun akhirnya juga dibuat penasaran dengan Jura yang belum juga mau mulai sarapan. Begitu pun dengan Lusi dan Karaz yang sudah sejak tadi duduk menunggu.


Sebenarnya apa yang orang tua ini pikirkan? Apa dia menunggu seseorang untuk memberikan sebuah pengumuman terkait perusahaan? Lusi sungguh ingin tahu apa yang dipikirkan mertuanya itu.


Tak lama kemudian, munculah Bianca yang datang menghampiri ruang makan sambil menyapa semuanya.


"Selamat pagi...."


""Selamat pagi."" Mereka yang disana kecuali Ruka membalas secara begantian sapaan Bianca.


Wanita itu pun datang dengan raut wajah sumrigah, dan langsung duduk disebelah Ruka.


"Hai Ruka, selamat pagi..."


Mata Ruka melirik sebentar ke Bianca dan hanya membalas dengan hanya sebuah dengungan suara dari tenggorokannya. Sejujurnya jika bukan karena menjaga sikap di depan sang nenek, Ruka malas sekali mau menyapa balik wanita disebelahnya tersebut. Bagi Ruka kehadiran wanita itu hanya membuatnya jadi kehilangan nafsu sarapan.


Berhubung semua yang Jura tunggu sudah datang, akhirnya sarapan dimulai. Saat sarapan berlangsung suasananya sangat tenang, tidak ada yang banyak bicara saat ini, bahkan Karaz yang biasanya banyak bicara pun kali ini hanya diam saja menyantap sarapannya.


"Maaf aku sudah selesai, jadi aku duluan!"


Ruka yang sudah selesai sarapan pun beranjak dari kursinya. Namun sesaat kemudian kakeknya malah menghalanginya pergi, dan memintanya agar jangan pergi dulu karena ada hal yang ingin Jura sampaikan pada semuanya.


Kebetulan Ruka juga ingin tahu apa yang ingin kakeknya katakan, ia pun akhirnya mengurungkan niatnya dan kembali duduk.


"Jadi semuanya... sebelum sesi sarapan ini berakhir, ada beberapa hal yang aku ingin sampaikan terkait masa depan keluarga Arshavin."


Mendengar Jura berkata begitu, sontak membuat Lusi cukup was-was, mengingat jika bicara soal masa depan keluarga ia pasti akan merasa dirugikan. Sebab kedudukan Karaz putranya saat ini masihlah minor pemilik saham, sehingga ia pun belum bisa tenang.


Jura kembali meneruskan kata-katanya. Disana akhirnya ia memberitahukan kalau, dirinya telah memutuskan akan menggelar acara pertunangan antara Ruka dan Bianca bulan depan, tepat di hari jadi pernikahannya dengan Hani yang ke-57.


Mendengarnya, Hani yang ternyata belum mengetahui rencana suaminya itu pun agak terkejut dan protes. "Sayang, kau tidak memberitahuku tentang ini?"


"Hani sayang aku minta maaf, tapi memang rencana ini baru kuputuskan secara tiba-tiba kemarin. Jadi aku belum sempat memberitahumu."


Hani langsung melihat ke arah Ruka yang saat ini tampak tenang dan tidak menunjukan reaksi apapun. Hal itu membuatnya jadi semakin bertanya-tanya, apakah itu artinya Ruka sudah setuju bertunangan dengan Bianca?


Hal yang sama ditanyakan Lusi dibenaknya saat ini. Apakah Ruka menerima pertunangannya dengan Bianca, seandainya ia setuju Itu tandanya posisi Karaz akan semakin terpojok. Karena yang Lusi tahubetelah Ruka resmi tunangan dan menikah nanti semua saham Jura akan jatuh ke tangan Ruka. Dan itu tentu tidak bisa dibiarkan oleh Lusi. Ia pun akhirnya menjadi tim yang menolak pertunangan Ruka demi kepentingannya.


"Maaf ayah mertua, bukankah. ini tidak terlalu mendadak. Ya maksudku— Ruka... Bukankah dia dan Bianca sudah tidak berpacaran lagi? Apa mungkin tiba-tiba saja bertunangan?" Lusi berbicara begitu mencoba untuk membuat mertuanya goyah dengan keputusannya.


Di lain sisi, Bianca langsung menatap sinis kearah Lusi yang jelas tidak setuju dengan pertunangannya dengan Ruka.


Sial! Ibu tirinya Ruka ini memang sungguh menyebalkan! Batin Bianca mengumpat kesal


Sementara Ruka sendiri tampak hanya menampakan senyum tipisnya yang penuh arti. Ia merasa di ruangan ini tengah banyak hal menarik yang ia saksikan. Pertama ibu tirinya yang ketakutan ia akan bertunangan, dan yang kedua adalah Bianca yang sepertinya akan mengibarkan bendera perang pada Lusi. Sementara Ruka sendiri merasa kedepannya drama di keluarganya ini akan semakin seru. Aku jadi tidak sabar melihat kelanjutannya setelah mereka dengar keputusanku nanti.


"Ehem!" Jura berdeham. "Aku memang mendadak memutuskannya. Tapi semua ini bukan keputusan yang kubuat dengan tergesa-gesa. Jadi aku harap kalian paham."


Kalau Jura sudah memutuskan tentu saja hampir sama dengan kemutlakan dan jarang ada yang berani membantah kecuali Ruka. Untuk itu Jura pun bertanya kepada Ruka dan Bianca terkait tanggal diadakannya pertunangan mereka itu.


Bagi Bianca sendiri tentu saja ia sangat setuju karena semakin cepat semakin baik. Tapi bagaimana dengan Ruka sendiri? Apa dia akan setuju? Hal itu membuat Bianca cukup khawatir dibuatnya. Tapi mengingat kembali dimana Ruka sudah berjanji untuk bertunangan dengannya bukan mustahil ia akan setuju juga.


"Ruka, bagaiamana menurutmu? Apa kau setuju tentang pertunangan kita?"


Ruka sejenak terdiam. Ia lalu secara bergantian menatap orang-orang yang saat ini tengah penasaran dengan jawabannya. Diawali dengan seringai kecil dibibirnya Ruka pun menjawab, "Ya aku setuju!"


Jawaban Ruka langsung menghadirkan respon yang berbeda-beda. Tentu saja bagi Jura dan Bianca jawaban Ruka memuaskan. Namun bagi Hani dan Karaz, jawab Ruka barusan seolah benar-benar tidak bisa dipercaya.


"Kak, apa kau yakin dengan yang kau katakan?"


"Benar cucuku, apa kau sudah memikirkan semuanya?"


"Kalian berdua tenang saja, aku menjawab tanpa paksaan sama sekali! Tapi kalau ada yang tidak senang dengan ucapanku barusan, aku sih minta maaf..." Ruka kemudian melirik dengan tatapan provokasi ke arah Lusi. Ia sengaja melakukannya karena tahu persis saat ini ibu tirinya itu pasti tengah menahan rasa murka didadanya.


Brengsek kau Ruka! Beraninya kau memprovokasiku di hadapan semuanya! Lihat dan tunggu saja, akan kupastikan rencanamu tidak akan berjalan lancar.


Melihat hampir semua sudah setuju dan tidak ada bantahan lagi, maka Jura pun secara resmi memutuskan pertunangan Ruka dan Bianca akan diadadakan bulan depan.


...🌸🌸🌸...


Jangan lupa di vote, comment dan Likenya juga ya...