
Sudah tiga hari sejak Theo dirawat rumah sakit, namun belum ada tanda-tanda bahwa ia akan siuman. Dan selama beberapa hari itu pula Ruka yang sudah tahu kebenaran kalau dirinya adalah ayah kandung dari Theo dan Jia, selalu datang untuk memantau keadaan putranya sekaligus menenui Jia di rumah sakit.
Hari itu pun Ruka kembali menemui putranya di ruang ICU, disana ia menatap sang putra yang kini terbaring lemah tak sadarkan diri. Menurut dokter yang diminta khusus oleh Ruka untuk menangani Theo. Putranya itu kemungkinan mengalami trauma karena benturan yang cukup keras dikepalanya hingga menyebabkan kemungkinan adannya cedera di bagian dalam. Namun hal itu belum bisa dipastikan sepenuhnya karena Theo belum sadar. Sebagai seorang ayah Ruka sangat sedih melihat keadaan putranya saat ini.
Ruka merasa bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri, dimana sebagai seorang ayah dirinya malah tidak bisa melindungi anak-anaknya.
"Theo... Maafkan aku karena belum bisa jadi ayah yang jauh dari kata baik untukmu dan Jia. Aku menyesal karena baru bisa bertemu dengan kalian. Tolong maafkan papa..." Untuk pertama kalinya Ruka paham bagaimana rasanya seorang ayah yang tengah takut, akan kehilangan putranya. Dirinya benar-benar merasa lemah dan tak berguna saat ini.
Sambil menatap Theo yang tubuhnya kini dipasangi alat medis, Ruka mengatakan semua penyesalan dan kegundahan hatinya.
"Kumohon cepatlah sadar nak, aku ingin sekali bisa meminta maaf padamu dan menebus waktu kita yang telah terbuang selama ini. Berikan papa kesempatan untuk menjadi ayah yang baik untukmu dan Jia..." Mengatakan itu semua membuat Ruka tanpa sadar telah menitikan air mata.
Setelah selesai memantau putranya di dalam, Ruka akhirnya keluar dari ruangan ICU. Saat diluar dia tidak melihat yang lainnya, hanya ada Aran yang terlihat agak canggung menunggu didepan ruangan seraya menanti gilirannya masuk.
Ruka lalu bertanya dengan nada santai dimana yang lainnya?
Dan Aran pun menjawab, "Risa, Rowen dan Jia sedang mencari makanan ringan di luar."
Seperti hari-hari kemarin, Aran masih tetap saja terlihat kikuk menghadapi Ruka dan berpura-burapa tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Tentu saja hal itu membuat Ruka sangat jengkel.
Mau sampai kapan wanita ini bersikap pura-pura bodoh begini didepanku?
"Um— karena kau sudah selesai, kalau begitu giliran aku masuk."
"Tunggu!" Ruka menghalangi Aran yang ingin masuk dengan tubuhnya yang tinggi dan lebih besar dari wanita itu.
Aran pun sontak mendongak dan keduanya pun saling berpandangan.
"Tuan Ruka— aku ingin masuk melihat Theo— Eh...!"
Tiba-tiba saja Ruka malah memojokan Aran seraya memagarinya dengan kedua tanganya agar tak bisa kemana-mana. Hal itu tentu saja membuat Aran jadi panik.
"Tuan, a- ada apa, ke-kenapa kau tiba-tiba...?"
Dengan jarak wajah yang tidak sampai sejengkal dengan milik Aran, Ruka menatap gadis itu dan berkata dengan suaranya yang rendah namun terdenger penuh tekanan.
"Arana, mau sampai kapan kau bersikap acuh tak acuh begini padaku?"
"I- itu..." Aran tak berani berlama-lama menatap Ruka saat ini. Dirinya terlalu takut dengan sorot mata tajam Ruk yang penuh aura intimidasi.
"Aku masih menunggumu mengatakan semuanya. Kau harus katakan kenapa kau tidak jujur sejak awal kalau kita— memiliki hubungan sebelumnya?"
Sayangnya Aran tetap diam saja, sejujurnya saat ini ia tidak tahu harus mulai mengatakan apa pada Ruka tentang masa lalu mereka.
Ruka berdecak kesal. "Jadi tetap tidak mau bicara?"
"A- aku mhhh..."
Tiba-tiba Ruka mendaratkan ciuman dibibir Aran. Sontak Aran yang terkesiap dengan hal itu pun reflek mencoba melepaskannya. Namun sayangnya hal itu sulit dilakukan mengingat Ruka yang tenaganya jauh lebih besar darinya.
Lepaskan aku Ruka ini rumah sakit! Aran berusaha terus melepaskan ciuman Ruka dengan cara menggigit bibir pria itu, hingga pada akhirnya Ruka pun melepaskannya.
"Beraninya kau menggigitku!" Ruka terlihat marah pada Aran.
"Aku minta maaf, tapi bisakah saat ini kita fokus pada kesembuhan Theo terlebih dulu. Setelah Theo membaik, aku— aku janji akan katakan padamu semuanya," ungkap Aran dengan sedikit rasa keraguan.
Sebagai ibunya Theo, Ruka mewajarkan jika Aran saat ini fokus pada putra mereka. Dan akhirnya Ruka pun setuju dengan itu.
