Remember Me Husband

Remember Me Husband
Paman Pahlwan



Sepulangnya dari meeting di salah satu hotel. Di perjalanan saat kembali ke kantor Rowen yang saat itu memegang setir kemudi mobil Ruka dibuat terpaksa mengerem mendadak melihat tiba-tiba saja ada seorang gadis kecil yang berlari tanpa melihat kanan kiri!


CIRT!


Suara tarikan rem mobil yang begitu tiba-tiba.


"Fiuh, hampir saja aku menabraknya!" Rowen masih merasa syok karena hampir saja menabrak seorang anak kecil.


Sementara Ruka yang duduk dikursi belakang pun langsung bertanya dengan nada kesal.


"Apa ada?"


"I- itu tuan, tiba-tiba saja didepan muncul seorang anak kecil. Benar-benar mengagetkan."


"Lalu bagaimana anak itu?"


Eh? Itu— Rowen sampai lupa memastikannya. Ia pun segera bergegas keluar untuk memastikan anak kecil yang hampir ditabraknya barusan. Rowen yang sudah turun dari mobil pun langsung menghampiri gadis kecil (Jia) yang saat itu tengah duduk menangis diatas jalan raya.


"Gadis kecil yang cantik, kau tidak apa-apa kan?" Rowen bertanya tentang keadaan Jia.


Sejenak gadis itu pun tediam lalu menatap Rowen dengan mata bulatnya yang masih berlinangan air mata. Rowen pikir sudah selesai menangisnya, tapo tak lama kemudian gadis itu malah menangis lagi dengan kerasnya.


Tidak memiliki pengalaman dengan anak kecil, Rowen pun jadi panik dan bingung harus bagaimana untuk menenangkan gadis kecil yang saat ini tengah menangis itu.


"Huwa... Huwa....!!"


Gadis itu terus menangis hingga Rowen semakin kebingungan.


Sementara di dalam mobil, Ruka yang masih menunggu Rowen kembali seketika mulai habis kesabaran. Ia pun menyusul turun dari dalam mobil untuk memastikannya.


"Astaga... sebenarnya apa yang dia lakukan sih!"


Ruka tidak habis pikir melihat Rowen yang masih belum bisa membuat gadis kecil itu berhenti menangis. Karena merasa waktunya akan terbuang sia-sia jika terus begini, Ruka pun pada akhirnya memutuskan turun tangan.


"Adik kecil jangan menangis lagi ya... Paman tidak jahat kok, coba katakan mana yang sakit?" Rowen terus mencoba menenangkan Jia.


Jia yang manangis keras pun tiba-tiba perlahan berhenti menangis dan berkata pada Rowen kalau ia sedih karena topi kesayangannya terbang dibawa angin, dan sekarang ia tidak tahu kemana topinya pergi.


"Itu topi pemberian mama..." ucap Jia kembali bersedih namun kali ini tidak menangis keras.


Tak lama seseorang pun datang menghampiri Jia dan membawakan sebuah topi jenis bucket hat warna putih dengan pita merah jambu.


"Ini topimu kan nona kecil?"


Jia yang agak kaget mendengar suara pria itu pun, langsung mendongakan kepalanya untuk mengetahui siapa orang yang sudah menemukan topinya.


Saat pertama kali mendongak Jia pun langsung terpana saat melihat langsung wajah Ruka yang rupawan. Matanya yang bulat reflek berkedip seperti boneka memandangi pesona Ruka yang menurut Jia sangat tampan.


Tak beda jauh dengan Jia, Ruka memandangi gadis kecil di hadapannya itu dengan tatapan lembut yang jarang ia perlihatkan. Dan entah kenapa ia malah langsung tersenyum melihat wajah malaikat Jia yang begitu murni dan menggemaskan saat memperhatikan dirinya.


Dan tanpa sadar tiba-tiba Jia malah mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Ruka sambil tersenyum.


"Terima kasih paman..."


