Remember Me Husband

Remember Me Husband
Menyukai Ruka



Di kantor, tiba-tiba saja Nana sekretaris Ruka datang menemuinya di ruangan.


"Tuan Ruka maaf mengganggu anda."


"Ada apa?"


"Itu- tuan diluar ada nona Bianca. Dia ingin masuk menemui anda."


"Katakan padanya aku sibuk tidak bisa menemuinya."


"Ta- tapi tuan Ruka, nona Bianca memaksa ingin bertemu."


"Lalu kenapa? Aku bosmu bukan dia, jadi turuti saja apa yang aku perintahkan."


"Ba- baik tuan."


Nana pun pergi menemui Bianca, lalu menyampaikan apa yang diucapkan Ruka barusan kepadanya. Namun hal itu malah mambuat Bianca marah dan memaksa menerobos masuk ke dalam ruangan Ruka.


"Nona kumohon jangan masuk, tuan bisa marah!"


"Kau itu berisik! Aku ini tunangannya mana mungkin dia marah!"


Karena tak berani menghalangi lebih jauh, akhirnya Nana tak kuasa membiarkan Bianca masuk ke ruangan Ruka.


"Ruka!"


Bianca masuk dan menemui Ruka dengan ekspresi kesal diwajahnya. Sementara itu Nana yang sudah berusaha menghalangi, langsung meminta maaf kepada Ruka karena telah agal menghalangi Bianca masuk.


Untungnya Ruka masih memaklumi, ia pun menyuruh Nana agar pergi kembali bekerja, dan meninggalkannya berdua dengan Bianca di ruangan.


Disana Bianca langsung mendekati Ruka sambil marah-marah akibat sejak kemarin tidak ada kabar dan tidak bisa dihubungi.


"Sebenarnya kau itu kemana, sejak kemarin aku sudah berkali-kali datang ke kantormu, tapi semua pegawaimu bilang tidak ada yang tahu kau dimana, termasuk asistenmu Rowen!"


"Memang ada urusan apa kau mencariku?" Tanya Ruka dengan nada santai sambil terus menatap layar laptopnya.


"Kau masih bertanya? Ruka dengar ya, kita ini tunangan dan aku berhak tahu dimana tunanganku!"


Ruka tergelitik mendengarnya. "Tunangan? Mungkin maksudmu terpaksa jadi tunangan."


Bianca yang semakin kesal langsung mengepalkan tangannya. "Keterlaluan kau Ruka! Sekarang jawab aku kemana kau kemarin sampai tidak bisa dihubungi?!"


"Kemana aku pergi kan bukan urusanmu?"


"Ruka Arshavin kau ini benar-benar menyebalkan! Kau itu tunanganku jadi aku berhak tahu, ditambah kita—"


"Diam!" Ruka terlihat mulai kesal. Ia beranjak dari kursinya lalu mendekati Bianca dan memberi pringatan kepada wanita itu agar jangan terlalu jauh melewati batasannya.


"Kau harus ingat Bianca, pertunangan kita itu hanya sebuah perjanjian jadi tidak usah besar kepala!"


"Oh, jadi maksudmu karena itu kau jadi bisa bebas main wanita dibelakangku, iya?"


"Kalau iya memang kenapa? Kalaupun kau mau ada main dengan pria lain aku tidak melarang silakan saja."


"Ruka kau sungguh brengsek!"


"Sudah tahu aku brengsek, kenapa masih mau denganku? Lagipula apa kau lupa, tujuh tahun lalu kau kan yang ingin pergi dariku. Lalu setelah aku sudah sama sekali tidak memiliki rasa padamu, kenapa kau malah memaksaku kembali?"


Emosi Bianca benar-benar dibuat mendidih dengan perkataan Ruka. Disisi lain ia tidak bisa menyerang balik karena pernyataan Ruka itu benar adanya. Alhasil Bianca pun memutuskan untuk pergi dari ruangan itu dengan wajah penuh kekesalan.


"Ingat Ruka, kau akan menyesal sudah bersikap seperti ini padaku!"


