
Setengah jam kemudian bel apartemen mewah Ruka pun berbunyi. Ia yang sudah tahu siapa tamunya itu pun segera membukakan pintu.
Saat ia membuka pintu, Ruka langsung dibuat terperangai melihat sosok Aran yang tidak biasa baginya. Jika di kantor Ruka selalu melihat Aran memakai seragam dengan rambut diikat penuh. Kali ini ia cukup dibuat pangling melihat Aran yang tak memakai seragam, serta rambutnya yang gelap dan panjang tak diikat. Menurut Ruka, Aran tampak menawan dan semakin cantik dengan penampilan seperti ini bahkan dengan make up minim sekalipun. Rok selutut dengan atasan kaos ketat yang dipadukan caridigan warna pastel yang tidak dikancing, membuat Ruka sadar kalau wanita ini memiliki ukuran dada yang sangat sempurna.
Harus kuakui, secara fisik Arana adalah tipe idamanku.
"Tuan kenapa anda menatapku begitu—?"
Wajah Aran seketika memerah. Ia pun langsung memalingkan tubuhnya saat ia sadar Ruka menatap ke arah gunung kembar miliknya.
"Um tidak apa, silakan masuk."
Aran akhirnya masuk ke dalam unit apartemen super mewah Ruka yang berada di Diamond palace. Apartemen dengan biaya sewa termahal di negeri ini. Sepertinya Ruka sendiri tidak perlu bayar sewa, mengingat diamond palace masih dibawah naungan skyper group.
"Silakan duduk." Ruka mempersilakan Aran lalu menawarinya minum.
"Kalau begitu aku akan buatkan teh untukmu."
"Eh tidak usah!" Aran yang baru saja duduk langsung bangkit lagi dan berkata, kalau biar dia saja yang buat minumannya sendiri. Aran melakukan hal itu karena sadar kalau Ruka saat ini sedang terluka.
"Sudahlah, meski kau bawahanku tapi kalau disini kau adalah tamu jadi—hm..."
Ruka langsung tersentak dan terdiam, melihat tiba-tiba saja Aran berdiri didepannya dan mengentikannya bicara dengan menyentukan jemari di bibirnya.
"Tuan lebih baik anda duduk, dan biarkan aku saja yang buatkan minum untuk kita okey...?"
Dan entah sihir apa yang dimiliki Aran hingga bisa membuat Ruka dengan begitu saja menuruti ucapan wanita itu, dengan langsung duduk menunggu disofa.
Kenapa aku malah menurut begitu saja padanya?
Tidak sampai sepuluh menit, Aran pun datang dengan membawa dua cangkir kopi untuknya dan Ruka.
"Ini tuan kopi anda."
Aran kemudian duduk di sofa yang yang berbeda dengan tempat Ruka duduk. Sejenak suasana terasa canggung, untungnya hal itu tidak berlangsung lama setelah Ruka menyesap kopi miliknya dan memuji kalau kopi buatan Aran enak.
"Terima kasih..."
Ruka melirik Aran yang sejak tadi tertunduk memikirkan sesuatu sambil memainkan jemarinya.
"Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja," ucap Ruka seraya bisa menebak apa yang dirasakan Aran saat ini.
Dan itu memang benar, tujuan Aran datang kesin memang tujuannya adalah untuk berterima kasih.
"Tuan, kenapa anda tidak bilang?"
Ruka yang baru saja ingin menyesap kopi pun terdiam. Ia meletakan cangkir kopi itu kembali lalu tersenyum kecil.
"Bilang apa? Bilang kalau aku sudah menyelamatkanmu, begitu?"
"Ya... setidaknya biarkan aku berterima kasih padamu."
"Tidak perlu, lagipula kau pegawaiku, sudah sewajarnya pimpinan melindungi bawahannya bukan?"
Aran mengatupkan gerahamnya seraya kesal dan kecewa. Jadi maksudnya jika pegawai lain yang terjebak disana bukan aku, dia tetap akan mengorbakan nyawanya? Bodohnya aku! Kupikir aku spesial, ternyata...
"Jadi sekarang kau sudah menjengukku, lalu apa lagi? Kalau hanya ingin bilang terima kasih tidak perlu repot-repot."
Ruka melihat Aran yang tiba-tiba saja berdiri dan berkata, "Tuan Ruka, aku minta maaf karena sudah membuatmu terluka. Oleh karena itu aku kemari secara pribadi dengan maksud ingin berterima kasih padamu. Jadi sebagai bentuk terima kasihku, silakan anda minta apa saja dariku."
