
Di kamarnya saat tengah menerima telepon dari anak buahnya, Lusi tiba-tiba saja dibuat tercengang saat mendengar info dari sang anak buah kalau Arana pindah dari Kelvari ke kota Renstone.
"Apa kau bilang!? Jangan bercanda!" Keringat dingin seketika menembus permukaan kulit Lusi, dan perasaan gelisah pun mendadak menyerang batinnya.
"Kau yakin sudah memeriksanya?"
^^^Sudah nyonya, aku sudah mencaritahu dan benar. Nona Aran pindah ke Renstone baru sekitar sebulan yang lalu.^^^
"Baiklah kalau begitu, sekarang juga kau kembali ke Renstone dan segera caritahu dimana ia tinggal saat ini!"
...
Lusi mengakhiri panggilannya dengan perasaan tidak tenang. Rasa ketakutan akan terbongkarnya rahasia perbuatannya beberapa tahun lalu mulai membuatnya ketar ketir.
"Tidak boleh! Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera mencari wanita itu!"
Bagi Lusi ancaman yang tak terduga ini bisa lebih menakutkan daripada yang ia bayangkan. Ia pun terlihat mondar mandir mencari cara supaya bukti-bukti atas kecelakaan Ruka enam tahun dan tiga tahun lalu lenyap.
Dan saat tengah mondar mandir dengan wajah penuh kecemasan. Muncul Karaz yang tiba-tiba saja masuk ke kamar ibunya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Bu, kau sedang apa?"
Lusi pun kaget dan panik. Ia lalu memarahi putranya itu karena seenaknya masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Maafkan aku ya Bu. Soalnya aku pikir ibu tadi—"
Gawat! Apa Karaz mendengar ucapanku tadi saat menelepon?
"Sejak kapan kau masuk ke kamarku?" Tanya Lusi menginterogasi putranya.
"Eh, aku baru masuk kok."
"Kau yakin?"
Karaz mengangguk.
Sebenarnya ada apa? Kenapa ibu kelihatan panik dan gelisah ya? Karaz ingin bertanya kepada ibunya soal sikapnya itu tapi, melihat sang ibu sepertinya sedang marah ia pun mengurungkan niatnya tersebut.
"Mau apa kau kesini? Kalau hanya membicarakan hal tidak berguna selain bisnis jangan menemuiku!"
Seperti biasa Lusi selalu saja begitu terhadap Karaz. Dari kecil hingga sekarang, Karaz selalu saja ditekan oleh ibunya supaya bisa bersaing dalam hal apapun dengan Ruka. Padahal Karaz sendiri tidak suka melakukan hal seperti itu.
"Bu, bulan depan aku ada pertandingan grand prix di Tokyo. Bisakah kau datang menyemangatiku?"
Meski Karaz tahu akan seperti apa jawaban sang ibu, namun dari lubuk hatinya yang terdalam sebagai seorang anak, ia ingin sekali ibunya datang untuk menyemangatinya saat pertandingan.
Lusi menatap putra kandungnya dengan tatapan sinis. Ia menghampiri Karaz dan malah mengatakan kalau, ia tidak mau membuang-buang waktunya hanya demi menonton pertandingan tidak jelas.
"Bu, aku mohon sekali saja kau datang ke pertandinganku. Setelah itu..." Dengan sedikit raut wajah getir Ruka berucap, "Setelah itu aku akan menuruti semua kemauan ibu." Karaz memohon dengan wajah penuh harap.
Senyum licik pun terukir dibibir Lusi. Ia lalu membelai pipi putranya tersebut dan berkata, "Baik, aku akan datang ke pertandinganmu bulan depan. Tapi dengan satu syarat."
"...Apa?"
"Kau harus bisa mengambil setidaknya empat puluh persen saham Skyper dari Ruka."
Karaz pun tertegun sejenak. Memang benar ia ingin ibunya datang ke pertandingannya, tapi syarat yang diajukan ibunya barusan benar-benar diluar dugaan Karaz.
Bagaimana mungkin aku merebut saham milik kakakku?
"Bagaimana, kau mau atau tidak? Ingat, aku ibumu yang melahirkanmu..." Dengan piciknya, Lusi menekan putranya sendiri dengan memanfaatkan kelemahan Karaz yang sejak kecil memang sangat menghormati ibunya bagaimana pun.
Gerahamnya mengatup, saraf di otak Karaz seperti tengah bergemuruh bak serdadu perang yang tengah begelut dalam medan perang mempertimbangkan semua ini.
"Karaz, aku tahu kau putraku yang penurut bukan? Apa kau tega membiarkan ibumu ini terus berjuang sendirian?" Lusi terus menekan batin dan mentalnya tanpa segan.
Dengan sedikit paksaan iblis pada akhirnya Karaz mengiyakan permintaan sang ibu. "Baik aku setuju!"
Lusi pun tersenyum dan memeluk putranya itu. "Kau memang putraku yang bisa diandalakan."
...🌸🌸🌸...