Bianca pun berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruangan Ruka, disana ia pun sempat hampir bertabrakan dengan Rowen yang baru saja masuk untuk menemui Ruka di ruangannya.


"Wah tunangan anda itu kenapa lagi tuan? Kelihatannya dia sedang marah besar," ungkap Rowen yang baru saja berpapasan dengan Bianca.


"Biar saja, bukan urusanku."


Rowen mengangguk seraya sudah paham maksud ucapan bosnya. "Oh iya tuan, ini semua dokumen tentang pembangunan mega proyek di Kelvari yang sudah resmi mendapatkan izin dari departemen pembangunan pusat."


Ruka membaca dokumen itu dengan cepat dan seksama. "Oke, lalu tentang tender perngerjannya, perusahaan rekonstruksi mana sudah mengajukan proposal?"


"Terpantau sudah ada delapan perusahaan rekonstruksi besar yang ingin mendapatkan proyek kita tuan?"


"Baiklah kalau begitu, minggu depan kita lakukan pertemuan dengan mereka semua untuk menentukan perusahaan mana yang akan kita ajak kerjasama."


"Baik tuan."


Sebelum kembali ke ruangannya, Rowen yang masih memikirkan Aran pun bertanya kepada Ruka tentang keadaan wanita itu dan anak-anaknya.


"Aran serta anak-anakku baik-baik saja, dan mereka ada di vilaku sekarang."


"Syukurlah..." Rowen terlihat lega dan senang mendengarnya.


"Rowen sebelum kau pergi, aku ingin menyuruhmu untuk melakukan sesuatu." Ruka memberikan kantung berisi helai rambut miliknya dan kedua anaknya. "Aku mau kau lakukan tes DNA antara aku, Jia, dan Theo."


Rowen tampak terkejut mendengar hal itu.


"Ini tiba-tiba sekali, sebenarnya apa yang sedang anda rencanakan tuan?"


"Nanti kau akan tahu sendiri, saat ini lakukan saja apa yang aku perintahku."


Rowen tidak tahu rencana Ruka, tapi ia yakin pasti Ruka tengah merencanakan hal yang serius untuk anak-anaknya.


...🌸🌸🌸...


Di taman belakang Jura yang sedang bersantai dengan istrinya tiba-tiba marah besar setelah menerima telepon dari Bianca.


"Anak itu benar-benar keterlaluan!"


"Suamiku ada apa?" Hani merasa khawatir melihat suaminya yang tiba-tiba naik pitam.


"Ruks cucu laki-laki kesayanganmu itu lagi-lagimembuatku emosi dengan kelakuannya!"


"Memang apa yang sudah dilakukan Ruka?"


Jura menjelaskan kepada sang istri kalau cucunya itu telah mengusir Bianca dengan kasar hingga membuatnya menangis.


"Anak itu memang seringkali tidak bisa menempatkan diri! Aku harus memberi pelajaran padanya!"


"Suamiku kau tenanglah dulu, kau tidak bisa asal ambil keputusan begitu saja. Bisa jadi, Ruka melakukan hal itu karena ada alasannya bukan?"


"Inilah salah satu kesalahanmu istriku. Sejak dia lahir kau selalu saja memanjakan cucumu itu, hingga akhirnya dia tumbuh menjadi pria yang besar kepala dan seenaknya. Tidak ayah tidak anak sama-sama pembangkang!"


"Jura Arshavin!"


Seruan Hani bergetar, dirinya yang biasanya sabar dan selalu berusaha lembut pada suaminya pun akhirnya meluapkan emosinya. Ia tidak suka mendengar Jura yang selalu saja menyalahkan anak serta cucunya, dan malah memilih percaya kepada orang lain.


"Jura, aku tahu kau ingin yang terbaik untuk anak dan cucumu. Tapi malah apa yang terjadi? Semua yang kau anggap baik, justru malah membuat Eric dan Ruka jadi membencimu. Apa kau tidak sadar itu?"


"Hani aku—"


"Kita sudah menikah enam puluh tahun lebih, dan aku selalu menghormatimu sebagai suamiku. Tapi kau jangan lupa Jura, aku ini juga seorang ibu. Aku ibu kandungnya Eric, darah dagingmu. Dan Ruka, dia anak kandung Eric cucu kebanggaan yang kelahirannya paling kau nantikan bukan? Lantas kenapa sekarang kau malah selalu memojokannya?"


