
Saat itu Arana yang mau mengepel lantai hendak pergi mengambil cairan pembersih di gudang sebelah pantry. Sayangnya saat ia mencarinya disana ternyata tidak ada. Dan saat ia tanya pegawai lain mereka bilang, stok pembersih di lantai 76 memang sedang habis dan harus mengambil persediaan di gudang pusat yang ada di lantai dasar. Akhirnya mau tidak mau Aran harus turun kebawah dulu untuk mengambil beberapa cairan pembersih.
Aran pun berdiri menunggu lift yang akan membawanya turun. Dan tak lama kemudian akhirnya pintu lift pun terbuka. Sialnya, saat pintu lift itu terbuka ia malah harus langsung dihadapkan oleh sosok Ruka yang ternyata berada sendirian di dalam lift tersebut. Baik Ruka maupun Aran keduanya sama-sama kikuk saat saling beradu pandang, terutama Aran. Dirinya yang sudah memutuskan untuk sebisa mungkin tidak bertemu atau berapapasan dengan Ruka pun seketika dibuat mati gaya dengan peretemuan tiba-tiba ini. Tadinya Aran tidak mau masuk ke dalam lift tersebut, namun karena pekerjaan yang harus segera ia selesaikan, jadinya mau tidak mau Aran tetap melangkah masuk ke dalam lift. Saat sudah di dalam kabin lift, ia langsung menekan tombol ke lantai dasar.. Melihat itu Ruka menebak kalau Aran sepertinya ingin pergi ke gudang mengambil sesuatu.
Selama di dalam lift keduanya sama-sama diam. Ruka yang bertampang datar saat itu sama sekali tak menoleh ke arah Aran. Begitun Aran, ia sama seolah tak peduli dan terkesan menjaga jarak berdirinya dengan sang bos agar tidak terlalu dekat. Namun mengingat watak Ruka yang benci dengan kepura-puraan seolah tidak ada hal yang terjadi diantara mereka, membuat kecanggungan dan kesunyian itu tak berlangsung lama.
Tiba-tiba saja Ruka mendekati Aran dan memojokannya ke sisi lift. Dengan kedua tangan yang menapak ke dinding kabin lift seolah memagari kanan dan kiri Aran, pria itu menatap wajah manisnya dengan jarak yang hanya sejengkal.
"Tu- tuan anda ke- kenapa?"
Aran langsung salah tingkah dicampur bingung dan terus memalingkan wajahnya berusaha agar tidak menatap wajah mantan suaminya itu.
"Lihat aku saat aku bicara padamu!" Pada akhirnya aura Ruka yang mengintimidasi berhasil membuat Aran menatapnya. Dengan wajah penuh ekspresi tersirat di kedua bola matanya yang gelap dan jernih, Aran seperti memberikan banyak isyarat.
"Jawab aku, kenapa kau terus menghindariku? Apa kau membenciku?"
Aran menatap mata Ruka dalam-dalam. Iya aku ingin membencimu, aku ingin memakimu karena berani bertunangan dengan wanita lain. Tapi sayangnya aku tak mungkin memiliki keberanian itu...
"Arana jawab aku...!" Ruka mengangkat dagu Aran yang kecil dengan jemari panjangnya.
"Memang apa pentingnya? Bukankah kau adalah bos besar, sementara aku hanya bawahan rendahan. Jadi apa pentingnya jawaban dariku?"
Ruka mengatupkan gerahamnya. Ia merasa jengkel dengan Aran yang selalu saja tidak bisa sepenuhnya jujur dan lugas saat menjawab pertanyaan darinya.
"Nona Arana kenapa kau selalu seperti ini? Apa kau suka sekali membuat pria semakin penasaran padamu?"
"Apa maksudmu?!" Aran mengerutkan alisnya karena tidak paham maksud ucapan Ruka barusan.
"Kau selalu saja berkata tidak sesuai dengan apa yang kau rasakan. Kau itu selalu melakukan hal yang berbanding terbalik, contohnya antara ucapan dan sorot matamu. Matamu mengatakan isi hatimu, sementara bibirmu mengucapkan hal yang belawanan dengan isi hatimu."
Aran tersenyum getir. Jadi ketahuan ya? Ternyata aku memang tak pandai menyembunyikan sesuatu.
Ruka sekali lagi bertanya kepada Aran apa ia benci pada dirinya? Sayangnya jawaban Aran lagi-lagi tidak jelas. Hal itu langsung membuat Ruka jadi semakin emosi. Sorot matanya pun semakin menajam menatap Aran.
