
Hari terus berganti, seperti biasanya Aran tiap jam makan siang akan mengantarkan bekal untuk Ruka. Namun menurut Ruka seminggu terakhir ini Aran terlihat berbeda tidak seperti biasanya. Jika biasanya Aran akan terlihat agak kikuk dan malu-malu saat menyiapkan makanan untuknya. Sudah seminggu ini Ruka melihat gadis itu wajahnya tampak lebih muram dan banyak diam. Bahkan ketika Ruka melontarkan candaan yang biasanya membuat Aran tersipu atau salah tingkah, seminggu ini malah emosinya seperti datar dan hambar, bahkan terkesan menghindarinya. Hal tersebut membuat Ruka tidak nyaman dan aneh. Karena resah dengan situasi saat ini akhirnya Ruka pun bertanya kepada Aran untuk memastikan.
"Nona Arana, jika kau ada masalah denganku katakan saja. Aku bukan orang yang tidak terima kesalah, jika aku memang salah aku akan minta maaf."
Aran yang baru saja selesai menyiapkan makan siang untuk Ruka pun tersenyum kecil dan menjawab, "Tuan tidak ada salah apa-apa."
"Tidak usah bohong. Dari caramu mencoba menghindariku aku bisa merasakan ada yang kau sembunyikan."
Ruka jelas tidak percaya dengan jawaban Aran barusan. Ia pun sekali lagi memaksa Aran untuk mengatakan apa yang sedang ia pikirkan, namun lagi-lagi gadis itu tak memberikan jawaban dengan jelas. Hingga pada akhirnya Ruka yang hilang kesabaran pun bangkit dari duduknya dan mendekati Aran. Dan saat itu jelas sekali dimana Aran tampak tak mau menatap wajah Ruka yang saat ini ada di hadapannya. Melihat hal itu justru membuat Ruka semakin mendekatkan tubuhnya ke Arana.
"Tuan Anda mau apa?"
Akhirnya Aran pun terpojok dan tak bisa lari. Dengan sedikit memaksa Ruka memegang dagu Aran dan mengarahkan wajahnya agar mau memandangnya. Dan pada akhirnya cara itu berhasil, Aran akhirnya menatap Ruka saat ini.
"Katakan, apa aku membuatmu marah?"
Aran hanya diam dan terus menatap Ruka dengan tatapan nanar.
"Jawab aku Arana, ada apa denganmu, kenapa kau seperti berusaha menghindariku?" Ruka terus mendesaknya hingga Aran seperti ingin meledak. Tenggorokannya terasa sesak, seolah tak bisa lagi menahan apa yang ingin ia katakan pada Ruka.
"Arana..."
"Tolong berhenti menggodaku tuan!" Akhirnya Aran mengatakan hal tersebut dengan suara keras.
Sementara Ruka langsung menampakan ekspresi tidak suka dengan ucapan Aran barusan.
"Apa maksudmu bicara begitu?"
"Kenapa kau tanya, harusnya kau lebih tahu tuan."
"Tapi aku tidak tahu apa maksudmu?!"
"Kau tidak paham atau hanya pura-pura tidak paham?!" Aran mulai emosional, nada bicaranya pun kian meninggi.
Ruka mengernyitkan keningnya lalu seraya berkata "Jadi itu masalahnya?"
Ia kemudian menatap Aran dengan sedikit heran lalu tersenyum kecil. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Aran dan membisikan pertanyaan, "Apa nona Aran merasa cemburu pada nona Bianca?"
Mendengar Ruka membisikan kata-kata tersebut malah membuat Aran semakin kesal dan sedih saja rasanya. Ia lalu mendorong Ruka dan mengatakan kalau yang barusan adalah termasuk menggodanya dan ia tidak suka. "Tolong berhentilah menggodaku! Kumohon..."
Sayangnya meski Aran sudah berkata demikian Ruka tetap tidak mau tahu, yang ia lakukan justru malah sebaliknya. Ruka kembali memegang dagu Aran lalu medekatkan bibirnya ke bibir gadis itu dan menciumnya. Sontak Aran pun dengan sekuat tenaga memaksa mendorong Ruka agar melepaskan pagutan bibirnya.
PLAK!
Aran menampar pipi Ruka dan air matanya pun seketika menetes saat itu juga. Ia menangis di depan pria itu.
"Nona Arana, kau- kau kenapa menangis?" Ruka dibuat kaget melihat Aran yang menagis tiba-tiba.
"Tuan Ruka, anda sudah mau bertunangan dengan nona Bianca, tapi kenapa anda masih saja mempermainkanku?! Apa maksudmu sebenarnya? Kenapa kau terus memperlakukanku seperti ini?"
Karena sudah tidak kuat lagi menahannya, akhirnya Aran mengatakan apa yang ingin ia katakan sambil berderai air mata.
"Nona Arana aku—"
"Aku tahu aku hanya bawahanmu, tapi aku juga punya perasaan sama seperti manusia lain. Kumohon berhenti memperlakukanku seenaknya! Berhentilah menggodaku, menciumku, atau bersikap manis padaku."
"Tapi kenapa?" Ruka seolah masih tidak paham.
Hal itu membuat Aran semakin emosi. "Kenapa, kau bilang? Kau itu bodoh atau apa tuan, kau itu seharusnya ingat kalau kau itu akan segara bertunangan!"
Ruka tertegun mendengar Aran melontarkan kata-kata tersebut. Tangannya pun mengepal seraya ingin membalas namun ia tak bisa mematahkan perkataan Aran yang sejatinya memanglah fakta.
"Tolong jangan membuatku seolah jadi wanita rendahan yang suka menggoda calon tunagan orang, dan..." Jangan memberikanku celah seoalah aku bisa mendapatkanmu lagi! Sayangnya Aran tak berani meneruskan perkataannya secara lugas.
Ruka pun jadi dibuat penasaran kenapa Aran tak meneruskan ucapannya. "Dan apa?"
"Dan— ini terakhir kalinya aku membuatkan anda bekal makan siang. Anda tenang saja, jika tidak mau membayar jasa makananku hari ini tidak masalah..."
Aran yang sudah mulai berhenti menangis pun menghapus air matanya dan setelah itu minta maaf pada Ruka karena sudah bicara tak sopan, setelah pamit pergi dari ruangan tersebut.
Melihat Aran pergi dari ruangannya dengan mata sembab, Ruka pun emosi dan meluapkannya dengan memukul meja kaca di ruangannya hingga retak.
"Argghh!"
Arana berjalan menuruni tangga dengan semburat wajah pilu dan air mata. Baginya saat ini ia pasrah, bahkan sekalipun Ruka mau memecatnya Aran sudah tak peduli lagi.
Saat ini yang aku inginkan hanya hidup tenang dengan anak-anakku... Mungkin memang sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk masa laluku...?
Setidaknya berharap pada masa depan lebih baik daripada terus terperangkap masa lalu kan?
...🌸🌸🌸...