Remember Me Husband

Remember Me Husband
Tidak Fokus



Saat tengah membersihkan toilet wanita, Aran secara tidak mendengarkan percakapan dua karyawan wanita yang saat itu sedang cuci tangan di wastafel. Awalnya kedua wanita itu hanya tengah membicarakan gosip selebriti yang sedang viral, namun entah kenapa tiba-tiba saja mereka malah berganti topik membahas rumor tentang Ruka dan Bianca, dimana mereka bilang kalau pasangan itu akan segera melangsungkan pertunangan bulan depan.


Dan menurut kabar yang beredar, mereka akan menggelar pertunangan mereka di aula besar hotel Royal yang juga milik Skyper grup.


Masa sih? Tapi gosipnya lagi, nona Bianca itu kan mantannya tuan Ruka. Kok tuan Ruka mau kembali dengan mantannya itu?


Mungkin mantan terindahnya, siapa tahu kan?


Awh...! tapi mereka sama-sama dari keluarga terpandang. Nona Bianca sendiri ayahnya adalah petinggi maskapai penerbangan interasional.


Memang dalam hubungan status itu sangat penting.


Haha... Kau benar, mana mungkin rakyat jelata seperti kita bersaing dengan Bianca si balerina cantik itu?


Tapi kalau sekedar jadi wanita semalamnya tuan Ruka bisa kan...?


Kedua wanita itu cekikan tak jelas membicarakan hal dewasa tentang Ruka. Dan setelah mereka selesai mencuci tangan dan berdandan, kedua karyawan itu pun pergi meninggalkan toilet. Sementara Aran yang berada di dalam toilet pun keluar dengan wajah murung. Setelah mendengar percakapan dua karyawan tadi, Aran mendadak jadi gelisah dan sedih. Seolah ia merasa seperti baru saja ditampar oleh kenyataan yang ada saat ini.


Memang benar yang dua wanita tadi katakan, Bianca sangat pantas untuk Ruka. Mereka sangat setara secara tingkat sosial, sementara aku...?


Aran langsung menatap dirinya sendiri lewat cermin yang ada di toilet. Ia tersenyum getir, dan lidahnya terasa pahit untuk mengakui kenyataan kalau ia memang tidak pantas untuk Ruka. Tapi itulah realita yang ada.


Mungkin ini memang pertanya untukku agar segera merelakan Ruka sepenuhnya. Tapi kenapa memikirkan hal itu membuat hatiku terasa begitu perih? Kenapa aku masih tidak bisa menerima kenyataan kalau statusku dan Ruka memang sangatlah terlampau jauh?


Aran lalu sentengah tertawa.


"Lagipula, orang gila mana yang akan percaya kalau seorang Ruka Arshavin memiliki hubungan dengan pekerja rendahan sepertiku?"


Selesai membersihkan toilet, Aran pun bergegas keluar dari sana dan bermaksud kembali ke pantry untuk beristirahat. Berhubung hari ini Ruka makan bersama kliennya jadi Aran tidak perlu membawakan bekal untuk pria itu hari ini.


Huft...!


Aran menghela nafas, entah kenapa setelah mendengar percakapan dua wanita tadi mendadak Aran jadi merasa tidak semangat bekerja dan kurang fokus. Dan hal itu terbukti, ketika Rowen sudah memanggilnya berkali-kali Aran malah sama sekali tidak menoleh.


"Aran!"


"Eh, i- iya Rowen?"


Aran akhirnya baru menjawab setelah Rowen menghampirinya.


"Aran kau ini kenapa, sudah kupanggil berkali-kali malah tak menengok. Kau sedang melamun ya?"


Mendengar Rowen berkomentar begitu, Aran semakin yakin kalau dirinya memang sedang tidak fokus saat ini.


"Oh iya maaf Rowen, tadi itu— aku tiba-tiba saja memang kurang fokus, mungkin sedikit agak lelah.... Memang ada apa tuan Rowen memanggilku?"


"Begini aku sebenarnya..."


Dengan sedikit malu-malu Rowen mengutarakan maksudnya untuk mengajak Aran makan es krim di kedai dekat menara Skyper.


"Tapi tuan, apa anda tidak sibuk sampai bisa mengajakku makan es krim? Kalau pegawai lain lihat bagaimana?" Aran memang selalu agak khawatir jika pegawai lain melihat dirinya cukup akrab dengan petinggi perusahaan, mengingat profesinya di Skyper hanya sebagai tukang bersih-bersih.