Senyuman serigala Ruka pun muncul, pria itu lalu berdiri dan mendekati Aran. Jemari panjanganya mengangkat dagu Aran mendongak menatapnya. Saat ini gadis itu bisa melihat dengan jelas raut wajah Ruka yang tersenyum, dan menatapnya dengan tatapan yang penuh tipu muslihat.
"Kau bilang, aku boleh minta apapun kan?"
Aran tertegun. Ya dirinya memang mengatakan hal demikian Tapi jika itu Ruka, entah kenapa dirinya jadi merasa gugup sekali.
"Apapun?" Ruka lagi dan lagi mengatakannya dengan penuh penekanan hingga embuat perasan Aran semakin tidak menentu.
"I- iya, apapun," jawab Aran sambil terus menatap pria itu dengan was-was.
Kemudian Ruka melepaskan jemarinya dari dagu Aran dan menarik tubuhnya agak menjauh. Melihat hal itu, Aran jadi penasaran apa yang diinginkan Ruka sebenarnya?
"Baiklah kalau begitu, cium aku sekarang."
"Huh?" Aran seketika terkejut mendengar Ruka berkata seperti itu. "Ci- cium maksud anda?"
"Kau bilang aku bisa minta apapun kan, sekarang sebagai ucapan terima kasihmu aku minta kau menciumku."
Apa? Ruka apa dia sedang mempermainkan aku?! Bagaimana bisa aku menciumnya sementara dia saat ini punya tunangan!
"Tu- tuan apa anda yakin, bukankah anda sudah—"
"Kau bilang apapun, jadi jangan ingkar."
Aku memang bilang seperti itu, tapi kan— ah sudahlah... Hanya cium kan?
Aran tampak malu-malu mendekati Ruka dan mencium pipinya.
"Sudah."
"Eh? Ma- maksudmu..." Tentu saja aku paham, tapi bagaimana mungkin?
"Jangan buat kesabaranku habis nona Arana."
Aran menghela nafas. Bagaimana pun aku sudah berjanji.
Ia mengulurkan kedua tangannya da memegangi wajah Ruka. Karena Ruka yang jauh lebih tinggi darinya, Aran yang tidak memakai heels pun terpaksa harus berjinjit dan agar bisa menciumnya. Melihat Aran yang agak sulit menjangkaunya, Ruka pun agak menundukan kepalanya dan akhirnya mereka pun berciuman. Tadinya Aran hanya bermaksud sekedar memberi kecupan singkat, namun yang terjadi malah Ruka sengaj membuat ciuman itu lebih dalam lagi. Aran yang berusaha agar tidak terbuai pun pada akhirnya kalah dan malah semakin dalam dan intens. Tanpa terasa keduanya malah saling menikmati kecupan mesra yang penuh gairah.
Kerinduannya dengan sosok suami membuat Aran terbawa suasana. Pertahanannya runtuh begitu saja, yang ia rasakan saat ini hanyalah ia ingin terus bersama pria ini, dan menjadikannya memilikinya sepenuhnya.
Sampai pada akhirnya keduanya saling melepaskan diri. Aran mengelap bibirnya yang basah, sementara Ruka malah menjilati bibirnya dan berkata, "Bibirmu rasa buah peach, aku suka."
Sontak wajah Aran memerah mendengarnya. Ia kemudian minta izin pada bosnya untuk membiarkannya melihat luka dipunggungnya. Dan tanpa basa-basi, Ruka pun langsung membuka kemejanya dan membiarkan Aran melihat lukanya yang tertutup perban.
Perasaan bersalah langsung timbul seketika Aran melihat langsung perban yang membalut luka dipunggung pria itu. Ia lalu menyentuh perban tersebut perlahan dengan mata berkaca-kaca.
Karena menolongku, dia jadi sampat terluka begini?
"Maafkan aku ya...," ungkap Aran dengan penuh rasa bersalah.
Mendengar itu Ruka langsung berkata kalau itu tidak masalah dengan luka itu.
"Tapi tetap saja pasti sakit, lalu siapa yang akan mengganti perbanmu setiap hari, apa nona Bianca?" Lidah Aran langsung merasa getir tiap kali menyebut wanita itu. Sejujurnya Aran tidak mau wanita lain merawatnya, tapi bagaimanapun saat ini memang Bianca lebin berhak atas Ruka.
