Remember Me Husband

Remember Me Husband
Gelisah dan Penasaran.



Aran dan kedua anaknya akhirnya tiba di kedai milik Sean. Disana mereka bertiga langsung disambut oleh Sean yang berpakaian layaknya manajer kedai kopi.


"Selamat datang," ucap Sean memberi salam.


Dimata Aran Sean kini terlihat agak berbeda dengan dikantor. Jika di kantor ia terlihat sangat rapi dan formal, di kedainya pria tampan itu malah terlihat lebih santai mengenakan kemeja yang digulung sampai siku dan celemek khas kedainya.


"Terima kasih sudah menyambut kami." Aran kemudian meminta kedua anaknya untuk menyapa dan berterima kasih kepada Sean.


"Halo paman, terima kasih sudah menyambut," ujar Theo dengan sopan meskipun wajahnya nampak sama saja acuh tak acuh seperti yang Sean lihat waktu itu.


"Ya sama-sama dan..." Tiba-tiba ekor mata Sean dibuat salah fokus dengan kehadiran gadis kecil berambut sepundak dengan rambut diikat ke samping dengan jepit pita berwarna cerah yang berada disebelah sisi kanan Aran. Ia lalu mengerutkan matanya sambil tersenyum mencoba menebak gadis imut itu. "Anak cantik, kau pasti..."


"Halo Paman Sean, namaku Selizia Haurin, tapi biasa dipanggi Jia, salam kenal."


Jia bergitu ramah menyapa Sean, membuat hati pria itu ingin meleleh saking dibuat terpukau dengan keramahan serta keimutan Jia. Ya, dibanding Theo memang Jia sangat kontras, Jia sifatnya lebih mirip Aran yakni hangat dan lembut. Berbeda dengan Theo yang mungkin sifatnya bisa jadi lebih mirip ayahnya yang entah siapa.


"Halo Jia, kau manis sekali. Aku Sean Asuka, salam kenal." Sean menjabat tangan Jia yang kecil dengan lembut sambil melemparkan senyuman tulus.


Dan tanpa berlama-lama, Sean pun langsung meminta Aran dan kedua anaknya itu masuk dan menikmati semua fasilitas kedainya. Kedai Sean hari ini tampak ramai, mungkin karena akhir pekan, ditambah yang Aran tahu setelah browsing kedai ini memang salah satu kedai kopi populer di kota ini.


Sementara Theo dan Jia ada di lantai tiga bermain di area playground. Sean tampak baru saja membuatkan coffee latte art untuk Aran. Pria itu yang baru saja membuat latte art berbentuk angsa langsung menyuguhkannya pada Aran yang sudah duduk di meja bar.


"Silakan."


Aran bergitu takjub melihat latte art buatan Sean. Ia tak menyangka kalau Sean memiliki sisi seperti ini. Menurut Aran selain seorang direktur marketing ia adalah seorang seniman dan coffee maker yang keren.


"Kenapa hanya dipandangi dan tak diminum? Kau tak suka dengan gambarnya ya Aran?"


"... Ah bu-bukan, hanya saja melihat gambarnya terlalu cantik, aku jadi merasa sayang untuk meminumnya."


Sean tertawa geli.


"Kenapa tertawa?"


"Habisnya kau sangat lucu Aran, aku saja tak kepikiran hal itu. Tapi jika kau tak minum kopi latte buatanku itu, maka kau tidak akan tahu seberapa enak kopi buatanku."


Sean benar. "Baiklah aku minum."


Disesapnya kopi latte itu oleh Aran, dan ia pun langsung membulatkan matanya menatap Sean seraya terkesiap.


"Bagaimana rasanya?"


"Sungguh ini enak sekali, sejujurnya meski aku pernah sedikit belajar tentang kopi. Tapi aku ini sebenarnya tidak terlalu suka dengan kopi, tapi kopi lattemu ini benar-benar aku suka. Aku rasa ini akan jadi satu-satunya kopi latte favoritku!"


"Benarkah?"


"Iya sungguh."


"Syukurlah..."


Sean senang mendengarnya, bagi Sean pujian Aran barusan benar-benar menambah rasa percaya dirinya sebagai pemilik kedai kopi.


Sambil menikmati kopi latte, Sean dan Aran pun mengobrol santai. Sean seketika dibuat terkesima sekaligus terpesona melihat tiap gerak gadis yang duduk disebelahnya ini. Bagi Sean, Aran yang saat ini terlihat lebih cantik dari yang biasanya ia lihat di kantor. Tentu saja Aran selalu cantik karena dia memang dilahirkan begitu, tapi hari ini rambutnya tak diikat ataupun digelung seperti di kantor. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai indah dan dari segi penampilan, Aran juga sangat manis dan natural. Mengenakan dress selutut dengan lengan yang sedikit memperlihatkan pundaknya yang cantik. Sederhana namun memesona, itulah yang terbesit di pikiran Sean melihat penampilan Aran saat ini.


"Tuan Sean, kenapa kau melihatiku begitu?" Alis Aran mengerut tanda heran.


