
Di kediaman Arshavin kakek Jura dan nenek Hani terlihat sedang mengobrol di taman belakang sambil menikmati teh herbal. Disana sepasang sejoli itu sedang membicarakan soal penerus keluarga dan cucu mereka Ruka.
"Hani, aku tidak tahu kenapa Ruka belum mau menikah. Padahal usianya tahun ini sudah tiga puluh tiga, apa dia tidak mau memberi kita cicit?"
"Sayangku, dulu saat kau melamarku. Apa kau melakukannya karena alasan tertentu?" Tanya Hani.
"Tentu saja tidak, aku menikahimu karena memang aku ingin menjadikanmu ratu satu-satunya dihidupku."
Hani langsung tersenyum kecil. "Ruka juga begitu, cucumu itu mirip sekali denganmu. Dia hanya akan melakukan sesuatu yang memang ia kehendaki. Sama halnya dengan menikah, Ruka pasti akan menikah ketika dia sudah menemukan tambatan hati pilihannya sendiri."
"Tapi sampai kapan? Saat seusianya, aku sudah punya Eric dan Viona. Sementara dia pacar tidak punya, tapi gosipnya dengan berbagai wanita dimana-mana. Apa dia tidak tahu hal itu bisa membuat reputasi keluarga Arshavin tercoreng?!" Geram kakek Jura.
Melihatnya emosi Hani pun langsung menenangkan suaminya itu. "Sayang, usiamu sudah depalan puluh satu tahun, jangan terlalu mudah emosi tak baik untuk jantung dan tekanan darahmu."
Jura menghela nafas. "Aku hanya memikirkan nasib Skyper. Ruka satu-satunya penerus yang aku harapkan, hanya dia yang mampu membawa Skyper seperti yang aku harapkan. Dan untuk meneruskannya ia harus punya penerus yang berkualitas juga."
"Tapi kau terlalu keras pada Ruka. Dia tumbuh seperti saat ini, itu semua karena didikanmu Jura..."
"Aku tahu, tapi itu semua aku lakukan demi kebaikannya. Aku tidak mau dia seperti Eric, pada akhirnya anak itu hanya bisa menjadi dokter umum tidak jelas."
"Dokter adalah tugas yang sangat mulia suamiku. Terlebih bagaimanapun Eric tetaplah putramu. Dia sekarang sedang ke Afrika untuk tugas kemanusiaan. Meski kau kecewa pada Eric bagiku dia tetap putraku yang hebat."
"Hani, kau terlalu memanjakan Eric dan Viona."
"Aku hanya menjalankan tugas sebagai ibu mereka. Lagipula Eric dan Viona, keduanya bagus. Eric menjadi dokter, Viona juga kini berada di LA mengelola beberapa studio musik disana dengan suaminya."
"Ya, kau terbaik..."
Tiba-tiba Lusi menantu mereka muncul bersama pelayan yang membawakan beberapa kue tradisional khas kota Renstone.
"Ayah, Ibu silakan dimakan kue-kuenya, aku sendiri yang meminta langsung ahlinya membuatkan untuk kalian."
"Terima kasih Lusi," tandas Hani.
"Terima kasih, tapi aku tidak terlalu ingin makan," ungkap Jura yang memang tidak terlalu senang dengan Lusi. Mengingat Lusi adalah istri kedua Eric yang dinikahi karena ia terlanjur mengandung anak Eric, Karaz adiknya Ruka.
"Ayah, apa kau sakit?" Tanya Lusi pura-pura peduli.
"Aku tidak sakit, hanya tidak ingin makan saja. Kau sendiri, kenapa kau sering tidak mau menemani suamimu tugas ke luar negeri?"
"Itu— ayah kan tahu, aku ini suka tidak betah lama-lama tinggal di negara luar jadi..."
"Memang, berbeda dengan Tiana yang akan selalu menemani suaminya kemanapun pergi."
"Ayah mertua aku kan—"
"Sudahlah aku tak mau memaksa, karena kau memang bukan Tiana. Kalau begitu aku mau istirahat dulu. Hani sayang aku mau ke kamar."