Sontak desiran pasir yang terasa hangat seperti menyapu batin Ruka mendengarnya bicara seperti itu.


"Sama-sama," jawab Ruka dengan lembut.


Tak lama, seorang wanita berseragam daycare tempat Jia dititipkan, berlari tergesa-gesa menghampirinya.


"Jia... kau tidak apa-apa sayang? Aku khawatir sekali saat tahu kau tidak ada bersama teman-temanmu."


"Iya bu guru, Jia tidak apa-apa kok!"


"Syukurlah..." Bu guru merasa lega.


Kenyataannya Jia memang tidak apa-apa, dirinya hanya sedikit kaget hingga terjatuh dan bajunya kotor. Untungnya tidak ada luka berarti.


"Bu guru... Jia tidak apa-apa karena ada dua paman ini!" Ungkap Jia yang seraya ingin agar bu gurunya itu berterima kasih pada Ruka dan Rowen.


"Nona, kedepannya tolong anda jangan ceroboh lagi dalam memantau anak-anak!" Ruka menegur bu guru yang menurutnya sudah lalai menjaga anak yang dititipkan padanya.


"Iya tuan, aku tahu ini kelalaianku aku minta maaf. Dan sekali lagi, terima kasih atas perhatian anda pada Jia."


"Para paman terima kasih sudah membantu menemukan topi Jia..."


"Sama-sama peri kecil," balas Rowen.


Ruka seketika berjongkok dihadapan Jia dan menatapnya.


"Jadi namamu Jia? "


"Em!" Jia mengangguk.


"Nah Jia, lain kali... tolong jangan berlari dijalan seperti tadi okey? Itu sangat berbahaya kau paham?"


"Iya, Jia tidak akan seperti itu lagi, Janji paman pahlawan tampan."


Eh? Ruka sedikit lucu dengan panggilan dari Jia. Tapi dilain sisi dia cukup senang mendengar panggilan itu.


"Jia anak pintar, yasudah aku pergi dulu." Ruka mengusap lembut kepala Jia lalu berdiri dan bergegas mengajak Rowen pergi. Namun saat Ruka berbalik badan melangkah, Jia tiba-tiba menarik lengan jas Ruka dan membuat pria itu berhenti.


"Ada apa?"


Ruka pun tersenyum kecil dan meyakinkan gadis kecil itu kalau, lain kali mereka pasti bisa bertemu lagi.


Mendengar itu Jia pun langsung senang dan kemudian membiarkan Ruka pergi.


"Bye bye peri kecil!" Seru Rowen sambil melambaikan tangannya.


"Bye bye...!" Aran dengan ceria membalas lambaian tangan Rowen dan menyaksikan mobil sedan mewah itu pergi.


Sementara itu di dalam mobil, Rowen tak kuasa menggoda bosnya dengan berkata kalau pesona Ruka Arshavin bahkan mampu menghipnotis gadis kecil.


"Cerewet! Menyetir saja dengan benar!"


"Tapi tadi aku sungguh dibuat heran. Bagaimana bisa tian Ruka yang biasanya galak dan ditakuti mendadak jadi selembut itu. Seperti gadis kecil tadi punya sihir yang mampu meluluhkan anda ya?" Tandas Rowen bekelakar.


"Berani bicara lagi tidak ada gaji bulan ini!"


"Eh— iya oke aku diam!" Rowen akhirnya diam dna fokus menyetir.


Di belakang Ruka yang duduk sambil menyilangkan tangannya didada. Sebenarnya juga tengah merasa agak heran, kenapa dirinya seperti senang sekali saat melihat gadis kecil tadi. Padahal mereka saja baru saling bertemu hari ini.


Kenapa melihat gadis kecil itu tersenyum padaku tadi, hatiku rasanya hangat sekali? Seperti ada rasa bahagia yang sulit untuk aku jelaskan.


...🌸🌸🌸...


Malam harinya...


