Remember Me Husband

Remember Me Husband
Makan di meja yang sama



Saat jam makan siang, tiba-tiba saja semua pegawai yang ada dikantin dibuat tercengang sekaligus heboh. Melihat seorang Ruka Arshavin tiba-tiba saja menampakan dirinya di kantin perusahaan. Memang benar melihat CEO Skyper ada kantin merupakan pemadangan yang sangat langka. Mengingat Ruka sepertinya memang sama sekali tidak pernah menginjakan kakinya di sana.


Tentunya Ruka tidak datang sendirian, ia ditemani oleh asistennya yang paling setia yakni Rowen Davis. Sama halnya Ruka, Rowen sendiri sejatinya juga jarang sekali makan di kantin perusahaan.


Ah apa ini mimpi?


Tidak, tapi apa matahari terbit dari barat?


Tuan Ruka? Aku pasti sedang mengigau?


Bagaimana bisa seseorang datang menginjakan kaki, langsung bisa mengambil alih semua perhatian orang-orang dalam sekejap? Tentu saja bisa jika itu Ruka Arshavin.


Ungkapan-ungkapan yang terlontar itu seperti menekankan betapa tidak pernahnya Ruka menginjakan kakinya di area tersebut. Sebenarnya hampir semua pegawai merasa wajar jika Ruka tidak pernah ke kantin, mengingat dirinya yang seorang CEO terkemuka dari keluarga kelas atas negeri ini. Dan sebagian berpikir, dibanding makan dikantin pasti orang seperti Ruka akan lebih nyaman makan cathering mahal atau makanan dari restoran bintang 5 yang diantar langsung ke ruangannya.


Semua yang ada disana tampak masih belum percaya dengan kehadiran Ruka. Namun sebagian sudah bisa menerimanya, terutama para wanita. Bagi mereka, bisa makan sambil melihat tuan Ruka yang sangat menawan dan berkharisma adalah sebuah berkat tersendiri.


Sayangnya hal itu tidak berlaku bagi Aran yang ternyata juga sedang menikmati makan siangnya di kantin tersebut. Bagi wanita itu, berada didekat Ruka justru sama saja dengan mencari masalah baru dalam hidupnya yang sudah terlalu banyak menyisakan kepahitan dimasa lalu.


"Hei Aran, lihat ada tuan Ruka dan tuan Rowen! Ya Tuhan mereka bedua tampan sekali, terutama tuan Ruka. Dia benar-benar pria tipe alpha yang mana kehadirannya sedikit saja bisa langsung menarik perhatian semua orang. Benar-benar dominan!"


Sayangnya Aran sengaja tak menanggapi ocehan Chika yang baginya terdengar seperti seorang fangirling. Menurut Aran dibanding menghabiskan waktunya untuk memperhatikan Ruka, ia lebih baik segera menyelesaikan makan siangnya lalu segera pergi.


"Aran kau dengar aku tidak sih!"


"Aku dengar, tapi aku kesini kan untuk makan, bukan untuk melihat seorang pria tampan dengan perawakan sempurna."


"Ah kau tidak seru! Padahal kau itu punya kesempatan besar buat menggaet salah satu dari tiga pria tampan di perusahaan ini."


Aran langsung paham tiga pria yang dimaksud Chika. Ia pun langsung mengerutkan keningnya sambil menatap Chika dengan raut wajah seolah memperingatkan agar temannya itu tidak makin bicara ngelantur.


"Ya ampun kau jangan menatapku begitu Aran, tapi hei lihat ituโ€” tuan Ruka dan tuan Rowen berjalan ke arah sini!"


Apa?


Seketika bola mata Aran reflek bergerak menatap ke arah Ruka yang saat ini memang tengah berjalan arah meja tempat ia dan Chika makan saat ini.


Aduh kenapa mereka malah kesini sih! Seketika Aran jadi gelisah sendiri.


Tanpa permisi, Ruka dan Rowen pun langsung duduk di meja yang sama dengan Aran dan Chika. Dan seperti yang Aran duga, mata semua orang pun terpusat ke arah meja tempatnya duduk saat ini.


Meski agak risih ditatap banyak orang, tapi Aran sadar ia tidak bisa apa-apa. Yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah sebisa mungkin bersikap normal dan tenang.


"Hai Aran, hai Chika!" Sapa Rowen tanpa canggung sama sekali.


"Hai tuan Rowen dan.... halo tuan Ruka." Disana terlihat sekali perbedaan cara Chika saat menyapa Rowen dan Ruka. Jika ia menggunakan bahasa santai saat menyapa Rowen, berbedan dengan saat menyapa Ruka, Chika cenderung lebih hati-hati dan formal saat menyapanya.


Sementara Aran, ia hanya tersenyum kecil lalu menyapa Rowen balik.


Berbeda dengan Ruka, ia sama sekali tak peduli sapaan atau sejenisnya, yang terlihat dari raut wajah Ruka saat ini hanyalah tatapan dingin yang terus ia arahkan ke Aran yang ada di depannya. Sedangkan Aran, ia justru berusaha menghindari kontak mata langsung dengan pria yang duduk dihadapannya itu.


