Remember Me Husband

Remember Me Husband
Enam Tahun lalu part. 4



Hujan pun berhenti. Arah yang kelelahan tertidur di pelukan Yuka dan masih belum memakai pakaian pun seketika sadar dan bangun dengan wajah cemas. "


"Arana ada apa?"


"Yuka, sudah jam berapa sekarang? Berapa lama kita disini?"


"Entahlah mungkin hampir dua atau tiga jam," jawab Yuka. "Ada apa memangnya, kenapa tiba-tiba panik begitu Arana?"


"Nenek, aku khawatir dengan nenek yang sendirian di rumah."


"Ya, tapi mau bagaimana lagi ujannya kan belum berhenti dan..." Yuka memeluk Aran dari belakang. "Kita baru saja merasakan hal yang luar biasa. Dan tubuhmu pasti masih terasa agak sakit, jadi istirahatlah dulu sampai besok. Nenek pernah muda dan aku yakin dia pasti mengerti."


Aku memang baru saja mengalami hal yang luar biasa malam ini bersama pria yang aku cintai, tapi entah kenapa aku tiba-tiba merasa takut.


"Arana, kenapa kau tiba-tiba diam saja, apa kau menyesal melakukannya bersamaku?"


"Bukan, bukan begitu Yuka. Tadi itu aku menikmatinya dan aku senang sekali memberikan malam pertamaku padamu, hanya saja seketika aku jadi merasa takut."


"Takut?"


"Ya, aku takut kau tiba-tiba pergi meninggalkanku. Aku tidak mau hal itu terjadi. Karena bagiku, selain nenek kaulah orang yang sangat berarti di hidupku."


Yuka langsung membelai Aran yang saat ini entah kenapa tiba-tiba jadi sensitif.


"Ada apa sebenarnya gadisku yang manis, kenapa kau tiba-tiba bicara seperti tadi?"


Aran kemudian memutuskan berbicara jujur kepada Yuka tentang rahasia dirinya yang sebenarnya bukanlah cucu kandung nenek dan kakeknya. Ditambah, tadi sore saat neneknya memberi hadiah untuk ulang tahunnya ia berkata tentang kepergiannya. Hal itu benar-benar mengganggu Aran, ia takut jika neneknya dan Yuka pergi ia tidak akan punya siapa-siapa lagi.


"Aku tidak mau jadi sebatang kara Yuka, aku tidak mau...," ungkapnya dengan suaranya yang terdengar cemas.


"Arana tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu. Karena kau satu-satunya yang aku miliki jadi jangan takut."


"Tapi kalau seandainya ingatanmu kembali, bukan tidak mungkin kau akan meninggalkanku pergi juga kan? Aku hmmm..."


Pria itu membungkam Aran dengan ciuman, lalu membelai wajahnya dan memandangnya dengan penuh keyakinan.


"Arana, hari ini ulang tahunmu yang sebentar lagi mungkin akan berakhir. Oleh karena itu sebelum berakhir, aku ingin memberikanmu ini." Yuka tiba-tiba saja mengeluarkan cincin dengan hiasan mutiara asli ditengahnya.


"Ini...?"


"Itu cincin mutiara langka yang sengaja aku buat untukmu. Aku sendiri yang mencari mutiara itu dan meminta pengrajin perhiasan menjadikannya cincin. Apa kau suka?"


Aran bukan hanya suka, tapi ia sangat suka dan senang sekali mendapatkan cincin tersebut. "Ini indah sekali..."


"Arana, entah apa jawabanmu setelah ini, yang jelas hari ini aku telah meyakinkan diriku sendiri untuk mengatakannya padamu."


"Mengatakan apa?" Aran terlihat bingung dan tidak tahu apa maksud yang akan dikatakan Yuka sebenarnya.


"Arana jadilah istriku."


Mata Aran langsung terbelalak lebar. "A- aku tidak salah dengar kan?"


"Tidak, aku memang memintamu jadi istriku. Hari ini kau tepat berusia sembilan belas, di peraturan negara kita kau sudah legal dan bisa menikah. Jadi kau mau menerima lamaranku?"


Mata Aran berkaca-kaca, ia lalu mengangguk mengiyakan lamaran Yuka barusan. "Iya, aku mau jadi istrimu Yuka."


"Terima kasih sayangku..." Yuka meraup dan memeluk tubuh Aran yang kurus itu kedekapannya.