"Ah ti- tidak kok. Hanya um— oh itu aku ingin tahu tentang berita yang aku dengar, katanya kau hampir mau dipecat, apa itu benar?"


Setelah menyesap kopi lattenya dan menghela nafas Aran pun menjawab dengan mengiyakannya.


"Eh kenapa bisa, dan kenapa kau bisa berurusan langsung dengan Tuan Ruka?"


"Itu..." Aran tak menyembunyikan apapun, ia menceritakan semua kronologis kejadian sesuai yang terjadi padanya waktu itu.


"Ah syukurlah kalau begitu aku lega."


Sean benar-benar merasa tenang saat tahu Aran tak dipecat. Tapi dirinya seketika juga mendadak was was mengingat ia tahu persis seperti apa track record Ruka sebagai CEO sekaligus cucu kebanggaan dari garis keturunan Arshavin. Keluarga yang sangat-sangat terpandang di negeri ini bahkan di luar negeri juga cukup dikenal. Tapi bukan itu intinya, Sean hanya khawatir jika Aran berurusan dengan keluarga itu, dirinya bisa dalam bahaya mengingat keluarga Arshavin meski dikenal dermawan, namun mereka juga dikenal tak pernah pandang bulu dalam menghadik lawannya.


"Aran, intinya aku hanya ingin kau ingat pesanku agar, jangan pernah lagi berurusan dengan tuan Ruka atau keluarganya."


Dari perkataan Sean, Aran bisa langsung tahu betapa besar pengaruh dan kedigdayaan keluarga Ruka di negara ini, hingga pria yang juga kaya raya bermartabat seperti Sean saja seolah tak berani padanya.


"Iya aku akan ingat itu."


Sebenarnya meski tak diingatkan pun, Aran juga pasti akan menghindari sebisa mungkin dirinya bertemu dan berhubugan dengan Ruka. Ditambah lagi Aran sudah sadar kalau mantan suaminya itu kini sudah tidak mungkin mengingatnya lagi, dan....


Aran tiba-tiba berwajah muram, mengingat dirinya saat melihat langsung Ruka yang digandeng oleh wanita di lobi waktu itu. Ia benar-benar tak bisa bohong kalau sampai detik ini ia masih mencintai Ruka.


"Aran...?"


Sean menyentuh tangan Aran yang diatas meja. Namun dengan sigap gadis itu langsung menarik tangannya seolah menolak disentuhnya.


"Se- sean, maaf aku malah melamun." Aran jadi agak malu dibuatnya.


"Oh iya tidak apa-apa..." Sebenarnya aku penasaran, apa yang tiba-tiba membuatnya muram barusan?


...🌸🌸🌸...


Disebuah kafe billiard mewah, nampak Ruka tengah menikmati waktunya bersama kedua temannya Juan dan Hiro. Seperti biasa, Ruka memang cukup sering menghabiskan waktu senggangnya di kafe yang kebetulan juga milik temannya Hiro itu.


Ruka tampak begitu lihai menyodokan ujung tongkat billiarad ke arah bola-bola di papan berwarna hijau itu sambil menghisap rokok dibibirnya.


"Ah sial, aku kalah lagi!" Seru Juan yang kesal karena lagi-lagi kalah dari Ruka. Sementara Ruka hanya datar saja sambil mentip ujung stik billiardnya.


"Kau memang tidak bakat."


"Apa kau bilang Hiro? Aku pernah mengalahkanmu lho!"


"Sial! Tapi... memang temanku yang super tampan ini selalu hebat dalam banyak hal, iyakan kak Ruka?" Juan menaik-naikan alisnya menatap Ruka sambil merangkul akrab sehabatnya itu.


Dan seketika tangan Juan langsung dihempaskan oleh Ruka dengan wajah datarnya saat ini. Sejatinya Ruka melakukan hal itu karena ia tahu kalau Juan kini tengah menggodanya.


"Kau itu kenapa kasar sekali sih... kita sudah berteman selama belasan tahun lho..." Ungkap Juan seraya merengek manja.


Diantara Ruka, Hiro, Juan dan Lucas, Juan memang paling muda jadi wajar saja kalau ia agak labil dan suka manja pada yang lain terutama Ruka.


"Juan kau ini berisik! Apa kau tidak tahu kalau tuan muda Ruka Arshavin itu sejak kemarin moodnya jelek!" Ungkap Hiro blak blak-an seperti biasa.


"Eh benarkah itu kakak Ruka?"


Ruka tak menjawab dan malah menyalakan lagi sebatang rokok dibibirnya lalu menghisapnya. Tapi Juan yang dasarnya usil tentu saja tak mau menyerah, ia terus saja mendesak Ruka dan mencoba menghiburnya disaat bersamaan. "Oh ayolah Ruka... Apa ini soal Bianca?"


"Ya memang apa lagi?" Sahut Hiro yang dengan santainya membuka sebotol wine untuk diberikan pada Ruka dan Juan.


