
Di pantry Aran saat sedang duduk mengobrol bersama temannya Chika. Aran bercerita kepada temannya itu kalau ia baru saja diberi ponsel oleh tuan Rowen.
"Aran, sungguh aku takjub padamu. Setelah tuan Sean, sekarang pun dapat perhatian tuan Rowen juga. Kalau cantik itu enak ya, banyak dapat perhatian," ungkap Chika yang merasa iri sekaligus senang melihat Aran diperlakukan baik sekali oleh para petinggi perusahaan.
"Jangan bicara begitu Chika, kau dan aku itu sama saja kok. Mungkin ini hanya salah satu keberuntunganku saja, lagipula kan tuan Rowen memberikan ini karna ada alasannya."
"Iya sih...! Tapi sungguh, kau itu baru beberapa hari kerja saja sudah sangat terkenal disemua kalangan karyawan. Mereka bilang kau cantik dan kerjamu bagus, ya walau sebagian ada juga yang iri padamu sih... Terutama si Meli tua itu!"
"Sstt! Kau jangan bicara sembarangan. Bagaimana kalau kak Meli muncul?"
"Oh iya hehe..."
"Sudahlah, ayo kita kembali kerja lagi!"
Tanpa disangka-sangka ternyata Meli mendengar obrolan Aran dan Chika barusan. Wanita itu pun jadi semakin geram dan benci pada Aran yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Anak baru itu benar-benar sialan! Baru kerja beberapa hari saja, bisa-bisanya sudah berani menggoda dua petinggi besar sekaligus! Tidak bisa kubiarkan! Lihat saja, akan kuberi pelajaran si j@lang murahan itu!'
Di temani Rowen, Ruka yang terlihat mau pergi keluar gedung untuk menjemput Bianca ke bandara, tampak gagah dan berkharisma berjalan melewati lobi utama. Disana para pegawai yang bekerja di Skyper pun terlihat langsung memberi salam sapa kepada bos mereka itu. Meskipun sebagian besar yang menyapanya hanya demi mencari perhatian, namun Ruka tahu sebagian masih ada yang memang tulus menyapanya
"Tuan Ruka, kenapa anda tak berikan sedikit senyum pada mereka. Terutama para pegawai wanita disini, sepertinya mereka sangat berharap sekali diberi senyuman olehmu."
"Untuk apa?!"
"Sekedar formalitas saja tuan."
"Aku benci yang pura-pura!"
"Ba- baiklah!" Rowen pun menyerah membujuk bosnya itu.
Saat tengah berjalan di lobi tiba-tiba saja Ruka melihat Aran yang sedang membawa ember masuk ke dalam lift. Melihat gadis itu entah kenapa membuat Ruka jadi tiba-tiba merasa penasaran. Ia pun tanpa berpikir panjang malah tiba-tiba saja mengganti jadwalnya saat itu dengan menyuruh Rowen untuk menjemput Bianca sendirian sementara dia tidak ikut.
"Ta- tapi tuan, kenapa anda mendadak jadi menyuruhku pergi sendirian menjemput nona Bianca?"
"Kau tidak suka kusuruh?" Ruka memberi tatapan tajam penuh ancaman pada asistenya.
"Ti- tidak tuan bukan begitu. Hanya saja bagaimana nanti kalau nyonya besar tanya padaku."
"Bilang saja aku ada rapat mendadak. Oh iya kalau kau lakukan perintahku ini dengan baik, bonus bulan ini kunaikan lima kali lipat."
Mendengar akan dinaikan bonusnya, Rowen pun seketika langsung semangat. "Baik bos, kalau begitu sekarang juga aku berangkat mejemput nona Bianca ke bandara!"
Ruka tersenyum puas.
Setelah Rowen pergi, ia pun segera menuju lift untuk mengikuti Aran. Sebenarnya Ruka juga aneh dengan dirinya yang kenapa bisa sepenasaran ini dengan Aran. Entah kenapa dirinya masih merasa penasaran soal waktu itu kenapa Aran memanggilnya sebagai Yuka?
Sampai di lantai 76 Ruka langsung celingak celinguk mencari Aran. "Kemana gadis itu pergi?"
Itu dia!
Ruka akhirnya melihat Aran masuk ke toilet wanita.
Di dalam toilet wanita yang sepi. Aran yang baru saja mau membersihkan wastafel pun tiba-tiba mulai merasa ada yang mengikutinya. Refleks ia pun mengambil seember air bekas mengepel dan bersembunyi untuk memastikan siapa yang mengikutinya.
Tidak terdengar suara langkah kaki, tapi Aran bisa melihat sosok bayangan laki-laki terlihat dari pantulan cahaya di dinding toilet. Bagaimana bisa kantor elit begini ada penguntit yang suka mengintip? Menjijikan!
Semakin dekat bayangan itu, dan...
BYUR!