Pagi harinya, setelah semalaman menghabiskan waktu dengan memadu kasih, Aran dan Yuka pun kembali ke rumah dan bermaksud memberitahukan nenek Shuri kalau mereka akan menikah. Namun saat kembali ke rumah, keduanya malah dibuat kaget melihat Shuri yang tiba-tiba saja muntah darah dan pingsan.


Segera, Yuka dan Aran pun membawa wanita tua itu ke rumah sakit terdekat. Dan setelah diperiksa, dokter menjelaskan kepada Aran dan Yuka kalau sebenarnya nenek Shuri mengalami sakit radang paru-paru yang sudah kronis.


"Apa? Ta- tapi bagaimana mungkin?" Aran benar-benar syok, pasalnya selama ini yang ia tahu neneknya tak punya riwayat sakit paru-paru.


Dari hasil pemeriksaan, dokter menjelaskan kalau sakit radang paru-paru nenek Shuri sudah ada sekitar dua tahun, namun sepertinya diabaikan dan tak diobati makanya semakin buruk. Mendengar itu tangis Aran seketika pecah, ia langsung pergi menerobos masuk ke ruangan menemui neneknya yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Disana Aran menyesal dan minta maaf sambil menangis karena selama ini sudah jadi cucu yang tidak berguna karena tidak tahu keadaan neneknya. "Maafkan aku nenek...! Bangun nek..." Ucap Aran meraung-raung memohon agar neneknya sadar.


Sementara Yuka, melihat gadis yang dicintainya menangis seperti itu membuat hatinya merasa sakit dan hancur. Ia merasa tak berguna, karena tidak tahu harus melakukan apa saat ini selain menenangkannya.


"Dokter, bagaimana cara menyembuhkan nenek Shuri?" Tanya Yuka.


Dokter menjelaskan jika ingin menolong nenek Shuri, ia harus dibawa ke rumah sakit yang ada di kota besar untuk penanganan yang lebih efektif. Karena jika hanya dirawat di rumah sakit kota Kelvari ini tidak mungkin. Mengingat rumah sakit di kota ini masih  belum terlalu lengkap peralatan medisnya.


Mendengar itu Aran setuju untuk membawa neneknya ke kota besar. Namun hal lainnya yang jadi kendall adalah biaya pengobatan disana sangat besar, pengobatannya saja bisa sampai tiga juta dolar belum lagi biaya rawat inap dan lainnya. Setidaknya Aran harus menggelontorkan uang sebanyak lima juta dolar jika ingin benar-benar menyembuhkan neneknya.


Sama halnya dengan Aran, Yuka benar-benar kesal dan benci pada dirinya karena tak bisa berbuat lebih untuk nenek Shuri. "Seandainya aku punya banyak uang, seandainya aku kaya raya... Aku tidak berguna, argh!" Yuka meninju tembok beton di hadapannya saking frustasinya.


Tak lama kemudian dokter memberitahukan kalau Shuri sudah sadar. Ia pun meminta Aran dan Yuka untuk masuk menemuinya.


Disana Shuri tiba-tiba saja bertingkah seperti orang yang tidak sakit apa-apa.


"Nenek, kau istirahat saja tidak usah bangun," pinta Aran.


"Nenekmu sehat kenapa aku harus tidur terus? Dasar gadis nakal!" Omel Shuri sambil mencubit hidung cucunya yang mancung.


"Tapi nek..."


"Nenek Shuri, kau tidak apa-apa kan?" tandas Yuka yang tak kalah khawatir.


"Aku baik-baik saja anak muda." Tiba-tiba Shuri meraih tangan Aran dan Yuka lalu menyatukannya. Ia kemudian tersenyum ke kehadapan keduanya dan berkata, "Kalian berdua bisakah kalian berjanji padaku?"


"Janji apa nenek?" Tanya Aran menatap heran.


"Janji untuk jangan sering bertengkar dan jangan berpisah."


"Apa maksudmu nenek Shuri?" tanya Ruka.


"Aku sudah tahu kalian berdua saling mencintai sejak awal, dan kalian diam-diam menjalin hubungan tanpa sepengetahuanku kan? Aku tidak marah sama sekali, terlebih cucuku Aran kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik. Hanya saja aku berharap padamu anak muda..." Shuri menatap Yuka serius. "Tolong janji padaku, jangan pernah menyakiti Aran dan buat dia bahagia. Cucuku wanita yang baik dia pantas mendapatkan pria yang baik juga, dan pada akhirnya aku yakin kau pria yang bisa membahagiakan dia. Bisakah kau janji padaku Yuka?"


