Remember Me Husband

Remember Me Husband
Tamu tak terduga



Pagi-pagi Aran sudah terlihat di dapur milik Ruka. Disana ia berniat membuat jus dan french toast untuk sarapannya. Namun saat tengah sibuk membuat jus tiba-tiba saja dari belakang muncul Ruka yang kemudian berbisik mengucapkan selamat pagi.


"Se- selamat pagi." Aran terlihat salah tingkah, bahkan sampai lupa kalau sedang memanggang roti.


Sebaliknya Ruka yang senang sekali melihat Aran yang salah tingkah, malah semakin ingin menggodanya.


"Tu- tuan lebih baik anda duduk saja, biar aku bawakan sarapannya nanti ke meja."


"Tidak mau, aku mau membantumu saja bolehkan?"


"Itu..." Lebih baik dia tidak di dekatku.


Karena jika Ruka dekat dengannya hanya akan mengingatkannya kalau semalam mereka tidur seranjang. Aran sendiri baru sadar tadi pagi saat bangun ternyata sudah berada diatas ranjang dengan posisi dirinya yang dipeluk Ruka dari belakang.


"Baumu saat bangun tidur enak," ucap Ruka tiba-tiba menghidu tengkuk lehernya.


Ya ampun...!


Tidak mau terus terintimidasi, akhirnya Aran pun meminta Ruka lebih baik cuci muka dan bersiap ke kantor.


"Tapi aku masih mau menemanimu masak..."


"Tuan anda pergi atau aku saja yang pergi!"


"Oke, aku kalah...! Dasar perempuan!"


Ruka akhirnya menurut apa yang dikatan Aran dan pergi.


"Fiuh, akhirnya dia pergi darisini. Kalau dia dekat terus bisa-bisa jantungku meledak saking gugup dibuat olehnya."


Setelah selesai membuat sarapan dan menatanya di meja, Aran pun bermaksud untuk ganti baju. Tapi tiba-tiba saja suara bel berbunyi. Karena Ruka sedang berada di kamar mandi, terpaksa Aran yang harus membukakan pintu. Sebelum membuka pintunya Aran sempat melihat dari lubang pintu untuk menastikan siapa yang datang. Dan tentu saja Aran tidak kenal sama sekali, yang jelas tamu yang datang adalah seorang pria.


Karena pria itu terus-menerus memencet bel, Aran akhirnya membukakan pintunya.


"Kak... Heh?" Pria itu tampak kaget saat melihat Aran yang datang membukakan pintu.


"Maaf nona, kau siapa? Dan, diamana kakakku?"


Aran langsung terfokus pada kata 'kakak' yang diucapkan pria itu.


Apa dia adiknya Ruka?


Sekilas Arna memperhatikan penampilan pria dihadapannya itu dengan seksama. Pria itu mengenakan baju dan sepatu bermerek terkenal, dan di telinganya ada bekas lubang tindikan.


Jika dilihat dari style dan perawakan wajahnya sepertinya masih seumuran denganku, tapi... Apa iya dia adiknya Ruka? Meski sama-sama tampan tapi mereka tidak terlalu mirip. Ruka punya mata yang lebih tajam, sementara pria ini, tatapannya lebih lembut.


"Ehem, nona yang cantik. Aku bertanya loh... kenapa malah bengong?"


"Oh iya ada apa?"


"Aku tanya apa kakakku Ruka ada didalam? Dan kau ini siapa?" Pria itu mendekati Aran dan memperhatikannya lamat-lamat. Hal itu embuat Aran sedikit tidak nyaman.


"Aku..."


"Ah aku tahu, kau ituโ€” pacarnya ya?"


"KARAZ!"


Ruka tiba-tiba muncul dan menyerukan nama adiknya tersebut. Melihat hal itu Aran langsung memasang wajah yang seolah minta penjelasan pada Ruka, siapa pria yang ia panggil Karaz barusan?


