Remember Me Husband

Remember Me Husband
Pengganggu



Sekitar pukul sepuluh pagi, Aran yang masih sibuk bekutat dengan pekerjaannya terlihat sedang menyapu area loby di lantai 76. Berbicara soal lantai, lantai 76 itu memang sedikit lebih cepat kontor dibanding lantai diatasnya. Hal itu disebabkan karena lantai itu kebanyakan sering didatangi banyak karyawan dari dalam ataupun luar kantor untuk meeting dan sejenisnya. Berbeda dengan lantai diatasnya yakni lantai 77, dilantai itu jarang dipijaki pegawai lain kalau tidak terlalu butuh. Ya, tentu saja alasan lain karena lantai itu memang khusus hanya ada satu ruangan yakni ruangan CEO skyper.


Disaat  bersamaan, Aran yang masih sibuk menyapu debu-debu diantas lantai dengan begitu terampilnya. Ia tiba-tiba saja dikagetkan oleh kehadiran Sean yang ternyata baru selesai meeting.


Karena sedikit terkejut, Aran pun jadi tampak agak kesal dibuatnya.


"Tuan, kenapa kau harus muncul dengan mengagetkanku!"


"Maaf-maaf," ucap Sean yang diikuti gelak tawanya.


Merasa diledek Aran pun reflek mencebikan bibirnya. Hal itu bukannya membuat Sean berhenti tertawa malah membuatnya semakin ingin menggoda Aran.


"Tuan, kalau kau cuma tertawa maka aku pemisi dulu!"


Aran sepertinya mulai kesal sehingga ia pun menggambil inisiatif untuk segera pergi saja dibanding terus diledek oleh Sean.


Tentu saja Sean langsung menghalangi Aran yang ingin pergi dengan meminta maaf padanya.


"Eits jangan ngambek begitu. Yasudah aku minta maaf karena sudah membuatmu kesal."


Aran pun akhirnya tidak jadi pergi. Tapi bagaimana pun Aran sadar diri, saat ini masih jam kerja sehingga alaram diotak Aran seolah menhardiknya agar segera kembali kerja dan tidak boleh bermalas-malasan, apalagi malah mengobrol dengan Sean atasannya.


"Tuan, aku senang bisa ngobrol denganmu tapi maaf... Ini masih jam kerja jadi aku tidak bisa lama-lama."


Sean paham pemikiran Aran. Sebagai wanita yang tidak suka berpangku tangan, pasti Aran berpikir jika bicara di jam kerja begini hanya akan membuat ia terlihat membuang-buang waktunya bekerja.


"Iya aku tahu. Aku menemui hanya ingin mengatakan sesuatu."


"Sesuatu apa?" Tanya Aran yang tampak penasaran.


"Aran, minggu depan aku ingin mengajakmu bertemu dengan ibuku. Ma- maksudku, ya a- aku, um— itu bagaimana ya...um..."


Entah kenapa Sean tiba-tiba jadi gugup dan berkeringat. Ia semakin memperlihatkan kegugupannya itu dengan menggaruk pelipis matanya.


Bagaimana aku bilangnya ya...?


Aran yang masih diam disana, seketika memiringkan kepalanya menatap dengan raut wajah penuh kebingungan melihat pria di depannya saat ini.


"Tuan sebenarnya kau mau bilang apa? Kau mau mengajakku bertemu ibumu, memang ada apa?"


Ekspresi polos Aran yang tidak tahu apa-apa saat ini membuat Sean jadi semakin gugup. Sejatinya ia ingin membawa Aran makan malam dengan ibunya yang minggu depan pulang dari new york. Dan alasan kenapa ia ingin mengajak Aran bertemu ibunya adalah karena sang ibu bilang kemarin di telepon, ia ingin bertemu dengan gadis yang disukai oleh Sean. Sayangnya Sean saat ini jadi bingung bagaimana menjelaskan ke Aran alasan kenapa ia ingin membawanya bertemu ibunya.


Kalau kubilang alasan sebenarnya, bukankah itu sama saja aku menyatakan cinta padanya? Ya memang aku pasti akan menyatakannya, tapi tidak semendadak ini juga.


Melihat Sean yang malah diam sibuk dengan pikirannya sendiri, Aran pun menegurnya.


"Tuan Sean!"


"Ya, ah— itu maaf aku malah melamun,"  Sean menggaruk kepalanya berusaha menutupi rasa canggungnya saat ini.


Sebenarnya tuan Sean mau bicara apa sih?


Aran bertanya-tanya dalam benaknya.


