
Di ruangannya Ruka terlihat langsung murka saat ia tahu kalau putranya Theo, ternyata sudah sadarkan diri sejak semalam namun Aran malah tidak memberitahunya.
"Keterlaluan! Apa sebenarnya mau wanita itu? Bisa-bisanya dia tidak memberitahuku soal Theo yang sudah siuman!"
Sebagai asisten kepercayaan Ruka, Rowen pun mencoba menetralkan kemarahan bosnya dengan berkata, kalau mungkin bisa saja Aran belum sempat memberitahu karena sedang sibuk mengurus Theo.
"Sibuk? Oh jadi dia lebih sibuk dari seorang CEO yang bahkan meluangkan waktu beberapa menit untuk menelepon saja tidak bisa. Waw luar biasa sekali!"
Sepertinya ucapan Rowen bukannya membuat Ruka tenang malah membuatnya semakin tersulut emosi. Pria itu lalu mengambil jas hitam panjang miliknya dan bergegas pergi.
"Tuan Ruka anda mau kemana?"
"Rowen segera minta orang siapkan mobil untukku sekarang juga! Aku mau menemui putraku."
"Ta- tapi tuan Ruka..."
"Lakukan saja tanpa protes!"
"Ba- baik."
Rowen pun segera menelepon petugas agar menyiapkan mobil untuk Ruka.
Sebagai asisten yang tidak bisa banyak mengatur tuannya, Rowen hanya bisa menghela nafas melihat sang atasan yang pergi dengan suasana hati yang buruk.
"Huft...! Kalau bos sudah seperti ini, aku rasa percuma saja aku menghentikannya. Aku hanya bisa berharap semoga dia tidak membuat Aran kerepotan dengan emosinya itu."
Sebagai pria yang masih memiliki sisa rasa untuk Aran, Rowen sebenarnya juga ingin sekali saat ini berada didekat wanita itu, tapi sayangnya takdir sudah berubah. Kenyataannya ia sampai kapanpun sadar kalau Aran memang bukan untuknya.
"Aku hanya bisa berharap yang terbaik untukmu Aran."
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Ruka yang sudah berada di depan kamar tempat Theo dirawat pun langsung membuka pintu ruangan, dan menyelonong masuk tanpa ragu. Suasana hati Ruka yang memang sudah buruk kian bertambah buruk tatkala ia malah melihat Sean yang notabennya bukan siapa-siapa malah lebih dulu disana dibanding ia yang jelas ayah kandung Theo dan Jia.
Beraninya Arana membiarkan pria lain yang malah berada disini dibanding aku papanya Theo dan Jia, awas kau Arana!
"Paman Ruka..." Jia yang senang sekali melihat paman pahlawannya datang pun langsung berlari menghampirinya, dan Ruka pun langsung menggendong Jia.
"Halo putri cantiku."
"Aku pikir paman tidak akan datang."
"Tentu saja aku akan datang, karena aku tidak pernah ingkar janji."
Jia tersenyum senang.
Setelah menurunkan Jia, Ruka lalu menghampiri Theo yang masih terbaring di ranjang rumah sakit untuk menanyakan keadaan putranya tersebut.
"Aku baik paman. Oh iya Jia bilang, pamanlah yang sudah mendonorkan darah untukku. Apa itu benar?"
"Ya."
"Kalau begitu terima kasih banyak. Budi jasamu akan selalu aku ingat dan aku akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti."
Anak bodoh, bagaimana bisa kau bicara soal balas budi pada ayah kandungmu sendiri?
"Ya terserah, yang terpenting kau sudah sehat itu sudah cukup buatku."
Berada diantara kakaknya dan Ruka, Jia pun secara bergantian memperhatikan Theo dan Ruka yang menurutnya memiliki kemiripan saat bicara.
Kenapa cara bicara paman Ruka sama kakak itu mirip ya? Sama-sama dingin dan seperti canggung, tapi kalau sama Jia mereka berdua sangat baik. Ini aneh...?
"Ehem, maaf tuan Ruka kenapa anda tiba-tiba datang kesini?"