"Kakak...!" Karaz langsung menerobos masuk ke dalam apartemen Ruka dan bermaksud memeluknya namun Ruka langsung menghindar.


Melihat kelakuan Karaz, entah kenapa Aran jadi mendadak yakin kalau pria itu sepertinya memang adiknya Ruka.


Pada akhirnya Karaz ikut sarapan bersama Ruka dan Aran. Disana Karaz memperkenalkan dirinya pada Aran, dan sebaliknya Aran juga mengenalkan dirinya.


"Nona Aran senang bertemu dengan gadis semanis anda."


Melihat Karaz menggoda Aran begitu, Ruka yang tampak tidak senang pun berkata, "Kalau kau terus cerewet begitu, aku lempar kau dari sini!"


"I- iya kak, galak sekali sih!"


Aran tersenyum kecil melihat kelakuan Ruka dan Karaz yang baginya sangat lucu dan menandakan kalau mereka cukup dekat.


Setelah selesai sarapan, Aran segera membereskan peralatan makan mereka tadi. Sementara Ruka dan Karaz mengobrol di ruang tamu. Disana Karaz berbisik dan bertanya pada sang kakak, sebenarnya siapa Aran dan kenapa ada disini?


"Itu bukan urusanmu!" jawab Ruka dengan nada terdengar sewot.


"Ah kau ini. Tapi dia bukan pacarmu kan...? Kalau bukan aku boleh kan dekati dia, lagipula kau kan sudah punya Bianca."


"Berisik! Jadi mau apa kau kesini?"


"Ya ampun kakak kau ini galak sekali... aku kesini karena diminta kakek untuk memastikanmu saja. Karena kata kakek sudah beberapa hari ini kau tidak mau mengangkat ataupun membalas pesannya."


Karaz lalu menyampaikan kalau sang kakek minta Ruka agar segera ke Kelvari untuk peninjauan lahan maga proyek skyper group.


"Soal itu tenang saja, lusa aku akan berangkat kesana."


"Jadi kak, aku boleh tidak dekati nona Aran?" tanya Karaz lagi.


Ruka menatap garang ke arah adiknya yang usil itu.


"Ba- baiklah- baiklah... Tatapanmu sudah menjawabnya. Aku tidak akan macam-macam kok."


Tidak lama, Aran yang sudah bersiap-siap pergi pun pamit kepada Ruka.


Disana Karaz yang usil kembali menggoda Aran dengan berkata, kalau Aran adalah tipe idealnya dan ingin mengajaknya pergi berkencan. Ruka pun langsung menginjak kaki adiknya hingga meringis kesakitan.


"Um kalau begitu aku pergi dulu, permisi..."


"Bye nona A- ran."


Karaz masih meringis kesakitan karena diinjak Ruka. "Kau ini brutal sekali sih kak!" Padahal maksud Karaz sengaja menggoda Aran adalah untuk melihat reaksi sang kakak, dan tebakan Karaz sepertinya benar kalau Ruka menyukai Aran.


"Aku sudag mau berangkat ke kantor, kau pergilah..."


Ruka meminta adiknya itu untuk pulang. Tapi sebelum pergi Karaz berkata kalau ia akan selalu mendukung Ruka apapun yang terjadi.


"Sudah ya kakakku sayang, aku pulang dulu... Kau semangat jaga Aran, kalau tidak aku akan merebutnya darimu. Bye...!"


"Anak bodoh," ucap Ruka dengan agak tersenyum. Meskipun Ruka suka memarahi dan memukul Karaz namun ia juga sangat sayang pada adiknya itu.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Di ruang tamunya Theo dan Jia terlihat sibuk menatap layar tablet yang mereka pinjam dari bibi Risa. Kedua kakak beradik itu ternyata sedang sibuk mencari tahu tentang paman pahlawan yang pernah membantu Jia waktu itu. Karena Jia bilang pernah melihat wajah paman pahlawan terpampang di sebuah cover majalah, alhasil Theo pun berusaha mencari tahunya lewat internet.


