
Setibanya di Galaxy tower, Aran langsung saja berganti seragam dan segera mengerjakan list tugasnya hari ini. Memastikan semua pegawai di lantai 75 dan 76 dapat secangkir minuman dimejanya dan membersihkan area dapur dan kamar mandi wanita.
"Huft, capeknya..," ujar gadis bertubuh langsing itu setelah selesai membersihkan toilet wanita di lantai 71 dimana itu sebenarnya bukanlah zona yang harus Aran bersihkan. Sejujurnya Aran tak masalah melakukan semua pekerjaan semacam itu. Hanya saja yang membuat hari-harinya terasa berat adalah, sikap Meli sang supervisor di tim kerjanya yang seringkali malah membebankan pekerjaan rekan setimnya kepadanya.
Berhubung pekerjaannya sudah selesai, Aran pun menunggu lift yang akan membawanya kembali ke pantry tempatnya berada di lantai 76 untuk beristirahat. Tak sampai dua menit pintu lift pun akhirnya terbuka. Namun saat pintu itu sudah terbuka, Aran bukanya melangkah masuk ke dalam lift malah diam saja. Dirinya justru terlihat syok dan ketakutan seketika melihat pria yang ada di dalam lift yang tebuka itu. Alhasil ia pun tak jadi masuk dan malah kabur.
Dan seketika Ruka Arshavin, pria yang berada di dalan lift itu pun mendadak kesal dibuatnya melihat Aran yang untuk kedua kalinya terlihat sangat ketakutan dan langsung kabur saat melihatnya.
"Gadis itu lagi-lagi memasang wajah ketakutan begitu saat melihatku! Memang dimatanya aku ini seseram apa sih?!" Ucap Ruka yang merasa kesal sendiri.
Sementara itu Aran yang malah berlari masuk ke toilet, malah terlihat panik sendiri disana. "Astaga, kenapa malah bertemu dengan dia tiba-tiba sih?"
Aran mengatur nafasnya dan langsung membasuh wajahnya di wastafel, lalu melihat dirinya sendiri lewat cermin yang ada dihadapannya. Di depan cermin itu, Aran melihat wajahnya yang kini tampak cemas dan takut menghadapi kenyataan saat ini.
"Aku harus bagaimana sekarang? Aku tak mungkin selalu ketakutan dan menghindar."
Aran sungguh bimbang dan bertanya-tanya pada dirinya, sampai kapan ia akan begini? Apakah ia harus keluar dari pekerjaan ini demi menghindari pertemuannya dengan Ruka, pria yang pernah menjadi suaminya? Tapi disisi lain, Aran tak mau membuang kesempatan. Ia membutuhkan pekerjaan ini untuk bertahan hidup dan membiayai kedua anaknya yang masih kecil.
"Kalau pun aku pergi, apa mungkin aku akan dapat pekerjaan lagi dengan mudah?"
Aran dilanda dilema. Separuh hati kecilnya ingin sekali pergi dari tempat ini menghindari semua kenyataan yang ada. Tapi disisi lain, ia tidak ingin jadi pengecut yang takut menghadapi segala yang macam kemungkinan dalam kehidupannya.
"Tidak! Aku tidak boleh begini. Aku harus bisa bertahan dengan semua keadaan ini, aku tidak boleh egois dan mengorbankan anak-anakku hanya karena perasaan pribadiku. Ya, aku harus tetap bekerja disini dan menghadapi semuanya."
Pada akhirmya Aran bertekad untuk tetap berjalan kedepan.
...🌸🌸🌸...
Di ruangannya Ruka tampaknya masih kesal mengingat ekspresi takut pegawai wanita tadi. Ia masih berpikir apa wajahnya semenakutkan itu sampai-sampai pegawai itu begitu ketakutan melihatnya.
Pria itu menyalakan kamera depan ponselnya dan menatap wajahnya lewat layar ponselnya tersebut.
Sejak kecil Ruka selalu dibilang tampan rupawan oleh semua orang, dan biasanya para wanita saat melihatnya langsung terpana karena wajah dan aura. Tapi kenapa gadis itu berbeda, ia selalu lari ketakutan saat melihat Ruka.
"Siapa gadis itu sebenarnya?" Ruka seketika jadi penasaran.
