Remember Me Husband

Remember Me Husband
Nyonya Rumah



Pagi harinya Theo dan Jia terlihat sudah berada duduk di ruang makan menunggu bibi Maya menyiapkan sarapan. Selain Theo dan Jia, disana juga ada Lucas yang tengah membaca koran sambil menikmati secangkir kopi di pagi hari. Lucas yang awalnya dengan santai membaca koran, tiba-tiba saja merasa canggung saat tahu kedua anak di hadapannya itu melihat ke arahnya dengan tatapan sinis.


Karena merasa tidak nyaman, Lucas pun berhenti membaca koran dan berkata, "Anak-anak, tidak baik loh menatap orang yang jauh lebih tua dari kalian dengan tatapan begitu."


"Paman yang menculik kami kemarin kan?" Ucap Jia seraya mengintrogasi.


"Oh soal itu..." Sial, Ruka pasti belum menjelaskan kepada anak-anaknya alasan kenapa aku menculik mereka kemarin.


"Anak-anak soal itu— lebih baik tanyakan saja pada paman Ruka, dia kan yang menyuruku," jelas Lucas memberi pengertian.


"Kau dan paman Ruka itu sama saja suka seenaknya. Paman pikir aku akan biarkan kalian menindas kami?!" Ujar Theo.


Anak-anaknya Ruka ini terlalu frontal, persis seperti papanya. Sungguh buat repot saja!


"Anak-anak... sungguh, aku hanya diminta oleh ayah— um... Ma- maksudku... Aku hanya diminta oleh tuan Ruka."


Theo menatap tajam kearah Lucas, hingga membuat pria itu gugup. "Theo ke-kenapa melihatku begitu?"


"Paman, sebenarnya aku tahu kau orang yang baik. Tapi aku tidak yakin dengan bosmu itu. Sepertinya dia ada maksud lain membawa kami kemari."


Ya memang ayahmu itu begitu, kau baru sadar?


Jia seketika mengerutkan wajahnya kearah sang kakak seraya tidak senang mendengar kakaknya yang seolah berpikir kalau Ruka orang jahat.


"Kakak tidak boleh begitu. Paman Ruka itu orang baik tahu!"


"Kalau baik, kenapa dia segala menculik kita?!"


"Tapi paman Ruka kan sudah mendonorkan darahnya buat kakak!"


"Lalu apa hubungannya dengan menculik kita?"


"Tentu ada! Kakak ini kenapa sih?!"


"Aku tidak suka dengan perbuatannya!"


Kedua kakak beraddik itu pun cekcok dimeja makan, membuat Lucas jadi bingung sendiri dibuatnya.


Ya ampun anak-anak ini ribut sekali sih...


"Anak-anak tolong jangan bertengkar ya..."


""Paman diam!""


Lucas yang tak tahu harus bagaimana melerai Theo dan Jia pun bermaksud memanggil Ruka.


"Kakak itu tidak boleh seenaknya menilai orang."


"Kau itu yang seharusnya jangan mudah ditipu orang. Pokoknya aku mau ajak mama pulang!"


Theo kemudian bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke kamar tempat Aran berada diikuti Jia yang juga ingin mengadukan kepada sang mama tentang kakaknya.


Lucunya saat anak-anak itu berebut menggedor pintu meminta agar Aran keluar kamar, tidak disangka yang keluar dari kamar itu malah Ruka yang sudah berpakaian jas rapi dan hendak pergi ke kantor.


"Eh, paman Ruka kok ada dikamar mama?" Tanya Jia dengan wajah bingungnya yang polos.


"Paman kenapa bisa dikamar mama, kau apakan mamaku!?" Seru Theo dengan tatapan tidak senang.


Melihat kedua anaknya menginterogasinya, Ruka malah dengan santai mengatakan kalau Aran saat ini masih tidur, dan meminta kedua anaknya agar segera kembali ke ruang makan untuk sarapan.


Namun Theo bersikeras tetap ingin menemui mamanya. "Tidak, aku mau lihat mama, aku yakin paman pasti sudah menyakiti mama kan, di dalam!"


Menyakiti? Mungkin daripada menyakiti, lebih tepatnya aku sudah berhasil membuat dia jadi tidak berdaya.


"Theo dengar, Arana saat ini masih tidur karena kelelahan. Apa kau tega membangunkannya?"


Jia menarik jas Ruka dan bertanya, "Paman mama kelelahan kenapa?"


Itu bagaimana bilangnya ya? Ruka tersenyum lalu memberi pengertian pada putri kecilnya dengan berkata, kalau sang mama semalam susah tidur jadinya baru bisa tidur beberapa jam yang lalu.


"Tapi mama baik-baik saja kan?"


"Tentu saja, dia hanya harus istirahat." Sepertinya permainanku agak keterlaluan pada Arana.


Ruka menatap Theo yang sedang diam berpikir.


