
Setelah diberitahu Chika, Aran pun menghampiri Meli dan memintanya segera mengaku.
"Mengaku apanya! Jangan menuduh dasar wanita tidak tahu diri. Kalau kau dipecat ya itu salahmu!"
"Kau ini sudah ketahuan masih mau bohong! Minta di hajar!" Chika emosi dan ingin menjambak rambut Meli. Namun oleh Aran dicegah.
"Aran wanita ini sudah keterlaluan!"
Aran mendekati Meli dan berkata, "Kak, aku menghormatimu karena kau lebih tua dan lebih senior dariku. Tapi aku juga punya harga diri, aku tidak akan membiarkan orang lain memfitnahku seenaknya."
"Kau mengancamku huh?!"
"Tidak, aku hanya memperingatkan!"
Tak lama Rowen pun datang dan mengatakan kalau ia diminta tuan Ruka untuk membawa Aran, Chika dan Meli menghadap ke ruangannya.
Setibanya di ruangan Ruka, tanpa berlama-lama Ruka pun langsung meminta bukti yang mengatakana kalau Meli adalah pelakunya. Chika pun akhirnya menjelaskan tentang Meli dan monitor cctv yang tiba-tiba menghitam. Ternyata Meli lah yang sudah menutup dengan sengaja lensa cctvnya saat ia mau memasukan obat ke bekal yang Aran buat.
"Cepat akui kesalahanmu di depan tuan Ruka!" Paksa Rowen geram.
Meli tedesak dan akhirnya mengakui semua tindakannya.
Setelah itu, Ruka pun menghampiri Meli dan bertanya, kenapa ia melakukan hal itu?
"A- aku, Aku hanya- hanya ingin memberi pelajaran pada Aran saja," jawab Meli terbata-bata saking ketakutan.
"Begitu rupanya."
"Tu- tuan Ruka, aku minta maaf, aku salah, tolong ampuni aku," ucap Meli sambil berlutut.
"Aku maafkan."
Meli tiba-tiba tersenyum senang. "Benarkah?" Ia berpikir jika Ruka pasti tidak tega melihatnya menghiba.
"Tapi kau harus minta maaf dulu pada nona Arana sekarang!" Seru Ruka.
"Apa? Ta- tapi..."
"Minta maaf atau aku buat kau tak bisa bicara selamanya," ancam Ruka.
"Ba- baik tuan aku akan minta maaf."
Meli pun minta maaf kepada Aran. "Maafkan aku Aran."
"Kau sebut itu minta maaf?" Tandas Ruka seraya mengejek.
"Ma- maksud anda tuan?"
"Berlutut didepannya dan minta maaf dengan benar!"
"Tapi—" Meli merasa terhina jika melakukan itu. Tapi Ruka dengan sorot mata tajam seperti elang membuatnya tak berani menolak.
"Lakukan!"
"Ba- baik!" Meli akhirnya berlutut di depan Aran dan meminta maaf. "Maafkan aku Aran, aku bersalah."
"Nona Arana apa kau memaafkannya?" Tanya Ruka.
"Aku— aku memaafkannya. Hanya saja ia harus berjanji untuk tidak lagi mengganggu pegawai lain lagi."
Ruka tersenyum. "Baiklah nona Meli. Karena semua sudah selessai, silakan kau kembali ke lokermu lalu kemasi barang-barangmu dan jangan pernah lagi muncul di kantorku!"
"Tuan kau memecatku?"
"Memang ada alasan untukku tak memecatmu?"
"Tapi tuan, a- aku sudah lama kerja disini kumohon jangan pecat aku..."
"Pergi dari sini sendiri atau aku suruh ajudan untuk menyeretmu keluar secara paksa!"
"Aku tidak..."
"Rowen panggil ajudan dan suruh mereka seret wanita jelek ini!"
"Baik tuan."
Dan tak lama kemudian ajudan Ruka pun datang dan langsung menyeret paksa Meli keluar dari ruanganya.
Disana Chika pun terlihat senang karena akhirnya Aran tidak jadi dipecat. Begitupun Rowen yang juga tak kalah senang. Tapi meskipun begitu, perasaan Aran kini tak sepenuhnya bahagia, mengingat jika dirinya tak jadi dipecat, itu tandanya ia akan terus muncul di kehidupan Ruka dan melihatnya bersama wanita lain.
"Oke, karena semua salah paham ini sudah selesai, kalian bisa pergi dan kembali bekerja lagi," ucap Ruka.
Tsk! Sial dia ingat juga ternyata! Tapi bagaimana pun janji adalah janji, Ruka sudah membuat janji itu maka apapun keadaannya ia harus menepatinya.
"Nona Arana, tunggu sebentar!"
Aran yang baru saja mau pergi pun balik badan. "Ada apa tuan Ruka?" tanya Aran dengan canggung.