Sorot mata Ruka yang tajam seketika mengarah kepada Sean yang saat itu baru saja berdiri dari duduknya.
Pria sok akrab ini, dia pikir dia siapa berani bertanya begitu padaku?
"Tuan Sean, sepertinya kau lupa aku ini siapa?"
"Oh tentu saja aku tidak lupa kalau anda Ruka Arshavin yang sangat terkenal. Hanya saja kenapa anda bisa tiba-tiba saja kemari?"
Badut brengsek ini benar-benar menguji kesabaranku.
"Aku kemari karena ingin. Lalu tuan Sean sendiri kenapa kemari? Apa kau bagian dari keluarganya nona Arana?"
"Akuโ"
"Halo semua aku kemba- li..."
Aran yang baru saja datang sambil membawa menu yang dibelinya untuk cemilan pun langsung dibuat kaget saat melihat sosok Ruka di ruangan itu.
Ruka? Kenapa dia bisa ada disini?
Sementara itu Ruka yang melihat situasi saat ini sontak menyeringai lalu berkata dengan nada menyindir, "Wah wah... Seperti keluarga saja ya, sang pria menunggu anak-anak disini, sementara wanitanya baru datang membawa cemilan. Benar-benar kombinasi yang pas, iyakan nona Arana?"
Ruka menatap Aran dengan tersenyum, tapi meski begitu bagi Aran senyuman itu lebih terasa seperti sebuah peringatan bernada serangan.
"Tu- tuan Ruka, ma- maaf aku tidak tahu jika anda akan datang." Aran benar-benar gugup dan cemas melihat Ruka berada satu ruangan dengannya saat ini.
"Tidak, aku yang salah. Seharusnya aku yang minta maaf. Karena aku tidak tahu kalau nona Arana ternyata sedang kedatangan pria yang spesial."
Lagi-lagi Ruka bicara dengan nada santai namun sorot matanya terlihat tidak demikian. Sorot matanya justru menunjukan betapa murka pria itu saat ini pada Aran.
"Kalau begini sepertinya aku lebih baik pergi..."
"Tidak boleh!" Jia langsung menahan Ruka agar tidak meninggalkan ruangan.
"Paman Ruka tidak boleh pergi. Jiaโ sangat senang paman datang. Mama tidak boleh mengusir paman Ruka."
Aran merasa kalau putrinya benar-benar sudah terikat akan rasa cinta dan sayang dengan papa kandungnya. Kalau sudah begitu mau bagaimana lagi, tentu saja ia tidak akan melakukan hal yang bisa menghancurkan hati sang putri. Terlebih siapa aku bisa mengusir seorang Ruka Arshavin?
"Jia tenang saja, Mama tidak akan mengusir siapapun yang baik kepada anak-anak mama."
Disaat yang sama, Theo yang sejak tadi terus memperhatikan gelagat sang mama saat menghadapi Ruka. Hal itu membuat Theo jadi berpikir kalau, sang mama seperti tidak nyaman dengan kehadiran Ruka disini.
Kenapa Mama terlihat tidak nyaman dan tertekan saat bicara dengan paman Ruka? Apa pria itu membuat mama takut? Kalau begini, aku merasa tidak terlalu suka padanya. Tapi kenapa Jia bisa sangat menyukainya? Ini aneh...
Di dalam ruangan Aran terlihat tengah mengupas buah untuk putranya, sedangkan Jia ia sejak tadi duduk dipangkuan Ruka sambil diajari membaca buku bergambar. Sementara Sean duduk disebelah Aran membantunya mengupas buah untuk Theo.
Melihat Aran bersama Sean mengupas buah bersama, Ruka yang duduk sofa memangku Jia hanya bisa memberikan tatapan mencekam ke arah dua orang itu. Dan tentu saja tatapan Ruka itu berhasil membuat Arana menjadi gugup dan tidak bisa rileks karena merasa diintimidasi, akibatnya Aran jadi tidak fokus saat mengupas buah hingga pada akhirnya malah tangannya yang teriris pisau.
