
Dua bulan pasca kediaman Aran didatangi Angli, Yuka pun tinggal di kediaman Aran dan neneknya. Meski belum lama namun Yuka udah cukup akrab dengan warga disana, terutama para nelayan dan penyelam yang seringkali mengajaknya untuk ikut menjaring ikan dan rumput laut bersama untuk dijual. Karena kebetulan Yuka sangat pandai menyelam jadinya para nelayan yang sudah cukup berumur pun merasa sangat terbantu dengan keikutsertaannya. Selain membantu para nelayan, Yuka juga seringkali mengajari para nelayan dan penyelam bagaimana cara membaca arah mata angin dengan lebih akurat supaya bisa mendapatkan ikan dengan jumlah yang lebih banyak. Yuka juga mengajari para nelayan itu bagaimana cara yang benar dalam menjualkan ikan-ikan tangkapan mereka dengan harga yang seharusnya. Karena selama ini, Yuka merasa para pelayan itu sering kena tipu karena menjual ikan tangkapan mereka dengan harga yang terlampau murah.
Hari ini Aran terlihat di dapur sedang memasak ikan kesukaan Yuka untuk diberikan kepada Yuka yang sebentar lagi selesai menjaring kerang di laut.
"Wah cucuku yang cantik sepertinya senang sekali. Biar kutebak, pasti senang karena tidak sabar mau mengantarkan makanan untuk pria itu kan?"
"Nenek, kau ini menggodaku terus." Aran tersipu malu.
"Lihat wajahmu memerah."
"Nenek sudah jangan menggodaku terus..."
Shuri tertawa melihat cucunya yang kini sudah semakin tumbuh dewasa menjadi wanita yang cantik.
Aran yang sudah berdandan pun bersiap mengantarkan makanan itu untuk Yuka.
Dan sebelum ia pergi, nenek Shuri mengucapkan selamat ulang tahun pada Arana yang hari ini tepat berusia 19 tahun. Itu artinya Aran sudah memasuki usia legal di negaranya. Shuri juga memberikan sebuah kotak hadiah kepada cucunya itu.
"Apa ini nek?"
"Buka saja."
Aran membuka kotak itu dan ternyata isinya sebuah selimut bayi berwarna merah jambu dimana di ujungnya terukir tanggal dan tahun lahir Aran.ย "Ini, apa ini selimut bayiku?"
"Iya sayang, karena hari ini kau sudah resmi jadi wanita dewasa. Maka aku rasa sudah saatnya kau tahu semuanya tentangmu."
"Maksud nenek?" Aran terlihat bingung.
"Arana, nama itu diberikan padamu saat pertama kali aku dan kakekmu menemukanmu yang masih beberapa bulan menangis di depan air mancur dekat taman.ย Melihatmu terlantar begitu akhirnya aku dan kakekmu yang tidak punya cucu pun memutuskan untuk merawatmu sebagai cucu kami."
Mendengarnya Aran seketika tertawa dan menganggap neneknya tengah bercanda.
"Aran, nenek tidak bercanda. Kenyataannya kau bukanlah cucu kandung kami, kau adalah bayi yang dikirimkan Tuhan kepadaku dan suamiku untuk mewarnai hidup kami di sisa-sisa usia."
"Lalu, siapa orang tuaku?!" Tanya Aran emosional.
"Aku juga tidak tahu, satu-satunya petunjuk hanya selimut itu. Jadi Aran sayang, setelah nenek tidak ada nanti tolong kau carilah keluargamu ya..."
"Tidak!" Aran memeluk neneknya. "Bagiku, satu-satunya keluargaku adalah kakek dan nenek. Kalianlah yang merawatku sejak kecil dan aku sangat sayang padamu, jadi kau tidak boleh cepat meninggalkanku nek..."
Shuri tertawa. "Dasar bodoh, kenapa kau menangis? Aku belum mati tahu! Lagipula, aku mengatakan ini karena memang sudah waktunya saja kau tahu."
"Aku sayang nenek. Aku tidak masalah tidak tahu siapa orang tuaku yang penting aku punya nenek..." Ungkap Aran kembali memeluk neneknya.
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Di dermaga, Yuka yang terlihat baru saja selesai mengangkat tangkapannya bersama nelayan lain pun bersiap untuk ganti baju.
"Anak muda, hari ini kau hebat sekali. Hasil tangkapan kita banyak sekali berkatmu yang punya fisik lebih kuat daripada kami semua," puji seorang paman nelayan kepada Yuka.
"Yuka, ini lima ribu dolar bayaranmu hari ini," tandas kepala nelayan memberikan lima lembar uang seribu dolar pada Yuka.