Ruka yang tengah sibuk mengkroscek proposal dan rankaian proyek perusahaan di ruangannya, tiba-tiba saja malah mendapati gangguan dari Bianca yang dengan seenaknya langsung masuk ke ruangannya tanpa menekan bel maupun mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dengan wajah dingin dan tatapan matanya yang tajam, Ruka pun langsung menyindirnya.
"Apa tinggal lama diluar negeri sudah membuatmu lupa akan apa itu sopan santun?"
Sayangnya Bianca sepertinya tak peduli hal itu, ia malah langsung saja duduk bersandar di sofa dan menyilangkan kakinya tanpa rasa sungkan sama sekali.
"Maaf ya sayang, soalnya aku pikir kita ini kan sudah akrab jadi hal semacam ini ya santai saja."
Sayang? Ruka hampir saja menggeliat jijik rasanya mendengar wanita itu memanggilnya sayang.
"Mau apa kau kemari?" Tanya Ruka sambil tetap fokus mempelajari berkas ditangannya.
Bianca tertawa geli. "Tentu saja mau menemui tunanganku bukan, memang apalagi?"
Seketika Ruka menutup dokumen ditangannya lalu memelototi Bianca. "Sejak kapan aku jadi tunanganmu? Dan siapa yang mengizinkanmu kemari?"
"Sebentar lagi kita akan tunangan, dan kakek Jura sudah menyetujuinya."
Ruka setengah tertawa. "Selalu saja kau bawa-bawa orang tua itu. Kalau begitu kenapa kau tidak menikah saja dengan kakekku?"
"Ruka! Kau ini kenapa jadi sinis sekali padaku sih! Memang apa salahku? Lagipula aku sudah minta maaf padamu kan, soal kesalahanku beberpaa tahun lalu meninggalkanmu. Kenapa kau masih saja marah padaku?"
Bianca yang delapan tahun lalu tiba-tiba meninggalkan Ruka demi impiannya menjadi balerina, merasa kalau dirinya pantas di maafkan dan akan bisa memperbaiki hubungannya lagi dengan Ruka.
"Aku sudah tidak marah padamu."
"Lalu, kenapa kau begitu dingin dan abai padaku sekarang?"
Ruka menghela nafasnya seraya mengurai emosinya. "Sebab hubungan kita sudah selesai sejak lama. Jadi diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi."
Semburat emosi seketika membakar jiwa Bianca. Ia yang tidak terima dengan apa yang Ruka katakan pun bangkit dari duduknya dan marah-marah. "Ruka, kau tidak bisa bicara begitu. Kakekmu sudah memintaku agar bertunangan dengamu dan kau harus terima itu!"
Meskit terlihat tenang, namun Ruka jelas menunjukan kemelut amarah di tatapan matanya saat melihat Bianca saat ini.
"Aku... Eugh..." Bianca pun dibuat mati kutu dan gugup tak bisa menjawab.
"Lebih baik kau urus saja dirimu, cari orang yang bisa kau minta menuruti semua yang kau mau! Dan yang jelas bukan aku, karena aku sudah tidak menyisakan sedikitpun tempat untukmu!"
Ucapan Ruka barusan seolah menegaskan jika ia benar-benar sudah memutus semua hubungannya dengan Bianca.
Tidak terima akan hal itu, Bianca pun beranjak menghampiri Ruka yang tengah berdiri di dekat meja kerjanya. Wanita itu menghiba meminta Ruka agar menarik kata-katanya barusan. Sayangnya Ruka bukan pria yang mudah diluluhkan apalagi dengan tampang penuh kepalsuan. Ia malah menjauhkan dirinya dari Bianca yang mencoba memeluknya saat itu.
"Bianca, lebih baik kau segera pergi, aku sibuk!"
Bianca semakin kesal, namun tiba-tiba saja ia teringat akan kalung yang tadi ia rebut dari Aran di lobi. Dengan wajah penuh maksud terselubung, Bianca pun seketika berkata, "Aku tahu kau sedang mencari kalung kan?"
Sontak Ruka langsung menoleh ke arah Bianca dengan raut wajah serius. "Apa maksudmu?"
"Kau memcari kalung dengan cincin bertuliskan nama ibumu sebagai bandulnya kan?"
Bianca tahu kalungku? Tapi bagaimana bisa? Ruka memicingkan matanya.
"Aku tahu dimana kalungmu itu."
"Dimana katakan?" Pria itu menatap dengan penuh ketidak sabaran.
Sayangnya karena Bianca adalah rubah betina yang licik, ia pun tidak mungkin memberitahunya secara cuma-cuma.
"Tentu saja tidak ada yang cuma-cuma tuan Ruka."
Sudah kuduga. Ruka yang sudah paham kelicikan Bianca pun lekas bertanya apa mau wanita itu sebagai bayaran atas kalung tersebut.
"Mudah saja kok," Bianca tiba-tiba memeluk Ruka dari belakang dan berkata, "Aku mau kau setuju tunangan denganku."
