
Ruka yang baru tiba pun segera memasuki mansion mewahnya itu.
"Kakak!"
Setibanya didalam, Ruka langsung melihat Karaz yang berlari menerjang ke arahnya dengan senyuman yang membuatnya terlihat konyol.
"Kakak aku rindu padamu deh...!"
Karaz yang baru saja ingin memeluk Ruka pun gagal. Mengingat Ruka yang menolak romantis antar saudara malah langsung dengan satu tangannya menghentikan Karaz sebelum benar-benar memeluknya.
"Kak, aku rindu padamu ayolah kita berpelukan." Karaz bersikukuh ingin tetap memeluk kakaknya itu.
"Berani memaksa peluk aku bakar semua mobilmu!"
Seketika acaman Ruka berhasil. Karaz pun berhenti memaksa minta peluk dan malah menampakan tampang memelasnya.
"Kak, kau ini dari dulu kejam. Tapi begitulah kakakku...," ucap Karaz yang kemudian tersenyum ceria lagi.
Ruka hanya bisa menghela nafas seolah sudah tak heran lagi dengan kelakuan Karaz yang memang lumayan manja. Ruka sendiri tidak terlalu masalah dengan sikap Karaz yang lumayan suka menempel padanya. Bagi Ruka meskipun Karaz manja dan suka sekali bergantung padanya, ia tetap menganggapnya sebagai adik yang harus ia jaga.
"Kau baru pulang kan, juara berapa di balapan kali ini?" Tanya Ruka dengan intonasi datar.
"Aku juara satu kak, dan tiga bulan lagi aku akan ikut grand prix di tokyo. Kau harus melihatku oke!"
"Ya kalau aku ada waktu," balas Ruka terdengar cuek.
Tapi meski terdengar cuek, Karaz sama sekali tak tersinggung. Mengingat ia tahu persis kalau watak kakaknya memanglah begitu. Karena meskipun terlihat suka tak peduli, kejam dan tempramen, tapi Karaz tahu betul kalau Ruka itu aslinya perhatian dan menyayanginya.
"Oh iya mana kakek tua itu?" Tanya Ruka sambil melepas jasnya.
"Kakek dia ada di ruang kerjanya. Oh iya kak, kudengar kau mau tunangan dengan Bianca apa itu benar?"
Ruka melirik tajam ke arah Karaz dan berkata. "Menurutmu bagaimana?"
"Um— i- itu menurutku sih terserah dirimu saja hehe," jawab Karaz dengan nada panik melihat tatapan Ruka. Terlebih ia juga tahu kalau kakaknya itu sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Bianca.
"Sudahlah aku mau menemui kakek dulu." Ruka pun langsung menuju ke ruangan kakeknya.
...🌸🌸🌸...
Di kamarnya Aran yang baru saja selesai mandi dan berganti piyama tidur, terlihat tengah mengeringkan rambutnya yang basah. Panas angin yang menyembur dari lubang hairdryer itu menyerbu rambut basah Aran hingga perlahan kering.
Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Aran mencabut kabel hairdryer miliknya itu dan meletakannya kembali di dalam laci meja riasnya. Karena sudah selesai melakukan semua kegiatannya seperti makan malam, dan mandi rasanya Aran ingin segera merebahkan tubuhnya di ranjang lalu tidur. Sayang hal itu tentu saja tak bisa ia lakukan segera, mengingat sebelum tidur ia harus menemani Jia dan membacakannya dongeng sebelum tidur. Karena melihat jam digital diatas nakas sudah menunjukan pukul 09.00 malam. Aran pun bersiap untuk mengajak tidur Jia yang kini masih berada di ruang utama sedang menggambar.
Aran memakai sandal slippernya, dan hendak keluar kamar. Namun langkahnya seketika terhenti saat ia mendengar nada dering ponselnya berbunyi.
"Siapa telepon jam segini?"
Merasa penasaran Aran pun langsung berbalik badan, dan segera meraih ponsel miliknya yang tidak lain adalah pemberian dari Rowen waktu itu.
Saat melihat layar ponselnya yang berdering, Aran langsung mengerutkan kening seraya heran melihat nomor yang tidak ia kenal tiba-tiba meneleponnya.
"Ini nomor siapa? Apa mungkin orang iseng?"
Aran merasa curiga dan seketika ragu untuk mengangkatnya. Tapi melihat ponselnya berdering terus tak henti-henti, ia pun tak tahan dan akhirnya mengangkat panggilan itu.
*Halo...
Eh suara ini? Entah kenapa Aran seperti mengenali desis suara yang baru saja terdengar dari ponselnya.
"Halo, kau siapa?" Jawab Aran dengan penuh waspada.
Jadi kau benar-benar tak ingat dengan suaraku?
Huh?
Kelopak mata besarnya langsung terbuka lebar sesaat setelah ia menyadari pemilik suara husky yang kini tengah meneleponnya. Tentu saja, seumur hidup Aran ia hanya tahu satu orang yang memiliki suara deep husky dan terdengar selembut saat menelepon.
"Tu- tuan Ruka?"
... Aku kira kau tidak akan sadar.
"Maaf, tapi ada apa? Dan... darimana tuan tahu nomorku?"