Setelah Aran selesai membacakan dongeng untuk putri kecilnya. Tiba-tiba saja Jia yang belum terlalu mengantuk mengatakan, kalau tadi siang ia baru saja bertemu seorang pahlawan yang sangat tampan.


"Hem, benarkah itu?" Aran seolah tampak penasaran dengan cerita putrinya.


Arana sendiri sudah diberitahu oleh pengasuh di daycare, kalau ada dua pria yang membantu Jia saat itu saat dia kabur berlari.


Apa maksud Jia paman pahlawan itu yang membantunya tadi siang?


Tadinya Aran tidak terlalu peduli dengan sosok dua pria itu. Tapi setelah mendengar putrinya memanggilnya begitu Aran jadi penasaran juga dibuatnya.


"Mama tahu kan, kalau Jia tadi hampir tertabrak mobil?"


"Iya dan saat tahu hal itu mama sempat marah pada Jia. Mama minta maaf ya, soalnya mama benar-benar khawatir tadi."


Jia membelai wajah mamanya dan menggeleng. "Mama tidak usah minta maaf, lagipula memang Jia juga salah."


Aran reflek memeluk putrinya dengan erat sambil berkata, kalau jantungnya hampir saja mau copot saat tahu Jia hampir tertabrak.


"Lain kali... Jia jangan seperti itu lagi ya? Mama tidak mau sampai terjadi apa-apa pada putri kesayangan mama..."


"Tapi topi pemberian mama tadi hampir hilang. Tapi untungnya tidak— dan itu berkat paman pahlawan super tampan." Jia langsung terlihat senang dan semangat menceritakan pahlawan yang dimaksud itu kepada mamanya. Alhasil Aran pun jadi semakin penasaran seperti apa sosok pahalawan yang Jia maksudkan itu.


"Oh iya Jia, bukankah yang menolong Jia ada dua paman. Lalu apakah yang Jia sebut paman pahlawan adalah keduanya?"


Jia menggeleng menampiknya.


"Lalu siapa?"


"Pamannya memang ada dua, yang pertama pamannya tampan, dia juga terlihat baik. Dan yang kedua, dia lebih tampan lagi dan badannya sedikit lebih tinggi dari paman pertama."


"Biar mama tebak, pasti Paman kedua ya yang Jia sebut pahlawan?"


"Em! Mama benar!" Aran mengangguk senang


"Lalu kenapa hanya paman kedua yang jadi pahlawan tampan, memang apa bedanya dengan paman pertama?"


"Itu— karena pertama, yang mendapatkan topi Jia itu paman kedua. Yang kedua... Karena meski sama-sama tampan, tapi paman kedua jauh lebih tampan dan Jia menyukainya saat paman itu menyentuh kepala Jia dengan tangannya yang besar dan lembut. Dan yang ketiga, Jia lebih suka baunya paman kedua..."


Jadi begitu... Aran jadi semakin penasaran sososknya.


Seperti apa pria itu? Apa dia setampan Ruka atau lebih?


Eh? Ya ampun kenapa semua penjabaran Jia malah membuat aku langsung ingat sama Ruka sih! Aran menyangkal pikirannya


"Mama kenapa?"


"Eh ti- tidak apa-apa kok!"


"Oh iya Ma, bisa tidak ya, Jia bertemu paman pahlawan lagi?"


Aran menatap Jia dan berkata. "Semua kemungkinan itu bisa terjadi. Jadi tidak ada yang mustahil kan?"


Jia tersenyum. "Mama benar!"


"Yasudah sekarang Jia tidur ya, karena ini sudah semakin malam."


Jia pun mulai memejamkan matanya sambil berdoa di dalam hati.


Tuhan... Jia suka sekali pada paman pahlawan yang tampan itu. Jia minta tolong pertemukan Jia lagi dengan paman itu supaya Jia bisa kenalkan pada mama. Dan... Jia minta, semoga dia bisa menjadi papanya Jia amin.


...🌸🌸🌸...


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA TEMEN-TEMEN 💜