Ruka melepaskan tangan Bianca yang melingkar di pingganya dan berbalik menatap wanita itu. Sebenarnya Ruka bisa saja mengambil paksa dari Bianca, namun jika dia menggunakan kekerasan pada wanita, tentu saja itu hanya akan menggores harga dirinya sebagai seorang pria.
Ya, lebih baik aku ikuti saja dulu permainan wanita licik ini!
"Jadi kau ingin tunangan sebagai bayarannya?"
Bianca mengangguk.
"Tentu kau dapatkan itu asal kau bisa berikan kalung itu sekarang juga!"
"Ini!" Bianca langsung mengeluarkan kalung itu dari tasnya dan memberikannya kepada Ruka. Melihat kalung itu Ruka pun segera memeriksannya dan benar, kalung yang dibawakan Bianca itu adalah memang kalung peninggalan ibunya.
Ruka menatap Bianca dengan tatapan penuh curiga dan tanya. "Darimana kau menemukan kalung ini?"
"Aku— aku menemukannya di kantor ini secara tidak sengaja." Bianca bicara sambil memutar matanya.
Dari gestur dan cara menjawabnya Ruka sudah tahu kalau Bianca tidak jujur. Tapi ia tetap memilih tak terlalu banyak mengkronforntasinya dengan cercaan pertanyaan yang membuatnya akan terus berkelit. Lebih baik aku biarkan dulu saja sampai akhirnya kubuat dia membongkar kebohongannya sendiri.
"Baiklah..."
"Jadi kau akan tunangan denganku kan?"
Ruka menyeringai kecil. "Aku pria yang selalu memegang ucapanku. Jadi kau tentukan saja tanggalnya!"
"Ruka... Aku senang sekali!" Bianca memeluk pria itu.
Dan disaat bersamaan Ruka hanya bisa mengulum senyum iblisnya.
Kita lihat sampai kapan kebohonganmu bertahan Bianca?
...🌸🌸🌸...
Di pantry Chika pun langsung geram dan emosi saat mengetahui kalau tunangan Ruka merebut kalung yang ditemukan Aran dari tangannya.
"Tidak bisa dibiarkan! Setelah si nenek sihir Meli terbitlah nenek sihir lain. Ya walau yang ini lebih cantik sih... Eh tidak! Tetap kau lebih cantik sih Aran!"
Saat itu Aran pun hanya bisa menghela nafas seraya pasrah.
"Mau bagaimana lagi, dia kan tunangan tuan Ruka. Bisa dibilang wajar sih kalau dia merasa berhak." Sebenarnya lidah Aran merasa getir setiap kali mengatakan hal itu. Karena jauh dilubuk hatinya ia masih begitu mengharapkan Ruka kembali padanya dan tidak bertunangan dengan siapapapun.
"Tapi kan mereka belum bertunangan!"
"Eh? Apa maksudmu?" Aran seketika terkesiap mengedipkan mata mendengarnya.
"Memang kau tidak tahu ya. Yang aku dengar gosipnya, mereka itu baru mau bertunangan. Jadi ya bisa dibilang nona Bianca itu belum sah jadi tunangan tuan Ruka!"
Jadi begitu? Entah kenapa perasaan Aran tiba-tiba senang setelah tahu hal itu. Ia pun sampai menyunggingkan senyum kecil setelahnya.
"Aran..."
"Ya?"
Chika tiba-tiba saja tersenyum seperti iblis penggoda sambil meliriknya dengan penuh curiga. "Mengaku saja, diantara ketiga tuan tampan Sean, Rowen dan Ruka, kau itu tertariknya sama tuan Ruka kan... hayo mengaku?"
Seperti dihujam tiba-tiba, Aran pun langsung dibuat salah tingkah atas pertanyaan Chika yang seolah bisa membaca isi hatinya. "Eh— kau ini apa sih?"
"Sudahlah mengaku saja. Lagipula...tidak salah kok, memang wanita mana yang tidak suka sama tuan Ruka, sudah tampan, kaya raya, berkarisma, penuh pesona, dan super hot! Bayangkan saja saat tubuhnya yang tinggi dan atletis..."
Tanpa disangka penjabaran Chika pun membuat pikiran Aran langsung liar. Tiba-tiba saja ia malah membayangkan Ruka saat baru keluar dari kamar mandi dengan keadaan basah dan hanya mengenakan handuk. Wajah Aran pun seketika terasa panas dan ia pun malu sendiri jadinya.
"Stop! Sudahlah Chika hentikan!"
"Loh kenapa...?" Chika lagi-lagi tersenyum ala iblis penggoda. "Aran wajahmu merah sekali, hayo mengaku kau memikirkan apa? Jangan-jangan..."
"Ti- tidak kok...! Sudah ayo kerja lagi!" Aran seperti tidak bisa menyembunyikan perasaannya didepan Chika, ia bahkan hampir tersandung saking salah tingkahnya.
Dan Chika pun hanya bisa menertawakan temannya yang kini terlihat sangat lucu karena salah tingkah.
...🌸🌸🌸...