"Kau ingat nona Arana, janji adalah hutang. Dan kau telah berjanji barusan!"
"Aku mengerti."
Tak lama Ruka dan Aran tiba-tiba saja malah dibuat kaget dengan suara Jia yang memanggil mereka.
"Mama, paman! Kalian sedang apa?!"
Rupanya Jia bersama Risa dan Rowen telah kembali dari luar.
"Um kami..."
Jia langsung menghampiri kedua orang tuanya itu dan bertanya apa yang ingin Ruka lakukan pada mamanya?
"Aku ti- tidak melakukan apapun..." Baru kali ini Ruka rasaya mati gaya ditanya oleh seseorang yang tidak lain adalah putrinya sendiri.
"Paman, kau tidak boleh membully mama. Kalau paman sampai membuat sedih atau menyakiti mama, Jia pasti akan sangat sedih..."
Mendengar Jia berkata begitu, Ruka pun semakin sadar betapa Jia begitu mencintai dan menyayangi ibunya. Tidak mau dibenci oleh putrinya, Ruka lalu berjongkok dan menjelaskan kepada Jia kalau dirinya tidak sama sekali ingin menyakiti Aran.
"Janji, paman tidak akan menyakiti mamaku?"
"Tentu saja,"
"Syukurlah kalau begitu. Lagipula mamaku kan cantik, apa paman tega menyakiti wanita secantik mamaku?"
Ya Arana memang sangat cantik, tapi disisi lain aku kesal dengan sikapnya yang tidak mau bicara jujur padaku!
"Tentu saja, mama Jia memang sangatlah cantik," jawab Ruka dengan entengnya.
"Wah, jadi apa paman suka mamaku?"
"Jia kau bicara apa sih...!" Aran langsung terlihat malu dan salah tingkah dibuat oleh ucapan putrinya.
Ruka sejenak terdiam. Dirinya lalu melirik Aran yang saat ini terlihat tersipu malu, dan menyeringai kecil.
"Iya, aku suka kok!"
"Hah?" Baik Risa dan Rowen sama-sama dibuat agak terkejut mendengarnya.
"Barusan tuan Ruka itu menyatakan perasaan bukan sih?"
"Entahlah tuan Rowen," sahut Risa juga kaget.
Tak ayal Arana sendiri langsung dibuat memerah wajahnya mendengar perkataan Ruka barusan. Untuk menutupi rasa malunya ia langsung menegur Jia dan menasihatinya agar tidak berkata sembarangan pada Ruka.
" Jia kan hanya bertanya kok Ma..."
"Tapi Jia buat mama malu..."
"Mama Malu? Wah kalau malu itu tandanya mama juga suk—"
Aran langsung menutup mulut Jia sebelum ia selesai bicara agar tidak semakin ngelantur.
Di saat itu juga Ruka malah mendapati telepon dari kakeknya yang tiba-tiba, malah meminta dirinya untuk pulang dan makan malam bersama di kediaman Arshavin.
"Baiklah aku akan datang..."
Ruka menutup teleponnya kemudian ia pun pamit izin meninggalkan rumah sakit karena ada urusan keluarga.
Urusan keluarga? Pasti urusan tentang hubungannya dengan Bianca kan? Aran terlihat tidak senang membayangkan hal itu, apalagi mengingat wajah Bianca yajg kini sudah jadi tunangan Ruka.
Ruka pamit kepada Jia. Namun wajah Jia berubah sedih saat tahu Ruka akan segera pergi.
"Paman Ruka, apa tidak bisa paman lebih lama berada disininya? Jia masih mau bersama paman disini."
Sejujurmya melihat putrinya meminta dengan wajah sedih seperti itu, membuat Ruka berat rasanya untuk pergi. Aku juga ingin lebih lama dengan Jia disini, tapi saat ini belum bisa.
Ruka kemudian membelai pipi lembut putrinya dan berkata. "Putri Jia yang cantik, aku janji suatu hari nanti... Kita pasti akan lebih sering bertemu. "
"Benarkah?"
"Ya tentu saja."
Jia pun tak butuh waktu lama untuk langsung percaya dan langsung memeluk Ruka.
"Jia sayang—sekali pada paman."
"Aku juga sayang padamu tuan putri kecilku..."
Setelah saling berpelukan, Ruka pun akhirnya pergi bersama Rowen.
Saat keluar rumah sakit menuju mobil, Ruka bertanya apa maksud ucapan Ruka apda Jia tadi tentang akan lebih srring bersama. "Apa tuan sudah punya Rencana kedepannya?"
Ruka menatap Rowen lalu tersenyum kecil. "Kau akan tahu nanti. Sekarang lebih baik kau beriman kunci mobilnya karena aku barus segera ke rumah memenuhi undangan kakekku yang cerewet itu!"
"Oh jadi kau tidak ke apartemen? Baiklah kalau begitu ini."
Rowen memberikan kunci mobil bugatti itu kepada pemiliknya ,sementara dirinya nanti akan pulang naik taksi saja.
"Baiklah aku pergi!"
"Iya tuan hati-hati dijalan..."
Melihat yang telah terjadi antara Ruka, Aran, dan anak-anak mereka, Rowen hanya berharap yang terbaik untuk semuanya.
...🌸🌸🌸...
Salam dari Kak Theo yang tampan dan Jia yang imut