Beberapa saat kemudian, Rowen asisten Ruka datang membawakan dokumen penting untuk di tanda tanganinya. Setelah menandatangani dokumen tersebut, Ruka tiba-tiba saja menyuruh sang asisten untuk membawakan dia semua data pekerja bagian rumah tangga di kantor ini.
"Eh untuk apa anda minta daftar itu bos?" Tanya Rowen keheranan melihat bosnya tiba-tiba saja ingin tahu daftar nama bawahannya
"Memang kenapa? Apakah salah seorang bos menanyakan tentang pegawainya?"
"Iya, tapi—"
"Lakukan saja yang aku minta!"
"Si- siap bos!"
Rowen pun melaksanakan apa yang diperintahkan bosnya. Ia langsung meminta kepala staf HRD untuk memberikannya daftar yang diminta Ruka untuk diberikannya kepada sang bos besar di ruangannya.
Saat ingin menuju ruangan Ruka, tak sengaja Rowen malah bertemu dengan Aran, gadis yang pernah memberitahunya resep memasak ikan beberapa waktu lalu di supermarket.
Rowen pun angsung menghadang jalan Aran dan berkata, "Nona, kau ingat aku?!"
"Ini aku, masa kau lupa sih! Kita kan waktu itu bertemu di supermarket saat aku membeli ikan beberapa hari lalu."
"Oh...kau yang waktu itu tanya resep padaku kan?"
"Benar, akhirnya kau ingat juga. Oh iya kenapa kau disini?" Rowen melihat seragam Aran dan baru sadar kalau ia ternyata karyawan bagian rumah tangga di kantor ini.
"Jadi kau kerja disini? Aku baru tahu."
"Iya, tapi aku baru beberapa hari kerja jadi masih baru."
"Jadi kau pegawai baru, pantas saja aku baru lihat." Padahal aku memang tidak hafal juga sih dengan karyawan lain.
"Oh iya kita belum kenalan. Namaku Rowen Davis kau siapa?"
"Aku Arana Haurin, biasa dipanggil Aran."
"Jadi namamu Aran ya nona, baik akan kuingat."
"Tuan Rowen kau sendiri disini sebagai apa?"
"Jabatanku adalah— Astaga, dia sudah meneleponku. Gawat!"
"Apa yang gawat tuan Rowen?"
"Ini bosku sudah menelepon. Nona Aran kapan-kapan kita ngobrol lagi ya, sekarang aku harus pergi dulu karna bos besarku memanggil, kalau tidak segera datang bisa-bisa dia mengamuk."
"Oh..."
"Kalau begitu aku duluan, senang sekali bertemu denganmu lagi nona Aran," ucap Rowen lalu pergi meninggalkan Aran.
"Ternyata aku sekantor dengan tuan waktu itu, benar-benar kebetulan yang sudah direncanakan oleh semesta."
Rowen pun kembali menemui Ruka di ruangannya dan langsung memberikan list karyawan bagian dapur yang dimintanya tadi. Dan saat itu juga Ruka langsung mencari foto profile pegawai perempuan yang ia maksud, tapi sudah bolak balik ia cari malah tidak ada.
Apa mungkin dia anak baru jadi berkasnya belum di arsipkan disini? atau Jangan-jangan dia penyusup?
Sementara itu Rowen justru semakin bingung melihat sikap tidak biasa Ruka saat ini. "Um— tuan maaf, tapi sebenarnya ada apa sih? Kenapa tiba-tiba kau minta data pegawai dan memeriksanya?"
"Itu—" Iya juga, kalau dipikir-pikir untuk apa aku sepeduli itu dengan gadis pegawai rendahan tadi? Aneh sekali. "Itu— tidak apa-apa. Ini aku sudah selesai membacanya," Ujar Ruka meleparkannya ke meja seolah tak penting lagi.
"Lalu aku harus apakan berkas ini tuan?"
"Kau kembalikan saja pada HRD lagi."
Rowen hanya bisa menghela nafas dan bersabar. Mau bagaimana lagi, bosnya ini kan memang susah diprediksi jalan pikirannya.
"Baiklah aku akan kembalikan arsip ini ke HRD."
...^^^🌸🌸🌸^^^...
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, COMMENT OKE 💜