
Aran menemui Lusi di taman belakang rumah sakit tepat seperti yang diminta oleh wanita itu. Disana Lusi yang mengenakan dress selutut berlengan panjang, terlihat membuka kacamata hitam yang dikenakannya dan menatap Aran dengan tatapan tidak suka.
Bahkan bagi Aran hanya dengan melihat tatapan Lusi ia seperti sudah tau apa yang akan dikatakan oleh wanita itu padanya.
"Datang juga kau akhiranya." Lusi menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap remeh Aran yang saat ini telah berdiri di hadapannya.
Dengan wajah yang agak sedikit menunduk Aran seraya memberi salam hormat kepada Lusi yang notabennya jauh lebih tua darinya. Sayangnya Lusi justru membalas sikap Aran dengan ketus.
"Tidak usah basa basi dan sok manis kepadaku!"
Lusi dengan arogan mendekati Aran tepat di depan wajahnya dan langsung memberitahunya agar segera pergi meninggalkan kota Renston.
"Tapi nyonya, putraku belum sembuh sepenuhnya. Lagipula ini baru seminggu, kau sendirikan yang memberiku waktu dua minggu untuk meninggalkan kota ini. Jadi ak—"
"Diam!"
Aran langsung tersentak dan terdiam.
"Tadinya memang, tapi mengetahui kau yang diam-diam bertemu Ruka, kau pikir aku bisa percaya padamu huh?"
"Tapi aku tidak mengatakan apapun pada Ruka soal aku dan anak-anak, dia tahu dengan sendirinya nyonya..." Aran mencoba memberitahukan yang sebenarnya. Sayangnya Lusi tetaplah tidak percaya pada Aran yang dimatanya tidak lebih dari sekedar wanita miskin kotor yang ingin kaya dengan cara instan.
"Nyonya tolong kau percayalah padaku. Aku janji, setelah putraku sehat sepenuhnya aku akan meninggalkan kota ini secepatnya aku bersumpah..." Aran sampai menghiba di depan Lusi, tentu saja hal itu ia lakukan agar Lusi tak menyakiti anak-anaknya.
"Apa jaminanmu kalau kau akan menepatinya?"
Aran terdiam, ia sendiri tidak tahu jaminan apa yang bisa dipertaruhkannya.
"Aku..."
"Cih! Sudahlah aku muak dengan semua alasan klisemu itu! Yang jelas aku ingin agar besok kau meninggalkan kota ini. Atau kalau tidak, aku akan membuat hidupmu dan anak-anakmu menderita layaknya di neraka!"
Aran bergidik ngeri dengan ancaman Lusi. Lalu dengan mata berkaca-kaca ia pun memohon kepada wanita itu untuk tidak menyeret anak-anaknya ke dalam urusannya ini.
"Nyonya, jika anda membenciku dan ingin menyakitiku aku masih bisa terima. Tapi satu hal, tolong jangan kau libatkan anak-anakku, mereka hanya anak-anak yang tidak berdosa."
"Aku tidak peduli! Mau itu anak-anak atau bukan, yang jelas apapun yang menurutku parasit pengganggu, maka harus aku singkirkan!"
Aran tidak tahu harus bicara apa lagi agar Lusi mau memberinya waktu tambahan untuk pemulihan Theo sampai sembuh.
Tidak ada cara lain!
Tiba-tiba saja Aran berlutut di depan Lusi dan memintanya agar memberinya waktu sampai Lusa, setidaknya biarkan Theo keluar dari rumah sakit terlebih dahulu baru ia akan pergi dari Renston.
"Aku berjanji akan pergi dari sini sesegera mungkin setelah putraku pulih nyonya... aku memohon pada anda."
Dengan penuh pertimbangan, akhirnya Lusi terpaksw memberikan waktu sampai lusa untuk Aran dengan berbagai pertimbangan.
"Ingat, jika kau berani bohong padaku, aku akan buat anak-anakmu menderita, camkan itu!"
"I- iya nyonya."
