Remember Me Husband

Remember Me Husband
Merahasiakan sesuatu



Di lobi atas, Aran yang baru saja selesai membersihkan lantai tampak kelelahan. Ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak guna mengusir lelahnya setelah mengepel ruangan yang cukup luas.


"Fiuh...!"


Aran mengusap peluhbdi kening dan lehernya. Bahkan meski rambutnya sudah diikat, keringatnya tetap saja mengucur padahal seluruh lantai perusahaan ini ber-AC. Tapi meski begitu, Aran tatap harus bersyukur mengingat ia masih bisa bekerja di perusahaan elit. Meski hanya bagian bersih-bersih dan urusan dapur.


Saat dirinya tengah asyik melepas lelah, tiba-tiba saja muncul Rowen yang langsung menghampiri Aran dan duduk disebelahnya.


"Hai Aran, kau sedang istirahat ya?"


Seperti biasa Rowen dengan ceria menyapa Aran. Namun kali ini Rowen mendatangi Aran bukan hanya sekedar basa-basi saja, melainkan ia datang untuk mengembalikan kota bekal makan siang milik Aran sekalian memberikannya sedikit hadiah.


"Apa ini?" Tanya Aran saat menerima tentengan dari Rowen.


"Buka saja."


Kemudian Aran pun melihat isi didalam tentengan tersebut, dan ternyata isinya sekotak stroberi premium yang terlihat begitu segar dan menggugah dahaga Aran untuk segera mencobanya.


"Tuan Rowen, stroberi ini untukku semua?"


Rowen mengangguk dan ia berkata kalau teman lamanya di kampung halaman memiliki kebun stroberi yang sangat luas. "Karena kebetulan sedang panen besar jadi ia mengirimkannya untukku. Lalu aku ingat denganmu, jadi kupikir sebagian aku beri saja untukmu."


"Wah terima kasih tuan Rowen kau memang baik sekali. Um— boleh aku coba makan?"


"Tentu saja."


Aran kemudian mengambil sebuah stroberi dari kotak itu dan memakannya.


"Woah manis dan segar sekali!" Menurut Aran ini salah satu stroberi terenak yang pernah ia makan selama hidupnya.


Melihat reaksi Aran yang menyukai pemberiannyaz Rowen pun dibuat senang. Ia kemudian mejelaskan dengan bangga kalau stroberi dari kampung halamannya memang salah satu stroberi terbaik di dunia.


"Kalau begitu, bolehkah aku sering minta bawakan stroberi tuan Rowen?"


"Tentu saja, kau mau sebanyak apa akan aku berikan."


Aran malah tertawa. "Sudahlah aku hanya bercanda kok..." Ia pun kembali meneruskan makan stroberinya sambil mengobrol serta bersenda gurau dengan Rowen. Sampai akhirnya muncul Sean yang datang menghampiri mereka berdua.


"Hai!" Sapa Sean.


Tentu saja kehadiran Sean membuat Rowen tidak senang, mengingat ia berpikir kalau Sean adalah saingan beratnya, terutama saingan dalam mendapatkan perhatian Aran.


"Hai tuan Sean, em— maaf aku sedang istirahat sebentar." Aran mengatakan begitu karena tidak ingin Sean mengira kalau ia hanya bermalas-malasan. Dan untungnya Sean paham hal itu.


"Ehem! Kalau tuan Rowen sedang apa disini? Apa tidak punya kerjaan?"


Cih! Kening Rowen langsung mengerut karena kesal, mendengar ucapan Sean yang seperti meledeknya.


"Haiz! Kau tidak lihat Aran sedang makan apa? Itu stroberi pemberianku. Dan Aran sangat suka." Rowen sengaja berkata seperti itu untuk memanas-manasi Sean.


Tentu saja Sean tidak senang, alhasil ia pun membalasnya dengan berkata kalau beberapa minggu lalu ia dan Aran sudah pernah ketemuan langsung di kedai kopinya.


Rowen yang tidak percaya pun langsung memastikannya sendiri dengan bertanya kepada Aran langsung.


"Eh, benarkah itu Aran?"


Dan aran pun mengangguk mengiyakannya.


Seketika panasnya api cemburu berkobar di hati Rowen, ia pun tak terima akan hal itu. Sementara Sean tampak jumawa seolah sudah dua langkah di depan Rowen.