"Oh jadi kau benar-benar tak ingin tunangan dengan wanita itu?"


Tentu saja Ruka tidak mau. Memang siapa yang mau bertunangan dengan wanita yang pernah mencampakanmu dulu, seperti tidak ada harga diri saja!


Ruka langsung menenggak habis wine yang dituangkan oleh Hiro barusan.


"Hei Ruka," Juan menepuk pundak pria yang lebih tinggi darinya itu.


"Bagaimana kalau kau bersenang-senang saja dengan mereka!" Juan menunjuk ke arah para wanita yang duduk diseberang sana. Ya para wanita itu adalah kenalan-kenalan Juan yang sengaja ia minta datang untuk memeriahkan suasana dan menghibur teman-temannya. Sayangnya Ruka bukan Juan yang playboy akut. Ruka tak suka mengoleksi banyak wanita-wanita begitu. Bukan berarti Ruka tak pernah membayar wanita untuk menemanimanya minum, tapi bagi Ruka kalaupun ia menyewa wanita untuk menemaninya tidaklah wanita sembarangan macam begitu.


"Kau lakukan saja hobimu mengoleksi wanita sendiri. Lagipula wanita-wanita bawaanmu itu tidak ada yang memenuhi standarku!" Ujar Ruka yang sepertinya sudah mau pergi.


"Eh kau sudah mau pergi Ruka?" Tanya Hiro sang pemilik kafe.


"Ya, aku mau cari udara segar di luar."


"Baiklah kalau begitu."


"Hei kak Ruka, mau kemana? Aku bisa carikan yang jauh lebih cantik kalau kau mau?" Juan seraya menahan Ruka agar tidak pergi. Tapi sesaat kemudian sepertinya ia tak berniat lagi menahannya, melihat Ruka yang sudah menatapnya dengan matanya yang seperti mau menerkam.


Ruka lalu memberikan sebuah kartu kredit pada Hiro sebagai tanda pembayarannya..


"Apa kau yang akan bayar semua hari ini?"


"Ya!"


"Oke, senang memiliki pelanggan sepertimu tuan Ruka."


"Aku pergi dulu," tandas Ruka lalu melenggang pergi.


...🌸🌸🌸...


Di perjalanan Ruka yang saat itu tengah berhenti di lampu merah, tak sengaja saat menengok ke arah sebelah kiri melihat sosok Aran dari kejauhan keluar dari kedai kopi holycoffee yang ia tahu itu kedai kopi milik Sean. Ruka langsung mengernyitkan keningnya.


"Kenapa dia bisa ada disana, dan..." Dengan wajah gengsi Ruka berseloroh. "Dari jauh saja dia tampak cantik."


Namun seketika Ruka langsung menapik kata-katanya tadi. "Aku pasti sedang kacau, bisa-bisanya aku memuji wanita yang sudah menyiramku! Lagipula untuk apa aku peduli padanya!" Ruka pun mencoba abai dan langsung kembali melajukan mobil bugatti berwarna putih yang ia kendarai.


Sementara itu, Aran dan juga kedua anaknya pun pamit pulang kepada Sean.


Dari raut wajahnya, sepertinya Jia dan Theo cukup menikmati waktu mereka di kedai milik Sean tersebut. Terutama Jia, gadis cantik nan imut itu terlihat sangat ceria usai keluar dari playgroud.


"Apa kau senang main disini?" Tanya Sean sambil berjongkok didepan Jia.


"Ya, aku suka! Tempat paman sangat menyenangkan, mainan disana juga banyak! Iya kan kak?" Jia menarik ujung lengan baju kakaknya.


"Iya lumayan," jawab Theo seperti biasa agak cuek.


"Syukurlah kalau kalian senang aku pun senang."


Sean pun berdiri dan berterima kasih pada Aran karena sudah mau datang ke kedainya.


"Ah tidak, justru aku yang harus berterima kasih karena kau sudah menyambut kami dengan sangat baik."


"Sama-sama. Tapi Aran kau yakin tidak mau kuantar?"


"Tidak usah, aku biar naik taksi saja. Kalau begitu aku pulang dulu ya... Anak-anak ayo terima kasih dan pamit pada paman Sean."


"Terima kasih paman Sean, Jia senang sekali. Kapan-kapan aku boleh main lagi kan?"


"Tentu saja, Jia yang cantik..." Sean tersenyum sambil mengusap kepala Jia.


"Paman, terima kasih sudah menyambut kami," sahut Theo.


"Sean kami pulang dulu, sampai jumpa."


"Ya sampai jumpa."


Akhirnya Aran dan kedua anaknya pulang dengan naik taksi.


...^^^°°^^^...


Di dalam mobil bugatti berwarna silver, Ruka yang tengah menyetir terlihat gelisah sejak dari melewati kedai kopi Sean. Entah kenapa ia terus saja kepikiran dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya Aran lakukan di kedai milik Sean?


"Oh ayolah...! Kenapa aku jadi penasaran dan tidak tenang begini rasanya?"


...🌸🌸🌸...