Lusi kemudian pergi meninggalkan Aran yang masih dengan posisi berlutut dengan wajah sedihnya.
...----------------...
Di rumah sakit Skyper Center, Hani yang baru saja selesai mengunjungi pasien anak-anak penderita kanker dan melakukan donasi. Setelah melakukan semua kegiatan wanita tua itu agaknya terlihat lelah dan ingin menghirup udara segar. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke taman belakang rumah sakit ditemani pengawal dan asistennya untuk bersantai sebelum akhirnya kembali pulang.
Saat Hani tengah duduk bersantai di kursi taman belakang rumah sakit menikmati udara segar, dirinya tak sengaja menoleh kesamping dan melihat seorang wanita muda yang tengah bersedih. Karena sifatnya yang sangat peduli, alhasil Hani pun berinisiatif mendekati wanita muda yang tidak lain adalah Aran yang tengah menangis sendirian.
"Ini, hapuslah air matamu nak..." Hani menawarkan sebuah sapu tangan kepada Aran untuk menghapus air matanya. Sontak Aran pun sedikit terkejut saat ia mengangkat kepalanya dan melihat sosok Hani yang tampak begitu hangat meski baru pertama kali melihatnya.
Melihat Hani sontak Aran langsung teringat pada mendiang sang nenek yang sudah lama meninggal. Aran pun dengan tanpa ragu menerima sapu tangan Hani dan menggunakannya untuk menyeka air matanya.
"Terima kasih," jawab Aran menoleh menatap Hani yang sudah duduk disebelahnya.
"Sama-sama..." Hani tersenyum.
Aran mencoba menilai sekilas Hani dengan melihat gestur dan penampilannya. Nenek ini sangat baik, dan dari penampilannya aku tahu dia pasti wanita terhormat dari keluarga kelas atas.
"Maaf jika aku lancang, tapi kenapa kau menangis disini sendirian?"
Ditanya begitu oleh orang asing yang baru ia temui tentu saja Aran tidak akan berani cerita blak blakan.
"Oh, umm... Tidak, aku— hanya sedang sedih saja memikirkan putraku yang masih sakit."
"Memang sakit apa anakmu nona?"
"Dia kecelakaan, dan sempat koma. Tapi untungnya sekarang sudah tidak apa-apa, hanya perlu pemulihan."
"Syukurlah kalau begitu."
"Oh iya, kalau nyonya sendiri sedang apa di rumah sakit, apa ada kerabat anda yang sakit?"
Hani kembali tersenyum dan menjawab, "Tidak ada yang sakit, aku kesini hanya untuk kegiatan amal saja."
Amal?
"Ya, aku setiap bulan memang rutin melakukan kunjungan rumah sakit untuk memberikan beberapa hadiah untuk anak-anak."
Melihat cara Hani bicara, Aran langsung merasa kalau orang yang tengah bicara dengannya ini adalah orang yang sangat baik dan berhati tulus.
"Anda sungguh berhati mulia nyonya, aku yakin pasti hidup anda sangat diberkati."
Hani hanya tersenyum seraya bersyukur, mengingat sejauh ini ia memang sudah merasa bahagia dengan apa yang ia miliki saat ini.
Ditengah obrolan tiba-tiba Aran ingat kalau ia harus kembali ke kamar Theo. Ia pun kemudian minta izin dengan wanita yang belum ia ketahui namanya itu.
"Nyonya, aku senang bisa bicara dengan anda.. Tapi maaf sepertinya aku sudah harus kembali ke kamar putraku."
"Begitu ya? Baiklah kalau begitu, aku doakan putramu segera sembuh."
"Terima kasih. Oh iya sapu tangannya...?"
"Bawa aja, anggap itu hadiah pertemuan kita."
"Baiklah kalau begitu terima kasih, aku permisi."
Aran lalu bangkit dan dari kursi yang ia duduki dan pamit pergi.
...🌸🌸🌸...
