
Theo akhirnya sudah diperbolehkan pulang setelah dokter memastikan lewat skrining test, yang menyatakan jika tidak ada luka dalam yang serius di tubuh Theo.
Siang itu dengan dibantu oleh Risa, Aran dan kedua anaknya bersiap untuk meninggalkan rumah sakit. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah sakit Risa yang tengah bicara empat mata dengan Aran, sempat bertanya kepada sahabatnya itu apa yang akan ia lakukan setelah ini?
Tentu saja Aran hanya bisa menjawab dengan pasrah mengingat janjinya dengan Lusi, dimana ia harus segera meninggalkan kota ini. Sayangnya ia belum bisa menentukan akan pergi dan pindah kemana, apalagi ia baru beberapa bulan tinggal di Renston malah sudah harus pergi lagi.
"Lalu bagaimana kau menjelaskannya kepada anak-anakmu? Aku rasa mereka pasti akan kaget jika kau mengajak mereka pindah secara tiba-tiba."
Itu juga yang menjadi momok dipikiran Aran saat ini. Akan tetapi mau tidak mau ia harus tetap lakukan, karena ini semua demi keselamatan anak-anaknya juga.
"Aran kau tenang saja aku akan selalu ada buatmu kok."
Aran tersenyum manis pada sahabatnya itu. Ia benar-benar merasa bersyukur memiliki Risa sebagai temannya. Masalahnya ia tidak mau lagi merepotkan Risa dan membawanya ikut terseret dalam perseteruannya dengan Lusi.
"Risa kau sungguh sangat baik, tapi sepertinya mulai hari ini aku tidak akan tinggal di apartemen itu lagi."
"Huh? Kenapa!?"
"...Aku tidak mau kalau kau sampai ikut terseret dimasalahku."
"Kau ini bicara apa sih!" Risa kesal dengan jawaban Aran dan memarahinnya.
"Aku tahu kau sangat peduli padaku dan anak-anak, tapi kumohon biarkan aku mengurus ini sendiri."
"Kau ini benar-benar keras kepala! Aku sungguh tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapimu Aran!" Risa sampai dibuat geleng-geleng kepala dengan keputusan temannya tersebut. Tapi meski begitu Aran tetaplah Aran, sahabat Risa yang sangat ia sayangi. Mau bagaimana lagi, ia akan tetap mendukung temannya itu dengan segala keputusan yang diambilnya.
Setelah berpamitan dengan dokter dan perawat, Aran pulang dengan menggunakan taksi. Sebelum masuk ke dalam taksi Aran dan kedua anaknya pamit dengan Risa yang tidak ikut mengantarnya mengingatnya ia membawa mobil sendiri dan juga harus kembali bekerja.
"Aku pergi dulu Risa."
"Ya, tolong jaga dirimu dan anak-anakmu."
"Pasti."
Dari balik jendela taksi Jia melambaikan tangan pada Risa seraya pamit.
"Bye bye bibi Risa, sampai ketemu lagi..."
Aran duduk di kursi belakang bersama kedua anaknya. Saat itu Theo bertanya kepada sang mama kenapa ia menolak diantar pulang naik mobil Risa?
"Itu— karena kita tidak akan pulang ke rumah."
"Huh?" Kedua anak Aran nampak syok dengan jawaban mamanya barusan.
"Kenapa Ma, kenapa tidak pulang kesana? Jia mau pulang kesana?" Jia merengek ingin kembali ke apartemennya.
Sayangnya Aran tidak bisa mengabulkan hal itu mengingat janjinya pada Lusi yang sudah terlanjur disepakati.
Theo yang lebih besar dari Jia pun berpikir, apa yang sedang terjadi pada mamanya hingga tiba-tiba mengajak pergi dari apartemen. Pasti ada yang mama sembunyikan dariku dan Jia.
"Ma, aku tidak tahu apa yang mama hadapi saat ini. Tapi setidaknya mama tahu kan kita akan kemana sekarang?" Theo tidak mau membuat mamanya semakin tertekan jika ia memaksanya untuk menjelaskan apa yang ia hadapi saat ini.