Wanita ini berani sekali tak mau menatapku! Apa dia masih berpikir kalau aku ini seram?


"Ehem! Selamat siang," ucap Ruka tiba-tiba.


Tidak ingin membuat orang berpikir kalau ia ada sesuatu dengan Ruka, Aran pun langsung dengan singkat membalas sapaan Ruka dengan sopan.


"Jadi kami bolehkan bergabung dengan kalian?" Tanya Rowen memecah kecanggungan.


"Tentu saja," jawab Aran diikuti senyum tipis di bibirnya yang merona.


Cih! Kenapa dia tersenyum pada Rowen semantara padaku tidak! Arana kau ini benar-benar membuatku kesal!


Pada akhirnya mereka berempat pun makan satu meja. Aran benar-benar dibuat merasa canggung sekaligus tertekan saat ini. Pertama karena semua orang mendadak terus saja menatap ke arahnya dengan berbagai ekspresi mulai dari cemburu, sampai penasaran. Dan yang kedua tentu saja karena didepannya saat ini ada seorang pria yang terus saja menatapnya dengan begitu mengintimidasi. Ruka yang duduk di depannya terlihat memang tenang, namun Aran tahu persis meski begitu ia tengah mengobservasi sekitarnya.


Kalau begini aku rasanya jadi tidak lapar sama sekali. Aran benar-benar mendadak merasa tidak lapar sama sekali saking tegangnya ia saat ini.


Tapi untungnya Rowen dan Chika bisa sedikit membuat Aran tak terlalu merasa kaku, mengingat mereka suka membuat lelucon receh yang sesekali membuatnya ikut tergelitik.


Sebaliknya Ruka malam tampak masam, ia yang memakan pasta seolah tak menikmatinya. Ia justru sejak tadi selalu melirik ke arah Rowen yang bagi Ruka seperti tengah pamer padanya kalau ia dan Aran itu sudah saling kenal dekat.


Entah kenapa itu membuat Ruka jengkel dan ingin memaki. Dasar Rowen sialan! Rasanya aku ingin memukul kepalanya saja saat ini! Tapi tentu saja itu tidak benar-benar ia maksudkan.


Akhirnya makan siang mereka berempat selesai. Aran yang berusaha selesai paling duluan nyatanya malah paling belakangan menghabiskan makanannya.


"Kalau begitu kami pamit duluan ya tuan Ruka, tuan Rowen," ungkap Aran yang tampak jelas ingin buru-buru pergi.


"Apa kau tidak nyaman dengan kehadiranku nona Arana?"


Aran langsung tertegun mendengar pertanyaan lugas Ruka barusan. Ya, Ruka memang pria yang bisa dengan tanpa sungkan menanyakan hal apapun yang baginya memang perlu ia utarakan.


"Eh ti- tidak kok, aku hanya merasa tak mau buang-buang waktu saja, karena setelah ini masih ada pekerjaan lain."


Chika menyikut lengan Aran dan berbisik ditelinganya pelan. "Aran kau ini kenapa seperti ingin melarikan diri begini? Sikapmu ini bisa menyinggung tuan Ruka loh..."


Yang dikatan Chika memang benar, tapi mau bagaimana lagi. Bagi Aran berada dekat Ruka terlalu lama hanya akan membuatnya dalam masalah dan semakin sulit melupakan mantan suaminya itu.


"Sudahlah... kalau memang mau pergi, pergilah...," tandas Ruka yang sepertinya juga malas repot-repot menunggu jawaban dari Aran.


"Baiklah kalau begitu, kami permisi."


"Kami duluan ya tuan Ruka, tuan Rowen," ujar Chika dengan ramah.


Aran dan Chika pun terhenti mendengar seruan Ruka.


Rowen sendiri langsung was was dibuatnya, takut Ruka marah atau sejenisnya.


"Kalian tidak usah bayar makanannya, biar aku saja yang bayar," ucap Ruka.


"Benarkah tuan?"


Chika tentu saja langsung sumringah, sementara Aran sebaliknya merasa sungkan, tapi ia memilih untuk tak memperlihatkannya karena ia tahu kalau ia lakukan itu malah akan mematik konflik dengan Ruka lagi. Akhirnya Aran pun berterima kasih karena sudah dibayari oleh bosnya itu dan lekas pamit pergi.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Di kediaman Arshavin, Lusi yang tengah berada dikamarnya tiba-tiba saja mendapati telepon dari anak buahnya yang ia utus untuk menemui Aran di kota Kelvari. Sayangnya laporan dari anak buahnya berbanding terbalik dari yang ia harapkan. Anak buah Lusi melaporkan jika Aran sudah tak lagi tinggal di Kelvari.


"Apa!? Lalu dimana wanita itu sekarang?"


Entahlah nyonya, tapi yang ku dengar dari warga sekitar, nona Aran katanya pindah ke kota bersama kedua anaknya.


"Kalau begitu kalian segera caritahu kemana wanita itu pergi. Dan satu lagi, hati-hati dengan tidakan kalian, jangan sampai memcurigakan apalagi terendus oleh orang-orang keluarga Arshavin lain."


