Remember Me Husband

Remember Me Husband
Hari pertama kerja



Hari ini hari pertama Aran bekerja di Skyper. Ia yang baru saja selesai berganti pakaian memakai seragam kerjanya langsung mendapati tugas dari supervisornya yang bernama Meli untuk mengantarkan minuman ke meja para karyawan, dan direktur divisi yang berada dilantai 75 dan 76.


"Tunggu dulu kak Meli, Aran kan baru bekerja hari ini, kenapa kau tega sekali menyuruhnya langsung mengantarkan minuman di semua meja karyawan di dua lantai sekaligus?" Protes Chika rekan kerja Aran yang merasa kasihan dengan tugas yang dibebankan Meli kepadanya.


"Kenapa memangnya? Asal kau tahu,


yang namanya anak baru itu harus diberi tugas berat supaya tidak manja! Oh atau kau mau menggantikan tugasnya Chika?"


"Itu..."


"Chika sudah tidak apa-apa, aku tidak masalah kok."


"Tapi Aran, tiap lantai itu seharusnya sudah punya petugasnya masing-masing, lalu kenapa harus kau yang kerjakan di dua lantai sekaligus!"


"Sudahlah Chika jangan dimasalahkan lagi, aku tidak mau ada masalah di hari pertamaku kerja."


"Jadi bagaimana Aran, kau tidak mau lakukan pekerjaan yang sudah kuberikan?" Tegas Meli dengan tampangnya yang angkuh dan sok berkuasa.


"Tidak kak Meli, aku bersedia mengerjakannya."


"Bagus! Kalau begitu sana cepat kerjakan!"


Akhirnya Aran pun mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Meli selaku supervisornya. Dengan cekatan dan penuh tanggung jawab, Aran mengantarkan semua minuman ke meja para staf di lantai 75 dan 76. Meskipun lelah, namun pada akhirnya Aran mampu mengantarkan semua minuman itu tepat waktu


"Huft! Akhirnya selesai juga," ucap Aran sambil mengelap keringat dikeningnya. Lelah mondar mandir Aran pun duduk di pantry untuk istirahat sebentar. Tak lama karyawan dapur lain yang satu tim dengan Aran yang juga baru selesai mengerjakan tugasnya pun masuk ke pantry, termasuk Chika yang langsung menghampiri Aran dan bertanya soal tugasnya hari ini.


"Berjalan dengan baik, kau tidak perlu khawatir," ungkap Aran.


"Syukurlah kalau begitu, soalnya aku tahu persis Meli itu seperti apa."


Menurut sebagian besar rekan kerja Aran yang sudah bekerja dibawah komando Meli, wanita itu adalah supervisor paling menyebalkan karena sok paling berkuasa dan suka menindas juniornya.


"Pokoknya dia itu wanita sangat menyebalkan!" Ujar Chika yang ucapannya diiyakan oleh yang lainnya.


"Separah itu kah dia?"


"Iya, terutama pada junior sepertimu Aran," ucap Chika


"Aku, kenapa memangnya?"


"Karena kau itu masih muda. Wanita itu selalu iri sama yang jauh lebih muda darinya, apalagi kau sangat cantik. Maklum saja dia itu kan wanita usia tiga puluhan yang belum laku makanya iri sama yang muda," tandas pegawai lain.


"Bagaimana mau laku, orang wajahnya saja seperti nenek sihir begitu," sahut Chika diikuti gelak tawanya.


Tak lama tiba-tiba saja Meli datang dengan tampangnya yang galak. Ia memarahi Aran, Chika dan pegawai lain karena dikira bermalas-malasan. Ia pun menyuruh pegawai lain kembali kerja.


"Kecuali kalian berdua," menunjuk ke arah Aran dan Chika.


"Tapi kami sudah mengerjakan semua tugas kami dan hanya istirahat sebentar kak," jawab Aran membela diri.


Tidak senang dibantah Aran, Meli pun langsung menatap sinis ke arahnya dan memarahinya. "Hei karyawan baru, sudah berani melawanku ya?! Bosan kerja disini huh?!"


"Aku hanya mengatakan hal sejujurnya kak."


"Benar-benar, minta pukul ya ka—"


"Hei ada apa ini?!" Seorang pria tampan bertubuh tinggi mengenakan pakaian formal tiba-tiba muncul di dalam pantry.


"Hei kau! Apa kau mau memukul karyawan lain huh!" Tegur pria itu melihat tangan Meli seperti mau memukul Aran.


"Eh— um tu-tuan Sean, A- aku tidak mau memukulnya kok. Aku— ha- hanya mau merapikan pakaiannya saja hehehe..." Meli langsung mati kutu melihat Sean Asuka yang jabatannya adalah direktur pemasaran di perusahaan Skyper Group.


