
Aran yang baru saja mau mau membereskan salah satu ruangan meeting, tiba-tiba dipanggil oleh Rowen. Pria itu datang menghampiri Aran sambil membawa sebuah tentengan kecil ditangannya.
"Aran, akhirnya aku menemukanmu juga," ungkap pria itu yang dari tadi mencari-cari Aran.
"Tuan Rowen, ada apa memangnya mencariku?"
"Ini, aku mau memberikanmu ini. Ambilah..." Rowen memberikan tentengan yang ia bawa kepada Aran.
"Apa ini? Kenapa anda tiba-tiba memberiku
hadiah?"
"Itu sekedar tanda terima kasih dariku saja, karena kan waktu itu kau sudah membantuku di supermarket memilihkan ikan serta memberitahuku resep masakan yang enak."
Aran tersenyum, "Aku senang bisa membantu anda, dan sebenarnya anda tidak perlu repot-repot memberiku hadiah tuan."
"Tidak apa-apa, aku senang kok melakukannya hehe... Tolong diterima ya."
Karena melihat Rowen yang sepertinya begitu tulus memberikan hadiah itu, Aran pun akhirnya menerima hadiah pemberian Rowen dengan senang hati.
"Tapi apa ini?" Aran nampaknya penasaran dengan hadiah dari Rowen tersebut.
"Kau buka saja."
Aran pun membuka bingkisan hadiah dari Rowen, dan ternyata isinya adalah sebuah ponsel keluaran terbaru.
"Ya ampun, ponsel ini kan mahal. Apa anda tidak telalu berlebihan?" Aran merasa tidak enak menerima hadiah semahal ini, sementara ia hanya menolong hal yang sepele.
"Sudah terima saja. Aku bingung mau memberimu apa selain ponsel, jadi tolong terima ya Aran kumohon."
Bagaimana bisa dia yang malah memohon padaku. "Iya tuan aku terima, tapi anda tidak perlu memohon begitu, aku jadi tidak enak rasanya."
Rowen senang dibuatnya.
"Sekali lagi terima kasih banyak atas hadiahnya, kau benar-benar orang yang baik tuan Rowen."
"Sama-sama, oh iya Aran ponselnya sudah kuisi dengan nomorku. Jadi setelah kau pakai langsung hubungi aku ya."
"Baik," angguk Aran.
Dan ditengah obrolan mereka, tiba-tiba saja muncul Sean Asuka yang baru saja kembali dari pertemuannya dengan salah satu klien. Pria itu langsung saja menyapa Aran dengan senyumnya yang ramah dan menghampirinya.
"Wah ada tuan Rowen juga ternyata, tumben sekali tuan Rowen tidak sibuk?"
Tuan sok akrab ini kenapa harus muncul segala sih! Mengganggu saja bisanya! Gerutu Rowen yang memang tidak terlalu akur hubungannya dengan Sean sejak lama.
"Tuan Sean, aku mau sibuk atau tidak kan tidak ada urusannya denganmu. Jadi buat apa kau bertanya begitu?"
"Tuan Rowen, kau sejak kuliah memang tidak berubah ya. Selalu saja membalas ucapanku dengan ketus begitu padaku," Sindir Sean.
"Kuliah, kalian teman kuliah?" Tanya Aran dengan mimik wajahnya yang polos.
"Iya nona Aran, aku adalah seniornya tuan Rowen dikampus kami."
"Iya Aran, tuan Sean memang seniorku, orangnya memang seperti itu suka cari perhatian di depan para gadis."
"Bukan cari perhatian, tapi aku kan memang terkenal diantara para gadis. Bukankah kau cukup terkenal juga ya tuan Rowen, walau tak setenar aku."
Sean narsis! Awas saja dia berani mempengaruhi Aranku!
Melihat sepertinya hubungan antara Rowen dan Sean tak terlalu bagus, Aran pun sebisa mungkin mencairkan suasana lalu meminta keduanya agar kembali bekerja.
"Aku hanya ingin menyapa saja kok, melihat nona Aran yang menawan mana mungkin aku tak menyapanya," tandas Sean yang bagi Aran terdengar menggombal.
"Dasar tukang gombal gadungan!" Ejek Rowen kesal. "Aran aku—" tiba-tiba saja Rowen malah dapat panggilan telepon yang sangat penting.
Ya ampun, kenapa bos Ruka malah telepon sih!
Kalau sudah Ruka yang menelepon tentu saja mau tak mau Rowen tak bisa mengabaikannya.
"Um— Aran, aku pergi duluan ya soalnya bosku memanggilku."
Rowen memicingkan matanya ke arah Sean tanda peringatan, lalu ia pun pamit pergi. "Sampai nanti Aran, jangan lupa hubungi aku, bye!"
