Remember Me Husband

Remember Me Husband
Alasan Aran



Aran yang terbaring di sebuah ranjang besar di sebuah kamar yang cukup luas perlahan membuka matanya. Ekspresinya pun berubah syok saat ia sadar kalau saat ini ia berada di dalam ruangan yang sama sekali ia tidak kenal. Tubuhnya reflek terbangun lalu memastikan kondisi tubuhnya masih sama seperti sedia kala.


"Dimana ini? Dan... Theo, Jia! Dimana mereka?" Aran panik seketika menyadari kedua anaknya tidak berada bersamanya.


Tak lama terdengar seseorang dari luar seperti membuka pintu kamar tersebut, Aran disana langsung mengambil posisi waspada seolah membuat pertahanan dengan segera turun dari atas ranjang sambil memegang vas bunga kecil diatas nakas yang ada didekatnya sebagai senjata.


Pintu terbuka dan munculah seorang pria bertopi dan mengenakan masker yang tidak lain adalah sopir taksi yang membawa Aran dan anak-anaknya dari rumah sakit.


Dengan wajah murka Aran pun berteriak kepada supir taksi tersebut.


"Kau, katakan dimana anak-anakku?!"


Dan dengan santainya pria itu menjawab, "Kau tenang saja kedua anakmu baik-baik saja saat ini. Bahkan sangat baik-baik saja."


"Bohong! Lebih baik cepat katakan dimana mereka sekarang, aku ingin melihat mereka!"


"Nona kumohon tenanglah..."


"Tenang kau bilang, kau pikir ibu mana yang bisa tenang jika anaknya tidak ada disampingnya!"


Pria itu menghela nafas lalu membuka masker dan topinya.


Aran tidak kaget melihat pria yang wajahnya bisa dibilang tampan. Namun sorot matanya langsung menajam tak kuasa menahan murka melihat tampang orang yang telah menculiknya.


"Kau siapa?!"


"Baiklah biar aku perkenalkan diriku, namaku Lucas, nona Arana Haurin."


Pria itu mengenalkan diri dengan mimik wajah seolah tak bersalah sama sekali. Hal itu sontak membuat Aran semakin tersulut emosi.


"Kenapa kau tahu namaku? Dan kenapa kau menculikku dan anak-anakku?"


"Aku tidak menculikmu, aku hanya menjalankan perintah bosku untuk membawa kalian kesini."


"Bos? Siapa bos yang menyuruhmu itu, dimana dia?! Suruh dia temui aku langsung!" Aran berpikir jika Lusi yang menculiknya namun disisi lain ini ia seperti tidak yakin.


Lucas lalu menghela nafas dan berkata, "Baiklah kau temui sendiri saja bosku."


Tiba-tiba masuklah sesosok pria yang dimaksud bos oleh Lucas, pria itu pun seketika berhasil membuat Aran tampak begitu syok hingga tak bisa banyak berkata-kata.


"Ruka?" Aran benar-benar tak habis pikir kalau pria yang menculik ia dan kedua anaknya adalah Ruka sang mantan suami.


Ruka mengenakan pakaian semi casual dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Wajahnya yang menawan seperti biasa tampak dingin dan tidak banyak mengeluarkan emosi. Dengan hanya menggerakan satu tangannya, Ruka seraya memberi tanda agar Lucas dan para pengawalnya yang berada di depan pintu kamar segera pergi meninggalkannya dengan Aran berdua saja.


Dan tanpa perlu banyak waktu Lucas pun segera menuruti perintah Ruka dan keluar dari kamar itu meninggalkan Aran bersama dengan pria yang kini menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


Dengan suara bernada dan penuh kesedihan Aran bertanya kepada Ruka.


"Kenapa kau lakukan ini padaku dan anak-anak?"


Ruka lantas menyunggingkan senyumnya yang masam.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau bertindak sejauh ini?"


"Apa maksudmu?" Aran menatap Ruka dengan tatapan penuh penekanan.


"Jawab, kenapa kau tiba-tiba mengirimkan surat pengunduran diri dari pekerjaan? Dan kenapa kau tidak pulang ke apartemenmu dan malah melarikan diri? Apa yang sebenarnya sedang kau hindari Arana, aku?"


Aran pun terdiam, ia tak mengatakan apapun dan hanya menundukan kepala sambil mengepalkan tangan. Dan hal itu lah yang buat Ruka jengkel kepada Aran karena seringkali diam tiap kali ia bertanya.


"Kenapa kau selalu diam!" Tegas Ruka.


Sambil mengigit bibir bawahnya Aran menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia tidak bisa beritahu Ruka kalau yang ia hadapi saat ini adalah Lusi, ibu tirinya yang sejak dulu mengancamnya.


