
Saat mau kembali ke pantry, Aran yang berpapasan dengan seorang sekretaris bernama Maya tiba-tiba saja diminta olehnya untuk membawakan kopi yang ia bawa kepada tuan CEO dilantai 77.
"Apa? T- tapi nona aku—"
"Kumohon bantu aku, soalnya aku benar-bener harus ke toilet sekarang, tolong berikan kopi ini kepada tuan Ruka. Karena kalau sampai aku telat memberikannya bisa-bisa aku diberi peringatan keras dan dipecat."
Melihat sekretaris itu memohon kepada Aran sampai begitu, ia pun jadi tak tega dan akhirnya mau membantunya untuk memberikan kopi tersebut kepada tuan Ruka Arshavin.
"Nona kau baik sekali, terima kasih banyak semoga Tuhan selalu memberkatimu," ucap Maya lalu menyerahkan cangkir berisi kopi itu ke Aran dan pergi.
Setibanya didepan ruangan Ruka Arshavin. Aran seketika dibuat gugup, mengingat yang ia akan jumpai adalah CEO Skyper alias bos dari segala bos di perusahaan tempatnya kerja. Ditambah lagi Aran mendengar desas desus yang mengatakan kalau tuan Ruka itu tempramennya suka sulit ditebak.
"Tidak boleh begini! Aku harus tetap profesional. Lagipula aku kan hanya mau mengantar kopi sajatidak lebih," yakin Aran yang kemudian langsung menekan bel suara di depan pintu ruangan itu.
Masuk!
Aran lalu masuk ke dalam dan medekati meja Ruka bekerja saat ini. "Permisi tuan aku datang untuk membawakan anda kopi."
"Taruh saja di meja," ujarnya dari balik kursi CEO yang saat ini menghadap memebelakangi Aran.
Aran sendiri agak merasa familiar dengan suara ini. Tapi mana mungkin aku kenal tuan Ruka?
"Tuan sudah kutaruh, kalau begitu aku permisi dulu."
"Tunggu!"
"Ada lagi Tuan?"
Pria itu kemudian memutar kursinya menghadap Aran.
Seketika tubuh Aran merasa gemetar dan lemas, matanya pun membelalak lebar menatap ke arah Ruka yang saat ini duduk dan melihat ke arahnya.
"Yu- yuka?" Sebut Lara dengan suara lirih. Tidak mungkin, pria ini dia benar-benar Yuka kan?
Sementara Yuka sendiri justru malah dibuat heran melihat ke arah Aran. Wanita ini kenapa melihatku seolah seperti melihat hantu?
"Nona, kau baik-baik saja kan? Wajahmu terlihat pucat begitu?" Ruka tiba-tiba bangun dari kursinya dan mendekati Aran.
"Ti- tidak mungkin!"
"Apa yang tidak mungkin nona? Apa kau— eh!"
Ruka yang baru saja ingin menyentuh pundak Aran untuk memastikan ia baik-baik saja, malah tanganya di tepis dan Aran pun malah langsung berlari pergi.
Ruka pun seketika mengerutkan alisnya karena heran. "Gadis itu aneh sekali. Melihatku malah lari ketakutan begitu. Memang aku ini setan? Baru kali ini aku lihat ada wanita melihatku malah kabur."
Aran berlari kembali menuju ke pantry dengan terburu-buru. Saat ini jantungnya benar-benat berdegup sangat keras, pikirannya tak terkendali, perasaannya pun campur aduk. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ini.
Di pantry Aran langsung buru-buru mengambil segelas air dan meminumnya. Nafasnya tersengal-sengal mengingat wajah pria yang pernah menjadi suaminya itu.
"Kenapa tiba-tiba harus bertemu dengannya lagi?" ucap Aran seolah tidak percaya.