"Awh!!"
Mendengar hal itu Jia pun langsung turun di pangkuan Ruka dan menghampiri sang mama untuk memastikan. Sementara Sean ia berusaha mencari benda yang bisa digunakan untuk menghentikan darah.
Namun tiba-tiba saja Ruka mendekat dan tanpa ragu sama sekali langsung menarik jemari Aran dan mengisapnya ke mulutnya. Sontak semua yang ada di ruangan terutama Sean langsung terkesiap kaget melihatnya, begitupun Aran yang wajahnya seketika berubah merah seperti gurita rebus saat memandangi Ruka yang kini sedang menghisap jemarinya yang terluka.
Aran bisa merasakan Jemarinya terasa panas berada didalam mulut Ruka, hingga membuat tubuhnya pun seperti ikut mendidih.
Ya Tuhan, jantungku saat ini berdetak luar biasa, bahkan seolah semua orang seperti bisa mendengarnya.
Ruka menghisap jemari Aran cukup lama sampai darah tak keluar lagi. Ia lalu segera memanggil perawat agar membawakan kotak P3K. Setelah itu luka Aran dibersihkan dan dibalut plester luka.
"Terima kasih," ucap Aran kepada Ruka.
"Lain kali kalau sedang mengupas jangan malah fokus pada hal lain."
Aran membulatkan matanya. "Apa maksudmu?"
Ruka lalu menggodanya dengan setengah berbisik. "Apa sebesar itu pengaruhku hingga membuatmu tidak bisa konsentrasi. Aku tahu kau tidak fokus karena ada aku kan nona Arana? Lihat telingamu memerah tuh..."
Aran benar-benar berhasil dibuat malu oleh Ruka hanya dengan beberapa kalimat yang diucapkan pria itu.
Ruka kau keterlaluan, apakah dia sedang marah padaku makanya berbuat begini?
"Dengar, kau masih berhutang banyak penjelasan padaku. Termasuk penjelasan tentang Sean yang bisa-bisanya kau biarkan terlalu dekat dengan anak-anakku."
Apa? Jadi Ruka marah padaku soal Sean.
Satu jam berlalu, akhirnya aura peperangan antara Ruka dan Sean memudar karena Sean akhirnya harus kembali ke kantor untuk menghadiri rapat.
" Jia aku pulang dulu ya."
"Iya paman Sean."
"Theo semoga segera pulih."
Theo mengangguk dan berterima kasih.
"Sekali lagi terima kasih hadiahnya ya paman Sean," imbuh Theo.
"Sama-sama. Yasudah Aran aku pamit dulu ya..."
"Iya, terima kasih tuan Sean sudah mau datang menjenguk Theo."
"Bye paman Sean...!" Seru Jia dengan ceria.
Sementara Ruka yang saat itu berdiri bersandar di dekat pintu dengan tangan dilipat diperut tampak tersenyum jumawa melihat Sean yang akan segera pergi.
Sebelum keluar dan pergi, Sean pun berhenti sejenak untuk bicara pada Ruka yang masih besandar disana.
"Tuan Ruka masih disini, apa anda tidak sibuk?"
Ruka menyeringai dan membalas. "Kita memang sama-sama untuk Skyper group tapi kau pasti sudah tahu kalau level kita berbeda. Aku bisa kapan saja keluar masuk kantor, sementara kau meskipun jabatanmu direktur pemasaran, kau tetap saja hanya bawahanku!"
Mendengarnya emosi Sean cukup tersulut. Ck! Sialan kau Ruka Arshavin, kau menekanku dengan posisimu. Ingin rasanya aku memukul wajah sombong dan arogannya saat ini.
"Ya aku tahu level kita memang berbeda, tapi dimata Aran jabatan kita tidak penting bukan?"
Ruka melirik Sean dengan masam.
"Baiklah kalau begitu aku duluan bos Ruka."
"Ya pergilah..."
Dia pikir bisa meruntuhkanku saat ini, Sean kau itu bukan lawan sepadan buatku dalam hal apapun.