"Kau pasti bohong, pasti kau membuat mamaku menangis dan—


"Kalau kau tidak percaya, silakan bangunkan saja!" Tegas Ruka serius.


Theo pun dibuat kaget dan terdiam berpikir.


"Bagaimana? Kau tetap ingin membangunkan Arana?"


"Tidak, aku mau sarapan saja, ayo Jia kita saparan!" Theo langsung buang muka pada Ruka dan mengajak Jia kembali ke meja makan.


Akhirnya mereka bertiga dan Lucas sarapan roti panggang yang sudah dibuat oleh bibi Maya.


Disana Lucas berkata kepada Theo dan Jia, "Anak-anak, aku minta maaf sudah menculik kalian. Tapi sungguh aku melakukan itu karena diminta beliau yang sedang menyesap kopi itu." Lucas melirik ke arah Ruka.


"Aku memang memintanya, tapi dia tidak menolak."


"Ruka kau ini!" Lucas dibuat kesal, namun setelah itu hanya bisa menghela nafas karena sebagai teman yang sudha mengenal Ruka belasan tahun ia sudah tahu karakter temannya itu.


"Oh iya Ruka, kau ke kantor kan hari ini?"


"Ya."


"Aku akan kembali juga, sepertinya Hiro butuh bantuan mengurus bar, ditambah Juan tidak terlalu bisa aku adalkan untuk mengurus semua klien sendiri."


"Baiklah...," jawab Ruka singkat yang kemudian bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Paman Ruka sudah mau pergi kerja ya?"Tanya Jia yang sepertinya masih ingin bersama Ruka.


"Iya putri cantik, aku harus kembali ke kantor. Kau disini dulu ya bersama mama dan kakakmu."


Jia tampak agak khawatir.


Jia pun mengangguk paham. "Tapi paman akan kesini lagi kan?"


"Tentu saja, nanti malam aku akan pulang kesini."


"Asyik!" Jia senang sekali, ia lalu meminta Ruka berjongkok agar ia bisa memeluknya.


Setelah itu Ruka mengusap kepala Jia dan pamit untuk pergi.


"Hati-hati ya Paman, selamat bekerja."


Ruka lalu tersenyum. Dan sebelum pergi ia juga berpamitan kepada Theo sambil berpesan, "Jaga mama dan adikmu selagi aku pergi okey?"


"Tanpa kau minta aku pasti akan lakukan kok," jawab Theo dengan agak gengsi.


Dengan hanya menyeringai kecil Ruka memahami ucapan Theo yang tidak mau terlihat lemah dihadapannya itu.


"Bagus kalau begitu."


"Bye anak-anak!" Seru Lucas yang kemudian sekali lagi minta maaf kepada Theo dan Jia karena sudah menculiknya. Merasa Lucas orang baik, Jia pun sudah memaafkan pria itu dan tersenyum manis kepadanya.


"Kau benar-benar sangat cantik dan imut kalau tersenyum, terima kasih putri Jia sudah memaafkanku."


"Sama-sama pama Lucas yang tampan."


Lucas dibuat gemas dengan sikap Jia yang manis dan wajahnya yang imut, hingga ia tak tahan ingin memeluk dan mencubit pipinya.


"Iya iya sudah paman pergi sana!" Ujar Theo dengan agak ketus meski sudah memaafkan Lucas.


Ruka dan Lucas pun akhirnya pergi.


...***...


Ruka dan Lucas pun pergi, namun sebelum masuk ke mobil Ruka memerintahkan agar penjaga terus mengawasi dan jangan biarkan siapapun masuk ke vila tanpa seizin darinya. Ruka juga meminta kepada bibi Maya untuk tidak menganggu Aran yang sedang beristirahat, dan menyiapkan makan siang kalau Aran sudah bangun nanti.


"Baik tuan."


Ruka pergi naik mobil Lucas menuju ke Skyper. Di perjalanan Lucas sedikit membahas tentang kesannya terhadap anak-anak Ruka. Ia bilang anak-anak Ruka dan Aran sangat cerdas, namun sifatnya jelas sangat berbeda satu sama lain. Theo agak dingin dan ketus seperti Ruka, sementara Jia dia sangat berbanding terbalik dengan kakaknya.


"Aku rasa Theo akan sedikit sulit menerimamu, kalau ia tahu kau papa kandungnya."


Ruka sebenarnya berpikir seperti apa yang dikatakan Lucas. Namun sebagai ayah ia tidak akan biarkan itu, ia akan berusaha membuat anak-anaknya mau menerimanya sebagai ayah mereka.


"Apa itu salah satu upayamu agar Aran tidak diambil pria lain?"


"Sepertinya begitu. Aku tidak mau pria selain aku menjadi suaminya dan ayah dari anak-anakku."