Aran menyiramkan air bekas pel itu ke arah dimana datangnya pria pengintip itu. Namun hal itu bukan membuanya jadi pahlawan, melainkan malah membuatnya bertemu dengan malaikat maut.
"Tu- tuan Ruka?!" Aran benar-benar dibuat syok dan panik sekali saat tahu pria yang dia siram ternyata adalah Ruka Arshavin.
Sontak Aran pun langsung minta maaf dan mencoba mengeringkan wajah dan tubuh Ruka yang basah itu dengan handuk yang ada di toilet. Namun pria itu malah tanpa bicara apa-apa langsung menarik tangannya dan membawanya ikut ke ruangannya di lantai 77.
"Tuan anda mau apa?" Aran benar-benar ketakutan.
Setibanya di ruangan Ruka, ia langsung menyuruh Aran berdiri diam dan jangan melakukan apapun selama Ruka genti baju.
"Ingat, berani kau lakukan sesuatu tanpa perintahku kau tahu akibatnya!" acam Ruka yang kemudian masuk ke dalam ruangan yang ada di ruangnya itu.
Sementara menunggu Ruka kembali, Aran yang tampak gusar dan panik tak terasa keringatnya mulai bercucurian dari balik rambutnya yang kini diikat ponytail.
Bagaimana ini, apa yang akan Ruka lakukan padaku. Apa aku akan dipecat? Aran benar-benar takut sekali Ruka akan memecatnya.
Tak lama kemudian, Ruka yang sudah berganti pakaian pun datang menghampiri Aran dan melemparkan pakaiannya yang terguyur air tadi ke wajah gadis itu.
"Cuci itu dan kembalikan padaku kalau sudah kembali bersih!" Ucap Ruka.
Aran sungguh syok diperlakukan begitu oleh Ruka. Mengingat Ruka yang ia tahu dulu mana mungkin sekasar itu padanya.
"Kenapa diam saja, tidak mau huh?!"
"I- iya tuan aku akan mencucinya," jawab Aran ketakutan.
Ruka setengah tertawa. "Mencucinya kau bilang? Kau pikir pakaianku dicuci hanya dengan mesin cuci biasa!"
"Ma- maksud anda tuan?"
"Semua pakaianku dicuci di laundry nomor satu di kota ini. Satu setel pakaian kantorku harga laundrynya tiga puluh ribu dolar."
"Apa?" Aran benar-benar terkejut. Bagaiman bisa hanya laundry semahal itu?
"Kenapa syok begitu? Tidak mampu?'
Sambil mengepalkan kedua tangannya, akhirnya Aran dengan kepala tertunduk menyesal meminta maaf kepada Ruka dan berkata, ia akan melaundry pakaian Ruka yang sudah dibuatnya basah itu di tempat biasanya Ruka melaundry pakaian, asalkan ia tidak dipecat.
"Jadi kau masih ingin kerja disini, setelah apa yang sudah kau perbuat padaku?"
Aran sungguh menyesali hal itu. Karena sejatinya tadi ia hanya refleks karena takut kalau ada orang jahat yang mau mengintip.
"Lagipula tadi itu kan toilet perempuan, seharusnya anda tidak masuk kesana."
"Jadi kau menyalahkanku?!" Ujar Ruka tidak senang.
"Bu- bukan begitu tuan hanya saja...euh."
Ruka mencubit dagu Aran dan medongakanya menatap ke wajahnya. "Dengar ya nona Arana, kau pikir kau bicara dengan siapa? Aku bosnya, jadi aku mau kemanapun di kantor ini itu terserah aku, paham!"
"Pa- paham tuan."
"Bagus! Sekarang kau bawa bajuku dan kembalikan setelah bersih! Dan ingat, cuci di tempat laundry yang kuminta!"
"Baik tuan. Kalau begitu aku permisi," Aran pun meninggalkan ruangan Ruka dengan perasaan sedih dan terluka.
Seketika Ruka mengerutkan alisnya karena merasa heran, "Ini benar-benar aneh, kenapa melihatnya bersedih begitu perasaanku jadi tidak nyaman begini?"
Sambil membawa pakaian Ruka yang basah, Aran berjalan ke pantry sampi melamun. Ia benar-benar tak menyangka Ruka yang ia lihat saat ini sungguhan mantan suaminya dulu. Meskipun mereka orang yang sama tapi bagi Aran Ruka dan Yuka seperti berbeda. Apa mungkin watak asli Ruka yang asli adalah yang sekarang ini? Lalu dimana sosok Yuka yang dulu pernah mencintainya pergi? Apa benar-benar sudah sama sekali tak tersisa sedikitpun ingatan tentangnya di benak pria itu?
"Jadi seperih ini rasanya dilupakan oleh orang yang kita cintai?" Senyum getir Aran mengembang merasakan perihnya dilupakan oleh orang yang dicintainya.
...🌸🌸🌸...
LIKE, VOTE, COMMENT YA...