Baik nyonya.


Lusi mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di depan perut.


"Ini tidak bisa dibiarkan, Wanita itu harus segera kutemukan!""


Bagi Lusi membiarkan Aran berkeliaran adalah kecerobohannya yang tidak ia pikiran waktu itu. Ibarat bom, Aran adalah bom yang dirakit tanpa prediksi, dia bisa saja meledak tanpa bisa diprediksi.


Tak lama kemudian, tiba-tiba Sonja pelayan setia Lusi datang menemuiny, dan mengatakan kalau Karaz putramya sudah sampai dan sedang ada di ruang tengah.


Di ruang tengah Karaz yang berpenampilan trendi dengan rambut gondrong diikat dan banyak tindikan ditelinganya itu terlihat sedang mengobrol dengan nenek Hani. Berbeda dengan sang ibu yang sering kali diabaikan oleh mertuanya, Karaz justru terlihat cukup dimanjakan oleh neneknya. Pria berusia 26 tahun itu terlihat tengah berbagi pengalaman hidupnya sebagai pembalap sambil tertawa manja dengan sang nenek.


"Karaz, kenapa tidak segera menemuiku?!" Ujar Lusi sambil menuruni anak tangga.


Karaz bangkit dari duduknya dan segera menghampiri sang ibu.


"Hai Inu, aku merindukanmu...!" Pria bertindik itu langsung memeluk ibunya dengan manja.


Ironisnya sikap Karaz itu justru tidak disambut baik dan malah membuat Lusi kesal.


"Apa-apaan kau ini! Lihat penampilanmu? Kenapa telingamu banyak tindikan, apa kau ini sudah lupa kalau kau ini anggota keluarga Arshavin?!"


Tidak senang melihat cucunya langsung dimarahi oleh Lusi, Hani pun mencoba membelanya.


"Tapi ibu, kau lihat saja, anak ini sungguh seperti berandalan saja penampilannya."


"Ya memang, tapi aku tahu Karaz cucuku bukanlah berandalan, dia anak yang baik. Lagipula jaman sekarang tidak baik menilai seseorang hanya karena penampilannya bukan?"


"Nenek kau memang terbaik!" Seru Karaz sambil memeluk manja sang nenek.


Cih! Anak bodoh ini, kalau dia bertingkah seperti ini terus, akan semakin sulit membuat ayah mertuaku memberikannya kepercayaan untuk memiliki saham lebih!


"Oh iya, kakek dimana nek?" Tanya Karaz menanyakan kakeknya. Karena kalau kakaknya Ruka, ia tak perlu tanya lagi, mengingat Karaz tahu pasti Ruka saat ini tengah sibuk mengurus perusahaan.


"Kakekmu sedang meditasi. Satu jam lagi mungkin sudah selesai."


Berhubung Jura sedang meditasi, Lusi pun mengambil kesempatan dengan meminta waktu Karaz untuk bicara dengannya berdua saja.


"Nek, aku mau bicara dengan ibu dulu ya. Nenek silakan saja bersantai lagi."


"Tentu cucuku," tandas Hani sambil membelai wajah Karaz lalu pergi.


Setelah Hani pergi, Lusi pun berbicara empat mata dengan putra kandungnya tersebut. Disana Lusi langsung marah dan menegur putranya karena bertingkah terlalu cuek dan tak memahami posisinya saat ini.


"Bu, sudah kubilang aku tidak tertarik menjadi pewaris utama Skyper. Lagipula, kakak jauh lebih pantas dibanding aku. Kenapa ibu terus mamaksaku!"


Amarah dikepala Lusi meletup mendengar jawaban Karaz hingga ia pun tak segan langsung menampar putranya itu.


PLAK!


"Anak bodoh! Lalu apa artinya aku terus berusaha memperjuangkan hakmu! Kau harus tahu, untuk berdiri dipuncak kau tidak bisa hanya diam saja, kau harus membuat pijakanmu sendiri untuk naik!"


"Tapi sejak dulu cita-citaku jadi pembalap, bukan petinggi perusahaan Buโ€” jadi kumohon..."


"Cukup! Sekali lagi kau bicara soal impian bodohmu itu, aku tidak segan-segan membuatmu selamanya tak bisa balapan paham!"


"Baik bu, aku paham."


"Bagus! Setelah kakekmu sudah selesai meditasi segeralah temui dia."


Bahkan tanpa menanyakan keadaan Karaz sama sekali, Lusi malah langsung melenggang pergi.


"Iya Ibu."


Sebagai seorang anak Karaz terlalu menghormati orang tuanya, ia bahkan hanya bisa tertunduk diam saat ibunya terus menerus menekannya seperti tadi.


Kedua tangannya hanya bisa mengepal, dan gerahamnya mengatup hingga rahangnya mengeras. Antara keinginannya untuk meraih mimpi, dan statusnya sebagai darah daging Lusi yang ingin selalu hormat pada orang tuanya, seolah menjadi pergolakan dalam batin Karaz yang tak kujung selesai.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...