Lucas tergelak. "Jadi beginikah tuan Ruka kalau sudah mode posesif? Tapi masalahnya sekarang, semua orang tahu kau itu tunangan Bianca, bagimana caranya kau kembali pada Aran?"


"Aku sudah pikirkan itu, tapi untuk saat ini yang terpenting adalah melindungi Arana dan anak-anakku dari ancaman wanita iblis itu!" Ruka benar-benar marah tiap kali mengingat Lusi yang sudah mengancam Aran.


"Ibu tirimu itu apakah sebenci itu padamu?"


"Ya, dia adalah hama yang sangat meresahkan. Terlebih, setelah mendengar cerita dari Aran, aku jadi semakin yakin kalau kecelakaanku enam tahun lalu pasti ada hubungannya dengan Lusi."


"Soal itu, aku, Juan, Hiro, dan Rowen pasti akan membantu mengungkapnya segera."


...🌸🌸🌸...


Aran akhirnya terbangun dari tidurnya yang lelap. Tubuhnya yang tak menggukan apapun dan hanya ditutupi selimut tebal terasa kaku dan sedikit nyeri. Mungkin karena sudah lama tidak melakukan hal 'itu'  jadi tubuhnya belum terbiasa lagi mengimbangi permainan Ruka.


"Padahal dulu saat masih di Kelvari kami setiap hari melakukannya dan aku tidak selelah ini. Antara aku yang sudah semakin tua atau Ruka yang semakin kuat." (Padahal Aran masih dua puluh lima tahun)


Wajah Aran pun memerah, kedua tangannya menutupi wajahnya yang agak malu-malu mengingat kejadian semalam bersama Ruka. Setelah sekian lama tidak tidur bersama, akhirnya mereka bisa kembali menyatu dan tidur di ranjang yang sama. Aran sungguh bahagia, saking bahagianya ia bahkan seperti masih bisa merasakan tiap sentuhan dan aroma tubuh Ruka. Seolah sekujur tubuhnya telah ditandai oleh pria itu dengan beberapa tanda yang meninggalkan jejak kemerahan di banyak tempat di area tubuhnya.


Saat tengah membayangkan hal-hal dewasa, tiba-tiba saja terdengar suara bibi Maya yang datang sambil mengetuk pintu. Aran pun langsung mengambil kimono tidurnya untuk membungkus tubuh polosnya dan membukakan pintu.


"Maaf mengganggu anda nyonya."


"Oh tidak apa bibi, aku sudah bangun kok. Maaf ya aku belum ganti baju."


"Tidak apa-apa nyonya, aku sangat paham kok," balas Maya diikuti sedikit senyuman yang seolah paham apa yang terjadi diantara dirinya dan Ruka.


Aran yang tersipu malu pun bertanya ada apa bibi Maya menemuinya?


"Aku kemari ingin bertanya, nyonya mau makan siang apa biar aku buatkan."


Ditanya begitu Aran jadi agak bingung, mengingat ia biasanya memutuskan menu makanan saat ia berbelanja ke supermarket, atau saat ia melihat bahan masakan di dapur.


"Bibi tidak usah repot-repot. Biar aku masak sendiri makan siangku dan anak-anak nanti."


"Tidak boleh nyonya, tuan bilang hari ini anda hanya boleh istirahat saja. Urusan memasak dan pekerjaan rumah itu sudab jadi tugasku dan para pelayan lain."


Kalau Ruka yang sudah memerintahkan, pasti sulit dibantah. Akhirnya Aran hanya bisa menurut, lalu meminta bibi Maya untuk memasak kari sapi untuk makan siang, mengintat anak-anaknya suka itu.


"Hanya itu nyonya?"


"Iya itu saja, dan bibi tolong jangan panggil aku nyonya. Aku kan bukan nyonya rumah ini."


"Maaf, tapi tuan Ruka sendiri yang memerintahkan kami semua disini untuk memanggil anda nyonya, dan menuruti semua perintah anda."


"Oh begitu, yasudah kalau begitu aku mau bersih-bersih dulu. Lalu bi, anak-anakku dimana mereka sekarang?"


"Tuan dan nona kecil sedang bermain ditaman belakang nyonya."


Aran lega mendengarnya.


"Baik nyonya kalau begitu aku permisi."


Aran pun kembali kekamar dan bersiap untuk bersih-bersih. Disana ia sempat melamun dan berpikir, kalau saat ini hidupnya seakan seperti mimpi. Dimana yang biasa harus bangun pagi dan menyiapkan semua keperluan sendiri, kini malah sudah dilayani layaknya ratu di kerajaan.


Tapi tak lama Aran segera menepuk kedua wajahnya dan berkata, "Ayolah Aran jangan gila! Kau itu bukan lagi istrinya Ruka, apalagi nyonya rumah ini. Jadi berhenti berkhayal dan mari cuci wajahmu!"


...🌸🌸🌸...


...Jangan lupa, vote, comment, liked semuanya.......