
Gelap dan sejuk, seperti itulah yang tubuh Aran rasakan saat ini. Tidak ada lagi rasa panas yang terasa membakar kulitnya.
Apa aku sudah di surga?
Perlahan mata Aran pun terbuka, penglihatan samar-samarnya perlahan mulai bisa melihat semuanya dengan jelas. Yang ia sadari adalah pemandang langit-langit ruangannya yang interiornya tidak asing bagi Aran.
Rumah sakit?
Benar! Tidak salah lagi ini pasti ruangan rumah sakit. Tapi kenapa aku disini? Bukankah tadi aku terjebak di gudang yang terbakar? Siapa yang menolongku dan membawaku kesini?
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Seorang pria dengan pakaian formal yang tampak mahal datang dengan membawa tentengan dan sebuket bunga ditangannya. Ia berjalan ke arah tempat Aran berbaring saat ini.
"Syukurlah ternyata kau sudah sadar Aran," ucap pria itu.
"Sean?"
Aran yang berbaring seketika bangun dan duduk bersandar di ranjang sambil memandangi Sean dan bertanya-tanya.
Apakah Sean yang sudah membawanya kerumah sakit?
Setelah meletakan buket bunga yang ia bawa ke vas, Sean kemudian meletakan tentengan yang berisi makanan itu di meja dekat ranjang yang ditempati Aran.
"Jadi kau sudah sadar, aku sungguh senang sekali..." Sean tersenyum dan bahagia sekaligus lega, melihat Aran yang baik-baik saja dan tidak ada luka yang serius. Hanya sedikit luka di keningnya saja yang harus dibalut perban tipis.
"Sean apa kau yang membawaku kesini?"
"Ya, aku yang membawaku ke sini."
Aran melihat ke arah tangan kiri Sean yang diperban saat itu. Ia rasa itu luka akibat menolongnya tadi. Hal itu membuat Aran merasa berhutang budi pada Sean.
"Sean terima kasih ya..., Kalau kau tidak ada mungkin aku sudah—"
"Sudahlah..." Sean meraih tangan Aran dan menggenggamnya lalu tersenyum. "Yang terpenting kau tidak terluka bukan?"
Aran terperangai sejenak, ia sungguh merasa beruntung bisa mengenal Sean yang selalu mau membantunya.
Aku benar-benar berhutang budi pada pria ini.
"Aran, lain kali... Tolong jangan membuatku takut. Saat aku tahu kau terjebak di dalam gudang yang terbakar itu... Rasanya aku seperti mau mati. Jadi— kumohon jangan membuatku takut lagi, oke?" Sean menatap Aran dengan tatapan penuh ketakutan dan penyesalan. Tangannya pun semakin erat menggenggam tangan Aran yang ramping.
"Maaf ya, sudah membuatmu khawatir," ucap Aran sambil menggenggam balik tangan pria yang bersamanya itu.
...🌸🌸🌸...
Setelah dinyatakan boleh pulang, Aran pun diantar oleh Sean pulang ke rumahnya. Disana ia langsung disambut oleh Risa dan kedua anaknya yang khawatir dengan keadaan ibunya.
"Mama..." gadis kecil itu berlari dan langsung memeluk mamanya dengan perasaan lega.
"Jia takut sekali... Mama baik-baik saja kan? Huhu..." Sambil menangis gadis kecil itu memeluk Aran dengan erat.
Theo yang tidak bisa lagi pura-pura tenang pun, pada akhirnya reflek ikut memeluk mamanya dan memastikan kalau sang mama baik-baik saja. Theo yang biasanya selalu dingin dan jarang bereaksi berlebihan kini terlihat sangat khawatir dan takut, bahkan Aran bisa merasakan bahunya agak gemetar.
Paham perasaan anak-anaknya saat ini, Aran pun langsung memeluk balik kedua buah hatinya itu dan berkata kalau ia baik-baik saja.
"Dan ini semua juga berkat paman Sean. Dia yang sudah menolong dan membawa mama ke rumah sakit."
Jia dan Theo pun langsung berterima kasih pada Sean saat itu juga. Begitupun Risa yang sebagai teman baik Aran ikut berterima kasih.
"Sudahlah tidak apa-apa. Um— kalau begitu Aran, aku permisi pulang dulu. Kau istirahat saja dulu dan tidak perlu masuk kerja untuk beberapa hari."
"Iya tuan Sean. Sekali lagi, terima kasih banyak atas semua pertolonganmu. Aku akan selalu ingat budi baikmu ini," Aran membungkuk berterima kasih.
"Sama-sama. Buatku keselamatanmu adalah yang terpenting. Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa."
Sean pun pergi kembali ke mobilnya. Di dalam mobil sebelum pergi dari sana, Sean bertanya pada dirinya sendiri.
...🌸🌸🌸...
Tiga hari pasca kebakaran gudang Aran akhirnya kembali kerja. Dan saat ia masuk, dirinya diberitahu kalau penyebab kebarakan kemarin adalah akibat seorang pekerja gudang yang ceroboh meninggalkan putung rokok yang masih menyala, sehingga mematik bahan kimia yang mudah terbakar. Pegawai itu pun akhirnya dipecat dan gudang pun sudah mulai diperbaiki. Dengan sistem kerja Skyper yang modern dan cepat, maka tidak sampai dua minggu gudang utama sudah kembali bisa dipakai lagi.