"Dan asal kau tahu ya tuan Rowen, aku dan Aran ketemuan hampir tiga jam dan kami sampai tidak terasa sudah selama itu..." Sean terus memanas-manasi Rowen.


Lucunya, Aran yang berada diantara keduanya malah tampak seperti tidak peduli dengan aksi saling memanas-manasi dua pria dewasa itu. Ia justru sibuk menikmati stroberi manis pemberian Rowen.


"Dengar ya Sean, kau itu jangan sombong dulu!"


"Kau ini benar-benar!"


"Oh iya Aran, ngomong-ngomong bagaimana keadaan Theo dan si tuan putri?"


"Uhuk! Uhuk!" Aran mendadak tersedak karena kaget mendengar Sean menyebut nama anaknya di depan Rowen.


Alhasil kedua pria itu pun panik. Untungnya Aran hanya sedikit tersedak saja jadi tidak apa-apa.


Aran berpikir ia harus mengalihkan pembicaraan supaya Rowen lupa.


Sayagnya Rowen tidak lupa dan justru menanyakannya lagi. "Oh iya, tadi kau bilang Theo, dia siapa?"


Bagaimana ini, aku tidak mau kalau sampai Rowen tahu soal Theo dan Jia, karena jika ia tahu sudah pasti Ruka juga akan tahu nantinya. Dan kalau itu terjadi kemungkinan besar nyonya Lusi pasti akan segera tahu aku dan anakku berada disekitar Ruka, dan kami akan dalam bahaya.


Tidak ingin Rowen lebih jauh bertanya, Aran pun seketika pamit untuk kembali bekerja sambil menarik tangan Sean agar ikut dengannya membicarakan sesuatu.


"Eh, ta- tapi Aran kenapa kau mangajaknya juga?" Rowen heran melihat Aran yang tiba-tiba menarik Sean.


"Um— itu, aku... ada yang harus dibicarakan dengan tuan Sean. Jadi maaf aku harus pergi. Sekali lagi terima kasih stroberinya tuan Rowen, aku permisi..."


Aran pun akhirnya pergi bersama Sean.


Menyaksikan hal itu Rowen jadi semakin kesal dengan Sean, ditambah ia masih penasaran tentang siapa Theo yang di sebut Sean tadi.


"Apa hubungannya dengan Aran? Dan kenapa Aran seperti tengah menutupi sesuatu dariku?"


...🌸🌸🌸...


Aran lalu berhenti di dekat gudang bersama dengan Sean.


"Aran, ada apa sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba menarikku? Apa aku salah bicara?"


Sean merasa Aran terlihat gelisah dan tidak tenang saat ini.


"Aran... kumohon ceritakan saja padaku ada apa sebenarnya?"


Aran menarik menghela nafas dan berkata, "Tuan Sean, bisakah kau menuruti permintaanku untuk merahasiakan soal kedua anakku terutama dari orang-orang yang bekerja disini?"


Sean terkesiap. "Me- memang kenapa?"


Apa dia malu kalau orang tahu dia seorang janda dengan dua anak? Tapi sepertinya bukan itu alasannya. Aran terlihat menggenggami tangannya sendiri yang menunjukan kalau ia tengah tidak tenang.


"Um— kalau boleh tahu kenapa alasan kau tidak ingin orang lain tahu soal itu?"


Rasa gelisah Aran kian bertambah, sejujurnya ia pun tidak mau memberitahu Sean tentang apa sebenarnya yang terjadi dengan dirinya dan kedua anaknya.


Melihat Aran yang sepertinya tidak mau mengatakannya, Sean pun tak mau memaksa dan memutuskan untuk hanya menuruti permintaan gadis yang ia suka itu.


Sean menepuk pelan kedua pundak Aran dan tersenyum padanya. "Sudah kau tenang saja. Aku janji tidak akan memberitahu siapapu tentang privasimu yang aku ketahui."


Mendengar ucapan Sean barusan Aran pun jadi cukup lega rasanya.


"Terima kasih ya Sean sudah mau mengerti aku."


"Sama-sama..."


Lagipula dengan begini Sean jadi merasa spesial dibanding pria lain. Karena ia berpikir Aran membiarkannya tahu soal ia dan anaknya sementara Rowen dan lainnya tidak.


...🌸🌸🌸...


JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, VOTENYA 💜