
Karena sudah jam delapan malam dan ibu mereka belum pulang, Jia dan Theo pun meminta bibi Risa menelepon mamanya untuk memastikan kalau Aran baik-baik saja.
Tanpa berlama-lama, Risa pun segera mengambil ponselnya untuk menelepon Aran. Dan kebetulan sekali saat baru mau ditelepon Aran malah sudah duluan menelepon.
Risa lalu mengangkatnya lewat loudspeaker supaya kedua anak Aran bisa mendengar suara mama mereka.
"Aran, kau kenapa belum pulang?"
"Iya mama dimana, Jia khawatir dengan mama."
"Ma, kau dimana?"
Semuanya maafkan aku karena baru mengabari. Sebenarnya aku menelepon juga ingin sekalian memberitahu kalian kalau malam ini aku tidak bisa pulang, karena harus menginap dirumah temanku yang sakit.
"Menginap dirumah siapa?"
"Ma, temanmu, apa dia laki-laki?"
"Mama..."
Tenang-tenang, temanku ini perempuan namanya Chika. Dia sakit dan tidak ada yang merawat jadinya mama pikir sebagai satu-satunya yang paling dekat akan menemaninya malah ini.
"Mama...!"
Iya Theo.
"Kalau dia wanita coba biar aku dengar suaranya."
Oh, ka- kalau itu tidak bisa karena— tenggorokannya sedang sakit. "
"Mama, tapi Jia ingin tidur sama mama..."
Jia anak mama yang manis, maaf hari ini Jia tidur ditemani kakak dan bibi Risa dulu ya sayang.
"Tapi kenapa...?" Jia merengek.
Jia sayang... sekali ini saja boleh ya? Mama janji kalau Jia jadi anak baik dan tidak rewel malam ini, mama akan belikan Jia boneka yang pernah Jia minta waktu itu.
"Sungguh?"
Iya sayangku...
"Baiklah kalau begitu Jia mau jadi anak baik malam ini. Tapi mama janji besok pulang oke?"
Tentu, dan— Risa maaf ya aku merepotkanmu lagi. Aku titip anak-anak padamu malam ini.
"Tentu saja, aku akan jaga anak-anak."
"Mama, kau jaga dirimu."
"Siap putraku. Yasudah kalau begitu aku tutup teleponnya oke. Theo, Jia, mama sayang kalian, bye semua."
""Bye... mama."""
...🌸🌸🌸...
"Huft, terpaksa aku bohong pada mereka dengan bilang kalau aku menginap dirumah Chika."
Pada akhirnya malam ini Aran akan bermalam di apartemen Ruka. Itu artinya... Aran tiba-tiba gugup saat ia menyadari kalau itu artinya ia akan tidur satu atap dengan Ruka malam ini.
"Ya ampun, aku kenapa jadi gugup begini?" Aran bisa merasakan detak jantungnya berdebar dengan cepat.
"Nona Arana..."
"Ahh!" Aran dibuat kaget melihat Ruka yang tiba-tiba saja datang dan menyentuh pundaknya.
"Kau mengagetkanku."
"Apa kau sudah selesai menelepon keluargamu?"
Aran mengangguk.
"Jadi orang tuamu sudah mengizinkamu kan?"
"Baguslah kalau begitu, ini." Ruka menyerahkan sebuah paperbag berlogo brand pakaian mahal.
"Eh apa ini?" Tanya Aran penasaran.
"Itu piyama yang kupesan buatmu."
"Piyama?"
"Kau tidak mungkin tidur dengan bajumu saat ini bukan Nona?"
Ruka benar, tapi ini kan brand mewah. Bagaimana bisa dalam sekejap ia menyiapkan ini?
"Tidak usah berpikir darimana aku mendapatkan piyama itu. Lebih baik kau cepat mandi dan ganti bajumu saja segera," ucap Ruka lalu melenggang pergi.
"Huft dasar pria arogan!" Gerutunya kesal.
