Remember Me Husband

Remember Me Husband
Teman Terbaik



Malam harinya setelah kedua anaknya tertidur, Aran terlihat tengah sedang berbincang dengan Risa di ruang tengah sambil minum minuman kaleng yang dibawa Risa. Disana kedua wanita itu baru saja membicarakan tentang Theo yang tadi siang berkelahi di sekolah. Aran bercerita kalau ia bangga dengan putranya yang meski terlihat cuek tapi selalu mau membela orang lain yang ditindas.


"Anakmu Theo memang sekeren itu Aran! Aku yakin sepuluh tahun lagi, saat masuk sekolah menrngah dia akan jadi pria paling populer disekolah dan jadi idola para gadis!" Risa memuji sambil bernarasi membayangkan Theo dewasa. Ia bahkan berandai jika usianya sepuluh tahun lebih muda, dia akan menunggu Theo dewasa dan mengajaknya menikah.


"Ah kau ini Risa."


"Hehehe... Tapi aku serius, aura karismatik dan tatapan mata tajam milik Theo itu jelas tidak mirip seperti dirimu."


"Apa maksudmu bilang begitu? Jelas-jelas dia itu anakku. Lihat saja warna mata dan rambutnya yang sama denganku!" Aran seolah tak terima Risa mengatakan Theo tidak mirip dirinya.


"Iya dia memang anakmu, wajah menawannya memang mirip dirimu hanya saja versi laki-laki. Tapi... secara sifat dan beberapa gestur dia sepertinya lebih mirip mantan suamimu ya?"


Aran seketika terdiam. Raut wajahnya pun langsung berubah menjadi sendu dan menyiratkan banyak penyesalan. Melihat temannya begitu Risa pun menyentuh pundak Aran dan bertanya apa dia baik-baik saja.


"Maaf kalau tiba-tiba aku menyebutkan suamimu. Tapi Aran, melihat raut wajahmu barusan, kenapa aku merasa kau menyimpan banyak kepahitan yang kau sembunykan seorang diri?"


Apa yang dikatakan Risa menang benar, selama ini Aran selalu menyimpan rahasia masalahnya tentang Ruka seorang diri. Dan jujur saja hal itu seringkali sangat melelahkan untuknya.


"Aran, aku tidak mau memaksamu bercerita. Tapi sebagai orang yang sudah menganggapmu sebagai saudariku sendiri aku ingin kau bisa sedikit terbuka dan membagi perasaanmu dengaku. Setidaknya dengan begitu, beban di hatimu akan sedikit bisa berkurang."


Setelah mendengarkan kata-kata Risa barusan. Aran berpikir adakalanya manusia memang tidak bisa selalu mengandalkan diri sendiri dan butuh orang lain untuk tempat bersandar. Aran kemudian tersenyum ke arah sahabatnya itu dan berkata kalau ia ingin jujur pada Risa tentang mantan suaminya.


"Kau mau memberitahuku siapa mantan suamimu?"


Aran mengangguk pelan. Aku rasa menceritakan hal ini pada Risa adalah hal yang sudah tepat.


"Jadi siapa mantan suami brengsekmu itu?" Risa sangat penasaran.


"Dia..."


"Apa?!"


Seketika Risa langsung dibuat syok saat Aran menyebutkan kalau Ruka Arshavinlah suami sekaligus ayah dari kedua anaknya.


"T- tunggu dulu... Ka- kau jangan bicara dulu, biarkan aku berpikir." Risa yang masih belum yakin mencoba menelaah ucapan Aran. Bagaimana mungkin konglomerat sekelas Ruka itu suaminya Aran? Maksudku... Aran memang sangat cantik dan menarik dimata pria termasuk Ruka. Tapi secara status sosial bukankah itu sangat mustahil? Apa ini cerita dongeng?


Melihat raut wajah Risa, Aran bisa menebak pasti temannya itu belum bisa percaya dengan ucapannya.


"Eh, bu- bukan begitu hanya saja..."


Aran hanya tersenyum hambar lalu berkata kalau Risa tidak perlu menutupinya. Karena ia sendiri kalau jadi Risa atau orang lain pun pasti berpikir hal yang sama dan tidak percaya."


"Aran bukan maksudnya aku tidak percaya padamu. Tapi jika dilihat dari fisik kau itu sangat cantik dan menarik, aku yakin pria normal manapun pasti tertarik termasuk tuan Ruka. Hanya saja..."


"Sebenarnya ceritanya begini..." Aran pada akhirnya menceritakan kisah masa lalunya sampai pada akhirnya ia dan Ruka menikah.


Setelah panjang lebar menceritakan, akhirnya Risa pun paham dengan semua keadaan Aran saat ini. Ia pun tiba-tiba dibuat menjadi terharu dan kemudian langsung memeluk temannya tersebut.


"Aran, maaf aku yang tidak ada untukmu waktu itu. Aku sungguh tidak tahu ternyata kau menyimpan rahasia dan beban ini sendirian bertahun-tahun. Maafkan aku...." Risa tak kuasa menahan tangisnya setelah tahu penderitaan sahabatnya saat ini.


"Sudahlah jangan menangis, nanti aku ikut menangis juga," ucap Aran sambil mengusap air mata dipipi Risa.


"Tapi Aran, apa kau sudah sangat yakin tidak mau membuat tuan Ruka mengingatmu lagi?"


"Soal itu..."


Tentu saja Aran yang sampai detik ini masih mencintai Ruka ingin suaminya kembali mengingatnya. Sayangnya hal itu sangat sulit terjadi, mengingat ancaman dari Lusi selalu saja membuat Aran takut dan tidak berani bergerak terlalu jauh. Ia tidak ingin Theo dan Jia berada dalam bahaya jika ia sampai nekat membuat Ruka ingat padanya.


"Sudahlah aku paham kok," Risa kembali menepuk pundak Aran dan tersenyum seraya menyemangatinya.


"Apapun keputusanmu saat ini atau nanti, aku akan selalu mendukungmu Aran!"


Mendengar Risa berbicara begitu senyum lega di wajah Aran pun mengembang.


"Terima kasih Risa, kau memang teman terbaikku."


"Sama-sama..."


Kedua sahabat itu pun berpelukan.


Setidaknya setelah menceritakan semua rahasiaku pada Risa, aku merasa cukup lega dan puas, karena sekarang ini aku memiliki teman yang bisa kujadikan tempat terbaik berbagi cerita.


...🌸🌸🌸...