"Sebenarnya, Aran aku—"


"Ehem! Sedang apa kalian?"


"Tuan Ruka?" ucap Sean lebih dulu sebelum Aran selesai berbalik badan.


Melihat Ruka berjalan ke arahnya saat ini, perasaan gugup Aran seketika langsung membuncah. Huh, perasaan bodoh ini kenapa selalu saja muncul seketika pria ini datang?


Pria bertinggi badan 186 itu berdiri tepat di hadapan Aran, ia yang agak menunduk menatap Aran kemudian mengangkat kembali kepalanya untuk berganti menatap Sean yang tingginya hampir sama dengan Ruka.


Kenapa Sean sepertinya dekat dengan Arana? Pemandangan saat ini reflek membawanya pada ingatan tempo hari saat ia tak sengaja dijalan melihat Aran berada di depan kedai kopi Sean.


"Tuan Ruka?" ucap Aran yang entah kenapa lidahnya reflek langsung mengucapkan namanya.


"Kalian sedang apa disini?" Ruka bertanya dengan nada santai namun tetap saja, raut wajahnya yang datar tapi penuh kewaspadaan mampu membuat siapa saja yang melihatnya pasti tertegun sejenak.


Sean sendiri merasa kehadiran Ruka membuat segalanya menjadi lebih rumit. Seperti burung yang seenaknya datang mengganggu sekawanan semut.


"Aku— sedang bicara dengan nona Aran. Dan kenapa tuan Ruka disini?"


Ruka langsung menaikan sebelah alisnya, seolah menegaskan kalau ia tidak nyaman dengan pertanyaan Sean barusan.


"Bukankah ini kantorku, memang kenapa kalau aku disini?"


Tentu saja tidak perlu ada alasan khusus untuk Ruka yang notabennya pemilik perusahaan untuk pergi kemana pun tempat yang ia inginkan di kantor ini.


"Aku tahu ini kantormu, tapi setahuku kau biasanya tak suka keluyuran selain ada perlu penting. Bahkan kalaupun penting biasanya lebih akan menyuruh asistenmu yang bergerak."


Ruka langsung menyeringai kecil dan menatap Sean dengan gesturnya yang menunjukan sikap jumawa. "Aku memang ada perlu dengan nona Arana."


Eh?


Aran tersentak mendengarnya, begitupun Sean yang sepertinya langsung memasang wajah cemas. Seperti yang ia tahu Aran hampir dipecat Ruka waktu itu karena bermasalah dengannya, kali ini ia pun takut kalau Ruka akan memiliki konflik dengan Aran lagi.


"Tuan Ruka, kalau seandainya nona Aran melakukan sesuatu— aku rasa..."


"Ini tidak ada urusannya denganmu, jadi aku rasa kau gidak usah ikut campur!" Nada bicara Ruka tiba-tiba saja meninggi. Tatapannya pada Sean yang awalnya datar berubah menjadi belati yang baru diasah.


Sementara itu Aran yang berada ditengah kedua pria tinggi ini pun jadi kikuk. Ada apa ini? Kenapa suasanannya jadi begini?


"Apa kau sudah selesai bicara dengan nona Arana? Jika belum aku akan menunggu. Tapi jika sudah selesai biarkan dia untuk ikut ke ruanganku!" Melihat Ruka saat ini, Aran merasa pria itu tampak lebih serius daripada saat tadi baru datang.


Sean hanya diam dan tak membalas pertanyaa Ruka.


Tentu saja bagi Ruka itu tandanya sudah selesai, ia pun langsung mengajak Aran ikut dengannya.


"T- tapi tuan Ruka.., tuan Sean...?" Aran melirik Sean merasa tidak enak mengingat Sean belum selesai mengatakan maksudnya.


"Dia tidak bicara lagi itu tandanya sudah selesai! Sudah ikut aku," Jawabnya tanpa peduli yang lain.


Meski sempat ragu, namun pada akhirnya Aran pun mengikuti Ruka pergi meninggalkan Sean dan berkata dengan agak berbisik. "Maaf ya tuan Sean, tapi nanti kau hubungi aku saja lagi..."


Melihat Aran sudah pergi bersama Ruka, Sean pun mendadak kesal pada dirinya sendiri. Ia mengangkat lalu mengepalkan satu tangan di depan wajahnya dan memaki dirinya sendiri.


"Dasar bodoh! Kenapa aku tidak berani untuk mengatakan dengan sejujurnya? Kenapa aku sepengecut ini! Sial!"


...🌸🌸🌸...