Dan sekarang di ruangan itu hanya tinggal mereka berempat yang notabennya adalah keluarga sesungguhnya. Theo yang masih butuh banyak istirahat pun tertidur lagi, sementara Jia juga sepertinya mulai mengantuk setelah ditemani main oleh Ruka cukup lama. Alhasil gadis kecip itu pun tertidur di pangkuan Ruka. Melihat Ruka tidak bisa bergerak karena ada Jia yang tertidur dipangkuannya. Aran lalu menghampiri pria itu dan menyarankan agar memindahkan Jia ke atas sofa. Akhirnya Jia yang tertidur pun dipindahkan keatas sofa agar bisa tidur lebih leluasa.
Disana baik Ruka maupun Aran sama-sama diam seribu bahasa. Namun tak lama kemudian, Ruka tiba-tiba saka menarik tangan Aran dan mengajaknya keluar.
"Tuan Ruka sakit, apa yang kau lakukan?!" Aran melepaskan tangannya secara paksa dari genggaman pria itu.
Ruka menundukan wajahnya dan menatap Aran dengan sangat dekat, saking dekatnya hingga membuat Aran gugup dan tak berani untuk menatapnya langsung.
"Jawab aku, kenapa ada Sean disini?"
"Aku juga tidak tahu. Tuan Sean tidak memberitahu akan kesini."
"Oh begitu. Lalu apa maksudmu dengan tidak memberitahuku kalau Theo sudah siuman?"
"I-itu..." Bagaimana aku memberitahumu, sementara ibu tirimu terus mengancamku jika aku dengan sengaja barusha menghubungimu.
"Kenapa diam? Jawab aku Arana!"
"Aku tidak mau memberitahumu karena bagiku tidak penting kau tahu!"
Geraham Ruka mengatup kuat, tangannya yang besar pun mengepal kokoh seraya menahan luapan emosinya yang seketika ingin meledak mendengar Aran mengatakan hal itu.
"Arana apa kau sadar dengan apa yang kau katakan barusan?"
"Ya, aku sadar."
Ruka yang semakin emosi lalu mengangkat dagu Aran dan menatapnya dengan kemarahan. "Dengarkan aku nona Arana Haurin, jika kau memang tidak suka padaku atau bahkan benci padaku aku tidak peduli. Tapi jika kau mencoba menjauhkanku dari anak-anakku maka aku tidak akan diam, aku akan melawanmu sekalipun kau ibunya mereka."
Pundak Aran yang kurus gemetar, dirinya sungguh tertekan saat ini. Disatu sisi ia benar-benar tidak bermaksud bicara begitu pada Ruka, tapi disisi lain ancaman Lusi benar-benar menghantuinya.
"Paman Ruka apa yang kau lakunan pada mamaku!?" Seru suara pria kecil yang baru saja muncul dari balik pintu kamar Theo dirawat.
Aran dan Ruka menoleh melihat Theo yang tiba-tiba saja memergoki keduanya. Pria kecil itu tampak marah dan langsung menegur Ruka dengan penuh amarah.
"Paman Ruka jika kau berani menyakiti mamaku, aku tidak akan tinggal diam! Memangnya paman siapa berani sekali menyakiti mama?!" Dengan tubuh kecilnya Theo berdiri didepan Aran dengan tanpa ragu menatap Ruka dengan tegas dan memperingatinya.
Sementara itu Ruka malah hanya bisa menyeringai sambil membatin. Dari caranya menghadapiku tidak salah kalau Theo memang putraku.
"Paman Ruka aku tahu kau bos mamaku tapi jangan seenaknya berbuat tidak baik! Kalau kau pria sejati lawanlah sesama pria!"
Ruka kembali tersenyum, namun kali ini senyumnya seolah penuh rasa bangga. Ruka lalu menatap putranya itu dan berkata, "Kau memang anak yang luar biasa Theo."
Setelah itu Ruka pun langsung pergi meninggalkan Aran dan Theo tanpa berkata apapun.
...๐ธ๐ธ๐ธ...