"Tuan Ruka aku— eh?"
Mata Aran terbelalak kaget saat tiba-tiba saja Ruka memeluknya dan berkata, "Sebagai tanda terima kasihmu tolong kau rawat aku."
Ya, aku ingin sekali merawatmu. Merawatmu seperti dulu saat kau masih di Kelvari.
"Jadi apa kau mau merawatku nona Arana?"
Tanpa ragu Aran mengangguk bersedia.
Maafkan aku yang tidak bisa tegas pada diri sendiri. Aku sadar kalau aku masih terlalu mencintainya, jadi kali ini aku akan merawatnya.
Setelah setuju untuk merawat Ruka. Ia pun segera membantu Ruka membersihkan tubuhnya dan mengganti perban lukanya. Setelah itu karena ini sudah mau masuk jam makan malam, Aran menawarkan apa Ruka mau dimasakan makan malam? Tentu saja dengan senang hati Ruka mengiyakannya.
Karena isi kulkan Ruka tidak terlalu banyak bahan makanan, alhasil Aran hanya bisa membuatkan nasi goreng bacon untuknya makan malam. Setelah jadi Aran membawa masakannya ke ruang makan dan minta Ruka agar segera makan.
"Bagaimana rasanya?" Aran bertanya kepada Ruka yang baru saja mencicipi nasi gorengnya.
"Ini enak,"
"Syukurlah... Kalau begitu."
"Kau sendiri tidak makan?"
"Aku tidak usah." Aran memang sengaja hanya membuat satu porsi, karena setelah mencuci piring bekas Ruka makan Aran berniat untuk pulang.
"Kau harus makan, ini..." Ruka menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke mulut Aran. Karena dirinya yang sudah mulai merasa lapar, alhasil ia pun merima suapan dari Ruka. Pria itu pun tiba-tiba malah tersenyum, dan membuat Aran jadi salah tingkah.
Aduh aku kenapa sih! Kenapa masih saja merasa salah tingkah di depan Ruka?
Setelah makan dan mencuci piring, Aran lalu pamit pada Ruka untuk pulang. Namun saat Aran mau membuka pintu untuk pulang, Ruka malah langsung menahannya dengan telapak tangannya. Melihat itu Aran langsung kaget dan berkata, "Ada apa tuan?"
"Menginaplah disini malam ini."
Aran syok mendengar permintaan Ruka, ia tidak menyangka kalau pria itu akan memintanya menginap.
"Tuan maaf, tapi aku tidak bisa hal itu karena..." Karena anak-anak dirumah pasti akan khawatir padaku.
"Karena apa? Jika tentang Bianca kau tidak perlu khawatir."
Ah ya, Aran kembali diingatkan tentang Bianca yang saat ini sudah saha jadi tunangan Ruka. Jika aku disini menginap bukankah sama saja aku sedang ada main dengan tunangan orang?
Ruka tiba-tiba memeluk Aran ke dal dekapannya dan berkata dengan suara lembut kalau ia ingin sekali Aran merawatnya seharian. "Kumohon nona Arana... Tinggalah semalam disini. Aku janji tidak akan melakukan hal apapun padamu."
Mendengar Ruka memohon padanya dengan nada pasrah seolah tak bedaya itu, membuat Aran jadi semakin tidak ingin meninggalkannya. Tapi jika aku tinggal dan merawatnya disini, bagaimana dengan anak-anak dirumah?
Ruka meraih tangan Aran lalu memohon dengan tatapannya yang memelas seperti anak anjing.
"Nona Arana jangan pergi..."
"Tuan tolong jangan seperti ini..."Aran jadi bingung dibuatnya. Tapi Ruka terluka gara-gara aku, disini juga tidak ada yang merawatnya. Kalau hanya sehari mungkin tidak apa-apa kan?
Setelah menghela nafas panjang Aran pun memutuskan kalau ia bersedia menginap di disini semalam.
"Benarkah? Terima kasih...!" Ruka yang kegirangan langsung terlihat seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan.
Melihat Ruka sesenang ini karena diriku, perasaanku jadi ikut bahagia berkali melihatnya. Theo, Jia, maafkan mama ya, malam ini biarakan mama menemani papa kalian dulu.
"Tuan, tapi sebelum itu aku mau menelepon keluargaku untuk memberitahukan mereka kalau aku tidak pulang."
"Silakan saja," ucap Ruka yang kemudian pergi.
...🌸🌸🌸...