...Aku rasa pertanyaanmu itu terdengar merendahkanku....
Oh iya aku lupa, saat ini aku sedang bicara dengan seorang CEO kelas dunia terkaya di negeri ini. Mendapatkan nomor rakyat jelata sepertiku tentu saja hal sepele baginya.
"Maafkan aku. Aku lupa kalau anda seorang Ruka Arshavin, tentu saja mendapatkan nomor teleponku semudah menjentikan jari."
... Kau— sedang apa?
Aran seketika tediam dan merasa aneh. Mungkin jika dia masih jadi Yuka yang dulu, Aran tidak akan merasa heran begini. Sayangnya ini Ruka, CEO kaya raya yang dikenal angkuh dan kejam. Bagaimana bisa tiba-tiba bertanya begitu?
... Hei apa kau masih disana nona Arana?
Arana?
Didalam dada Aran tiba-tiba saja berdesir angin musim semi yang lembut. Bagaimana tidak, satu-satunya orang yang seringkali memanggilnya 'Arana' hanyalah Yuka, dan kini ia memanggilnya dengan panggilan yang sama. Seolah dirinya seperti tengah bicara dengan sosok Ruka yang dulu.
"I- iya tuan aku masih disini ada apa?"
^^^Begini, maksudku— aku hanya ingin tanya. Apa kau ada sesuatu yang kau inginkan atau butuhkan?^^^
Aran langasung memasang ekspresi bingung.
^^^Maksudku, ah baiklah... Intinya aku masih merasa bersalah padamu soal tuduhan waktu itu. Jadi aku berpikir, untuk menuntaskan rasa bersalahku ini dengan mengabulkan keinginanmu.^^^
"Tapi bukankah anda sudah memberiku kompensasi dengan menaikan gajiku sepuluh kali lipat?"
Memang benar, tapi bagi Ruka ia merasa belum tenang rasanya.
Sebenarnya Aran tidak tahu ingin apa. Meminta mobil? Tapi bukankah itu sangat serakah...? Hem... coba biar aku pikirkan lagi.
.. Nona Arana?
"... Ah iya, tuan—"
...Jadi adakah permintaanmu?...
"... Um— aku sebenarnya tidak tahu ingin apa saat ini. Tapi aku rasa jika kau bersedia, bisakah kau berikan aku tiga tiket masuk ke taman bermain skyland?"
Ruka agak kaget mendengarnya.
... Kau yakin hanya itu?
"Iya aku yakin."
... Tapi kenapa tiket bermain ke Skyland? Memangnya kau mau kesana?
"I- itu ya— begini, maksudku ada tetanggaku yang dia ingin sekali mengajak anaknya. Jadi, aku..." Tentu saja Aran tidak mungkin mengatakan sejujurnya pada Ruka kalau sebenarnya tiket itu untuknya dan kedua anak mereka.
^^^Ya... Sejujurnya aku tidak peduli tentang tetanggamu, tapi jika memang itu keinginanmu maka baiklah aku akan berikan.^^^
Aran langsung tersenyum lebar mendengarnya.
"Terima kasih tuan kau baik sekali. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana bilang terima kasih padamu."
...Gadis aneh! Kau tidak perlu bilang terima kasih, itu kan memang kompensasimu....
"Begitu ya...?
Ya memang begitu...
Seketika obrolan keduanya jadi terasa canggung. Baik Aran maupun Ruka, entah kenapa seperti kehilangan topik tapi disamping itu keduanya sama-sama seperti tak ingin segera mengakhiri obrolan mereka.
""Kalau begitu aku..."" Ruka dan Aran tak sengaja bicara berbarengan. Ruka pun akhirnya mengalah dan menyuruh Aran bicara duluan.
"Iya itu aku— um maksudku, aku rasa sudah dulu teleponnya." Aran sejatinya memang belum ingin menutup teleponnya, tapi disaat yang sama ia bingung mau bahas apalagi.
... Baiklah kalau begitu— selamat malam.
"Ya, selamat malam tuan, sampai jumpa."
. Sampai jumpa, selamat tidur.
"Selamat tidur..."
Akhirnya Aran menutup panggilan itu, dan saat itu juga wajahnya tiba-tiba memerah setelah mendengar suara berat Ruka yang lembut mengatakan selamat tidur. Derap jantung Aran juga jadi tak menentu.
"Ya Tuhan bagaimana ini? Suara Ruka yang maskulin benar-benar masih terngiang-ngiang diotakku!"
Ia langsung menepuk-nepuk kedua pipinya seraya menyadarkan diri agar tidak terbuai, dengan pesona pria itu lagi. Aran sekali lagi harus ditampar agar sadar akan kenyataan, kalau Ruka sudah lagi tak ada hubungan dengannya. Bagaimana pun Ruka yang sudah melupakannya tidak berhak lagi ia harapankan. Ditambah status sosial mereka yang bagai langit dan bumi membuatnya harus ingat untuk menapak.
Karena pada kasus ini Aranlah yang memang seharusnya segera bangun dari mimpi semunya itu.
"Huft!" Aran menghela nafas. "Kenapa rasanya sulit sekali menghapusnya dari pikiran dan hatiku?"
...🌸🌸🌸...