Theo terus mencoba memasukan beberapa keyword untuk mencari tahu pria yang dimaksud oleh adiknya, dan setelah hampir setengah jam akhirnya pencariannya pun membuahkan hasil.


"Kau yakin paman ini orangnya?" Theo memastikan kepada adiknya tidak salah mengenali gambar pria itu.


"Benar kak, Jia ingat betul. Dan paman pahlawan itu persis seperti di gambar ini! Malah lebih tampan lagi aslinya." Jia menunjuk gambar foto Ruka yang ada dilayar.


Sementara Theo, ia justru menghela nafas saat tahu nama orang yang dimaksud adiknya adalah Ruka Arshavin, pemilik Skyper group yang tidak lain adalah bos di tempat Aran bekerja.


"Kakak kenapa malah bereaksi begitu?" Tanya Jia dengan wajah bingungnya yang menggemaskan.


"Jia kau tahu tidak, paman di gambar ini itu sebenarnya..."


"Wah... Jadi mama satu tempat kerja dengan paman pahlawan?" Jia langsung tak menyangka sekaligus senang mendengarnya. Karena dengan begitu keinginannya untuk mendekatkan Aran dan paman pahlawannya itu akan segera terwujud.


"Kak, tapi kenapa mama tidak pernah bilang kalau paman pahlawan adalah bosnya?"


"Memangnya mama tahu? Lagipula yang namanya bos besar, pasti ruangannya khusus. Jadi tidak semua karyawan semudah itu bertemu."


Jia semakin kagum pada Ruka setelah ia tahu kalau paman penolongnya itu ternyata adalah bos di tempat mamanya kerja.


Pasti mama dan paman pahlawan akan cocok sekali... Jia senyum-senyum membayangkan hal itu.


"Jia, kenapa kau semangat sekali mengenalkan pria itu ke mama?"


"Soalnya... Jia sangat suka sama paman itu," jawabnya dengan begitu polos.


"Hais! Kau ini. Padahal bertemu juga barus sekali."


"Tapi kak, kalau kulihat-lihat. Paman pahlawan sedikit mirip dengan kakak. Apa jangan-jangan paman pahlawan itu papa kita?"


"His! Kau ini jangan ngelantur." Lagipula mana mungkin papa kita sehebat itu. Kalau dia hebat tidak mungkin kan meninggalkan mama dan kita...!


"Jia sangat berharap paman pahlawan jadi papanya Jia," ungkap Jia secara tiba-tiba dengan sorot mata penuh harap. Mendengar hal itu, sebagai kakak Theo langsung megusap kepala Jia dan mengatakan kalau dirinya akan membantu Jia semaksimal mungkin, mewujudkannya.


Aku tidak kenal pada paman pahlawan yang dimaksudnya. Tapi melihat Jia begitu menyukainya dan sangat berharap, aku sebagai kakak hanya bisa membantunya semampuku.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Di kamarnya Lusi sedang menerima telepon dari anak buahnya. Wajahnya seketika panik saat anak buahnya tersebut melaporkan kalau ia baru saja melihat Aran di kota Renstone.


"Jadi kau sudah melihat wanita bernama Aran itu di kota ini? Lalu dimana dia tinggal sekarang!?"


Soal itu aku belum tahu nyonya, karena saat itu aku malah kehilangan jejaknya karena lampu lintas sudah keburu berubah warna.


"Dasar bodoh! Seharusnya kau cepat cari wanita itu!"


Maafkan aku nyonya Lusi.


"Sudah! Pokoknya aku tidak mau tahu, dalam tiga hari ini aku ingin kau dan anak buah lainnya harus sudah dapatkan info dimana wanita itu tinggal!"


Baik nyonya.


Lusi mematikan ponselnya dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Aku harus segera menemukan gadis itu. Bagaimana pun dia tidak boleh sampai bertemu dengan Ruka dan mengatakan tentang diriku yang sudah mengancamnya empat tahun lalu."


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...