"Kalau aku lihat ada hal seperti ini lagi terjadi, aku pastikan kau sebagai supervisor dapat surat peringatan keras!" Tegas Sean.


"I- iya tuan, aku mengerti."


"Sekarang, aku mau tanya siapa yang tadi bertugas mengantarkan kopi di lantai tujuh puluh enam?" Tanya Sean.


Lantai tujuh puluh enam itu kan kuserahkan kepada Aran? Hem, sepertinya dia akan kena masalah? Meli yang sumringah karena berpikir kalau Aran akan kena masalah ternyata sebaliknya, Sean malah memuji kopi yang diantar Aran sangat enak.


"Benarkah?" Ucap Aran yang juga tadinya mengira akan dapat masalah.


"Iya, tadi saat aku mau masuk ruanganku, tiba-tiba saja mencium aroma kopi yang sangat sadap, dan stafku bilang itu diantarkan oleh nona dari tim ini. Jadi siapa yang membuatnya?"


"Aku— aku yang buat tuan Sean!" Seru Meli yang tiba-tiba saja mengaku.


"I- iya tuan aku yang buat," jawab Aran malu-malu.


"Ah akhirnya aku menemukanmu. Tolong buatkan aku kopi dan antarkan ke ruanganku segera bisa kan?"


"Iya tuan bisa," angguk Aran.


"Oke, oh iya namamu siapa?"


"Namaku Arana Haurin tuan."


"Oke nona Aran, aku tunggu kopinya," ucap Sean tersenyum lalu pergi.


Setelah Sean pergi Chika pun langsung heboh menggoda Aran.


"Ya ampun Aran, kau itu benar-benar beruntung. Baru saja sehari kerja langsung bisa dapat perhatian dari tuan Sean Asuka yang tampan!"


"Chika, jangan buat gosip!"


"Gosip apa, yang aku katakan itu benar semua. Aku yakin pasti semua pegawai akan iri padamu kalau tahu hal ini," imbuh Chika sambil melirik Meli yang saat ini tampak sekali tengah kepanasan dan malu.


"Sudahlah jangan menggodaku," ungkap Aran malu-malu kemudian bergegas membuatkan kopi untuk Sean.


...🌸🌸🌸...


Selesai membuatkan kopi untuk Sean, Aran segera membawakan kopi itu ke ruangannya.


"Masuk!" Ucap Sean mempersilakan Aran masuk.


"Silakan tuan ini kopi anda," ucap Aran sambil meletakan secangkir kopi itu dimeja Sean lalu izin kembali kerja. Namun Sean malah menahan Aran dan menyuruh gadis itu duduk menghadapnya.


"Ta- tapi tuan?"


"Sudah duduk saja, kau pasti lelah kan?"


"Baiklah." Aran akhirnya mau duduk.


Sean pun langsung menyesap kopi buatan Aran tersebut. Dan seperti yang diharapkan Sean, kopi hitam buatan Aran sangat cocok dilidahnya.


"Kopimu sungguh enak, apa rahasianya?"


"Um— tidak ada, hanya saja aku menyeduhnya dengan suhu yang tepat dan kekentalan yang pas. Karena dulu di kampung halaman ada seorang tetanggaku yang juga pemilik kedai kopi mengajariku cara menyeduh kopi dengan benar supaya rasanya pas."


Sean langsung tersenyum puas. "Sudah kuduga kau paham cara menyeduh kopi dengan benar."


"Memangnya kenapa Tuan?"


"Soalnya selama ini kopi buatan pegawai lain rasanya selalu tidak karuan, dan sampai akhirnya aku mencium aroma kopi buatanmu yang sedap, aku jadi tertarik minum kopi disini lagi."


Aran seketika merasa senang karena hasil kerjanya dihargai.


"Oh iya nona Aran, apa kau pegawai baru disini?"


"Iya tuan, ini hari pertamaku kerja."


"Begitu ya, yasudah nona Aran mulai besok tolong setiap pagi bawakan aku kopi seperti ini."


"Baik tuan aku akan antarkan setiap pagi, kalau begitu aku permisi dulu."


"Nona Aran!"


"Apalagi tuan?"


"Kalau ada pegawai lain mengganggumu, katakan padaku."


Aran mengangguk lalu pergi.


Sean kembali menyesap kopinya. "Kopi ini padahal pahit, tapi mengingat wajah pembuatnya jadi terasa manis," ungkapnya lalu tersenyum.


...🌸🌸🌸...


Jangan lupa VOTE, COMMENT, LIKE, YA TEMAN-TEMAN