"Baik, kalau kau tidak mau bicara jujur maka aku akan memaksamu jujur!" Ruka seketika menarik tubuh Aran ketubuhnya dan langsung mengecup bibir wanita itu. Aran yang syok dan langsung sadar pun segera mencoba menghentikan Ruka dengan mendorongnya. Sayang tubuh Ruka yang terlalu kokoh dan kuat membuatnya seperti sia-sia saja. Akhirnya karena tak punya cara lain Aran menampar pria itu sampai akhirnya Ruka melepaskan ciumannya.
Aran menatap Ruka dengan ekspresi marah bercampur sedih. Matanya terlihat berkaca-kaca dan wajahnya merah padam menahan amarah.
"Tuan, bukankah sudah kubilang terakhir kali padamu untuk berhenti menggodaku! Aku juga sudah katakan waktu itu agar, berhentilah membuatku seolah jadi perusak hubungan antara anda dengan nona Bianca!"
Aran setengah tertawa. "Ya, itu menurutmu. Karena kau Ruka Arshavin jadi tidak akan ada yang berani mencemoohmu. Tapi aku bukan kau, aku hanya wanita biasa yang tidak punya kekuasaan apapun yang kebetulan bekerja di perusahaanmu!"
Suasana di dalam lift pun tegang. Ruka bahkan tak membiarkan siapapun memberhentikan lift itu dengan cara menekan tombol naik setiap kali ada yang ingin masuk.
Dengan tatapan nanar Aran memohon. "Tolong jangan persulit aku tuan... Kumohon..."
Dengan ekspresi wajahnya yang seolah tengah menghadapi diktaktor tanpa rasa ampun Aran seperti sedang meminta ampun pada Ruka.
Sementara bagi Ruka, ekspresi sedih dan tak berdaya Aran saat ini membuat Ruka emosi, ia merasa Aran menganggapnya seperti orang jahat. Rasa marahnya pun semakin bergejolak seketika mengingat Aran yang seringkali tersenyum saat bersama Rowen ataupun Sean tapi tidak saat bersamanya. Hingga muncul tanya dibenak Ruka, kenapa ia tidak bisa membuat Aran tersenyum sepeti yang dilakukan Rowen dan Sean?
"Jadi begitu?" Ruka menyeringai kecil. Ia tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan kepada Aran tentang siapa yang akan dia pilihnya diantara Rowen dan Sean.
"Ap- apa maksudmu?" Aran agak syok Ruka menanyainya hal bodoh semacam itu.
"Jawab saja. Bukankah selama ini kau kenal baik dengan dua pria itu? Lagipula..." Ruka berbisik di telinga Aran. "Nona Arana, aku sepertinya meremehkanmu. Kenyataannya kau sadar kalau perangai fisikmu itu bisa menarik banyak perhatian para kaum pria. Apakah targetmu adalah menjerat kedua bawahanku?"
Aran terperanjat mendengarnya. Bagaimana mungkin Ruka sampai berpikiran aku tengah menggoda pria demi keuntungan, apa dimatanya aku serendah itu?
"Dan Arana..., jika memang semua demi uang dan pengakuan. Aku bisa berikan yang jauh lebih baik dibanding kedua pria itu. Asalkan kau—"
PLAK!
Untuk kesekian kalinya Aran kembali menampar Ruka. Ia sungguh tidak menyangka kalau mamtan suaminya yang dulu begitu menghargainya, bisa menilainya serendah itu.
Dengan berlinang air mata Aran memperingatkan Ruka kalau dirinya tidak berhak menilai Aran dalam hal apapun. "Kau memang bosku, tapi kau tidak mengenalku! Jadi jangan pernah menilaiku serendah itu hanya karena status sosialku!"
Saat itu kebetulan lift tiba-tiba terbuka dilantai dua, dan Aran yang saat itu menangis dan tidak mau lagi dekat Ruka pun memutuskan keluar lift duluan meninggalkan mantan suaminya.
"Kenapa lagi-lagi aku yang membuatmu menangis? Dan kenapa aku bisa bicara serendah itu padanya?" Ruka merasa sangat menyesal sudah berkata seperti tadi. Ia sadar ucapannya barusan pasti melukai perasaan dan harga dirinya sebagai seorang wanita.
"Maafkan aku Arana..."
...🌸🌸🌸...
Jangan lupa comment, like, vote 🙏