
Dua bulan pasca meninggalnya nenek Shuri, akhirnya Aran dan Yuka memutuskan untuk melakukan pemberkatan pernikahan mereka di sebuah gereja. Dihadiri kerabat yang dikenal, keduanya pun melakukan janji pernikahan disana.
Kini Aran dan Yuka sudah menjadi suami istri. Dan seminggu setelah menikah Aran langsung mendapati kebahagiaan lagi, yakni dirinya positif hamil. Keduanya bahagia sekali akan menjadi orang tua, ditambah Yuka juka kini memiliki usaha sampingan lain yakni membuat mesin jaring ikan yang lebih modern. Delapan bulan kemudian putra pertama Aran dan Yuka lahir, Yuka memberi nama anak pertamanya itu Theodore atau biasa disapa Theo. Baik Aran dan Yuka keduanya sama-sama menikmati peran mereka sebagai suami istri dan orang tua. Semuanya berjalan baik sampai dua tahun lebih pernikahan mereka.
Namun hari itu, tepat di malam pergantian musim dingin. Yuka yang tengah memeriksa mesin kapal tiba-tiba saja dikepung oleh sekelompok orang bersenjata api. Tidak tahu apa sebenarnya masalahnya, namun Yuka harus mempertahankan dirinya. Karena ia satu-satunya yang tak memegang senjata api. Akhirnya pria itu pun mencari cara lain kabur dengan menceburkan diri ke dalam lautan yang dingin. Sejak tinggal di Kelvari daya tahan Yuka dalam menyelam di berbagai musim terlatih semakin baik jadi tidak masalah baginya berenang di musim dingin. Awalnya ia bisa dengan mulus kabur dari sana, namun siapa sangka ternyata orang-orang itu juga mengutus rekan mereka di dalam kabal speedboat. Meski handal dalam renang dan menyelam, namun jika diadu dengan mesin tentu saja Yuka pasti kalah. Pada akhirnya pria itu ditembakan racun oleh para penjahat dari atas kapal hingga pingsan.
Seme tara di rumah, Aran tiba-tiba jadi sangat khawatir melihat sudah selama ini tapi suaminya belum juga kembali. Terlebih cuaca semakin memburuk. Ia lalu menemui kepala nelayan dan yang lainnya untuk menanyakan keberadaan suaminya, namun baik kepala pelayan dan yang lainnya tidak ada satu pun yang tahu dimana Yuka. Sampai tiba-tiba saja seorang yang tinggal di dekat dermaga melaporkan kalau tadi ia melihat Yuka di dekat dermaga diserang sekelompok orang bersenjata.
"Lalu kemana dia?"
Ia bilang Yuka kabur dengan cara menceburkan diri kelaut setelahnya ia dan para penjahat itu tak nampak lagi.
Aran pun panik dan histeris, ia langsung meminta semua warga membantunya mencari sang suami. Sayangnya meskipun sudah mencari dari malam sampai menjelang pagi tak ada tanda-tanda Yuka ditemukan keberadaannya dimanapun.
Akibat hilangnya Yuka, Aran pun dibuat benar-benar stress, saking stresnya dan sedihnya Aran sampai tak mau melakukan apa-apa, hingga mengabaikan Theo yang saat itu belum genap dua tahun. Ia marah lalu menangis mendengar Theo yang juga menangis, sampai pada akhirnya Aran semakin lemah dan pingsan.
Untungnya ada Tia, teman Aran yang baik datang tepat waktu menolongnya dan Theo yang saat itu sedang menangis. Ia lalu membawa Aran dan Theo ke kamar dan memanggilkan dokter. Aran yang baru sadar harus dibuat kembali terkejut saat dokter mengatakan kalau Aran kini tengah mengadung selama 6 minggu. Entah Aran harus senang atau sedih mendengar hal itu, mengingat ia akan punya anak lagi tapi suaminya malah tiba-tiba hilang entah kemana.
Hari-hari kian berganti, sudah sembilan hari pasca Yuka yang keberadaannya belum diketahui hingga saat ini. Apakah masih hidup atau sudah mati? Tidak ada yang tahu. Sementara Aran yang awalnya larut dalam kesedihannya perlahan sadar kalau dirinya saat ini tidak bisa egois. Bagaimana pun ia seorang ibu, jadi mau tak mau ia harus berusaha sekuat hati untuk tetap kuat menjalani hidupnya demi Theo dan janin diperutnya saat ini.
Suatu hari saat Aran mau keluar rumahnya untuk memetik sayuran, seorang wanita berusia sekitar hampir lima puluh tahun muncul di depan rumahnya. Aran tidak tahu siapa wanita itu, tapi jika dilihat dari tampilan pakaiannya yang terlihat mahal dan berkelas dari ujung rambut hingga kaki, serta mobil sedan super mewah yang dikendarainya bersama seorang supir yang menemaninya, sudah pasti dia bukan warga Kelvari. Wanita itu berjalan mendekati Aran dengan gestur dan tatapan yang seolah merendahkan gadis itu.