Ruka mendekati Aran dan menunduk menatapnya lalu bilang, "Nona Arana, aku minta maaf sudah menuduhmu kemarin. Dan sebagai kompensasi atas tuduhanku, bulan ini gajimu naik sepuluh kali lipat."
Aran kaget, benarkah ini? "Tu- tuan kau serius?"
"Memang kapan aku tidak serius?"
Mendengar gajinya dinaikan sepuluh kali lipat bulan ini membuat Aran senang dan sejenak lupa kalau Ruka itu mantan suaminya. "Terima kasih banyak tuan, terima kasih terima. kasih..."
"Yasudah silakan kembali bekerja."
"Baik, kalau begitu aku dan Chika permisi."
Keduanya pun pergi meninggalkan Ruka dan Rowen di ruangan.
"Ah bosku memang meski kejam tapi kau selalu murah hati soal memberi," puji Rowen sambil menepuk-depuk pundak bosnya. Ruka langsung menatap Rowen dengan mata tajamnya yang menunjukan rasa tak senang.
"Eh- i- iya aku kembali kerja. Sampai jumpa bos!"
Ruka seketika tersenyum kecil. "Gadis itu bisa sesenang itu hanya karena kunaikan gajinya yang tak seberapa? Padahal secara personal ia dirugikan sekali, mungkinkah aku harus tambah lagi kompensasinya?"
...🌸🌸🌸...
Malam harinya saat tengah menikmati makan malam bersama kedua anaknya. Aran bertanya kepada Theo dan Jia, apakah mereka mau ikut pergi ke kedai milik Sean?
"Apa mama ingin sekali pergi kesana?" Tanya Theo balik.
"Kalau mama terserah kalian berdua, karena bagi mama kalau kalian senang maka mama juga akan senang."
Justru sebaliknya, bagi Theo kebahagiaan mamanya adalah kebahagiaan dirinya. Karena tidak ingin asal memutuskan, Theo pun bertanya pada adiknya apakah ia mau ikut?
"Jia mau ikut! Jia ingin lihat seperti apa paman Sean yang mama bilang baik itu," tandas putri kecil Aran yang sejak tadi sudah jelas memang ingin ikut.
"Kalau Theo sendiri?" Aran harus memastikan apakah Theo mau atau tidak, mengingat Theo tidak seperti Jia yang mudah akrab dan ramah pada orang lain.
"Baik aku juga ikut."
"Oke sudah diputsukan, kalau begitu mari kita teruskan makanya malamnya." Aran langsung terlihat senang, melihat kedua anaknya ternyata mau diajaknya pergi olehnya besok.
Setelah kedua anaknya masuk ke kamar dan tidur. Aran pun pergi ke balkon dan menelepon Sean untik memberitahu jika dirinya besok bisa datang ke kedai kopi miliknya bersama kedua anaknya.
Sean : Halo, iya nona Aran jadi sudah kau putuskan?
Aran : Ya, aku dan anak-anakku besok akan ke kedai kopimu. Untuk itu tolong kirimkan alamat tempat dimana kedai tuan berada.
Sean : Bagaimana kalau kau kujemput saja?
Aran : Eh ti- tidak usah, biar aku naik taksi saja kesana. Lagipula rasanya tidak pantas kalau petinggi seperti anda malah repot-repot menjemput bawahan sepertiku.
Sean : Kau ini biacara apa, sudahlah jangan sungkan begitu. Bagiku semua pegawai itu sama kok. Dan Aran, bisakah kau panggil namaku saja saat diluar kantor?
Aran : Baik, tuan Se— maksudku Sean. Tapi sungguh tidak usah repot-repot menjemputku. Tolong kirimkan saja alamat kedaimu.
Sean : Huft... Karena kau kerasa kelala baiklah, nanti akan kukirim alamatnya.
Aran : Terima kasih ya Sean. Um— kalau begitu yasudah aku tutup ya teleponnya selamat malam.
Sean : Aran tunggu jangan tutup dulu!
Aran : Ada apa?
Sean :...... Itu... (Eh tidak jadi deh,) Aku cuma mau bilang selamat malam dan mimpi indah.
Aran : Dasar kau ini aneh! Yasudah sampai besok, selamat malam.
Aran lalu menarik nafas dan menghembuskannya menikmati udara malam di musim semi. Ia lalu berpikir, meskipun hari-harinya terasa berat dan banyak masalah yang ia hadapi selama di kota ini, namun setidaknya ia bersyukur karena masih bisa kenal dengan orang-orang baik di sekitarnya, salah satunya Sean.
"Aku sadar kedepanmya hidupku pasti akan lebih berat lagi, bahkan mungkin akan lebih banyak air mata dan kesakitan. Tapi aku yakin aku bisa melewatinya. Ya, semoga saja..."
Kerasnya hidup dan berbagai macam masalah, memang selalu berhasil membuat manusia jadi lebih kuat.
...🌸🌸🌸...