Aran akhirnya kembali ke kamar putranya. Di ruangan Theo masih diisi dengan orang-orang yang sama seperti saat ia pergi. Kecuali tiba-tiba saja ada Sean yang datang ke ruangan itu sambil membawakan buah-buahan dan tentengan di tangannya.
"Selamat pagi..." Sean menyapa dengan sumringah.
"Sean ka- kau datang?"
"Ya Aran, aku sengaja datang kesini untuk menjenguk Theo."
Sean lalu mendekati Theo dan bertanya kabarnya.
"Aku baik paman, aku sudah lumayan sehat."
Aran menjelaskan kepada Sean kalau Theo sudah siuman sejak semalam, dan menurut hasil laporan kemungkinan tidak ada luka serius dibagian dalam kepala Theo.
"Kau memang anak yang hebat," puji Sean.
Theo hanya tersenyum kecil.
Disebelah Theo, Jia yang sejak awal sudah cukup antusias dengan kedatangan Sean pun bertanya, selain buah apa yang dibawa oleh pria itu?
"Tada...!" Dari dalam tas itu Sean mengeluarkan boneka berbentuk kelinci dan memberikannya kepada Jia.
"Woah ini untuk Jia?"
"Ya."
"Terima kasih paman Sean."
"Dan ini untuk Theo." Sean memberikan sebuah mainan action figure karakter superhero kepada Theo.
"Terima kasih..." Theo menerimannya dengan senang hati.
Melihat Sean yang begitu manis memperlakukan anak-anak Aran, Risa sang sahabat pun menggodanya dengan berbisik, "Hei Arana, kau lihat sepertinya sudah ada yang mau daftar jadi papanya Theo dan Jia tuh..."
"Risa! Kau ini jangan ngelantur!"
"Hehehe... Tapi tuan Sean tampan dan baik, aku rasa tidak buruk juga kalau kau—"
"Ssttt sudahlah, daripada itu ada yang ingin aku ceritakan padamu tapi tidak disini."
Aran dan Risa lalu izin kepada Theo, Jia, dan Sean untuk keluar sebentar dengan alasan ingin cari makanan.
"Tuan Sean maaf aku titip anak-anakku sebentar denganmu bisa kan?"
"Tentu saja Aran..."
Dan akhirnya kedua wanita itu keluar dari ruangan tersebut.
Sementara di ruangan akhirnya Sean menemani anak-anak Aran.
"Jia, kau suka bonekanya?" Tanya Sean.
"Um," angguk si balita cantik itu lalu kembali mengucapkan berterima kasih.
"Kalau Theo, apa kau suka hadiahku?"
"Ya, aku suka kok. Tapi..."
"Tapi apa?"
Sean dan Jia pun serentak menatap Theo yang seperti ingin mengatakan sesuatu namun tertahan.
"Paman Sean, apa kau menyukai mamaku?"
Sean langsung mengatupkan bibirnya karena terkejut dengan pertanyaan Theo yang membuatnya jadi gugup.
"Paman, apa benar paman Sean suka pada mama?" Imbuh Jia yang juga tampak penasaran sekali dengan jawaban Sean.
"Itu— ya bisa dibilang begitu sih..." Sean akhirnya mengaku kepada kedua anak Aran kalau ia menyukai mama mereka.
Baik Theo maupun Jia saling menatap seolah tidak terlalu tahu harus bersikap bagaimana menanggapi jawaban Sean barusan.
...🌸🌸🌸...
Sementara itu Risa terkaget setelah tahu kalau Lusi barusan menemuinya dan mengancamnya.
"Jadi tadi kau pergi itu menemui wanita jahat itu?"
Aran mengangguk sedih. Ia menceritakan pertemuannya dengan Lusi kepada Risa, agar dirinya sedikit merasa tenang.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tak punya pilihan lain selain mengikutinya."
Mendengar jawaban Aran, Risa pun agak kesal dibuatnya. "Kau ini kenapa mau saja ditekan begitu sih!"
"Lalu aku harus apa?! Kau tidak tahu bagaimana wanita itu mengancamku. Itu sangat mengerikan meski hanya dibayangkan."
