
Di kamarnya, Aran terlihat sedang membongkar kotak berisi benda berharganya miliknya. Didalam kotak itu ada beberapa benda yang bagi Aran berharga. Seperti selimut masa kecilnya, jepit rambut pertama permberian kakek neneknya dan kotak cincin berisi cincin mutiara langka yang diberikan oleh Yuka/Ruka di hari ulang tahunnya yang ke - 19. Aran memakai cincin itu dan seketika perasaannya bernostalgia ke enam tahun silam. Hari itu Aran benar-benar merasa jadi wanita paling beruntung di dunia.
Sayang kenangan Aran akan hal itu seketika buyar, mengingat kalau kini dirinya dan Yuka/Ruka bukan lagi suami istri dan pria itu juga sudah tak lagi mengenal Aran.
"Untuk apa kuingat kenangan yang sia-sia saja."
Pria yang dikenalnya saat ini bukanlah Yuka tetapi Ruka Arshavin, pria asing dari keluarga yang sangat terpandang, berbeda dengan Aran yang mungkin hanya golongan rendahan dimata keluarga besar Ruka.
Memikirkan hal itu sungguh membuat hati Aran jadi merasa sedih, kesal, marah, dan kecewa. Namun bagi Aran yang tak memiliki kekuatan apapun, marah pun tak akan merubah keadaan. Yang terpenting dihidupnya saat ini adalah bisa membahagiakan kedua anaknya itu sudah cukup.
"Aku harus terus hidup, tidak ada waktu untuk lama-lama tenggelam pada masa lalu." Lagipula setelah mengalami semua badai kehidupan yang tak terduga, Aran pun jadi semakin terbiasa dengan segala cobaan yang mungkin akan datang silih berganti kedepannya nanti.
...🌸🌸🌸...
Keesokannya, Aran yang akan mengantar Theo masuk ke sekolah barunya hari ini berniat berangkat naik taksi. Sebelum pergi ia pun pamit pada Jia yang ia titipkan pada Risa.
"Risa sekali lagi maaf karena lagi-lagi aku menitipkan anakku padamu. Tapi aku janji, mulai besok aku akan menitipkan Jia di daycare yang letaknya tidak jauh dari sekolahnya Theo."
"Sudahlah Aran, santai saja. Lagipula aku senang kok bisa bermain dengan Jia yang imut ini."
"Mama, Jia minta maaf karena buat mama repot, Jia janji akan makan banyak supaya cepat besar dan bisa mengurus diri sendiri dan tidak merepotkan mama."
Mendengarnya Aran sangat tersentuh, bagaimana mungkin balita berusia tiga tahun bisa bicara sedewasa itu. "Tidak kok, buat mama anak-anak mama tidak ada yang merepotkan. Sudah ya, kalau begitu mama pergi dulu antar kakakmu ke sekolah. Jia jangan nakal dan menurut kata bibi Risa ya?"
"Iya mamaku yang cantik."
"Gadis pintar," tandas Aran langsung mencium pipi lembut putri kecilnya dan pamit pergi.
"Bye mama dan kakak..."
Di perjalanan saat mau berangkat menuju ke sekolah tempat Theo belajar, tiba-tiba saja taksi yang dinaiki Aran dan putranya mengalami pecah ban. Alhasil Aran dan Theo pun jadi harus mencari taksi lain.
"Kalau tidak sempat dapat taksi biar aku jalan saja ke sekolah, mama berangkat saja ke kantor. Aku bisa kok berangkat sekolah sendiri," ungkap Theo.
"Apa-apaan kau ini, mana mungkin mama membiarkanmu pergi sekolah sendirian." Bagaimana pun Aran akan berusaha mencarikan taksi kosong untuknya dan Theo. Tapi karena jam rawan aktivitas, mencari taksi kosong jadi agak lama.
Dan saat Aran tengah kesulitan mencari taksi, tba-tiba saja muncul mobil sedan berwarna merah yang berhenti di dekatnya dan Theo. Si pemilik mobil itu pun keluar dari mobil.
"Tuan Sean?"
Ucap Aran saat tahu ternyata pemilik mobil itu adalah Sean Asuka, salah satu petinggi di Skyper.
Sean bertanya Aran sedang apa disini?
"Dan anak disebelahmu, siapa dia?" Sean melirik ke arah Theo.
Aran pun akhirnya cerita kepada Sean kalau taksi yang dinaikinya tadi pecah ban dan kini sedang cari taksi untuk mengantar putranya sekolah.
"Yasudah biar aku antar saja bagaimana?" usul Sean.
"Um— itu apa tidak merepotkan anda tuan?" Sebenarnya Aran hanya takut Theo tidak mau, karena ia tahu Theo tidak mudah akrab dengan orang baru, apalagi jika dia tidak suka orang itu.
"Ma, terima saja tawaran paman ini. Lagipula paman, kau teman mamaku kan?"
"Ya, aku temannya Aran," jawab Sean tersenyum pada Theo.
Sepertinya Aran merasa Theo menilai Sean adalah pria yang baik, makanya dia bisa langsung menerima tawarannya. Akhirnya karena Theo setuju, Aran pun bersedia diantar oleh Sean.