Dengan sopan Aran pun bertanya, "Maaf nyonya anda mencari siapa?"
Wanita itu tak menjawab, tiba-tiba saja ia dengan nada bicaranya yang angkuh berkata, "Apa kau yang bernama Arana Haurin?"
"I- iya nyonya aku Arana, anda mengenalku?"
"Sebenarnya aku tak ingin kenal, tapi pada akhirnya terpaksa mengenalmu."
Aran benar-benar bingung sebenarnya apa tujuan wanita ini?
"Aku Lusi, aku kemari ingin memberimu ini!" Lusi tiba-tiba saja memberikan cek bernilai 10 juta dolar kepada Aran.
"I- ini untuk apa nyonya? Aku tidak mengerti kenapa anda memberiku cek berisi uang sebanyak ini?"
"Itu bayaran untukmu, syaratnya kau harus lupakan, dan jangan pernah lagi muncul di hadapan putraku!"
"Putra anda ma- maksudnya?" Apa jangan-jangan Yuka?
"Nyonya, anda— anda ibunya suamiku?! Dimana dia sekarang aku ingin melihatnya nyonya..."
"Suami? Cih! Anak itu memang sudah gila. Bisa-bisanya menikahi wanita rendahan menjijikan sepertimu yang bagi keluargaku saja kau tak lain hanyalah sampah!"
"Nyonya tapi aku—"
"Tidak nyonya aku tidak bisa, aku dan Yuka kami saling mencintai. Kumohon jangan paksa aku berpisah dan melupakannya."
Aran memohon sampai menyentuh tangan Lusi. Namun segera langsung ditepis oleh Lusi yang merasa jijik.
"Beraninya tangan kotormu menyentuhku."
"Aku tidak mau uang anda nyonya, aku hanya ingin suamiku kembali...," ucap Aran memohon sambil menangis.
Namun bagi orang seperti Lusi yang tak memiliki hati nurani, tentu saja hal seperti itu sama sekali tak membuatnya tersentuh. Ia justru semakin menekan Aran dengan mengancam akan membakar rumahnya sekaligus kapal-kapal nelayan milik warga sekitar.
"Nyonya kenapa anda setega itu?"
"Aku tidak peduli, dan jangan kau pikir aku main-main dengan ucapanku. Aku bisa lakukan apapun, apalagi hanya menyingkirkan warga dusun rendahan sepertimu dan tetanggamu disini, aku bisa saja musnahkan kalian hari ini juga!"
Aran gemetar, ia tahu ancaman Lusi tidak main-main. Dirinya sadar, bagaimanapun orang yang punya kekuasaan dan kekayaan pasti bisa melakukan apapun demi tujuannya, dan Aran tak bisa egois dengan hal itu.
Dengan berlinangan air mata serta hati yang terasa begitu amat pedih menerima segalanya. Aran pun mengiyakan keinginan Lusi untuk meninggalkan dan melupakan Yuka, suami dan ayah dari anak-anaknya.
"Bagus, seharusnya dari tadi kau lakukan! Ini cek mu ambil! Aku tahu kau miskin dan butuh uang!" Lusi melempar cek itu ke arah Aran dan pergi.
"Tunggu dulu nyonya, sebelum anda pergi tolong jawab aku. Apa- suamiku dia baik-baik saja?"
"Oh anak itu, ya dia sangat baik-baik saja."
"Syukurlah..." Aran merasa agak lega.
Tapi setelahnya wanita itu seolah pasrah ditempa badai. Tubuhnya yang seketika seperti lemas tak berdaya, berjalan terhyung masuk ke dalam kamarnya dan menatap Theo yang kini tengah tertidur pulas di tempat tidurnya. Air mata yang benar-benar sudah tak bisa dibendung lagi, menetes jatuh ke wajah putranya. Hati wanita ini kini benar-benar seperti hancur berkeping-keping, dunianya seolah runtuh seketika. Pernikahan yang ia anggap akan jadi gerbang awal kebahagiaanya, nyatanya hancur dengan cara yang tak pernah diduga sama sekali.
"Kenapa Tuhan... Kenapa harus aku yang harus menerima kenyataan seperti ini?"
Setelah neneknya, kini suaminya pun harus pergi dari sisinya juga.
"Apakah aku pantas atas mendapatkan semua ini? Akankah aku bisa mendapatkan kebahagiaanku yang sebenarnya?"
Tapi meski begitu, Aran seketika merasa masih memiliki harapan. Bahkan dua harapan sekaligus, Theo dan anak yang ada didalam kandungannya saat ini.
Anak-anakku, mulai hari ini mari kita cari kebahagiaan kita bersama-sama, meskipun tanpa ayah kalian.
*Flashback Off
...🌸🌸🌸...
Kalo suka jangan lupa LIKE, COMMENT, VOTE, GIFT. THANK YOU 💜