Soal itu Aran sudah memutuskan untuk tinggal di penginapan yang letaknya dipinggiran kota. Karena ia merasa jika di pinggir kota Lusi pasti tidak terlalu menyadarinya. Terlebih uang gaji dan bonus yang sempat ia dapatkan saat bekerja di Skyper sangat cukup untuk membiayai hidupnya selama beberapa bulan sampai ia akan dapat pekerjaan baru stelah nanti ia akan memutuskan untuk mencari kota kecil yang jauh dari Renston untuk ditinggali.
"Baik nyonya," ucap sopir taksi dengan suara yang agak serak.
Melihat sang sopir mengenakan masker Theo memiliki firasat aneh, ia lalu bertanya kepada sang supir kenapa ia mengenakan masker.
"Maaf tapi aku sedang agak flu," jawab sopir taksi itu dengan suara yang cukup meyakinkan. Namun entah kenapa Theo tetap saja merasa aneh.
Setelah hampir satu jam perjalanan taksi pun berhenti. Namun bukan berhenti disebuah penginapan seperti apa yang diinstruksikan Aran, melaikan taksi itu malah berhenti dipinggir jalan yang tampak sepi dari lalu lalang kendaraan.
"Maaf tuan supir, kenapa kita berhenti disini? Bukankah aku minta anda untuk ke penginapan?"
Mulai merasakan ada yang janggal, Aran pun langsung bersikap waspada sambil merangkul kedua anaknya.
"Paman kau ini sungguhan supir taksi kan? Tapi kenapa malah membawa kami ke tempat yang bukan dimaksud oleh mamaku?!" Tegas Theo.
Karena takut ada hal macam-macam, akhirnya Aran memutuskan untuk turun saja dari taksi tersebut. Sayangnya saat ia meminta turun pintunya justru dikunci rapat hingga membuat Aran dan anak-anaknya tidak mungkin bisa keluar.
"Tuan kau jangan macam-macam cepat buka pintunya!" Seru Aran dengan nada marah, tapi supir itu malah tidak menjawab apapun.
"Mama Jia takut..." Jia yang panik pun mulai menangis ketakutan.
"Kau dasar penjahat turunkan kami sekarang juga!" Seru Theo yang kemudian mengancam akan melapor pada polisi.
"Kalian ini berisik sekali sih!" Seru sopir taksi tersebut dengan nada kesel.
Aran panik sepertinya ia merasa ini adalah penculikan dan, kemungkinan ini rencana Lusi yang mau menyingkirkan dirinya dan kedua anaknya?
Tidak, kalau benar ini ulah nyonya Lusi aku harus segera menyelamatkan Theo dan juga Jia.
"Tolong!!!" Aran berteriak minta tolong dan menggedor-gedor kaca mobil. Sementara Jia tak lagi bisa menahan tangis.
Penjahat kurang ajar! Theo yang tidak mau melihat mama dan adiknya dalam bahaya pun bermaksud memukul sang supir namun supir itu keburu menoleh dan mayemprotkan cairan yang asing baunya itu ke arah Aran dan kedua anaknya.
"Uhuk-uhuk! Apa yang kau semprotkan pada kami?"
"Aku terpaksa lakukan itu soalnya kalian berisik."
Entah kenapa pandangan mata Aran perlahan mulai lelah dan dirinya mengantuk, ia menyempatkan menoleh ke arah anak-anaknya namun tak lama ia langsung tak sanggup lagi menahan mata lelahnya dan tak sadarkan diri. Begitupun dengan Theo dan Jia yang ikut tertidur.
Sopir taksi itu pun lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo bos, aku sudah membawa mereka!"
...
"Baik, akan ku bawa kesana sekarang."
Sang sopir bermasker pun kembali mengemudikan mobilnya dan pergi ke suatu tempat yang dimaksudnya barusan.
...🌸🌸🌸...
Hai guys jangan lupa di like, comment, vote supaya aku tetap semangat nulisnya oke makasih.