"Kau tenang saja soal itu. Kebetulan tuan Ruka sedang meeting personal dengan petinggi perusahaan luar negeri jadi aku bebas. Makanya aku mau mengajakmu makan es krim. Kau mau kan? Ayolah mau saja..." Rowen membujuk Aran dengan segala perkataan manisnya. Alhasil Aran pun berhasil dibujuknya, kebetulan juga yang Aran tahu es krim bisa membuat suasana hatinya yang saat ini kacau jadi lebih baik, jadi kenapa tidak ia terima ajakan Rowen?


"Baik aku mau."


"Yes! Jadi arena kau sudah setuju, kalau begitu kita langsung saja ketemuan di kedainya, dengan begitu karyawan lain tidak akan berkata macam-macam tentangmu. Bagaimana, bagus kan ideku?"


"Baiklah kalau begitu aku duluan ke kedai, sampai ketemu Aran!"


...----------------...


Setibanya di dalam kedai es krim tempat ia dan Rowen janjian. Aran pun langsung menuju ke kursi tempat dimana Rowen sedang duduk saat itu. Karena Rowen sedang menatap layar ponsel ia pun jadi tidak tahu saat Aran baru masuk.


"Rowen!"


Pria itu pun langsung mengangkat kepalanya dan menoleh kesebelah kanan dimana Aran saat itu sudah duduk disebelahnya.


"Maaf aku tadi habis membalas pesan jadi tidak tahu saat kau masuk."


"Tidak masalah, um— kau sudah pesan?"


"Belum."


Rowen memang sengaja menunggu Aran datang dulu barulah ia memesan bersamanya. Dan setelah melihat beberapa menu eskrim, akhirnya pilihan mereka pun jatuh pada eskrim vanila coklat dengan taburan kacang almond. Dan tak sampai 10 menit dua es krim valina coklat dengan taburan kacang almond panggang pun mendarat menghampiri keduanya.


Disana mereka menikmati eskrim sambil mengobrol banyak hal. Dan siapa sangka perasaan Aran pun ikut menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Ternyata benar es krim bisa memperbaiki suasana hati? Arna seolah baru percaya hal itu saat ini.


"Oh iya Aran, kalau tidak keberatan boleh aku bertanya?"


Entah kenapa setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Rowen, Aran merasa suasananya mendadak jadi lebih tegang.


"Apa yang ingin kau tanyakan Rowen?" Aran yang sebenarnya merasa mulai tak nyaman pun berusaha tetap bersikap biasa.


Rowen pun tanpa ragu lagi bertanya pada Aran. "Theo yang disebut Sean kemarin itu sebenarnya siapa?"


Huh?


Aran mendadak terkesiap kaget. Hal itu karena ia tidak mengira kalau Rowen ternyata masih ingat tentang hal itu.


Ya Tuhan, bagaimana ini?


"Aran, kenapa kau diam saja...? Jika pertanyaanku barusan kau tidak suka, maka aku—"


"Dia anak tetanggaku!" Akhirnya Aran terpaksa berbohong lagi dengan mengatakan kalau Theo dan Jia adalah anak tetangganya.


"Apa, tetangga?" Rowen mengerutkan alisnya seolah setengah percaya setengah tidak.


"Iya, di sebelah apartemenku tinggal ada dua anak kecil yang sangat lucu. Dan salah satunya bernama Theo."


"Oh jadi begitu, baiklah kalau begitu jadi lega mendengarnya." Rowen pun kembali makan eskrimnya.


Jika dilihat dari ekspresi Rowen saat ini, Aran tidak tahu apakah pria itu yakin dengan ucapannya atau tidak. Tapi dengan ini setidaknya Rowen tidak akan tanya-tanya lagi soal hal tersebut.


Sebenarnya aku masih agak janggal dengan jawaban Aran barusan, tapi melihatnya canggung begitu lebih baik aku tidak usah terlalu menanyakannya lagi.


Karena bagi Rowen saat ini, menjaga hubungan baik dengan Aran adalah yang terpenting. Sampai pada saatnya nanti ia berhasil mendapatkan hati Aran, barulah ia akan dengan sendirinya tahu lebih dalam tentang Aran.


...🌸🌸🌸...