Remember Me Husband

Remember Me Husband
Rasa Cemburu



Hari ini Aran kembali membawakan bekal makan siang untuk Ruka. Namun kali ini ada yang sedikit berbeda dari biasanya, hal itu terlihat dari tentengan Aran yang hari ini tampak lebih berat dari biasanya. Sepertinya dia membawa bekal lebih dari satu.


Setibanya di dalam ruangan Ruka, seperti biasa Aran yang sudah hampir seminggu ini selalu ke ruangan Ruka, tanpa perintah atau aba-aba lagi langsung menyiapkan makanan untuk bosnya tersebut. Sementara Ruka sendiri ia terlihat masih sibuk dengan layar laptopnya.


"Tuan, ini makan siang anda."


Aran meletakan makanan itu di meja yang ada didepan sofa, tempat Ruka biasanya makan.


Setelah menutup layar laptopnya Ruka menggertakan jemarinya dan kemudian segera bangkit dari kursi kerjanya menuju ke sofa.


Disana Ruka yang baru saja duduk melihat ke arah tentengan Aran yang mana di dalamnya terlihat masih ada 1 bekal lagi tersisa. Karena penasaran, Ruka pun langsung bertanya kepada Arana terkait bekal satu lagi yang masih ada di dalam tas tentengannya.


"Oh ini!" Aran yang duduk disebelah Ruka langsung meraih tas tentengannya tersebut dan berkata kalau, satu bekal yang tersisa ini untuk Rowen.


Ruka pun langsung mengerutkan keningnya dan menatap Aran dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Kenapa kau harus segala buatkan juga untuk Rowen?" Jujur saja hal itu membuat Ruka merasa tidak senang mengetahui Aran membuatkan bekal untuk orang lain selain dirinya.


"Sebenarnya aku juga tidak bermaksud membuatkannya. Tapi berhubung waktu itu ia bilang juga ingin makan bekal buatanku, jadi mumpung sekalian aku buatkan saja." Menurut Aran Rowen selama ini sudah baik padanya, jadi ia berpikir tidak ada salahnya jika membalas kebaikan Rowen dengan membuatkannya bekal.


"Dan kau membuatnya dengan suka rela?!"


Mimik wajah pria itu semakin menunjukan perasaan tidak senang dibuatnya. Raut wajah Ruka yang biasanya selalu tampak tenang dan tak banyak berekspresi itu pun, seketika menampakan ekspresi kesal layaknya anak kecil yang tengah ngambek.


Melihat tampang bosnya begitu, Aran pun sampai tak kuasa menahan tawanya.


"Berani kau menertawakan aku?"


Di tegur begitu Aran pun langsung tidak jadi tertawa lagi dibuatnya.


"Ma- maaf tuan. Habisnya... wajah tuan lucu sekali sih," Gumam Aran yang tidak bisa bohong kalau ekspresi Ruka tadi sangatlah lucu dan menggemaskan.


Lagipula... memangnya siapa yang tidak tertawa gemas, melihat pria yang biasanya dingin dan galak, tiba-tiba saja ekspresi wajahnya malah seperti anak kecil yang ngambek karena tidak diberi permen.


"Lain kali jangan buatkan bekal untuk siapapa pun kecuali aku!" Pungkas Ruka yang kemudian langsung menyantap bekalnya dengan lahap.


Aran membulatkan matanya dan langsung memiringkan kepala sambil bertanya-tanya, kenapa Ruka tak mengizinkan dirinya membuatkan bekal untuk orang lain?


"Sudah tidak usah bertanya-tanya, intinya kau tidak boleh buatkan bekal siapapun kecuali aku!"


"T- tapi tuan..."


"Tidak ada bantahan! Atau kukurangi bayaranmu?"


"Baik..." jawab Aran yang pada akhirnya hanya bisa menurutinya.


Kenapa tidak boleh? Apa dia cemburu aku buatkan bekal untuk pria lain? Astaga aku kok kepikiran begitu sih! Tapi kalau dia benar cemburu aku pasti akan senang sekali rasanya.


"Kenapa malah diam, tidak senang kalau kuminta tidak buatkan bekal untuk pria lain?"


"Eh, bu- bukan begitu... hanya saja aku ingin tahu saja alasan anda melarangku? Apa anda cemburu— eh!" Aran yang terperanjat langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan.


Ruka pun sontak menatap Aran dengan matanya yang tajam dan tampak begitu mengintimidasi.


Ya Tuhan bagaimana ini...? Aku keceplosan bilang begitu... Kini dia melihatiku begitu, dia pasti tersinggung?


"Nona Arana..."


"I- iya?" Aran jadi gelagapan dan merasa takut Ruka marah padanya.


Aku harus minta maaf, "Tuan aku minta—"


"Ya aku cemburu!"