"Iya, aku berjanji aku akan menjaga dan membahagiakan Arana."


"Bagus, jika kau berani sakiti di aku akan menghantuimu seumur hidup."


"Nenek jangan bicara lagi," pinta Aran yang entah kenapa merasa firasatnya tidak baik.


"Dan kau cucuku, hiduplah dengan bahagia, lakukan apa yang kau suka. Dan jangan pernah berubah, tetap jadi Arana yang penuh kasih namun juga memiliki harga diri tinggi. Satu lagi, tolong jangan terlalu sering di dapur dan melakukan pekerjaan rumah. Sesekali pergilah ke mall dan belilah pakaian-pakaian yang cantik.  Kau sangat cantik sayang tapi kau seringkali tak sadar itu."


Aran menangis, "Iya nek, setelah nenek sembuh aku akan lebih sering berdandan yang cantik supaya nenek senang huhu..."


"Kenapa kau malah menangis dasar bodoh! Sudahlah aku sedang bahagia. Intinya kau dan Yuka aku ingin kalian berdua hidup bahagia dan saling mencintai. Tolong jaga cucuku ya Yuka uhuk! Uhuk...!" Tiba-tiba nenek Shuri batuk hebat mengeluarkan darah banyak sekali. Dokter meminta Aran dan Yuka tunggu diluar karena mau menangani pasien.


Setelah satu jam lebih, tiba-tiba saja dokter keluar. Dari raut wajahnya Yuka sepertinya sudah bisa menebak apa yang akan dikatakannya, namun tidak untuk Aran. Gadis itu masih tampak naif dan bertanya dengan polosnya ada apa dengan neneknya.


"Dokter jawab aku! Kenapa diam! Bagaimana nenekku? Dokter!" Seru Aran yang emosi sambil berlinangan air mata dihadapan sang dokter.


"Nona Aran, maafkan aku tapi Tuhan berkata lain. Nenekmu dia..."


"Dia apa dokter?"


"Dia sudah meninggal."


"Tidak, tidak mungkin nenek meninggal! Nenek tidak boleh meninggal, nenek!" Aran menemui neneknya yang sudah ditutup kain. Disana ia menjerit histeris meminta neneknya bangun. Melihat itu Yuka pun langsung memeluk Aran dan mencona menenangkannya.


"Arana kumohon sadarlah, tolong relakan nenek Shuri."


"Tapi- tapi Yuka nenekku..." Aran menangis sejadi-jadinya dipelukan Yuka. Hari itu Aran benar-benar terpukul karena kematian neneknya.


Seminggu setelah pemakaman sang nenek, Aran masih terlihat sedih sekali. Ia bahkan sesekali masih bersikap seolah neneknya masih hidup. Seperti menyiapkan piring untuk sang nenek makan, membersihkan kamar nenek Shuri sambil seolah sedang bicara dengan neneknya. Melihat hal itu Yuka pun tak tahan lagi dibuatnya. Ia tidak mau wanitanya terus menerus tertelan kesedihan dan tak mau menerima kenyataan.


Alhasil ia pun mengajak Aran berziarah ke makam kakek dan neneknya. Disana Yuka bicara panjang lebar dan mengatakan kalau ia janji akan menjaga Aran dan mejadikannya bagian dari hidupnya. Setelah pulang Ziarah, Yuka mengajak Aran pergi jalan-jalan ke pinggir lautan disana ia melihat ada bintang laut. Yuka kemudian mengatakan pada Aran bahwa tubuh bintang laut itu seperti halnya harapan.


"Dimana saat satu tangan bintang laut patah makan akan tumbuh tangan baru. Sama halnya dengan harapan yang putus akan diganti dengan harapan yang baru."


Aran menafsirkan ucapan Yuka, dan ia sadar akan hal itu. Ia tidak seharusnya mengabaikan hal lain, meskipun neneknya sudah tak lagi bersamanya.


"Yuka, aku mengerti sekarang, nenek tidak ingin aku berlarut dalam kesedihan bukan?"


Yuka mengangguk mengiyakan.


Aran langsung memeluk kekasihnya tersebut dan berterima kasih padanya.


Yuka pun ikut senang, akhirnya Arana kesayangannya seketika kembali bisa tersenyum ceria lagi.


Bersambunh...


...🌸🌸🌸...