"Baiklah... akan kuantar."
Akhirnya Jura dan Hani pergi ke kamar dikawal Cedric dan Wanda, dua asisten kepercayaan mereka.
Lusi mengepalkan kedua tangannya saking menahan geram. Ia sungguh tak tahan lagi melihat Jura dan Hani yang seringkali mengabaikannya sebagai menantu.
"Kedua manusia tua renta itu memang menyebalkan! Dari pertama sejak aku tinggal disini, mereka selalu saja begitu. Selalu saja Tiana, Tiana, dan Tiana menantu yang mereka banggakan! Menjijikan!"
Lusi membenci kedua mertuanya itu karena kerap kali bembandingkan dirinya dengan Tiana, mendiang istri pertama Eric yang sudah meninggal 20 tahun lalu.
"Lihat saja, pelan tapi pasti. Aku akan buat Karaz mengambil alih posisi Ruka di Skyper grup!"
...🌸🌸🌸...
Aran yang kebetulan pulang malam hari ini terpaksa pulang jalan kaki mengingat uangnya yang untuk naik bus kota kurang. Karena belum terlalu hafal dengan rute jalanan kota Renstone, Aran pada akhirnya malah dibuat tersesat saat perjalanan pulang. Ia malah jalan melewati rute jalan yang agak sepi.
"Sepertinya aku kesasar."
Aran melihat ponselnya untuk melihat jam. Ternyata sudah menunjukan hampir jam sepuluh malam dan ia belum pulang. Karena jalanan yang ia lewati lumayan sepi akhirnya Aran memutuskan menggunakan aplikasi map digital, namun sialnya batre ponselnya keburu mati.
"Aduh kenapa harus mati sih!" Gerutu Aran yang kemudian tiba-tiba merasa sedang diikuti. Ia pun menoleh sedikit kebelang dan ternyata ada dua orang pria mencurigakan yang berjalan dibelakangnya.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Aran mulai panik. Tapi ia ingat ajaran neneknya jika dalam situasi seperti saat ini ia harus tetap tenang. Aran pun terus berjalan tanpa menoleh, sialnya dua pria aneh itu malah tiba-tiba menghadang Aran dan mengganggunya.
"Malam nona yang cantik, kau sendirian saja mau kami temani tidak?"
"Mau apa kalian? Pergilah aku tak punya uang!"
Kedua pria itu tertawa. "Uang? Kami tidak minta uangmu, kami minta dirimu saja sudah cukup kok!"
Kedua pria itu semakin kurang ajar, ia malah menarik tangan Aran dan memaksanya ikut.
"Tidak lepaskan aku! Aku tak mau ikut kalian!"
"Jangan sok jual mahal, dasar j@lang!"
"Lepaskan!"
Aran menginjak kaki kedua orang itu lalu melarikan diri.
Sekuat tenanga Aran berlari sekencang mungkin, sampai-sampai dirinya hampir saja tertabrak mobil bmw yang tengah melaju cukup kencang dari arah kanannya. Untungnya mobil itu langsung mengerem mendadak.
"Brengsek! Mau mati saja masih menyusahkan orang!" Kesal pengendara mobil yang tak lain adalah Ruka.
Ruka pun langsung turun dari mobil untuk memastikan orang yang hampir tertabrak olehnya baik-baik saja.
"Kau baik-baik sa— kau kan?" Ruka sedikit kaget saat tahu wanita yang hampir tertabrak mobilnya ternyata pegawainya sendiri.
Kedua pria yang mengejar Aran pun datang. Melihat mereka Aran pun ketakutan dan refleks minta tolong pada Ruka.
"Tuan Ruka, tolong aku mereka mau berbuat jahat padaku!"
Tadinya Ruka kesal melihat Aran yang berlari sembarangan. Namun melihatnya ketakutan begini seketika ia jadi merasa kasihan.
"Cepat kembalikan wanita itu pada kami!" Seru bandit itu.
