
Di tengah malam Ruka yang terlelap tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Dengan nafas tersengal-sengal serta peluh dingin pun keluar membasahi tubuhnya yang tak mengenakan pakaian, Ruka terlihat frustasi.
"Lagi-lagi aku memimpikan hal yang sama!"
Sudah beberapa tahun ini memang Ruka sering sekali mengalami mimpi yang hampir sama. Di dalam mimpinya itu, Ruka selalu dalam keadaan hampir tenggelam di dalam lautan, dan setelah itu ia samar-samar muncul sesosok orang yang selalu tersenyum manis padanya. Saking manisnya Ruka merasa senang melihat senyum itu, namun seketika kemudian seperti dipaksa menghilang bersamaan dirinya yang tiba-tiba saja kembali seperti ditarik masuk ke dalam pusaran badai.
Ruka mengambil kimono tidurnya dan memakainya. Ia membuka jendela kamarnya dan berdiri di balkon sambil menyalakan sebatang rokok untuk membantu menenangkannya. Sambil menatap langit musim semi di tengah malam Ruka berpikir, ada apa sebenarnya dengan mimpinya itu? Apakah itu sebuah pertanda atau hanya kebetulan semata.
Ruka sebenarnya tahu kalau 6 tahun lalu ia mengalami kecelakaan saat naik kapal. Namun sampai detik ini dirinya tidak bisa ingat sama sekali kronologis seceritanya, bahkan meski teman-temannya menjelaskan Ruka tetap tidak bisa mengingat apapun. Yang ia tahu hanya ia tiba-tiba sudah terbangun dan ada di ranjang rumah sakit dengan kondisi dada sebelah kirinya terkena luka tembak.
Ruka meraba bekas luka tembak yang ia dapatkan 3 tahun lalu. Ia merasa geram dan marah, karena tak bisa ingat apapun tentang penyerangan yang ia terima, seolah ada bagian lembar hidupnya yang hilang.
"Kalau memang ada bagian yang hilang dari hidupku apa itu sebenarnya?"
...🌸🌸🌸...
Pagi-pagi sekali di tempat kerja, Aran dibantu Rowen dan Chika mencari bukti siapa orang yang sudah menaruh obat di bento Aran lewat monitor cctv yang ada disana. Namun hal itu tak membuahkan hasil, melihat pada menit tertentu monitor cctvnya malah tiba-tiba saja gelap dan tak merekam apapun. Dan itu beberapa menit setelah Aran dan Chika meninggalkan ruangan loker.
"Sudah kuduga pasti ada yang sengaja menutup kamera cctvnya. Benar-benar licik sekali, dia sengaja mau memfitnah Aran!" Tandas Chika kesal.
"Tapi siapa kira-kira yang masuk setelah kalian?" Rowen bertanya-tanya.
"Aku yakin Meli, dia itu paling tidak suka sama Aran!" Terang Chika yang seolah yakin sekali.
"Meli siapa?"
"Itu loh tuan Rowen, supervisor kami disini. Si wanita menyebalkan yang sok berkuasa itu!"
"Tapi kita juga tak bisa menuduhnya kalo tak ada bukti," sahut Aran.
"Iya sih... Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Chika sambil berpikir.
Melihat Rowen dan Chika yang sudah berusaha kerasa membantu, Aran pun jadi merasa tak enak hati pada keduanya. Dan karena tak ingin lagi membuat susah Aran pun bilang, "Tuan Rowen, Chika, terima kasih sudah mau repot membantuku mencari bukti. Tapi kurasa cukup sampai disini saja, aku tidak mau merepotkan kalian terus."
"Aran kau bicara apa?" Pungkas Rowen.
"Aku, aku sudah mencoba menerimanya. Kalaupun aku dipecat aku sudah siap," ungkap Aran pasrah.
"Aran jangan bicara begitu, kau tenang saja aku akan membantumu sampai menemukan penjahat itu," ucap Rowen meyakinkan agar Aran tak menyerah.
"Tidak tuan Rowen, kalau kau terus membantuku aku takut malah kau yang akan kena masalah dengan tuan Ruka. Jadi kumohon hentikan saja dan mari kita kembali kerja lagi..."
"Tapi Aran..." Chika masih mau membantu mencari bukti.
"Sudahlah Chika tidak perlu lagi, aku mau kebawah ambil sabun dulu! Bye..." ujarnya sambil tersenyum.
Aran yang sudah pasrah pun hanya bisa tersenyum demi menguatkan hati, ya setidaknya sampai hari ini.
Kalaupun ini hari terakhirku bekerja disini mungkin ini cara dunia memberitahuku agar aku menjauh dari Ruka dan tak muncul lagi di kehidupannya.