"Arana apa kau bisu!?"


"Iya aku bisu! Kau puas!" Tangis Aran pecah seketika itu juga, rasa tak mampunya mengatakan hal sejujurnya membuat dadanya sesak hingga tak kuat lagi menahan kepedihannya lebih lama.


Tak kuasa melihat wanita dihadapan menangis tersiksa, Ruka mengulurkan tangannya dan membelai pipi Aran yang basah karena air mata dengan lembut. Diusapnya air mata Aran hingga tanpa sadara wanita itu terbawa suasana dan memeluk Ruka. Aran menangis dipelukan Ruka yang tanpa berkata apapun hanya bisa membiarkan Aran menangis di dalam dekapannya, sambil terus mengusap dengan lembut kepala dan punggungnya.


Setelah puas menangis dan merasa tenang, Aran dan Ruka pun duduk bersebelahan diatas ranjang. Wajah Aran yang masih sembab karena habis menangis merasa malu jika harus menatap pria disampingnya itu, alhasil ia pun mulai bicara tanpa menatap Ruka.


"Maaf membuat bajumu jadi basah dengan air mataku."


"Tidak masalah."


Aran mengepalkan kedua tangannya seraya mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan semua hal yang ia tahan sejak lama.


"Ruka,"


"Hem?"


Aran menoleh menatap pria itu.


"Aku akan mengatakan alasannya, tapi bisakah kau berjanji kalau tidak akan terjadi apa-apa pada Theo dan Jia?"


Ruka mengerutkan alisnya, namun tak lama iya langsung mengiyakan permintaan Aran.


"Aku akan melindungi mereka, termasuk dirimu. Jadi katakan saja apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku, tentang orang yang mengancamu."


Akhirnya dengan segenap keberanian Aran menceritakan tentang ancaman Lusi pada Ruka.


Lantas Ruka pun langsung murka setelah mendengar pengakuan dari Aran soal ancaman dari ibu tirinya tersebut.


"Lalu, apa saja yang sudah ia lakukan padamu dan anak-anak?"


"Sejauh ini belum, tapi aku yakin saat ini ia sedang merencanakan sesuatu untuk menyingkirkanku. Aku— aku takut sekali..."


Ruka memeluk Aran dan langsung meminta maaf karena ia tidak segera menyadarinya dan malah membiarkan Aran serta anak-anaknya dalam bahaya.


"Tidak ini bukan salahmu. Kau tidak perlu minta maaf." Aran sadar kalau Ruka sebenarnya juga adalah korban atas sikap Lusi yang diluar batasan.


"Oh iya dimana anak-anak? Dan ini dimana?" Tanya Aran sambil melepaskan diri dari pelukan Ruka.


Ruka menyuruh Aran tenang dan memberitahu kalau saat ini dirinya tengah berada di villa miliknya.


"Anak-anak juga aman disini."


"Itu temanku Lucas, aku sengaja menyuruhnya menyamar menjadi supir taksi supaya bisa membawamu dan anak-anak kemari."


"Kenapa kau melakukan hal ini?"


"Kalau aku tidak lakukan itu, pasti sekarang kau akan berada dalam ketakutan dan menanggung semua sendirian bukan?"


Wajah Aran memerah mendengar alasan Ruka yang tepat sekali.


"Aku mau melihat Theo dan Jia," ucap Aran tiba-tiba.


Tanpa berlama-lama Ruka imembawa Aran menuju ruangan tempat Theo dan Jia berada saat ini. Di depan Ruangan itu terlihat ada dua orang penjaga yang mana terlihat begitu hormat pada Ruka saat ini.


"Buka pintunya..!"


Penjaga itu pun segera membuka pintu sesaat setelah Ruka memerintahkannya.


Saat pintu terbuka wajah Aran langsung tampak bahagia melihat putra putrinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Mama...!"


Theo dan Jia langsung berlari dan memeluk Aran. Ibu dan anak-anak itu pun saling berpelukan melepaskan rasa lega mereka melihat saling baik-baik saja.


Jia tiba-tiba memiringkan kepalanya saat menyadari Ruka yang berdiri dibelakang sang mama.


"Paman Ruka?"


Ruka tersenyum ramah.


"Kenapa kau ada disini?" Ujar Theo dengan nada curiga.


"Ini vilaku."


"Apa?! Jadi supir taksi jahat itu utusan paman, kenapa kau lakukan ini pada kami...?!" Theo tampak emosi. Lantas Aran pun segera menenangkannya, dengan menjelaskan kalau Ruka tidak bermaksud jahat.


"Tapi Mama, paman Ruka sudah menculik kita!"


