
Setibanya di ruangan Ruka yang besar dan tampak rapi. Aran dipersilakan duduk di sofa panjang berwarna putih gading yang mengitari meja kaca berbentuk persegi empat.
"Mau minum apa?" Ruka mencoba ramah menawari minum.
"Eh ti- tidak usah tuan." Aran sebenarnya menjawab tanpa menimbang. Jujur ia hanya tak biasa melihat Ruka begitu sopan padanya saat ini.
"Kau masih takut dengaku, atau masih dendam padaku?" Tanyanya dengan nada santai sambil memberikan sekaleng jus yang ia ambil barusan dari dalam lemari pendingin yang letaknya tak terlalu jauh dari pintu masuk.
"Aku— tidak." Aran menundukan kepalanya.
Tak lama Ruka pun ikut duduk. Ia duduk di single sofa yang berada di ujung sisi meja dan menghadap Aran yang saat ini masih tertunduk sambil memainkan jus kaleng di tangannya.
"Nona Arana."
Aran langsung mengangkat kepalanya. "Iya tuan?"
Ruka yang duduk bersandar pun menghela nafas. Ia tiba-tiba merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat yang kemudian diletakannya diatas meja.
Aran menatap amplop itu dan kemudian melihat ke arah Ruka. "Apa itu tuan?"
Ruka menaikan alisnya. "Bukankah kau ingin tiket skyland? Di dalam amplop itu ada tiket vip gratis masuk skyland jadi ambilah."
Aran meraih amplop tersebut dan membukanya.
Astaga ini sungguhan tiket vip!
Tanpa sadar senyuman Aran mengembang, mengingat kedua anaknya yang pasti akan senang sekali dibuatnya kalau tahu. Ia pun menghitung tiket itu, dan sontak kening Aran pun mengernyit. Ia lalu menatap Ruka dam bertanya, "Tuan, tiket yang aku minta hanya tiga. Kenapa ini malah ada empat?"
"Memang kenapa? Kalau kau tak butuh kasih saja satu tiket sisanya ke orang lain," dengan entengnya Ruka bicara begitu. Entah apa maksudnya memberikan tiket sebanyak empat kepada Aran.
"Sudah senang sekarang? Jadi kau sudah memaafkan aku kan?" Ruka yang dengan raut wajah datarnya memastikan Aran sudah memaafkannya.
Aran tersenyum kecil. "Aku sejujurnya sudah memaafkan tuan sejak anda memecat Meli."
"Baguslah kalau begitu. Dan..." Ruka memicingkan matanya ke arah Aran seraya ingin tahu pasti alasan jelas kenapa Aran meminta tiket skyland. Padahal jika ia mau, ia bisa minta yang jauh lebih mahal daripada sekedar tiket taman bermain.
"Aku sudah bilang kan tuan, itu untuk tetanggaku dan anak-anaknya."
"Begitu? Tapi kenapa hanya tiga?"
Huh?
Aran langsung dibuat tak mengerti dengan pertanyaan Ruka. "Memangnya kenapa kalau hanya tiga tuan?"
Ruka mendengus pelan. "Menurutku kenapa hanya tiga, bukankah seharusnya empat? Karena kau bilang tetanggamu dan anak-anaknya itu artinya tiga orang bukan? Bisa jadi ibu dan dua anak, atau mungkin ayah dan dua anaknya. Jadi kesimpulannya, apakah tetanggamu itu seorang single parent?"
Mata Aran seketika terbelalak lebar. Ia pun tertegun sejenak dengan pernyataan Ruka barusan. Ia tidak menyangka pria itu sampai kepikiran sejauh itu mengalisanya. Bagaimana ini, apa dia telah menyelidikiku?
"Nona Arana, kenapa kau diam saja? Apa tetanggamu single parent dengan dua anak?"
"Ah itu... anda benar, dia ibu dengan dua anak." Aran berusaha tak menunjukan ekspresi berlebihan di depan Ruka. Karena jika ia salah bicara sedikit saja, pria ini pasti akan langsung peka dan mencari tahu lebih dalam.