"Aran? Kenapa wajahmu pucat seperti orang ketakutan begitu? Dan kenapa kau gemetar?" Tanya Chika yang seketika khawatir melihat temannya seperti itu. Ia lalu menyuruh Aran duduk agar lebih tenang dan kembali bertanya, "Aran, sebenarnya kau kenapa?"
"Oh aku— itu barusan seperti melihat hantu di lift makanya aku jadi takut."
"Kau yakin hantu?"
"Iya, tadi saat di dalam lift aku seketika ingat adegan di film horor yang pernah aku tonton, makanya jadi takut sendiri. Hehe... Maaf ya sudah membuatmu khawatir."
"Huft, syukurlah kalau begitu. Kupikir kau dijahati oleh si nenek sihir Meli lagi. Oh iya bagaimana tadi saat di ruangan tuan Sean, apa kalian sudah saling tukar nomor ponsel?"
"Biasa saja. Chika maaf tapi aku harus kembali kerja. Ada gelas-gelas sisa meeting yang barus segera kucuci," tandas Aran mencoba menutupi rasa takut dan gelisahnya saat ini.
...----------------...
Sementara itu diruangannya, Ruka yang tengah habis membahas skema mega proyek dari kakeknya bersama Rowrn pun seketika malah teringat gadis pengantar kopi yang tiba-tiba saja malah kabur saat di dekatinya tadi. Entah kenapa melihat ekspresi ketakutan wanita tadi membuat Ruka jadi kesal sekali rasanya.
"Um— tuan? Kenapa kau malah melamun. Tidak biasanya anda melamun begitu?"
"Tidak, hanya saja menurutmu apa aku ini menakutkan sekali?"
"Soal itu bagaimana bilangnya ya..." Kalau kubilang iya pasti dia marah, tapi kalau kubilang tidak sama saja aku melakukan kebohongan besar.
"Jawab saja cepat Rowen!"
"B- baik! I- iya tuan, anda itu menakutkan... Terutama saat suasana hati anda sedang tidak baik."
Tapi hari ini suasana hatiku merasa baik-baik saja, lalu kenapa dia takut?
"Memang ada apa tuan kau tanya begitu?"
"Tidak apa-apa. Oh ya ngomong-ngomong apa sudah ada yang menemukan kalungku?"
"Sampai saat ini belum ada tuan, karena kebanyakan dari mereka hanya mengaku menemukannya agar dapat imbalan."
Ruka tersenyum mengejek. "Sudah kuduga, pasti para tikus penggila uang itu akan berlomba-lomba untuk mendapatkan uangnya."
...🌸🌸🌸...
Diperjalanan sepulang kerja, Aran yang pulang dengan menaiki bus kota pun tampak termenung di sepanjang jalan mengingat kejadiaan di kantornya. Ia masih tak menyangka sama sekali kalau akan melihat lagi mantan suaminya di perusahaan tempat ia bekerja saat ini, dan parahnya lagi dia ternyata adalah bosnya sendiri.
Tapi yang membuat Aran agak bertanya-tanya adalah, kenapa Yuka seperti tak mengenalnya sama sekali. Apa mungkin...
"Tidak, dia memang jelas bukan Yuka, dia itu Ruka Arshavin."
Sejatinya nama Yuka hanyalah pemberian dari Aran untuk Ruka yang hilang ingatan akibat kecelakaan saat terdampar di pinggir pantai Kelvari beberapa tahun silam.
"Jadi selama ini aku menjalin hubungan dengan seorang Ruka Arshavin?" Aran tersenyum pilu karena merasa tak tahu diri. "Pantas saja ibunya sangat menolak keras diriku masuk ke hidup putranya waktu ini. Dilihat dari sudut manapun memang status kami bagaikan bumi dan langit, ia terlalu tinggi hingga untuk sekedar menatapnya saja terlampau jauh buatku."
...🌸🌸🌸...
JANGAN LUPA YA KALAU SUKA DI LIKE, COMMENT, VOTE, BERI GIFT.