Saat hatinya yang sedih dan kecewa mencoba merelakan semuanya yang sudah terjadi. Sayangnya keadaan justru tak sebaik itu pada Aran, saat wanita itu ingin ke gudang bawah untuk mengambil alat pembersih. Dilobi bawah ia malah harus berpapasan dengan Ruka yang datang bersama seorang wanita yang tidak lain adalah Bianca. Melihat sendiri bagaimana Bianca menggandeng lengan Ruka dengan nyaman gejolak cemburu Aran pun membuncah.
Menggandeng Ruka adalah jal yang seharusnya mungkin Aran lakukan jika saja ia masih menjadi istri Ruka saat ini.
Aran terus menatap ke arah Ruka dan Bianca yang ada dihadapannya. Hal itu membuat Bianca kesal karena Aran seolah telah menghalangi jalannya dengan Ruka.
"Hei kau! Kenapa malah bengong melihatku dan tunanganku! Minggir sana!"
Ruka benarkah kau mau bertunangan? Tanya Aran di dalam hati. Ia ingin sekali bertanya tentang kebenaran itu, namun bibirnya Aran yang mendadak bisu tak mungkin bisa bertanya itu langsung pada mantan suaminya.
Ruka yang tampak tak peduli pun malah terus saja berjalan pergi melewati Aran.
"Huh minggir sana!" Bianca mendorong Aran dan mengikuti Ruka.
Tubuh Aran kini seperti tak memiliki kekuatan. Hatinya benar-benar perih melihat pria yang ia cintai nyatanya sudah lupa padanya dan malah akan bertunangan dengan wanita lain. Tak bisa lagi menahan air matanya jatuh Aran pun berlari sambil menangis mencari tempat sepi, ia pergi ke taman belakang gedung dan menangis disana mengeluarkan segala luka dan kepedihan yang ia rasakan.
"Sakit sekali, kenapa patah hati rasanya sakit sekali?" Ujar Aran sambil berlinangan air mata. "Aku pikir aku kuat, tapi nyatanya aku tidak bisa menahannya. Rasanya sakit luar biasa. Nenek aku harus apa sekarang? Yuka yang kukenal sudah tidak ada lagi nek... Dia sudah pergi dan tak akan kembali lagi. Dia sudah bohong, dia mengingkari janjinya pada nenek yang berkata akan selalu membahagiakanku. Dia pembohong.... hiks!"
Tiap tetes air mataku yang jatuh, seolah tak ada artinya. Nyatanya semuanya hanya terbuang sia-sia.
...----------------...
Di depan ruangannya, Ruka meminta Bianca untuk pulang.
"Ruka kenapa kau setega itu padaku? Aku sudah rela bangun pagi sekali demi mengantarmu ke kantor, tapi kenapa kau malah menyuruhku pulang begitu saja!"
"Aku tidak minta diantar olehmu, kau yang mau sendiri. Lalu apa salahku?"
Bianca geram dan mengancam akan telepon kakek Jura.
"Terserah dirimu!" Ujar Ruka yang lansung masuk ke ruangannya dan menutup pintunya membiarkan Bianca sendirian diluar.
Bianca memukul-mukul pintu ruangan itu. "Ruka buka pintunya, Ruka! Arggh sial!"
Bianca merasa jengkel sekali diperlakukan begitu oleh Ruka. Ia pun akhirnya menelepon Jura dan mengadukan perbuatan Ruka barusan padanya.
Di pantry, Chika yang saat itu tengah mengambil air tiba-tiba saja didatangi Meli.
"Sendirian saja? Mana temanmu yang sok cantik itu? Oh, sudah mau dipecat ya? Kasihan...!" Tentu saja Meli salah satu yang akan paling senang mengetahui Aran akan dipecat.
"Makanya bilang pada temanmu itu agar jangan sok mau cari perhatian dengan bos! Apalagi tuan Ruka, sadar diri. Aran itu cuma sampah sementara tuan Ruka itu berlian."
"Cerewet kau nenek sihir!
Saking geramnya dengan perkataan Meli, Chika pun langsung mendorong wanita itu hingga terjatuh. Dan saat jatuh tak sengaja Chika melihat sebuah botol kecill berisi serbuk obat pencuci perut jatuh dari kantung baju Meli.
Chika pun langsung memungutnya dan bertanya. "Hei Meli, mengaku saja. Kau kan yang sudah memasukan obat ini ke bekal yang dibawa Aran kemarin."
"I- itu... Aku, bu- bukan aku!" Meli seketika panik.
"Bohong! Dari wajahmu saja kau terlihat takut! Aku yakin kau adalah pelaku sebenarnya yang sudah menambahkan obat ini ke makanan tuan Ruka iya kan, sudah mengaku saja!"
"Bukan aku... Bukan... jangan menuduh!"
"Menuduh? Oke kalau begitu kau lihat, sebentar lagi aku akan buktikan kalau tuduhanku itu benar!"
"Eh kau mau apa, Chika tunggu! Chika..."
Chika yang tak peduli dengan Meli malah meninggalkanya pergi untuk segera memberitahu Aran.
...🌸🌸🌸...
JANGAN LUPA, VOTE, LIKE, COMMENTNYA...