Setelah Rowen pergi Sean pun jadi penasaran, kenapa Aran sepertinya sudah cukup dekat dengan Rowen. Apa sebelumnya mereka memang sudah saling mengenal?
"Nona Aran, apa kau dan Rowen sebelumnya memang sudah saling kenal?"
"Iya, kami memang sudah sempat bertemu sebelum aku bekerja disini. "
Jadi begitu, pantas saja! Kalau begini caranya aku tidak boleh lengah sedikitpun. Apalagi Rowen sepertinya punya perasaan pada Aran, aku tidak bolah mengalah.
"Tuan Sean anda mau kembali ke ruangan anda kan? Kalau begitu aku juga mau kembali kerja."
"Nona Aran tunggu!" Sean merik tangan Aran agar tak langsung pergi.
"Iya, ada apa lagi?"
"Nona Aran, akhir pekan nanti apa kau bisa pergi bersamaku?"
Aran agak terksiap kaget diajak pergi tiba-tiba oleh Sean yang salah satu petinggi Skyper. "Anda mau mengajak kemana tuan?"
"Aku ingin mengajakmu mampir ke kedai kopi milikku. Melihatmu pandai membuat kopi, aku jadi tertarik mengajakmu mencicipi kopi di kedaiku. Kau suka kopi kan?"
Meski tak begitu suka kopi namun Aran ingin sih mengunjungi kedai Sean. Tapi mengingat ia punya dua anak yang tak mungkin ditinggalkanya rasanya sulit. Ditambah sejak Aran kerja, kedua anaknya lebih sering dititipkan di daycare. Jadinya ketika akhir pekan ia lebih ingin menghabiskan waktu bersama dengan anak-anaknya.
"Tuan Sean aku senang sekali dengan tawaran anda. Tapi maaf, anda sendiri kan tahu aku ini memiliki dua anak jadi untuk pergi tanpa mereka aku tidak bisa."
Benar juga, Sean sendiri sudah pernah bertemu dengan Theo. "Nona Aran, kalau mau kau boleh membawa kedua anakmu ke kedaiku. Kebetulan dilantai dua kedaiku ada area untuk tempat anak bermain. Jadi aku rasa tak masalah kan?"
Setelah menimbang, sepertinya tawaran Sean tidak buruk. Sekaligus mengajarkan Theo dan Jia untuk lebih mengenal kota ini. "Baiklah, aku mau."
"Benarkah? Aku senang sekali. Kalau begitu sampai jumpa akhir pekan nanti ya."
"Iya tuan,"
"Ya sudah aku kembali ke ruanganku dulu. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa tuan Sean," tandas Aran diikuti senyuman manisnya yang membuat Sean senang sekali dibuatnya.
Sementara di ruangan Ruka, Rowen malah dimarahi oleh bosnya itu karena lama sekali menemuinya. Padahal telatnya tidak sampai 2 menit. Tapi kalau sudah berurusan dengan Ruka, bahkan telat beberapa detik saja bisa jadi masalah.
"Maafkan aku bos, tadi itu aku—" Aduh aku tidak mungkin bilang habis menemui Aran, bisa-bisa Aran yang akan kena masalah nantinya.
"Tadi apa?! Dengar Rowen, kalau aku tahu kau bohong padaku kau tahukan akibatnya."
Benar, tuan Ruka paling benci orang yang membohonginya tapi... Tidak! Lebih baik aku jujur saja daripada nantinya malah tuan Ruka akan marah besar dan Aran kena imbasnya.
Dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan, Rowen pun akhirnya mengatakan dengan jujur kalau ia habis menemui gadis yang ia sukai barusan.
"Tuanku, aku sungguh minta maaf. Tapi aku janji tidak akan mengulanginya lagi, kalaupun anda mau menghukumku aku akan terima."
Tapi bukannya marah, Ruka malah menghela nafas.
"Sebenarnya aku kesal dan mau menghukummu. Tapi sayangnya hari ini aku sedang tidak bersemangat gara-gara tugas dari nenek."
Rowen bisa bernafas lega kali ini. "Me- memang nyonya besar menyuruhmu melakukan apa tuan?"
"Nenek memintaku menjemput Bianca di bandara. Mendengar namanya saja aku malas, tapi karena nenek yang meminta aku jadi susah menolaknya."
"Jadi nona Bianca hari ini pulang dari luar negeri?"
"Iya, pesawatnya landing satu jam lagi."
Rowen senang karena gara-gara kepulangan nona Bianca dia jadi tak kena hukuman. Tapi melihat tuannya tak semangat begitu Rowen jadi merasa agak kasihan juga rasanya. Terlebih Rowen tahu betul hubungan Ruka dan Bianca sejak masih pacaran hingga sekarang jadi mantan.
...🌸🌸🌸...
LIKE, VOTE, COMMENT OKE 💜