Yang dikatakan Theo memang benar, tapi apa yang dilakukan Ruka saat ini menurut Aran baik untuk keselamatan kedua anaknya.


"Tapi kenapa harus pakai acara culik menculik segala?" Theo bersikeras mempermasalahkan perbuatan Ruka.


"Kalau aku tidak lakukan itu, apa kau mau ikut denganku kalau kuminta?" Balas Ruka balik bertanya.


"Kau licik paman," ejek Theo dengan nada kesal


"Memang iya, lalu kenapa?"


Kedua pria itu pun saling beradu argumen. Sadar yang dilawan putranya sendiri Ruka pun akhirnya memilih mengakhirinya semuanya, dengan tiba-tiba meminta kepala pelayan yakni bibi Maya untuk menyiapkan makan malam, dan meminta Aran berserta kedua anaknya bersih-bersih dan bersiap makan malam bersama.


"Sudah ya, aku ada pekerjaan lain. Arana tolong urus putra kita ya."


"Putra kita...? Jangan asal bicara ya Paman!" Protes Theo melihat Ruka yang sudah melenggang pergi.


Aran sendiri sampai kaget, mendengar Ruka tiba-tiba bicara begitu.


"Mama, maksud paman Ruka 'putra kita itu apa?" Tanya Jia yang terlihat begitu polosnya bertanya.


"Oh, bu- bukan apa-apa kok. Sudahlah mari kita bersih-bersih dan bersiap makan malam," ajak Aran yang tidak mau membahas lebih jauh soal itu karena belum waktunya.


...🌸🌸🌸...


Sementara itu di kamarnya Lusi terlihat sedang mengamuk kesal karena tahu kalau Aran dibawa pergi oleh orang suruhan Ruka.


"Tidak, tidak, ini tidak bisa dibiarkan! Ini Gawat, bagaimana kalau Ruka sampai tahu kalau aku mengancam Aran. Aku harus lakukan sesuatu."


Lusi mengambil ponsel lalu menelepon anak buahnya.


"Halo, sekarang juga aku ingin kau caritahu dimana orang-orang Ruka membawa Aran pergi!"


....


"Bodoh! Masa begitu saja kalian tidak mampu. Aku tidak mau tahu, hari ini juga kalian harus dapatkan info yang aku minta!"


Lusi menutup telepon dengan wajah marah bercampur gelisah.


tiba-tiba saja Karaz datang dan membuat Lusi kaget saat itu.


"Kau ini apa tidak tahu cara mengetuk pintu!"


"Maaf bu, tapi pintu kamar ibu tadi tidak tertutup dengan benar. Dan aku lihat ibu berteriak di telepon ada apa bu?" Karaz terlihat mengkhawatirkan ibunya. Sayangnya sang ibu tidak menyadari hal itu dan malah menyalahkan Karaz atas apa yang terjadi padanya.


"Dengar anak bodoh, semua ini gara-gara kau yang tidak mau menurutiku sejak dulu untuk mengambil alih saham Skyper. Semua rencanaku kacau!"


"Bu, kenapa ibu seobsesi itu dengan jabatan pimpinan Skyper? Ibu kan tahu aku tidak mau jadi pengusaha."


"Diam! Kau itu memang anak tidak berguna. Jujur saja aku menyesal sudah melahirkanmu!"


Geraham Karaz seketika mengatup, tangannya mengepal kuat.


"Bu, tega sekali kau bicara seperti itu. Apa sepenting itukah harta dibanding diriku?" Karaz tampak terpukul dan emosi pada sang ibu. Air matan Karaz pun tak kuasa mengalir menahan perih perlakuan sang ibu padanya selama ini.


"Ibu... Aku sungguh menyayangimu, aku selalu ingin membuatmu bangga, tapi apa balasanmu? Kau selalu saja tidak cukup dengan semua yang telah aku lakukan. Yang ibu pikirkan selalu saja, saham, jabatan, harta! Aku ini anakmu Bu. Bisakah kau melihatku sebagai hal yang lebih penting dibanding jabatan?!"


Lusi mengangkat tangannya dan menampar Karaz.


PLAK!


"Kau itu semakin lancang padaku, lebih baik kau pergi dari hadapanku aku muak melihatmu terus mengoceh!"


Atas kalimat usiran sang ibu, Karaz kali ini pun menurutinya.


"Baik, jika itu mau ibu. Mulai hari ini aku tidak akan menuruti semua kemauan ibu lagi, aku akan jalani hidup dengan caraku. Permisi...!" Kali ini Karaz pergi dengan kepala tegap, ia sadar kalau dirinya harus bisa menentukan hidupnya sendiri.


...🌸🌸🌸...