Setibanya di depan sekolah Theo. Meski baru masuk pertama kali, tapi Theo merasa tak ada rasa canggung sama sekali. Ia pun meminta mamanya agar tak perlu mengantarnya ke dalam, ia justru menyuruh Aran agar segera berangkat kerja saja.
"Kau yakin tidak mau mama antar sampai ke dalam?"
"Iya, aku kan sudah lima tahun dan sebelumnya aku juga sudah pernah sekolah jadi mama jangan khawatir," jelas Theo dengan santainya.
Anak ini tak mau merepotkanku. Aran jadi bangga sekaligus terharu.
"Iya aku sungguh teman mamamu, kenapa memangnya?"
"Tidak, hanya saja yang aku tahu orang kaya itu kalau baik pada orang ekonomi rendah seperti kami biasanya ada maksud tertentu. Tapi semoga paman tidak begitu."
"Theo, kau tidak boleh bicara begitu!" tegur Aran.
Theo tak menggubris teguran sang mama dan malah langsung pamit masuk ke dalam kelas. "Paman Sean terima kasih tumpangannya. Mama, aku sekolah dulu kau selamat bekerja bye...," ucap Theo lalu keluar dari mobil.
"Tuan Sean maafkan Theo, dia memang kalau bicara kadang terlalu terkesan kasar. Tapi dia aslinya anak yang baik kok," ungkap Aran merasa tak enak hati dengan ucapan putranya tadi.
Sean hanya tertawa pelan. "Tidak apa-apa. Aku tahu putramu aslinya pasti anak yang baik, kaerena ibunya saja baik. Mungkin ia bicara begitu karena naluri kuat sebagai anak laki-laki yang tidak mau jika ibunya sampai dekat dengan orang yang salah."
"Ya mungkin, tapi terima kasih karena sudah mau memahami putraku."
"Sama-sama."
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, sejujurnya Sean ingin sekali bertanya pada Aran tentang dirinya. Terlebih Sean agak syok dibuatnya saat tahu kalau ternyata Aran sudah memiliki anak sebesar itu."
"Um— nona Aran."
"Ya?" Jawab Aran yang kini sudah pindah duduk dikursi depan sebelah Sean yang tengah mengemudikan mobil.
"Maaf sebelumnya, Tapi aku tidak menyangka kalau kau sudah memiliki anak. Aku pikir kau—"
"Tidak apa tuan, beberapa orang memang suka mengira begitu. Mungkin karena usiaku memang masih cukup muda jadi wajar saja kalau anda dan sebagian orang berpikir aku masih lajang."
"Memang berapa usiamu sekarang?"
"Dua puluh lima."
"Wah muda sekali. Lalu suamimu dimana dia?"
Degh! Degup jantung Aran seketika bergegup kencang. Aran tidak tahu harus menjawab apa saat ini, karena tidak mungkin ia bilang kalau suaminya adalah Ruka Arshavin, pemilik Skyper group tempat dimana dia bekerja saat ini.
"Um— dia sudah tidak bersamaku, aku ibu tunggal sekarang."
"Eh, ma- maafkan aku ya karena terlalu privasi bertanyanya," ungkap Sean merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa tuan. Lagipula aku tidak risih sama sekali kok dengan statusku. Yang terpenting aku dan kedua anakku bisa hidup bahagia itu sudah cukup, selebihnya orang mau menilaiku apa aku tak mau ambil pusing."
"Eh, Tu-tunggu, kedua anakkmu? Ma- maksudnya anakmu masih ada lagi?"
Aran mengangguk lalu mengatakan kalau ia juga punya putri berusia tiga tahun.
Jadi dia seorang janda?! Kasihan sekali, sudah menjanda diusia muda, memiliki anak, ditambah lagi masih harus bekerja juga. Pria macam apa mantan suaminya itu?Tega sekali meninggalkan seorang wanita dengan anak-anaknya?
"Aran kau wanita yang hebat, meski sulit tapi kau tetap bekerja dengan semangat demi anak-anakmu."
"Haha, terima kasih pujian anda. Tapi aku rasa semua ibu di dunia ini akan lakukan hal yang sama kalau diposisiku."
Wanita ini bisa-bisanya bicara begitu.
Karena asyik mengobrol, sampai tak sadar kalau mereka sudah hampir sampai ke kantor. Aran pun meminta Sean agar menurunkannya sebelum masuk ke dalam gerbang. Hal itu ia lakukan karena tidak ingin dinilai yang tidak-tidak oleh pegawai lain karena naik mobil atasan.
"Aran, kau tidak usah pikirkan hal itu. Kalaupun ada yang berani bicara begitu beritahu saja diriku."
"Tidak tuan, kumohon sampai disini saja. Aku hanya ingin bekerja dengan tenang di kantor ini. Jadi kumohon tuan mengertilah..."
Tidak bisa memaksa akhirnya Sean pun menurunkan Aran di pinggir jalan yang jaraknya sudah tak terlalu jauh dari Galaxy tower.
...🌸🌸🌸...
Jangan lupa LIKE, COMMENT, VOTE OK