Remember Me Husband

Remember Me Husband
Malam Penuh Kerinduan.



Sesudah makan malam dan bersantai menonton TV, Aran kemudian menemani anak-anaknya gosok gigi dan bersiap tidur. Setelah itu ia juga menyempatkan diri untuk membacakan dongeng sebelum tidur untuk kedua anaknya, dan kebetulan Theo dan Jia tidur di kamar yang sama hanya berbeda ranjang saja. Biasanya Jia suka tidur bersama mamanya, tapi tidak tahu kenapa kali ini ia malah bersikeras ingin tidur sendiri bersama kakaknya.


Setelah membacakan dongeng untuk anak-anaknya, Aran masih menyempatkan mengobrol sedikit dengan Theo dan Jia. Aran yang duduk bersandar di ranjang putrinya pun tiba-tiba bertanya ke kedua anaknya, apa mereka merasa nyaman tinggal di vila milik Ruka?


"Jia senang! Jia suka tinggal disini," ungkap Jia yang dari nada bicara serta mimik wajahnya saja sudah terlihat jelas kalau ia sangat menikmati tinggal di vila tersebut.


Berbeda dengan Jia, sepertinya Theo tidak terlalu nyaman berada di tempat tersebut. Ia bahkan sampai heran kenapa adiknya bisa sampai suka sekali berada di vila milik Ruka?


"Kakak, kakak tidak suka tinggal disini ya?"


Aran melihat kearah Theo yang sedang setengah berbaring diatas ranjang sambil memainkan action figure yang diberikan oleh Sean beberapa waktu lalu.


"Aku biasa saja, selagi ada mama dan Jia dimanapun tinggal aku tidak masalah." Seperti biasa, dengan wajah datarnya Theo menjawab dengan singkat dan lugas.


"Kau sendiri Jia, kenapa senang sekali tinggal disini?"


"Soalnya tempat ini luas dan bagus. Ditambah ada mama dan kakak, terlebih ada paman Ruka yang Jia merasa sangat sayang pada kita."


Mendengar ungakapan Jia, Aran terenyuh. Membuatnya jadi berandai-andai, kalau saja ia dan Ruka tidak berpisah pasti Jia dan Theo akan sangat bahagia memiliki orang tua yang lengkap, dan tidak kurang kasih sayang seorang ayah.


"Theo sayang, apa kau merasa tidak nyaman berada disini?" Tanya Aran yang khawatir melihat Theo yang jelas tidak sesenang Jia berada di Vila milik Ruka.


"Ma, aku sudah bilang kan, bagiku asal mama dan Jia senang aku akan ikut. Hanya saja bagaimanapun ini kan bukan rumah kita."


Aran lalu tersenyum kecil, ia berpikir seandainya saja putranya itu tahu kalau vila ini milik ayah kandungnya. Apa mungkin Theo akan berkata demikian? Terlebih Aran kini memiliki kekhawatiran baru, ia seketika jadi khawatir saat anak-anaknya nanti tahu kalau mereka anak kandung Ruka, bagaimana reaksi Theo dan Jia?


...***...


Theo dan Jia akhirnya tertidur. Aran yang sepertinya juga sudah merasa lelah pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya, mengingat di kamar Theo dan Jia hanya ada dua single bad jadi ia tidak bisa tidur sama-sama.


Setibanya dikamar, Aran melihat kamar tersebut lebih rapi dan bersih daripada terakhir kali ia melihatnya sebelum makan malam. Pengharum ruangannya juga tiba-tiba berubah lebih harum dan beraroma lembut. Aran lalu berniat untuk ganti pakaian tidur, dan saat ia membuka lemari pakaian besar dikamar itu. Dirinya dibuat kaget karena melihat lemari tersebut penuh berisi pakaian wanita yang mana semuanya adalah merek terkenal.


"Semuanya pakaian baru, lalu pakaianku yang kubawa dikoper dimana?" Aran mencari-cari pakaian-pakaian lama yang ia bawa namun tidak ketemu. Alhasil ia pun menemui bibi Maya dan bertanya kepada kepala pelayan itu dimana pakaian miliknya.


"Maaf nona aku lancang memindahkan pakaianmu, soalnya tuan Ruka memerintahkanku agar aku menyingkirkan pakaian lama anda dan mengisinya dengan pakaian baru."


Jadi ini ulah Ruka! Dasar orang kaya seenaknya!


"Lalu, bajuku masih ada kan Bi?"


"Soal itu... Baju-baju nona sudah dibuang oleh tuan. Tapi— hanya bajunya saja kok, barang lain masih aman disimpan di koper milik nona."


Aran mendadak kesal pada sanga mantan suami karena seenaknya membuang barang miliknya. Tapi mau bagaimanapun Aran harus segera berganti pakaian mengingat baju yang ia pakai saat ini sudah tidak enak dikenakan lagi.


Setelah mandi, Aran pun berganti pakaian. Ia memilih gaun tidur sutra warna peach dengan renda. Potongan gaun tidur itu sangat pendek hingga meperlihatkan seluruh bagian tangan dan kaki Aran yang putih mulus, bahkan potongan di bagian dadanya sangat rendah hingga memperlihatkan bagian dadanya yang menjulang.


Aran pun melihat dirinya di cermin besar yang ada dikamar itu sambil bertanya-tanya.


"Gaun tidur orang kaya rata-rata seperti ini ya?"


Aran merasa gaun yang dikenakannya kini terlalu seksi dibanding gaun tidur miliknya selama ini.


"Gaun itu cocok untukmu..."


Aran yang terkejut langsung menoleh ke arah pintu, dimana Ruka tiba-tiba saja sudah berada berdiri di depan pintu dengan tampilan santai, yakni kaos warna gelap dan acelana panjang longgar.