"Begitu ya, kalau begitu aku benar kan memberimu empat tiket. Dimana salah satunya untukmu."
Eh? Jadi itu alasannya memberikan empat tiket?
"Anda sangat murah hati, persis seperti yang banyak orang bilang. Keluarga Arshavin sangat murah hati."
Ruka hanya tersenyum kecil mendengar pujian dari Aran.
"Aku tak peduli kata orang. Jika yang aku lakukan ternayata bisa berguna maka aku cukup puas."
Kali ini hati kecil Aran dibuat tersenyum girang. Ia tidak menyangka, ternyata meskipun Ruka sudah kehilangan ingatannya dulu sebagai Yuka, namun sifat peduli dan penolongnya sama sekali tak hilang. Aran tahu persis bagaimana Ruka saat di Kelvari dulu, disana ia sangat disanjung dan dicintai warga, mengingat dirinya yang selalu mau peduli pada orang lain padahal tidak diminta. Ya, memang Ruka kelihatannya sangat cuek dan mudah berkata kasar pada orang lain. Namun ia adalah pria yang tidak akan ragu untuk jadi yang pertama bergerak jika melihat sesuatu yang salah.
Sementara itu, Ruka yang melihat Aran senyam senyum sendiri pun mengerutkan alisnya. Ia bertanya-tanya kenapa gadis ini senyum-senyum sendiri? Apa dia sudah gila?
"Ehem! Nona Arana?'
"Eh- i- iya Yuka em—" Aran langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Huh? Lagi-lagi dia menyebut nama itu didepanku?
Namun Ruka kali ini tak ingin bahas itu dulu. Yang justru ia heran dan ingin tanyakan pada Aran adalah kenapa ia meminta kompensasi murah begitu sementara gadis lain mungkin sudah minta mobil atau cek jutaan dolar jika berada di posisinya.
"Kau itu bodoh ya?" Ruka mengejek dengan ekspresi datar sambil menatap Aran.
"Eh kenapa?" Aran bingung tiba-tiba dibilang bodoh.
"Kau bodoh karena hanya minta tiket bermain. Padahal kau bisa minta lebih, kau itu membuatku berpikir kalau kau saat ini sedang merendahkanku saja."
"Karena aku merasa bisa memberimu lebih daripada sekedar tiket, tapi kau malah minta tiket yang harganya hanya lima puluh ribu dollar. Bukankah itu sama saja merendahkanku? Dasar aneh!" Ruka mendengus kesal dengan kedua tangan didepan dadanya.
"Kenapa aneh, bukankah ibu bagus. Kalau aku minta lebih memang tuan bisa mengabulkannya?"
"Apa maksudmu bicara begitu?" Ruka yang merasa tersinggung langsung duduk tegap dan tatapannya berubah lebih garang.
"Aku paham tuan punya uang dan harta yang bahka diluar nalarku jumlahnya. Tapi permintaanku lebih yang kumaksudkan bukanlah nominal."
"Lalu apa yang Kau inginkan—"
"Aku ingin dirimu!"
Suasana berubah senyap. Dan Ruka yang selalu terlihat bagai tank tempur yang kuat dan tak tertembus serangan apapun seolah kehilangan digdayanya. Wajahnya yang garang dan tatapan tajamnya seketika berubah jadi tak bekerja semestinya. Ia pun tertegun dan tidak tahu harus berbuat apa saat ini
"Hehehe..." Aran malah tertawa geli.
Menyadari itu Ruka langsung kembali dengan tatapan garangnya.
"Nona Arana kau menggodaku?"
Aran menghentikan tawanya. "Maaf tuan, tapi aku tak sungguh tak menyangka anda bisa jadi lengah begitu hanya karena satu kalimat saja. Sepertinya kelemahan itu kelemahan anda ya...?"
Darah panas seolah menjalar cepat dikepala Ruka. Ia pun seketika berdiri dan menarik Aran dari sofa tempatnya duduk menempel pada dirinya. Raut wajahnya tampak penuh emosi dan tatapannya pun berubah liar. Tatapan yang buat jantung Aran berdebar tak beraturan.