"Sejak kau mengajari kami berbisnis dengan benar, penghasilan kami jadi bertambah dua kali lipat terima kasih banyak nak."
"Sama-sama paman."
"Oy Yuka! apa kau mau ikut kami minum-minum setelah ini?" Ajak seorang rekannya.
Sayangnya pria tampan bertubuh atletis itu menolaknya karena hari ini ia sudah janji akan menghabiskan waktu dengan seseorang yang sangat spesial baginya.
"Kalian saja bersenang-senang, aku ingin ganti baju!"
Saat mau mengganti pakaian menyelamnya dengan pakaian kering. Tiba-tiba saja dari jauh terdengar seorang gadis berteriak memanggil namanya.
"Kak Yuka...!'
Yuka pun menoleh dan melihat ternyata gadis yang memanggilnya adalah Jena teman Aran yang datang menghampirinya.
"Jena, ada apa?"
"Kak Yuka, sebenarnya hari ini aku menemuimu karena ingin mengajakmu pergi ke festival malam ini, kau mau kan?"
"Jena sebelumnya terima kasih sudah mengajakku, tapi maaf hari aku tidak bisa karena aku sudah ada janji dengan seseorang jadi lain kali saja ya," jelas Yuka yang sebenarnya meski tak ada janji dengan orang pun pasti akan menolak, mengingat ia tahu kalau Jena itu menyukainya sementara ia sama sekali tak memiliki perasaan padanya. Dan ajakan Jena kali ini pun bukan pertama kalinya buat Yuka.
"Yasudah tapi lain kali bisa kan?"
"Untuk itu lihat saja nanti, kalau begitu Jena aku duluan!"
"Bye kak...." Balas Jena yang kemudian wajahnya berubah masam.
"Sial! Kenapa sih dia itu selalu saja menolak kalau kuajak pergi?!" umpat Jena kesal.
"Ini semua salah Aran! Gadis itu selalu saja mendapatkan apa yang aku inginkan. Kenapa sih, sejak dulu semua pria selalu saja suka pada Aran! Memang apa bagusnya anak miskin menyebalkan itu!"
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Aran terlihat sudah menunggu Yuka di dekat batu besar yang ada dipinggir pantai, ditempat itu dia berjanji akan melihat sunset bersama-sama dengan Yuka.
Saat sedang asyik menunggu, tiba-tiba saja seseorang datang dan menutup kedua mata Aran dari belakang mencoba mengagetkannya.
"Kau sudah tahu diriku ya ternyata, sepertinya aku harus cari trik baru untuk mengagetkanmu."
"Dasar usil! Sudah ayo cepat makan, aku sudah buatkan spesial ikan asap manis pedas kesukaanmu."
"Hem, kelihatannya enak!" Tandas Yuka yang sudah bersiap dengan kedua sumpit kayunya mencapit makanan masuk ke dalam mulutnya.
"Enak kan?"
"Sempurna! Masakan calon istriku memang yang terbaik," ucap Yuka yang entah bercanda atau serius. Yang jelas kata-kata Yuka barusan membuat Aran jadi tersipu malu dibuatnya.
Setelah selesai menyantap makanan yang dibawakan Aran. Keduanya pun langsung menghadap ke lautan untuk menikmati sunset bersama. Sambil menghitung mundur dari satu sampai sepuluh, pemandangan sunset yang indah pun berhasil memanjakan mata keduanya. Dan saat matahari mulai terbenam dan langit mulai senja, mereka pun seketika saling berpandangan mesra dan kemudian berciuman hingga matahari benar-benar tak nampak lagi.
"Arana, aku mencintaimu," ucap Yuka sambil membelai pipi Aran yang merona.
"Aku juga mencintaimu Yuka."
Keduanya pun saling tersenyum dan kemudian berpelukan.
Entah sejak kapan benih cinta muncul diantara keduanya. Yang jelas bagi Aran dan Yuka, bisa memiliki perasaan cinta satu sama lain dalah sebuah simbol dari ketulusan diantara keduanya.
Namun sialnya, saat sedang asyik berpelukan mesra. Tiba-tiba saja hujan turun. Keduanya pun terpaksa segera menyudahi pelukan mereka dan pergi dari sana mencari tempat berteduh.
Pada akhirnya mereka memutuskan berteduh di sebuah rumah kosong yang ada di dekat sana. Kebetulan rumah itu sekarang kosong, karena penjaga pantai yang biasa tinggal disana saat ini sudah pindah di cottage yang jaraknya lebih dekat dengan area wisata air.
Di dalam sana Yuka langsung melepas pakaiannya yang basah dan menggantungnya agar tak kedingingan.