Hari itu Aran terlihat membawa bekal berisi makan siang. Saat ia baru selesai ganti baju, Chika tiba-tiba saja datang dan menyambutnya dengan riang.
"Aran akhirnya kau kembali kerja. Tadinya kalau kau belum masuk, aku mau menjengukmu ke rumah. Tapi ternyata kau sudah masuk. Aku senang sekali...!" Chika sampai memeluk Aran kuat saking senangnya.
"Terima kasih sudah menyambutku Chika. Tapi aku tidak apa-apa kok... jadi jangan khawatir."
"Baguslah kalau begitu tapi—" tiba-tiba Chika menyadari tentengan milik Aran yang berisi kotak makan siang. Ia pun bertanya untuk siapa kotak makan itu? Bukankah, setahuku Aran sudah tidak lagi membuatkan tuan Ruka bekal?
"Jadi Aran untuk siapa bekal itu? Jangan-jangan tuan Ruka..."
"Eh, bu- bukan ini... untuk tuan Sean."
"Huh? Tuan Sean?"
Aran mengangguk, lalu menjelaskan kalau ia sengaja membawakan bekal itu untuk Sean sebagai tanda terima. Kasih karena Sean sudah menolongnya dari gudang waktu itu.
"Oh jadi bekal untuk sang pahlawan? Ya ampun romantis sekali sih..." Ucap Chika yang mulai menggoda Aran dengan usil.
...----------------...
Saat jam makan siang tiba, Aran yang ingin membawakan bekal makan siang untuk Sean tak sengaja berpapasan dengan Ruka dan Rowen. Dan seperti biasa, Rowen tanpa canggung menyapa Aran dan menanyakan kabarnya dengan penuh perhatian. Ia juga menanyakan perihal seperti buah stroberi yang dikirimnya kemarin.
"Aran aku senang sekali kau baik-baik saja. Dan—" Rowen melihat ke arah Ruka yang tampak tak peduli dan malah terus jalan, tanpa melirik sama sekali. "Ah tidak jadi. Sudah ya Aran aku duluan..."
Wajah Aran seketika sedih menyadari Ruka yang bersikap begitu dingin, bahkan sama sekali seperti tak menganggapnya. Tapi untuk apa aku sedih? Bukankah itu justru bagus? Dengan Ruka yang tidak peduli padanya Aran bisa lebih mudah untuk membencinya.
"Tapi kenapa...? Dibanding ingin membencinya, aku lebih merasa sedih dan kecewa melihatnya mengabaikanku? Sebenarnya apa mauku?"
...****************...
Setibanya di ruangannya, Ruka langsung duduk di sofa dan membuka jas serta kemejanya. Disana terlihat punggung Ruka yang dibalut oleh perban. Sementara Rowen yang baru saja mengambil kotak P3K bersiap untuk mengganti balutan luka bakar di punggung Ruka.
Dengan hati-hati Rowen melepas balutan luka bakar di punggung bosnya itu lalu mengoleskan obat dan menggantinya dengan yang baru. Setelah selesai membalut luka bosnya, tiba-tiba Rowen pun bertanya kepada Ruka.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kau beritahu Aran kalau kaulah orang yang sudah menolongnya dari kebaran itu? Aku rasa ini tidak adil, bagaimana pun— kau adalah orang yang sudah sampai nekat masuk ke dalam gudang itu demi dirinya." Bahkan meski Rowen menyukai Aran, ia tidak mau kalau sampai Aran tidak tahu pengorbanan bosnya itu.
"Lebih baik dia tidak tahu, Lagipula— dia tahu atau tidak, itu semua tidak akan merubah apapun diantara aku dan dirinya." Ruka memakai kembali setelan jasnya.
"T- tapi tuan. Setidaknya dia harus berterima kasih padamu."
"Tidak perlu, biarkan semua seperti ini saja."
Dari ucapannya padaku terakhir kali, jelas menyiratkan Aran terganggu dengan kehadiranku. Jadi aku rasa lebih baik dia tidak tahu tentang ini. Biarkan semua berjalan senormal mungkin seperti yang dia mau. Hidup tenang tanpa aku muncul di kehidupannya.
Ruka lalu berdiri dan menyentil kepala Rowen hingga membuatnya meringis.
"Argh! Kenapa kau menyentilku?!"
"Makanya jangan memasang wajah sok sedih begitu. Lagipula hubunganku dan Arana kan tidak lebih dari sekedar bos dan bawahan, kenapa kau yang pusing?"
"Ah iya, kau benar sih..."
Tapi meskipun begitu, tetap saja Rowen aku tidak merasa puas sama sekali. Seharusnya aku senang karena aku tuan Ruka tidak akan menjadi sainganku mendapatkan Aran tapi... Tapi kenapa rasanya jadi tidak menyenangkan sama sekali? Abena rasa seperti pecundang yang hanya bisa mendapatkan yang aku mau karena lawanku mengalah.
...🌸🌸🌸...
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, COMMENT