
Di bandara, Bianca Shiorin gadis berusia 29 tahun, bertubuh langsing dengan tinggi badan 170 cm baru saja keluar dari gate vip. Dari jauh saja Bianca sudah tampak modis mengenakan mantel bulu dan kacamata hitam. Rambutnya yang digelung kebelakang menampakan lehernya yang jenjang. Bisa dibilang secara proporsi, tubuh Bianca adalah impian banyak wanita di dunia.
Rowen yang diminta Ruka untuk menjemput Bianca pun akhirnya menghampiri wanita itu di depan gete.
"Nona Bianca, aku datang kemari untuk menjemputmu."
Bianca melepas kacamata hitamnya dan menatap penuh keheranan ke arah Rowen. Ia lalu celingak celinguk seolah mencari sesuatu.
"Nona Bianca anda mencari apa?"
"Kau datang sendirian? Mana Ruka?" Tanya wanita itu.
"Tuan Rukaโ um, dia tiba-tiba saja ada meeting mendadak jadi tidak bisa menjemput nona. Makanya aku yang disuruh menjemput anda."
Wajah Bianca pun seketika jadi berubah masam mengetahui Ruka tak menjemputnya. Kenapa sih dia tidak menjemputku! Awas saja aku adukan kakek Jura baru tahu rasa!
"Yasudah, cepat kau bawakan koperku!" Perintah Bianca yang malah jalan duluan dengan seenaknya tanpa merasa tidak enak.
Wanita ini! Sudah manja menyebalkan pula, pantas saja tuan Ruka tidak mau tunangan dengannya!
"Rowen cepat!" Seru Bianca
"Iya iya!"
Di pantry Aran menceritakan kepada Chika tentang dirinya yang tak sengaja menyiram tuan Ruka tadi. Aran pun terlihat khawatir sekali karena takut dipecat, ditambah ia diminta men-laundry pakaian Ruka di laundry tempat biasa ia berlangganan.
"Aku harus bagaimana? Laundry langganan tuan Ruka mahal sekali. Satu pakaian saja harganya tiga puluh ribu dolar darimana aku dapat uang sebanyak itu? Kalaupun ada it๐ฌ uang sakuku selama dua bulan."
"Aran, jujur saja kali ini aku tidak tahu harus membantumu seperti apa, mengingat kali ini kau berurusan dengan bosnya para bos. Belum lagi yang aku dengar tuan Ruka itu orangnya sangat keras. Sekali saja kau buat masalah dengannya hidupmu bisa-bisa tidak tenang."
Bahkan sebelum buat masalah pun hidupku sudah tidak tenang saat melihat Ruka. Huft!
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Di dalam ruangannya Ruka yang tengah sibuk memeriksa proposal kliennya, tiba-tiba saja merasa terganggu mengingat raut wajah Aran sedih saat tadi ia memarahinya.
"Tadi itu, aku keterlaluan tidak ya?" Tanya Ruka yang jadi gamang sendiri. "Cih, untuk apa aku kasihan pada pegawai yang sudah membuat masalah denganku!" Tapi meskipun begitu perasaan Ruka jadi agak tidak tenang, terlebih kalau dipikir-pikir gadis itu tadi melakukannya karena hanya ingin melindungi dirinya.
"Argh... Perasaanku jadi aneh!"
Ruka : Ada apa? Marah-marah?
Jura : Dasar kau cucu kurang ajar! Nenekmu memintamu menjemput Bianca kenapa kau malah menyuruh asistenmu huh!
Ruka : Tidak usah berteriak ingat umurmu Kek, lagipula mau aku atau Rowen sama saja kan?
Jura : Kau ini benar-benar ingin buat aku naik darah!
Ruka : Kakek sendiri yang selalu marah-marah. Dengar ya Kek, aku tidak ada kewajiban untuk menjemput Bianca, kalau dia mau pulang suruh saja supir atau keluarganya!
Jura : Cucu bengal! Dengar, Bianca itu calon tunanganmu!
Ruka : Kapan aku bilang mau bertunangan dengannya? Sudahlah Kek aku sibuk, kalau kau meneleponku hanya untuk bahas Bianca kau salah orang! Oke selamat siang!
Ruka menghela nafas dan memijat pelipisnya. Pria itu benar-benar frustasi dengan sang kakek yang selalu saja memaksanya betunanangan dengan Bianca mantan pacarnya dulu.
"Kekek tua itu semakin hari semakin membuatku kesal saja!" Keluh Ruka kesal.
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Aran pada akhirnya membawa pakaian Ruka ke laundry langganan Ruka. Untungnya tempat laundrynya tidak terlalu jauh dari kantor jadinya Aran bisa langsung kesana sepulang kerja. Tapi sialnya, uang saku Aran selama dua bulan pun seketika terkuras hanya untuk biaya laundry satu pakaian.
"Apa gaya hidup orang-orang kaya itu semuanya begini? Melaundry pakaian saja harus sampai semahal ini. Padahal kalau baju saja kan dicuci dirumah, toh juga sama saja!" keluh Aran yang kesal karena uang sakunya selama dua bulan penuh jadi langsung habis. Dan setelah ini Aran pun masih belum tenang, pasalnya bisa saja ia malah akan dipecat. Terlebih kali ini ia membuat masalah dengan bos nomor satu di skyper grup.
"Andai saja Ruka masih ingat denganku dan jadi suamiku, pasti hal buruk seperti ini tidak akan terjadi hal buruk ini."
Aran seketika langsung menepuk kedua pipinya agar ia sadar dan tak berharap lebih untuk sesuatu yang bodoh, seperti berharap kembali dengan suaminya.
"Hei Aran! Sekarang ini kau harus ingat siapa tuan Ruka, dan siapa dirimu. Kau dan dia itu bagaikan kerak bumi dan langit Jadi berhentilah berharap kalau dia itu berubah jadi Yuka suamimu dulu.
Belum lagi kalau sampai nyonya Lusi tahu Aran saat ini bekerja di Skyper, bisa-bisa ia dan anak-anaknya tidak bisa hidup tenang di kota ini. Memang pada akhirnya lebih baik kalau Aran dan Ruka sama-sama tak usah saling kenal lagi, setidaknya dengan begitu ia bisa melindungi Theo dan Jia dari ancaman Lusi. Meskipun sejujurnya hati Aran merasa tersiksa karena harus berpura-pura tidak mengenal Ruka, padahal ia ingin sekali bilang pada pria itu kalau dirinya adalah ayah dari kedua anaknya.
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Kalo suka VOTE, LIKE, COMMENT YA... MAKASIH