Sebaliknya, Aran masih merasa kedingingan karena bajunya basah kuyub terkena air hujan. Hal itu juga membuat Yuka jadi salah fokus, karena akibat basah membuat baju Aran jadi menerawang hingga membuat pakaian dalamnya terutama dibagian dadanya nampak jelas gundukan gunung kembarnya yang bulat padat. Takut tak bisa menahan diri Yuka yang kebetulan melihat ada selimut di dekatnya, langsung memberikannya kepada Aran. "Pakai ini."
"Terima kasih," ucap Aran yang langsung membungkus tubuhnya yang basah dengan selimut itu.
"Apa kau masih kedinginan?" Tanya Yuka.
Aran mengangguk dengan agak gemetar karena kedinginan.
"Kau akan terus kedinginan jika masih memakai pakaian basah itu ditubuhmu."
"Tapi..."
Yuka seketika berbalik badan dan menyuruh Aran membuka bajunya disana. "Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan hal semacam itu tanpa seizinmu." Meskipun aku hampir gila rasanya menahannya.
Percaya pada Yuka, Aran pun melepaskan bajunya yang basah itu dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Disana tiba-tiba keduanya hening dan canggung satu sama lain.
"Kira-kira kapan ya hujannya berhenti?" Ucap Aran membuka obrolan.
"Entah, tapi hujannya sangat deras."
DUAR!
Suara petir menyambar, Aran yang kaget da ketakutan pun reflek langsung memeluk Yuka.
"Tenang itu hanya petir, lagipula aku ada disini bersamamu."
Yuka tiba-tiba membelai rambut Aran yang basah dan memandangi wajahnya sambil berkata, "Kau sangat cantik, matamu, bibirmu, kulitmu yang halus, semuanya indah aku..." Yuka langsung mencium bibir Aran, tak lama Aran pun langsung menyambut ciuman hangat itu dengan penuh perasaan. Semakin intens hingga tanpa sadar tangan pria itu sudah mulai menerobos masuk ke dalam bagian tubuh Aran yang hanya ditutupi selimut.
Hingga pada akhirnya Aran pun pasrah dan tak peduli lagi dengan apa yang Yuka lakukan padanya saat ini. Yang ia rasakan hanyalah perasaan kenikmatan aneh yang membuat kepalanya hampir meledak, saat lidah dan bibir pria itu perlahan menjelajahi semua area sensitif ditubuhnya.
Setelah semua yang ia lakukan pada Aran, Yuka menatap gadis pujaannya itu yang kini tampak berbaring di hadapannya tanpa sehelai benang pun.
"Arana hari ini kau sudah resmi jadi wanita dewasa, bisakah kita melakukannya?"
Tanpa keraguan Aran pun langsung mengangguk dengan wajah malu-malu.
Yuka pun melepaskan semua lapisan celananya. Sontak Aran dibuat kaget dan syok saat pertama kali melihat milik Yuka begitu besar tegak bediri diantara kedua selangkannya
Perasaan Aran seketika jadi agak takut dan ragu melihat apa mungkin milik Yuka yang sebesar itu bisa masuk kedalam miliknya.
"Arana, apa kau siap? Dalam tiga detik kuberi kesempatan jika kau tak menolak maka aku tidak akan melepaskanmu sampai selesai."
"Tiga..., dua..., satu." Aran tak menolak sama sekali. Yuka pun tersenyum dan berkata, "Malam ini akan kubuat kau mengingat tentang diriku selamanya."
Yuka bersiap memasukannya, namun Aran tampak agak gugup.
Ini pertama kalinya untuk Arana wajar saja dia takut. Aku harus meyakinkannya. "Arana awalnya memang menyakitkan, tapi aku janji setelah itu kau akan sangat menikmatinya. Jadi kumohon tahan sebentar sakitnya."
Aran seketika meringis kesakitan merasakan dirinya ditembus beda asing sebesar itu. Ia sampai-sampai mencakar punggung Yuka hingga terluka saking mebahan sakitnya.
"Arana aku akan mulai penetrasi, saat itu perlahan rasa sakitnya akan berubah menjadi kenikmatan yang tak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."
Dan benar setelah beberapa waktu saat terjadi penetrasi, rasa sakit yang Aran rasakan tadi pun perlahan hilang dan berganti menjadi rasa nikmat yang sulit ia ungkapkan.
Mereka pun pada akhirnya menghabiskan malam panjang yang penuh gairah dan cinta ditempat tersebut ditemani suara gemericik hujan.
...๐ธ๐ธ๐ธ...
KALAU SUKA TOLONG DI LIKE, VOTE, DAN BERI GIFT OKE, ARIGATOU ๐