Risa yang geram lalu mengenggam kedua pundak Aran dan berkata dengan tegas dihadapan teman baiknya itu. "Kau harus bilang pada Ruka."
Tentu saja Aran langsung tersentak kaget dibuatnya dengan ucapan Risa. Ia lalu mengelak dan berpikir kalau masukan dari Risa itu hal yang mustahil ia lakukan.
"Kau harus lakukan Aran, bagaimanapun Theo dan Jia itu anaknya Ruka. Aku yakin jika kau mengatakan dengan sebenarnya dia pasti akan membantumu."
Memang benar jika Ruka ayah dari anak-anakku tapi...
"Kenapa sih kau itu tidak mau melakukan itu! Ayolah Aran... Kau tidak bisa membiarkan hidupmu dan anak-anakmu terus ditekan oleh wanita jahat itu!"
"Tapi bagaimana aku mengatakannya Risa? Ruka, dia— tidak ingat aku sama sekali. Ditambah sekarang dia tunangan Bianca..." Aran begitu pilu mengatakan itu semua. Namun mau bagaimana pun memang itulah kenyataannya saat ini.
Risa menghela nafas lalu memeluk Aran dan menguatkannya. "Aku minta maaf tidak bisa banyak membantumu."
...🌸🌸🌸...
Di ruangannya Theo terlihat hanya berdua saja dengan Jia. Karena saat itu Sean sedang izin sebentar ke toilet, tadinya Sean tidak ingin meninggalkan kedua bocah itu sebelum Aran atau Risa datang. Tapi Theo dan Jia bersikeras kalau mereka tidak masalah ditinggal sebentar.
Theo yang masih berbaring di ranjang terlihat memainkan action figure pemberian Sean, seketika melihat adiknya yang tengah duduk di sofa tampak tidak semangat dan agak murung. Sebagai kakak yang baik, Theo pun mencoba memastikan apa yang membuat adiknya tampak murung seperti itu.
"Jia, kau kenapa? Kau tidak suka bonekannya?"
"Tidak, Jia suka kok bonekanya."
"Lalu kenapa kau terlihat tidak senang begitu?"
"Jia hanya agak sedih karena... Paman Ruka sampe sekarang belum juga datang kesini. Padahal dia janji mau datang lagi kemari..."
"Paman Ruka, apa maksudmu?" Theo yang belum tahu sama sekali dan melihat langsung Ruka pun dibuat bingung dengan pernyataan adiknya.
"Jadi kakak belum tahu tentang paman Ruka?"
Yang Theo tahu soal Ruka hanyalah dia pria kaya raya yang dipanggil paman pahlawan oleh Jia, yang mana juga adalah bos di tempat mamanya bekerja.
"Memang kenapa dengan paman Ruka itu?"
Jia lalu segera turun dari sofa dan mendekati kakaknya, memberitahukan sang kakak kalau Rukalah yang sudah menolong dirinya.
"Apa? Kau yakin?"
"Iya, paman Rowen yang bilang."
Rowen siapa lagi?
"Pokoknya paman Ruka itu sangat-sangat keren! Jia ingin sekali bertemu paman Ruka lagi..."
"Apa iya sekeren itu, kalau dibanding paman Sean bagaimana?"
"Um— paman Sean memang baik dan menyenangkan, tapi... Jia lebih suka paman Ruka."
Melihat ekspresi Jia yang sampai sesumrigah itu membicarakan Ruka, Theo jadi semakin penasaran dengan sosok pria itu.
"Pokoknya kakak pasti suka dengan paman Ruka, dia itu sangat tampan dan tangannya besar dan hangat."
"Tidak semudah itu, aku harus lihat sendiri baru percaya..."
Aku tidak bisa semudah itu yakin dengan penilaian Jia, mengingat semua pria kaya raya itu kan banyak yang busuk. Bisa jadi dia berbuat baik pada kami karena ada maunya, terutama pada mama dan Jia.
...🌸🌸🌸...