"Huh?"


Aran tersentak kaget merasa salah dengan apa dikatakan Ruka barusan. Tunggu, aku tidak salah dengar kan?


Ruka meletakan makanannya dan tiba-tiba saja memegang dagu Aran dan berkata, "Dengar, aku biasanya tidak suka mengulangi ucapanku. Tapi kali ini aku akan mengulanginya hanya padamu nona Arana..."


Mata bulat Aran melihat jelas wajah Ruka yang kini begitu dekat menatapnya dengan tatapannya yang bisa membuat siapapun tak berkutik saat menatapnya.


"Tu- tuan Ruka...?"


Ruka medekatkan bibirnya ke telinga Aran lalu berbisik dengan lembut. "Dengar baik-baik nona Arana, aku memanh cemburu dan... Aku itu tidak suka kalau kau melakukan hal yang kau lakukan padaku terhadap orang lain. Maka, jangan lakukan itu..."


Seketika Aran mematung. Wajahnya pun berubah memerah seperti kepiting rebus yang baru masak. Sungguh, jantung Aran rasanya berdebar tak karuan saat ini. Entah kenapa ucapan Ruka barusan terdengar begitu posesif dan membuat dadanya tergelitik gembira.


"Apa kau paham nona Arana?"


Aran pun mengangguk kecil dengan wajah tersipu.


Bagaimana ini? Aran seolah merasa Ruka bisa mendengar debar jantungnya yang berderap begitu cepat.


Ini tidak bagus bagi jantungku.Aku harus keluar dari sini segera! "Em— yasudah kalau begitu aku pergi dulu memberikan bekal ini kepada Rowen."


Aran yang saat ini merasa sulit mengatur perasaannya pun bergegas segera pergi dan keluar dari situasi saat ini. Namun saat baru saja bangkit dari duduknya, Ruka malah menarik pergelangan tangan Aran dan menghentikannya.


"Tuan— kumohon lepaskan aku, aku... hanya ingin memberikan bekal ini untuk tuan Rowen. Ka- kau tenang saja, setelah ini aku tidak akan membuatkannya bekal lagi."


Ruka tersenyum puas. Namun rasa kecemburuannya bukannya mereda malah semakin menjadi-jadi. Saat itu Ruka malah meminta Aran agar meninggalkan bekal makan siang itu di ruangannya saja.


"Tapi kalau nanti Rowen bertanya?"


Dengan santainya Ruka menjawab, "Kau tenang saja, nanti aku akan minta Rowen datang kesini sendiri untuk mengambilnya sendiri."


Aran sejujurnya merasa tidak enak kalau harus begitu. Tapi melihat Ruka yang sudah pasti tidak akan melepaskannya sampai iya setuju, Aran pun jadi tak punya pilihan lain selain menurutinya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menaruhnya disini saja."


"Gadis pintar," tandas Ruka yang entah kenapa terlihat puas.


"Ka- kalau begitu tolong lepaskan tangaku dan biarkan aku pergi."


Ruka pun segera melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Aran. Sementara Aran segera meletakan bekal yang dibuatkannya untuk Rowen di meja lalu pamit pergi.


Raut wajah puas Ruka tergambar jelas, setelah ia berhasil membuat Aran menuruti kemauannya. Ruka pun kembali duduk dan menatap bekal Rowen yang ada di hadapannya lalu menyeringai kecil.


"Dengan begini Aran jadi tidak akan bisa bertemu berduaan dengan Rowen."


Beberapa saat kemudian, setelah Ruka selesai menyantap bekalnya, Rowen pun datang ke ruangan Ruka untuk mengambil bekal dari Aran yang ditaruh di ruangan tersebut.


"Tuan, kau bilang Aran meletakan bekal untukku disini?"


"Ya, itu ada diatas meja dekat sofa," jawab Ruka yang saat itu tengah mengambil segelas wine.


Rowen mengambil bekal yang dititipkan itu dan bertanya. "Kenapa Aran tidak memberikannya padaku langsung?"


"Tadi dia bilang ia harus pergi segera karena ada pekerjaan penting, makanya dia menitipkannya di tempatku."


"Begitu ya?"


Rowen yang tidak tahu sama sekali kalau itu siasat Ruka agar dirinya tidak jadi bertemu dengan Aran pun dengan polosnya percaya akan hal itu. "Yasudah kalau begitu aku akan ke ruanganku memakan ini. Tuan Ruka aku permisi."


"Ya!"


Dan Rowen pun pergi sambil membawa bekalnya.


Ruka duduk dan menikmati segelas anggurnya.


"Maaf Rowen aku terpaksa sedikit menipumu. Hanya saja... Aku memang tidak suka kalau melihatanya akrab dengan denganmu dibanding denganku."


...🌸🌸🌸🌸...