
Di perjalanan menuju kantor, Ruka terlihat melamun di kursi belakang. Ia melamun memikirkan Aran yang sudah lama ini belum sempat bertemu Aran sejak dirinya resmi bertunangan dengan. Hal itu membuatnya jadi kepikiran, dan seketika teringat dengan pertemuannya terakhir kali dengan Aran dimana gadis keluar dari ruangannya dengan keadaan menangis.
Apa dia marah dan tidak ingin melihatku lagi?
Ruka menurunkan kedua bahunya seraya menghela nafas karena pasrah.
Tidak biasanya melihat bosnya menghela nafas seperti itu, Rowen yang melihatnya lewat kaca spion di depannya pun bertanya kepada tuannya tersebut ada apa sebenarnya?
"Tuan kau ceritakan saja padaku, apa yang membuat tuan Ruka resah sampai menghela nafas seperti itu?"
Ruka memperhatikan asistennya tersebut kewat spion tunggal di depan Rowen. Ia merasa ada baiknya mencaritahu tentang Aran lewat Rowen mengingat Rowen cukup baik mengenal Aran.
Sebenarnya lidah Ruka terasa pahit sekali mengakui hal itu. Tapi kenyataannya Rowen memang lebih baik dalam mengenal wanita itu dibanding dirinya.
"Rowen, kau— dan nona Arana... apa kalian sering berhubungan... Maksudku sering ngobrol atau sejenisnya?"
"Ya lumayan, kami sering bertukar pesan." Rowen sedikit merasa aneh tuannya menanyakan hal tersebut padanya. Karena tidak biasanya Ruka seperti itu.
"Memang ada apa Tuan?"
"Tidak apa-apa. Sudah fokus menyetir saja." Entah kenapa Ruka mendadak kesal dan ingin marah mendengar Rowen mengatakan hal tentangnya dan Aran yang sering berhubungan lewat pesan.
Sebenarnya sudah sejauh apa hubungan Rowen dan Arana? Argh sial! Aku rasanya ingin memaki Rowen saat ini!
...🌸🌸🌸...
Di kantor, Aran terlihat seperti biasanya melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Sejak hari pertunangan Ruka dan Bianca ia memang sudah memutuskan untuk dengan sungguh-sungguh mencoba melupakan dan tidak peduli lagi pada Ruk. Sayangnya hal itu cukup sulit untuk Aran, melihat dirinya yang justru semakin kuat mengingat Ruka setiap kali ia mencoba melupakannya.
"Tidak boleh aku tidak boleh kalah dengan pemikiranku!"
"Tidak boleh apa?"
Aran medadak kaget saat mendengar seseorang yang tiba-tiba saja menyahuti ucapannya dari balik punggungnya. Dan saat ia menoleh ke kebelakang ternyata Rowen.
"Huft! Kukira siapa. Buat kaget saja!" Arna Mengusap dadanya seraya merasa lega.
"Hehe... Maaf."
Aran mengedipkan bulu matanya yang lentik dan bertanya, kenapa Rowen ada disini saat jam kerja?
"Aku kebetulan mau menemui tuan Ruka, eh lihat dirimu jadi aku mengusilimu deh!"
"Huh! Kau ini usil sekali tuan!"
Sebenarnya Rowen menghampiri Aran bukan hanya karena iseng, melainkan ada maksud lain yakni, ia ingin mengajak Aran pergi kencan akhir pekan nanti. Sayangnya keberaniannya itu tiba-tiba menciut saat berada di hadapan Aran.
Aku ingin mengajaknya, tapi aku takut ditolak olehnya.
"Eh tuan Rowen, kenapa anda malah melamun dan bukannya segera menemui tuan Ruka?"
Diingatkan soal Ruka, Rowen pun langsung memasang wajah panik mengingat wajah bosnya yang murka jika ia tak segera datang menemuinya.
"Aran maaf kalau begitu aku sepertinya harus pergi mengingat bos kita kalau marah sangat menakutkan. Sudah ya, bye Aran..." Rowen melambaikan tangannya lalu pergi.
Menurut Aran, "Dibanding wajah marahnya, aku lebih tidak berani melihatnya saat ini."
...🌸🌸🌸...
"Kakak...!"
"Hmmm?"
"Kakak sudah Jia ceritakan belum, tentang paman pahlawan?"
Theo langsung mengerutkan keningnya. "Paman pahlawan siapa?"
"Itu loh... orang yang menolong Jia menenmukan topi waktu itu..." Jia pun dengan antusias menceritakan kepada sang kakak, soal dua paman yang menolongnya.
"Oh begitu, baguslah tandanya mereka paman yang baik," jawab Theo dengan cuek dan kembali memainkan rubriknya.
"Huh kakak! Kenapa jawabannya datar begitu sih?" Jia agak sebal melihat sang kakak yang malah tidak antusias menanggapinya. Padahal maksud Jia menceritakan hal tersebut ialah agar sang kakak mau membantunya mempertemukan paman pahlawan itu dengan Aran.
Tidak mau adiknya ngambek, Theo akhirnya kembali meladeni Jia. "Lalu, kau mau aku bagaimana?"
"Em...! Jia mau mempertemukan mama dengan paman pahlawan yang super tampan itu."
"Huh?" Theo agak kaget mendengar keinginan adiknya itu. Mengingat, sejak kapan Jia belajar mendekatkan mamanya dengan seorang pria.
"Mau ya kak....??!" Jia menarik lengan baju kakaknya sambil merengek membujuknya. Bagi Theo ini pertama kalinya Jia sampai seperti ini demi mempertemukan pria itu dengan sang mama.
Memang pria itu sekeren apa sih, sampai-sampai membuat Jia ingin mendekatkannya dengan mama?
"Memang paman yang mana yang mau kau pertemukan dengan mama? Bukankah paman yang menolongmu ada dua orang?" Theo mempertegas pria yang mana diantara dua penolongnya yang ia kagumi itu.
"Paman yang tampan, dan sangat keren! Walau dua-duanya keren, tapi Jia lebih suka paman yang mengambilkan topi dan mengusap kelapa Jia."
Dari caranya menceritakan pria itu, dan sorot matanya saat ini. Theo jadi semakin penasaran seperti apa sih penampakan pria yang bisa merebut hati adiknya itu?
"Tapi Jia, bagaimana kita tahu pria itu. Namanya saja kau tidak tahu."
"Iya sih... Tapi kak, seingat Jia paman itu wajahnya tidak asing dan pernah Jia lihat di sebuah majalah yang dijual di toko buku."
Benarkah itu?
Sebenarnya Theo malas sekali mencari tahu seseorang yang ia tidak ada hubungan dengannya. Tapi apa boleh buat, selagi tidak membahayakan dan membuat Jia senang ia akan bantu. "Baiklah... Nanti aku akan bantu mencari pria itu lewat internet."
Senyum Jia seketika mengembang dan ia pun langsung memeluk sang kakak dan berterima kasih. "Terima kasih kakakku yang paling keren sedunia. Aku sayang kakak..."
"Iya, iya..."
Selagi Mama dan Jia senang, aku akan lakukan apapun yang aku mampu! Itulah tekadku sebagai satu-satunya pria di rumah ini! Dan... paman yang dimaksud Jia, siapa sebenarnya dia?
...🌸🌸🌸...
Jangan Lupa, Like, comment, vote.
NP : Sorry ya updatenya ga nentu, author lagi banyak kerjaan lain 🙏