Jura terdiam dan hanya menghela nafas, ia lalu mengambil tongkat peraknya dan meminta pengawalnya Cedric untuk mengantarnya istirahat.


"Jura aku belum selesai bicara."


"Maaf istriku, tolong biarkan aku menenangkan diri sejenak."


"Hati-hati tuan," ucap Cedric mengawal Jura.


Sementara Hani seolah hanya bisanpasrah karena tidak bisa terlalu berbuat banyak, mengingat sifat suami dan cucunya sama-sama begitu keras jika sudah memiliki keyakinan.


...🌸🌸🌸...


Di sore hari, Aran terlihat sedang duduk menikmati keindahan bunga-bunga yang tertanam cantik, di halaman belakang vila milik Ruka sambil memperhatikan anak-anaknya bermain. Disana Jia dan Theo tampak riang bermain dengan Roger, anjing ras dobberman yang biasa menjaga vila.


Kehidupan Aran kini terasa agak lebih lega setelah ia menceritakan masalahnya kepada Ruka. Ditambah lagi melihat Ruka yang sudah tahu hubungan mereka di masa lalu membuat perasaannya bahagia. Akan tetapi, apakah semua kebahagiaan ini  akan bertahan selamanya, atau hanya akan jadi kenangan singkat yang berakhir luka?


Tak lama kemudian, Theo datang menghampiri Aran dan duduk disebelahnya.


"Mama, sedang memikirkan apa?" Theo cukup peka dengan Aran, tidak heran jika ia bisa merasakan kalau sang mama sedang melamun memikirkan sesuatu.


"Aku tidak memikirkan apa-apa."


"Jangan bohong, dari wajah mama terlihat kalau mama seperti sedang gelisah."


Aran tersenyum ke arah Theo dan mengatakan kalau putranya tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.


"Baiklah kalau mama tidak mau cerita. Tapi aku mau tanya satu hal."


"Apa itu?"


"Mama menyukai paman Ruka ya?"


Aran cukup dibuat cukup tersentak kaget dengan pertanyaan putranya barusan.


"Ke- kenapa kau tanya begitu?"


"Karena aku bisa melihat sendiri, setiap kali dekat dengan paman Ruka mama pasti bertingkah berbeda. Tidak seperti kalau dengan paman Sean atau pun paman Rowen dimana mama tampak biasa dan tenang. Sementara setiap dekat paman Ruka, tingkah mama sulit dijelaskan. Kadang malu-malu, kadang salah tingkah, dan itu terlihat jelas di wajah mama."


"Huft, Jadi aku ketahuan ya?" Aran yang sepertinya tidak bisa mengelak lagi dari Theo pun pasrah mengakuinya.


"Kenapa mama bisa menyukai paman Ruka?"


"Menurutmu?"


Menurutku paman Ruka memang pria yang sempurna kelihatannya. Tampan, kaya raya, dan tidak bisa ditindas, secara penampilan dia sangat pantas buat mama. Tapi...


Melihat Theo diam begitu, Aran berpikir pasti putranya belum siap jika menerima sosok figur ayah dihidupnya. Tapi cepat atau lambat Theo pasti akan tahu kalau Ruka adalah ayah kandungnya dan Jia.


"Tidak usah cemas," Aran mengusap kepala Theo lalu berkata kalau dirinya tidak akan tergesa-gesa menerima pria dalam hidupnya. Karena bagi Aran, meskipun ia mencintai Ruka, ia tidak ingin tergesa-gesa dan memaksa anak-anaknya menerima sosok Ruka di hidup mereka.


Theo tersenyum seraya paham ucapan mamanya.


Aku tahu mama menyukai paman Ruka, tapi jika ditanya apakah aku setuju atau tidak mama dengan pria itu? Maka jawabanku adalah tidak tahu, karena jujur aku masih belum yakin sekali kalau paman Ruka adalah yang terbaik untuk mamaku.


...🌸🌸🌸...