Ruka melepas ikatan rambut Aran hingga membuat rambut panjang indahnya terurai bebas. Ia lalu memegangi dagu gadis itu dan mendekatkan wajah mereka yang hanya berjarak tidak sampai sejengkal.
"Nona Arana kau berhasil menggodaku," bisiknya di depan wajah Aran diikuti senyum khas iblis yang tengah menggoda.
Detak jatung Aran semakin tak terkendali.
Ah ini terlalu dekat.
Aran merasa seperti berada didalam tungku yang mendidih hingga membuat wajahya panas. Rasanya Ingin sekali ia kabur dari sini untuk menenangkan derap jantungnya.
"Tu- tuan aku minta maaf, tolong lepaskan aku..." Aran memohon dengan ekspresi yang begitu murni.
"Minta maaf untuk apa? Bukankah barusan kau sudah berhasil menjebakku? Kenapa berhenti? Seharusnya kau lanjutkan lagi menggodaku bukan?"
Ruka mendekatkan bibirnya ke telinga Aran. "Kau bilang ingin diriku. Aku sudah menyerahkan diriku padamu, sekarang kau bebas lakukan apapun padaku."
Suhu panas seketika menjalar ke seluruh aliran tubuh Aran, seperti sedang ditempa banyak uap panas yang mengepul. Bahkan diruangan sedingin ini Aran sungguh merasa seperti disekap di sauna.Ia pun bisa membayangkan wajahnya yang memerah bak gurita rebus saat ini.
"Tu- tuan aku minta maaf, tolong lepaskan aku tuan mhh..."
Tiba-tiba Aran kaget, ia merasakan ada sesuatu yang lembut menempel dibibirnya. Ya, Aran menyadari kalau Ruka kini tengah mencium bibirnya.
Bagaimana ini? Ruka, dia menciumku
Aran lantas mendorong tubuh Ruka.Sayangnya itu sia-sia saja, melihat tubuh kokohnya kini seperti tanpa cela menyelimuti seluruh tubuhnya agar tak bisa bergerak pergi.
Tak. lama ia melepaskan ciumannya itu, keduanya pun saling berpandangan dengan tatapan yang menafsirkan banyak maksud tersirat.
Aran melihat pria tampan di depannya. Ia sadar betul Ruka adalah manta suaminya. Ayah dari kedua anaknya. Tatapan sayu yang dilandasi hasrat kerinduan yang tak lagi terbendung mengalir deras di dalam hati dan pikiran Aran.
Aku merindukanmu Ruka... Bisakah kau ingat diriku suamiku? Sedikit saja. Bahkan saat kau menciumku tadi...
Perasaan Aran kian bergolak tak terkendali menghancurkan sekat pembatas yang ia bangun.
Aku begitu rindu padamu, dan rasa ingin memiliki pria ini itu kian meronta didalam benak dan jiwaku. Bisakah aku sedikit lebih egois saat ini. Tatapan mata Ruka yang tajam namun lembut saat ini benar-benar menghantam warasku.
Aku— tak bisa menahannya lagi...
Aran memegangi wajah Ruka sambil agak menariknya dan ia pun mencium pria itu. Gayung bersambut, Ruka sama sekali tak menolaknya dan keduanya pun tanpa sadar saling bertaut terlena dalam ciuman yang penuh hasrat tak terelakan. Hingga pada akhirnya dewi kewarasan Aran datang mengardik dan membuatnya sadar.
Tidak apa yang sudah aku lakukan?
Aran yang menyadari ia telah ceroboh pun langsung menarik diri dari Ruka. Dan dengan perasaan yang berkecamuk ia langsung berlari pergi meninggalkan ruangan itu tanpa bicara.
Melihat Aran yang sudah berlari keluar dari ruangannya.
Ruka yang masih bediri disana pun memungut amplop berisi tiket yang lupa dibawa oleh Aran. Pria itu lalu memegang bibirnya dengan ibu jarinya yang panjang dan tersenyum kecil
"Kenapa malah kabur? Padahal yang barusan itu tidaklah buruk nona Arana...!"
...🌸🌸🌸...