"Kembalikan? Memang wanita ini milik kalian?" jawab Ruka santai.
"Jangan sok jadi pahlawan kau! Cepat serahkan wanita itu!"
"Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?" Tantang Ruka dengan raut wajahnya yang tengil.
"Brengsek! Sudah bosan hidup rupanya kau!"
"Tunggu!" Para bandit yang menyerang Ruka pun berhenti.
"Begini saja, kuberi kalian sebuah cek berisi uang setelah itu pergi dari sini!" Ruka mencoba memberi penawaran kepada para ba
"Heh, dasar orang kaya! Memang berapa kau mau beri kami?"
"Satu juta?"
Kedua pria itu pun langsung tersenyum lebar.
"Baiklah, sekarang juga berikan ceknya."
Ruka mau memberikan cek pada para bandit itu namun sempat dihalangi Aran. "Tidak tuan, kau tidak perlu lakukan itu!"
Sayangnya Ruka tak menjawab apapun dan hanya mengedipkan sebelah matanya ke arah Aran.
"Ini ceknya!" Ruka menyelipkan cek itu diantara jemarinya dan menyodorkannya ke arah dua orang pria itu.
Saking senangnya bisa mendapat uang sebanyak itu secara. mudaj, kedua pria itu pun sampai tidak sadar kalau sedang dipermainkan Ruka. Saat mereka mau meraih cek itu dari tangan Ruka, dengan mudahnya Ruka malah menghajar keduanya sekaligus hingga mereka minta ampun.
Ruka yang sudah mengalahkan mereka pun menggertak, "Pergi dari sini sebelum aku buat kalian tidak bisa bicara selamanya!"
"Ba- baik tuan kami pergi." Kedua penjahat itu pun lari terbirit-birit..
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Ruka memastikan keadaan Aran.
Sayangnya bukannya mejawab iya atau tidak, Aran malah menitikan air mata. Entah kenapa melihat Ruka mengusir penjahat barusan, seketika mengingatkan Aran pada kejadian beberapa tahun silam saat Ruka datang sebagai dewa penolong dirinya dan neneknya yang ganggu Angli dan anak buahnya di Kelvari.
"Hei, kenapa kau malah menangis gadis aneh?!" Tanya Ruka yang jadi bingung dibuatnya.
Aran pun langsung menghapus air matanya dan mengatakan ttidak apa-apa Tuan. "Tuan terima kasih sudah menolongku. Kalau begitu au permisi dulu."
"Tunggu!" Ruka menarik tangan Aran yang mau pergi. "Sudah malam, biar aku antar kau pulang!"
"Eh, tidak perlu Tuan aku bisa—"
"Jangan membantah atasanmu!" Tegas Ruka yang kemudian memaksa Aran masuk ke mobilnya. Aran pun akhirnya tak ada pilihan lain selain mengikuti mau bosnya itu.
Saat sudah mau sampai sampai apartemennya Aran meminta agar Ruka menurunkannya di pinggir jalan dekat apartemennya.
"Kenapa minta turun disini, memang dimana tempat tinggalmu?"
"Itu— apartemenku sudah dekat. Terlebih tuan kan bosnya dan aku cuma karyawan rendahan.Jadinya aku tak mau orang berpikir aneh-aneh."
Ruka paham makasud Aran ditambah gadis itu bersikukuh turun, Ruka pun akhirnya menurutinya dan menurunkan Aran seperti yang dimintanya..
"Hei, sapa namamu?" Tanya Ruka sebelum Aran turun.
"Namaku Arana Haurin," tandas Aran lalu.
"Oke, kalau begitu silakan turun."
"Sekali lagi terima kasih banyak sudah menolongku, aku permisi duliu. Selamat malam tuan Ruka," ucap Aran yang kemudian turun.
"Jadi namanya Arana?" Ruka lalu menyeringai kecil.
...🌸🌸🌸...
VOTE, LIKE, COMMENT DAN GIVENYA JANGAN LUPA KASIH NILAI OKE 🙂