Tapi untuk sekelas Ruka membeli satu mall juga bisa, jadi untuk apa juga aku heran?
"Tapi..."Aran tiba-tiba saja tersenyum senang. Ia tidak menyangka Ruka sampai mau repot membelikannya piyama.
Setelah mandi dan ganti baju dengan piyama merah jambu pemberian Ruka, Aran yang baru saja selesai mengeringkan rambut seketika bingung harus apa. Pasalnya di apartemen ini hanya ada dirinya dan Ruka, ditambah ia tidak tahu harus kemana saat ini.
Apa aku langsung tidur saja? Tapi dimana aku tidurnya? Rasa frustasi mulai menggerayangi Aran. Ia lalu mencari Ruka di ruangan kerjanya untuk bertanya dimana ia tidur.
Ia kemudian mengintip lewat sela-sela pintu ruang kerja Ruka yang kebetulan tidak ditutup rapat. Dari sana Aran bisa melihat ekspresi mantan suaminya itu saat tengah serius memeriksa beberapa file dokumen perusahaan.
Wajah tampan, mata tajam, rahang maskulin dan caranya memegang pulpen.
Ya ampun ternyata ayah dari anak-anakku setampan itu!
Aran jadi senyum-senyum sendiri dibuatnya. Sayangnya hal itu langsung buyar saat ia sadar Ruka yang tiba-tiba saja menarik pintu dan berdiri di hadapannya.
"Eh?" Aran mendongak kaget dan langsung cepat-cepat berdiri tegap mengadap Ruka.
"Kau sedang apa nona Arana? Apa kau punya kebiasaan mengintip bosmu?"
"Eh bu- bukan begitu. Hanya saja..." Aran terlihat grogi, hal itu terlihat dari jemarinya yang sejak tadi terus memeras-meras piayamanya.
"Kau mau bilang apa? Apa piyamanya tidak nyaman?"
"Bukan tuan, hanya saja aku ingin tanya. Dimana aku tidur malam ini?"
Jadi dia tanya hal itu? Hem sepertinya mengganggunya sebelum tidur bagus juga. Ruka tiba-tiba menyeringai kecil.
"Kalau itu kita bisa berbagi kamar, kebetulan kamarku kan luas."
"Ma- mana bisa begitu?" Meskipun aku dan Ruka dulu terbiasa tidur seranjang, tapi kali ini berbeda. Ruka tidak ingat aku dan dia sudah punya tunangan.
"Memang kenapa? Apa aku tidak menarik."
"Bukan itu! Tapi kau kan sudah bertunangan dengan Bianca jadi kita tidak bisa..."
Ruka menatap Aran dengan sangat dekat dan memperingatinya. "Dengar ya nona Arana. Di tempat ini semua adalah dibawah kendaliku, jadi jika kubilang kita tidur dikamar yang sama makan itulah yanh harus kau turuti. Mengerti?"
"Huft!" Menghela nafas tanda pasrah.
Ruka dan Aran akhirnya tidur di kamar yang sama. Bedanya Ruka berada diatas ranjang, sementara Aran memilih berbaring dilantai beralaskan karpet bulu.
Untung saja karpet bulu super mewah di kamar Ruka sangat lembut, jadi Aran tidak perlu takut kesakitan.
Ruka yang masih membaca buku sebelum tidur, diam-diam memperhatikan Aran dibawah. Sejujurnya aku tidak tega membiarkannya tidur dibawah, tapi mau bagaimana lagi. Wanita itu memang aneh, ditawari tidur denganku malah menolak. Kalau wanita lain pasti sudah mengantri memintaku tidur seranjang dengan mereka.
Ruka lantas menutup bukunya lalu bersiap tidur, dan mengganti cahaya ruangan dengan lampu tidur.
Aran yang sejak tadi pura-pura sudah tidur pun akhirnya tertidur sungguhan.
...🌸🌸🌸...
Jangan lupa Like, comment, share.