"Ruka, ka-kapan kau masuk?" Aran terlihat malu-malu, ia seolah agak menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dari pandangan Ruka.


Ruka menghampiri Aran sambil tersenyum nakal lalu menggodanya.


"Ru- Ruka jangan macam-macam. A- aku mau istirahat."


"Aku juga mau istirahat, kenapa tidak istirahat sama-sama saja?" Ruka terus berjalan mendekatkan tubuhnya hingga pada akhirnya Aran terpojok dan tidak bisa menghindar lagi.


Ruka menggenggam sekaligus kedua pergelangan tangan Aran, lalu mengangkatnya keatas seolah memakunya di dinding. Membuat Aran seolah tidak bisa lagi melawan. Kini keduanya saling beradu pandang dan Ruka pun langsung mendaratkan kecupan manis dibibir ranum sang wanita. Sekali, dua kali, Ruka mengecup bibir Aran tanpa balasan. Hingga akhirnya pertahanan Aran pun runtuh, ia pun tak kuasa membalas kecupan Ruka dengan intens. Ciuman lembut itu pun semakin dalam dan bergairah. Kedua lidahnya saling bertaut dan mendominasi. Ruka melepaskan cengkramanya dan membiarkan kedua tangan Aran yang kini melingkar di lehernya. Perlahan jemari Ruka kian berani menjamahi bagian-bagian sensitif Aran. Sambil terus berkecup mesra Ruka menggedong sang wanita dan membawanya ke ranjang. Diatas pangkuan Ruka, Aran yang terbawa kenikmatan oleh sentuhan pria yang selama ini ia rindukan pun mulai kembali sadar, ia lalu melepaskan ciumannya. Dengan nafas tersengal-sengal ia langsung segara turun dari pangkuan Ruka.


Dengan wajahnya yang masih memerah serta nafas yang masih terengah-engah, Aran meminta maaf pada Ruka karena sudah terlalu terbawa suasana hingga lupa kalau Ruka sejatinya kini sudah jadi tunangan orang lain. Hal itu mematik emosi Ruka hingga mambuatnya berkata kalau semua yang terjadi barusan adalah bukan salahnya, dan tidak ada hubungannya dengan Bianca.


Ruka kembali memeluk Aran, namun Aran menolaknya.


"Ruka tolong jangan buat aku seolah wanita yang ingin merebut tunangan orang lain."


"Tidak ada yang merebut siapapun. Dan soal Bianca, aku dan dia punya alasan sendiri kenapa sampai bisa bertunangan."


"Apa maksudmu?"


Ruka menjelaskan kepada Aran alasannya bisa sampai bertunangan dengan Bianca.


Meski karena kakeknya dan sebatas perjanjian namun tetap saja tidak menampik kalau kenyataannya Ruka adalah tunangan Bianca.


"Yang aku inginkan dirimu, bukan Bianca." Ruka mencoba meyakini Aran dan memeluk wanita itu. "Aku tidak ingat masa lalu kita, tapi perasaanku padamu tidak hilang. Aku mencintaimu Arana..."


Aran melepaskan pelukannya dan menyentuh wajah Ruka sambil berkata, "Kau tahu Ruka, aku ini egois, aku tidak mau berbagi pria dengan siapapun."


"Aku hanya milikmu Arana."


"Apa buktinya?"


"Beri aku waktu, aku akan membatalkan pertunanganku dengan Bianca."


Aran tersenyum kecil. "Jangan terlalu mudah berjanji."


"Aku bersumpah pada diriku sendiri. Dan lagi, sebelum aku membatalkan pertunanganku, bisakah kau ceritakan tentang awal kita bertemu sampai akhirnya menikah?"


Aran kemudian menceritakan kronologis bagaimana ia dan Ruka pertama kali bertemu hingga akhirnya menikah dan memiliki anak.


"Jadi begitu?" Ruka tersenyum pilu saat ia mendengar cerita Aran. Ia bertemu Aran di kelvari saat dirinya amnesia. Dan kini ia bertemu kembali dengan Aran di Renston, lagi-lagi dengan keadaan amnesia. Ruka tampak kesal tak bisa mengigat apapun.


Ruka kembali bertanya kepada Aran apakah dulu saat mereka berhubungan Ruka memperlakukannya dengan baik?


Aran lalu berkata, "Kau sangat mencintaiku, dulu kau selalu menempatkan aku diatas segalanya. Kau juga selalu membuaku merasa jadi wanita paling bahagia di dunia ini."


Ruka membelai pipi Aran lalu menatapnya dengan penuh kelembutan. "Kalau begitu Arana, izinkan aku kembali menjadikanmu wanita paling bahagia di muka bumi."


Tatapan dan sentuhan Ruka yang dulu kini seraya kembali lagi. Aran yang sangat merindukan sosok Ruka yang seperti ini pun kian terbuai jauh dan langsung mencium mesra Ruka,. Keduanya kembali berciuman dengan penuh emosi dan gairah.. Kerinduan yang selama ini ditahan Aran pun tumpah Ruwah.


"Kau tidak tahu betapa aku merindukanmu Ruka..."


"Maaf telah membuatmu kesepian. Malam ini, bisakah kita kembali menyatu untuk melepas semua kerinduan itu?"


Dengan sedikit tersipu Aran mengangguk, dengan lihai tangan-tangan Ruka melepaskan gaun tidur sutra yang dipakai Aran. Dan malam yang panjang penuh gairah kerinduan pun mereka habiskan bersama.


...🌸🌸🌸...


...Jangan lupa di like, vote, comment....